Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

6 Cintai Kedekatanmu dan Leburkan Hawamu’

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Leburkanlah dirimu dari manusia dengan hukum Allah, juga dari hawa kesenanganmu dengan perintah- Nya, dan dari kehendak dirimu dengan tindakan Allah. Ketika itulah, kau memenuhi syarat untuk menjadi wadah ilmu Allah Ta‘ala. “Tanda kebinasaan dirimu dari manusia adalah keterputusan jalinan dan pergaulanmu dengan mereka, juga bolak-balikmu pada mereka, dan ketiadaan ambisi untuk ikut memiliki apa yang mereka miliki (di tangan mereka). “Tanda lenyapnya diri dari diri dan hawa kesenangan adalah meninggalkan laku peraupan dunia (takassub) dan ketergantungan pada sarana

sarana dalam meraih manfaat dan menolak kemudharatan. Kau tak bergerak lagi di dalam dirimu dengan dirimu, juga bersandar pada dirimu demi dirimu, tak membela diri dan memenangkan nafsu diri. Akan tetapi, pasrahkan semua itu kepada Zat yang mengurusinya pertama dan terakhir, juga yang menjadi wakil pengurusmu saat kau masih menjadi janin di dalam rahim dan saat menjadi bayi kecil yang menyusu di atas ayunan.

“Adapun tanda kebinasaan kehendakmu dengan tindakan Allah ‘Azza wa Jalla adalah kau tak lagi menginginkan satu keinginan apa pun meski memiliki kehendak. Kau juga tak lagi memiliki tujuan pasti (ghard), dan tak terpaku pula pada kebutuhan dan cita keinginan. Sebab, saat bersama kehendak Allah kau tidak akan menginginkan apa- apa selain kehendakNya, akan tetapi tindakan Allah-lah yang mengalir di dalam dirimu. Jadilah kau kehendak dan tindakan Allah, dengan kepasifan anggota tubuh, ketenangan hati, kelegaan dada, keberserian wajah, kebinaran aura batin, dan tak membutuhkan lagi segala sesuatu dan merasa cukup dengan Sang Penciptanya saja. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarimu, membusanaimu dengan nur dan pengagunganNya, menempatkanmu bersama para pendahulu pemilik ilmu pertama.

“Dalam kondisi demikian kau selamanya terpecah-belah, hingga tak bercokol di dalam dirimu segala syahwat kesenangan dan kehendak. Kau menjadi laksana sebuah bejana yang hancur lebur, yang menampung cairan atau larutan lagi. Maka, jauhlah dirimu dari segala akhlak kemanusiawian. Batinmu tidak akan tenang menerima selain kehendak Allah. Pada maqam inilah, kau akan diberi kuasa penciptaan (takwin) dan kekuatan adikodrati. Hal ini tampak seolah-olah darimu, dari lahiriah akal dan hukum, padahal sebenarnya dalam kacamata ilmu ia adalah tindakan dan kehendak Allah.

“Jika sudah demikian keadaanmu, maka kau pun masuk diakui sebagai golongan orang-orang yang tertundukkan hatinya, kalangan yang mampu menundukkan kehendakkehendak kemanusiawian mereka, juga yang telah dilenyapkan dari diri mereka syahwat-syahwat kesenangan alamiah dan (sebagai gantinya) menguatlah di dalam diri mereka kehendak ketuhanan (iradah rabbaniyyah) dan syahwat-syahwat tambahan (idlafiyyah) yang disinyalir oleh Nabi Saw. dalam sabda, “Tiga hal yang dicintakan kepadaku dari dunia; perempuan, wewangian, dan dijadikannya penyejuk

mataku dalam shalat.”? Ketiga hal ini ditambahkan pada beliau setelah beliau keluar darinya dan lenyap darinya demi mewujudkan apa yang telah kami isyaratkan di muka. .

