79 Berserah Dirilah, Niscaya Kau Selamat
KEMUDIAN, Syekh—semoga Allah meridhai dan meridhakannya—berujar, “Para
kekasih Allah (al-ahbab, orang-orang shalih) senantiasa diidamkan oleh setiap pintu.
“Camkan! Fana’ (peleburan) diri adalah (proses) penafian seluruh makhluk dan pematangan tabiat (manusia) menjadi tabiat malaikat, kemudian luruh dari tabiat malaikat, hingga mencapai al-Minhaj al-Awwal (Hulu Awal = Hadirat Allah). Di sana Tuhan menyiramimu sesuka-Nya serta menanamimu sesuka-Nya.
“Jika kau menghendaki peringkat ini, maka Islam-lah, kemudian istislam (menyerahkan diri pada kehendak Allah), lalu ketahuilah Allah (‘ilm), lantas kenalilah (ma‘rifah), kemudian mewujudlah bersama-Nya. Ketika wujud kedirianmu sudah kau persembahkan untuk-Nya, maka praktis seluruh jati dirimu (kull menjadi milik-Nya. “Zuhud adalah amal sesaat, begitu juga wira’i (wara). Namun, makrifat adalah amal selamanya.”
80 Tanda-Tanda Kesempurnaan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Kalangan ahli mujahadah, muhasabah, dan kaum ulul ‘azmi (empu-empu pemilik ketabahan dan kesabaran tinggi) memiliki sepuluh perangai yang telah mereka terapkan pada diri
mereka. Dan, ketika mereka telah melaksanakan dan menyempurnakannya, maka insya Allah mereka akan dibawa-Nya menuju tempat-tempat yang mulia. “Pertama, tidak bersumpah dengan-Nya, entah benar atau tidak, entah sengaja atau tidak. Sebab, bila hal ini termapankan, dan lidah terbiasa dengannya, maka hal ini membawanya pada suatu kedudukan, yang di dalamnya ia mampu menghentikan bersumpah dengan sengaja atau tidak.
“Jika ia membiasakan hal demikian, maka Allah membukakan baginya pintu nur-Nya. Hatinya tahu manfaat ini, kedudukannya termuliakan, langkah dan kesabarannya terkuatkan. Maka, dipujilah dan dimuliakanlah ia di tengah-tengah tetangga dan sahabatnya, sehingga yang tahu ia menghormatinya, dan yang melihatnya takut kepadanya.
“Kedua, menghindar dari berbicara tak benar, entah serius atau bercanda. Sebab, bila ia melakukan dan mengukuhkan hal ini pada dirinya sendiri, dan lidahnya terbiasa dengannya, maka Allah membuka dengannya hatinya, dan menjernihkan dengannya pengetahuannya, sehingga ia tampak tak tahu kepalsuan. Bilaia mendengarnya dari orang lain, ia memandangnya sebagai noda besar, dan termalukan olehnya. Bila ia memohon kepada Allah agar menjauhkannya, maka baginya pahala
“Ketiga, menjaga janji. Sungguh, hal ini demikian menguatkannya, sebab mengingkari janji termasuk kepalsuan. Maka, terbukalah baginya pintu kemurahan, dan baginya kemuliaan, dan dicintailah ia oleh para shiddiq dan mulialah ia di hadapan Allah.
“Keempat, tidak mengutuk sesuatu makhluk pun, tak merusak sesuatu pun, meski sekecil atom pun, dan bahkan yang lebih kecil darinya. Sebab, hal ini termasuk tuntutan kebenaran dan kebaikan. Berlaku berdasarkan prinsip ini, memperoleh husnul khatimah di bawah naungan-Nya, Dia meninggikan kedudukannya, Dia melindunginya dari kehancuran, dan mengaruniainya kasih sayang dan kedekatan dengan-Nya.
“Kelima, tidak mendoakan keburukan bagi seorang pun, meski ia telah dizhalimi. Lidah
dan geraknya tak mendendam, tetapi bersabar demi Allah. Hal ini membawanya pada
kedudukan mulia di dunia dan di akhirat. Ia menjadi dicintai dan disayangi oleh semua penerima kebenaran, baik dekat maupun jauh.
“Keenam, tidak berpihak kepada kemusyrikan, kekafiran, dan kemunafikan mereka yang sekiblat. Sifat ini menciptakan kesempurnaan dalam mengikuti sunnah, dan amat jauh dari mencampuri pengetahuan Allah dan juga dari penyiksaan-Nya, dan amat dekat dengan ridha dan kasih sayang-Nya. Inilah pintu kemuliaan dan keagungan dari Allah Yang Maha Mulia, yang menganugerahkannya kepada hamba beriman-Nya sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap semua orang.
“Ketujuh, tidak melihat sesuatu kedosaan, baik lahiriah maupun batiniah. Mencegah anggota tubuhnya darinya, sebab hal ini merupakan suatu tindakan tercepat dalam membawa balasan bagi hati dan anggota tubuh di dunia dan pahala di akhirat. Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk berlaku begini, dan menjauhkan kedirian dari hati kita.
“Kedelapan, tidak membebani seorang pun, entah dengan beban ringan atau berat. Tetapi, melepaskan orang dari beban, entah diminta atau tidak. Hal ini menjadikan hamba-hamba Allah dan para shalih mulia, dan memacu orang untuk beramar makruf nahi munkar. Hal ini menciptakan kemuliaan penuh bagi hamba-hamba Allah dan para shalih, dan baginya segenap makhluk tampak sama. Maka, Allah membuat hatinya tak butuh, yakin dan bertumpu pada Allah. Allah tak meninggikan seorang pun, bila masih terikat kedirian. Bagi orang semacam ini, semua makhluk memiliki hak yang sama, dan mesti diyakini bahwa inilah pintu kemuliaan bagi para mukmin dan para shalih, dan pintu terdekat pada keikhlasan.
“Kesembilan, bersih dari segala harapan insan, dan tak merasa tergoda hatinya oleh milikan mereka. Sungguh, inilah kemuliaan besar, ketakbutuhan sejati, kerajaan besar, pujian agung, kepastian nan tegar kepasrahan sejati kepada-Nya. Inilah pintu segala pintu kepasrahan kepada-Nya, yang memampukan orang meraih ketakwaan kepada-Nya, dan pencipta ketertarikan sempurna dengan-Nya.
“Kesepuluh, rendah hati. Dengan ini, sang hamba termuliakan dan sempurna di
hadapan Allah (Maha Agung Dia) dan insan. Inilah sifat penyempurna kepatuhan, dan
dengannya sang hamba meraih kebajikan di kala suka dan duka, dan inilah keshalihan nan sempurna. Rendah hati membuat sang hamba merasa rendah daripada orang lain. Ia berkata, ‘Mungkin orang ini lebih baik dariku di hadapan Allah, dan lebih tinggi kedudukannya.’ Mengenai orang kecil, sang hamba berkata, ‘Orang ini tak menentang Allah, sedangkan aku menentangNya; sungguh ia lebih baik dariku.’ Mengenai orang tua, sang hamba berkata, ‘Orang ini telah mengabdi kepada-Nya sebelum aku.’ Mengenai orang alim, sang hamba berkata, ‘Orang ini telah dianugerahi yang tak ada padaku, ia telah memperoleh yang tak kuperoleh, ia mengetahui yang tak kuketahui, dan ia bertindak dengan pengetahuan.’ Mengenai orang bodoh, sang hamba berkata,
‘Orang ini tak mematuhi-Nya karena tak tahu, dan aku tak mematuhi-Nya meski aku tahu, dan aku tak tahu akhir hayatku dan akhir hayatnya.’ Mengenai orang kafir, sang hamba berkata, ‘Entahlah, mungkin ia akan menjadi seorang muslim, dan mungkin aku akan menjadi tak beriman.’
“Inilah pintu kasih sayang dan ketakutan. Bila hamba Allah telah menjadi begini, maka Allah menyelamatkannya dari segala bencana, menjadikannya pilihan-Nya, dan menjadilah ia musuh iblis, sang musuh Allah. Keadaan ini menciptakan pintu kasih. Dengan mencapainya, pintu kebanggaan tertutup dan tali kesombongan diri terputus, dan cita keunggulan diri, agamis, duniawi dan ruhani tercampakkan. Inilah hakikat pengabdian kepada-Nya; tiada lagi yang sebaik ini. Dengan meraih keadaan ini, lidah terhenti menyebut insan dunia dan yang sia-sia, dan karyanya tak sempurna tanpa hal ini; kebencian, kepongahan, dan keberlebihan terhapus dari hatinya pada segala keadaan, lidahnya sama; orang baginya sama. Ia tak menegur seseorang dengan keburukan, sebab hal ini membencanai hamba-hamba Allah dan pengabdi-pengabdi- Nya, dan menghancurkan kezuhudan.”









One Comment