38 Hawa Adalah Ladang Penyakit
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Melakukan sesuatu karena nafsu, bukan karena perintah Allah, adalah penyimpangan dan kedurhakaan. Melakukan sesuatu dengan tanpa hawa kecenderungan adalah keselarasan dan persetujuan. Sedangkan membengkalaikannya berarti riya’ dan kemunafikan.”
39 Segala Sesuatu Selain Allah Adalah Kebatilan ,
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, ‘Jangan berambisi masuk ke golongan orang-orang ruhaniyin sampai kau pantas menjadi musuh kedirianmu, dan benar-benar terlepas dari semua organ tubuhmu, dan terlepas dari semua hubungan dengan kemaujudanmu, dengan gerak-gerikmu dan kediamanmu, dengan pendengaranmu dan penglihatanmu, dengan pembicaraan dan dengan diammu, dengan upaya, tindakan dan pemikiranmu, dan dengan segala yang berasal darimu, sebelum kemaujudan ruhanimu mewujud dalam dirimu. Dan, semua itu akan kau dapat setelah kemaujudan ruhani bersemayam di dalam dirimu, sebab, ini menjadi tabir antara kau dan Tuhan. Bila kau menjadi seorang yang suci jiwanya, bersahaja, rahasia dari segala rahasia dan yang gaib dari segala yang gaib, maka kau benar-benar berbeda dengan segala yang rahasia, dan mengakui segala sesuatu sebagai musuh, penghalang dan kegelapan, sebagaimana [brahim As. berkata,
‘Sesungguhnya, mereka semua adalah musuh-musuhku, kecuali Tuhan semesta
alam,’ (QS. asy-Syu’araa’ [26]: 77). la berkata begini terhadap berhala-berhala.
“Jadikanlah segala kemaujudan dan bagian-bagian dirimu sebagai berhala, begitu pula ciptaan-ciptaan lainnya. Jangan patuhi mereka dan jangan ikuti mereka. Maka kau akan dikaruniai hikmah, makrifat, daya cipta, dan keajaiban, seperti yang dimiliki para beriman di surga.
“Keberadaanmu dalam kondisi begini ibarat terbangkitkan dari kematian di akhirat. Menjadilah kau perwujudan kuasa Allah; kau mendengar melalui-Nya, melihat melalui- Nya, berbicara melalui-Nya, diam melalui-Nya, senang dan damai melalui-Nya. Dengan demikian, kau akan tuli terhadap segala sesuatu selain-Nya; sehingga kau tak mendapati kemaujudan selain-Nya, sehingga kau mengetahui hukum dan selaras dengan kewajiban dan larangan. Maka, bila suatu kekeliruan ada padamu, ketahuilah bahwa kau sedang diuji, digoda, dan dipermainkan oleh setan-setan.
“Rujuklah hukum Allah dan pegang teguhlah ia, dan jagalah dirimu agar senantiasa bersih dari keinginan-keinginan rendah, sebab segala yang tak dikukuhkan oleh hukum adalah kekafiran.”
40 Kewalian Adalah Pahit Sapihan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Akan kami paparkan
padamu sebuah permisalan tentang kekayaan, sebagai berikut:
“Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang rakyat jelata sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan, bendera, panji-panji dan tentara sebagai bukti atas masa, sampai ia merasa senang dengan kedudukan tersebut dan meyakini kekekalan dan kelanggengan kedudukannya. Ia merasa bangga dengan jabatan tersebut dan lupa akan keadaannya sebelumnya. Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan, sang raja meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu, sang raja memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan dan
sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur, api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi iba terhadap orang itu, dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi teguh, bersih, berkecukupan, dan terahmati.
“Begitulah keadaan seorang mukmin yang didekatkan dan dipilih-Nya. Dia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih sayang, kemurahan, dan pahala. Maka, ia melihat dengan hatinya yang mata tak pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, yang hati manusia tak tahu akan hal-hal gaib dari kerajaan lelangit dan bumi, akan kedekatan dengan-Nya, akan kata manis, jaryi menyenangkan, limpahan kasih sayang, akan diterimanya doa dan kebajikan, dan akan dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yang menyatakan sendiri melalui lidahnya, dan dengan semua ini Dia sempurnakan bagi orang ini karunia-karunia-Nya pada tubuhnya, yang berupa makanan, minuman, busana, istri yang halal, hal-hal lain yang halal dan pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian. Lalu, Allah memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu musibah, aneka kesulitan hidup, kepemilikan, istri, anak, dan mencabut darinya segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum ini, sehingga ia terkulai, hancur, dan terputus dari masyarakatnya.
“Ketika melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, ia melihat keburukan-keburukannya. Dan, ketika melihat hati dan jiwanya, ia melihat hal-hal yang menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji, ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya. Bila ia bermaksud kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu, maka ia segera tersiksa, tangan-
tangan orang memegang tubuhnya, dan lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.
“Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikaruniai pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah yang dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.
“Ketika itulah dirinya mulai meleleh, keinginannya mulai sirna, maksud-maksud serta kerinduan-kerinduannya mulai pupus, dan kemaujudan segala sesuatu menjadi tiada. Keadaannya ini diperpanjang dan kian hebat, hingga sang hamba berlalu dari sifat- sifat manusia. Tinggallah ia sebagai ruh. la mendengar panggilan jiwa kepadanya,
‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum,” sebagaimana ucapan serupa yang ditujukan pada Ayyub As. Lalu, Allah pun mengalirkan samudra kasih sayang dan kelembutan-Nya ke dalam hatinya, menggelorakannya dengan kebahagiaan, aroma harum pengetahuan tentang hakikat dan ketinggian pengetahuan-Nya, membukakan baginya pintu-pintu nikmat dalam segala keadaan hidup, membuat para raja mengabdi kepadanya, menyempurnakan baginya nikmat- nikmat-Nya lahiriah dan ruhaniah, menyempurnakan lahiriahnya melalui makhluk dan rahmat-rahmat lain-Nya, menyempurnakan ruhaninya dengan kelembutan dan karunia-Nya, dan membuat keadaan ini berkesinambungan baginya, hingga ia menghadapNya. Kemudian, Dia memasukkannya ke dalam tempat yang mata tak pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, dan yang tak pernah tersirat dalam hati manusia, sebagaimana firman-Nya, ‘Tiada jiwa yang tahu yang disembunyikan bagi mereka, yang akan mengenakkan mata mereka sebagai balasan bagi apa yang telah mereka perbuat.” (QS. as-Sajdah [32]: 17).









One Comment