“Allah berfirman, ‘Aku bersama orang-orang yang berkepingkeping hatinya demi Aku,’

“Allah Ta‘ala tidak akan bersama dirimu sampai kedirianmu sirna bersama hasrat dan keinginanmu. Jika telah sirna dan tidak ada apa-apa lagi di dalam dirimu, dan lagi kau tidak merasa aman dengan apa pun selain-Nya, maka Dia menghidupkanmu kembali hanya untuk-Nya. Dia ciptakan kehendak di dalam dirimu, lalu kau pun berkehendak dengan kehendak tersebut. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat kehendak baru sekecil apa pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau berpatah-hati. Lalu, Dia Azza wa Jalla akan menciptakan kehendak baru lagi di dalam dirimu, untuk kemudian melenyapkannya lagi jika masih ada sisa kehendak lagi di dalam dirimu. Dan, begitu seterusnya hingga ajal menjemput dan mempertemukanmu dengan-Nya.

“Inilah makna firman Allah, ‘Aku bersama orang-orang yang berkeping-keping hatinya demi Aku.

“Adapun arti pernyataan ‘saat keberadaanmu di dalamnya’ adalah kekukuhan dan ketenanganmu di dalamnya. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi yang disampaikan oleh Nabi Saw, ‘Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya. Dan, apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya untuk ia mendengar, menjadi matanya untuk ia melihat, menjadi tangannya untuk ia mengepal pukul, menjadi kakinya untuk ia berjalan’ Dalam susunan lain dituturkan, ‘Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia mengepal pukul, dan denganKu ia berpikir.’

“Demikianlah keadaan fana’, yaitu engkau melebur binasa dari kedirianmu. Jika kau telah benar-benar lebur-binasa dari kedirianmu dan dari makhluk, di mana makhluk hanyalah kebaikan dan keburukan, begitu juga dirimu adalah kebaikan dan keburukan, maka engkau tidak akan lagi mengharap kebaikan mereka serta menakuti keburukan mercka. Tinggallah hanya Allah Azza wa Jalla sendiri scbagaimana Dia

kesendirianNya sebelum menciptakanmu. Dan, mengingat di dalam takdir Allah terkandung kebaikan dan keburukan, maka Dia pun menyelamatkanmu dari kejahatan makhluk-Nya dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikan-Nya; sehingga kau pun menjadi wadah seluruh kebaikan, sumber segala rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, cahaya, terang-benderang, keamanan, dan kedamaian.

“Fana’ (keleburbinasaan) adalah harapan, angan cita, target akhir, batasan, dan jalur yang berakhir pada lajur para wali. Ia adalah sikap istiqamah yang dituntut oleh para wali dan abdal terdahulu agar senantiasa lebur-binasa dari segala kehendak diri mereka, untuk kemudian digantikan dengan kehendak al-Haqq Azza wa Jalla. Lalu, mereka pun hanya berkehendak dengan kehendak al-Haqq selamanya hingga ajal menjemput. Karena inilah mereka disebut kaum abdal.

“Bagi pribadi-pribadi mulia ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah sudah merupakan sebuah dosa, meski hal itu dilakukan dalam kondisi lupa dan alpa, serta terdesak dan kaget sekalipun. Jika dalam kondisi demikian, Allah Ta‘ala pun segera menyadarkan mereka dengan kasih sayangNya, hingga tersadar dan ingat, lalu mereka pun berpaling dari hal itu dan memohon ampun pada Tuhan mereka “Azza wa Jalla. Bagaimanapun, tidak ada yang ma’shum dari kehendak kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para nabi senantiasa suci dari hawa kesenangan, sedangkan para makhluk selain mereka dari kalangan bangsa jin dan manusia tidak ma’shum dari keduanya. Dalam hal ini, para wali hanya dilindungi dari hawa kesenangan, para abdal dilindungi dari kehendak, namun mereka tidak ma’shum dari keduanya. Artinya, bisa-bisa saja mereka dalam beberapa kondisi tercebur pada keduanya, namun Allah secepat-kilat akan menyadarkan mereka dengan rahmat-Nya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker