Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

10 Lawanlah Hawa Nafsu dan Peliharalah Diri Darinya

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar “Sesungguhnya tiada sesuatu kecuali hanya Allah, sedangkan nafsu dirimu dan kamu adalah mukhathab (objek penerima). Nafsu adalah pembangkang Allah dan musuhNya. Segala sesuatu adalah bawahan yang tunduk kepada Allah, begitu pula nafsu secara penciptaan dan kepemilikan hakiki. Nafsu memiliki (sifat) suka mengklaim, berharap muluk-muluk, mengandung berahi dan kenikmatan menurutinya.

“Jika kau mengikuti al-Haqq ‘Azza wa Jalla untuk melawan nafsu dan memusuhinya, maka kau berada di pihak Allah dan menjadi musuh nafsu sebagaimana firman Allah kepada Nabi Daud As., “‘Wahai Daud, penghambaan adalah kau sepenuhnya di pihak-Ku dan menjadi musuh atas nafsu dirimu sendiri. Saat itulah, baru terwujud kesetiaanmu kepada Allah dan penghambaanmu kepada-Nya, lalu akan didatangkanlah kepadamu segala bagian dengan penuh aroma kelezatan dan engkau merasa terhormat dan termuliakan. Segala sesuatu akan melayanimu, juga menghormati dan menjunjungmu, sebab mereka semua adalah bawahan yang tunduk pada Tuhannya Azza wa Jalla, senantiasa mengikuti-Nya, karena memang Dia adalah Pencipta dan Pengada mereka (dari ketiadaan), sementara mereka menyatakan penghambaan penuh pada-Nya.

“Allah berfirman, ‘Dan, tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi  kamu  sekalian  tidak  mengerti  tasbih  mereka.  Sesungguhnya,  Dia  Maha

Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. al-Israa’ [17]: 44). Artinya, mereka berdzikir dan menyembah-Nya. Firman-Nya lagi, *…Lalu, Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati. (QS. Fushshilat [41]:

11).

“Kunci ibadah, apa pun bentuknya, dengan demikian terletak dalam sikap penentangan dirimu atas nafsumu. Allah berfirman, ‘Dan, janganlah engkau turuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah’ (QS. Shaad [38]: 26). Dia juga berfirman pada Nabi Daud, ‘Tinggalkanlah hawa nafsumu, sesungguhnya tak ada perusuh yang menentang-Ku di seluruh kerajaan-Ku kecuali hawa (nafsu).

“Ada pula sebuah hikayat terkenal tentang Abu Yazid alBistami Ra. Konon, saat bermimpi melihat Rabb al-‘Tzzah (Allah), ia bertanya kepada-Nya, ‘Bagaimana jalan menuju-Mu, wahai Bara Khudaya?’ Dia menjawab, ‘Tinggalkan nafsu dirimu dan kemarilah!’ Abu Yazid pun lantas bertutur, ‘Serta merta aku keluar dari nafsu diriku laksana seekor ular keluar (melongsong) dari kulit badannya.”

“Jadi, jelas sudah bahwa kebajikan terletak dalam sikap memusuhi nafsu diri secara umum dalam segala kondisi. Ketika kau berada dalam kondisi takwa, maka lawanlah nafsumu dengan keluar dari hal-hal yang haram dan syubhat atas makhluk (baca: manusia), juga kemurahan-kemurahan atas mereka, kepasrahan diri dan keyakinan pada mereka, ketakutan dan mengharap sesuatu pada mereka, serta ketamakan untuk memiliki rongsokan-rongsokan dunia yang mereka miliki. Kau pun tidak lagi mengharap pemberian mereka lagi atas dasar hadiah, zakat, shadaqah, kafarat, atau pembayaran denda nadzar. Putuskanlah angan pikirmu dari mereka dalam segala aspek dan perantara (asbab), bahkan ketika kau memiliki pewaris yang kaya raya, maka jangan sekali-kali kau harapkan kematiannya agar bisa mewarisi kekayaannya.

“Bersungguh-sungguhlah keluar dari lingkaran makhluk. Anggaplah mereka bak pintu gerbang yang membuka dan menutup, atau seperti pohon yang kadang-kadang berbuah dan kadang-kadang mandul yang tergantung pada tindakan Sang Penggerak dan pengurusan Sang Pengurus, yaitu Allah. Jika sudah demikian hal dirimu, maka kau telah menjadi Pengesa Tuhan ‘Azza wa Jalla.

“Namun di sini, jangan kau lupakan upaya untuk membebaskan diri dari paham fatalisme (Jabariyah)’. Yakinilah bahwa segala perbuatan tidak akan terjadi tanpa (campur tangan) Allah Taala agar kau tidak terjebak menyembah mereka dan melupakan Allah. Jangan sampai kau katakan bahwa tindakan manusia lepas dari aksi Allah, niscaya kau kafir dan menjadi seorang penganut Qadariyah. Akan tetapi, katakan bahwa segala perbuatan itu adalah milik Allah dari segi penciptaan (li Allah khalqan) dan milik hamba dari segi upaya untuk berusaha (li al-‘ibad kasban) sebagaimana tutur atsar! dalam mendudukkan posisi balasan dalam pahala dan siksa.

“Laksanakan perintah-perintah Allah yang berkenaan dengan mereka (manusia), dan lepaskanlah bagianmu dari mereka dengan perintah-Nya pula asal jangan melampaui batas. Hukum Allah telah tegak berdiri untuk menghukumi kamu dan mereka, maka jangan kau anggap dirimu sebagai hakim.

“Keberadaanmu  di  tengah-tengah  mereka  adalah  takdir.  Dan,  takdir  merupakan

‘kegelapan’. Karena itu, masukilah ‘kegelapan’ ini dengan lampu penerang (misbah), yaitu hakam; kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Jangan sekali-kali kau langgar keduanya. Jika terbetik suatu gagasan atau muncul keinginan dalam pikiranmu, maka kemukakan hal itu terlebih dahulu pada (timbangan) kitab dan sunnah. Jika kau dapati pengharaman pada keduanya terhadap pikiran atau keinginan tersebut, seperti keinginan untuk berzina, berbuat riba, atau bergaul dengan golongan orang fasik (durjana), dan maksiat-maksiat lain, maka buang segera hal itu dari pikiranmu, jangan malah kau terima, apalagi kau laksanakan. Pastikanlah bahwa pikiran tersebut berasal dari setan yang terkutuk.

“Dan, jika kau dapati penghalalan di dalam kitab dan sunnah atas ilham tersebut seperti hasrat-hasrat yang diperbolehkan berupa nafsu makan, minum, berpakaian, nikah, maka jauhkanlah pikiran tersebut dari dalam dirimu dan jangan sekali-kali kau terima begitu saja. Ketahuilah bahwa hal itu merupakan ilham nafsu dan syahwat kesenangannya. Dan, kamu diperintahkan untuk menentang dan memusuhi nafsu.

“Lalu, jika tak kau dapati pengharaman atau penghalalan hal tersebut di dalam kitab

dan sunnah, akan tetapi keinginan tersebut berupa sesuatu yang tidak kau pikirkan,

seperti keinginan ‘datanglah ke tempat ini’, atau ‘jumpailah si Polan’, namun kau di dalam hal ini tidak membutuhkannya, juga tidak ada kemaslahatan di dalamnya bagimu karena kau sudah merasa cukup dengan anugerah kenikmatan yang telah dilimpahkan oleh Allah Azza wa Jalla kepadamu berupa ilmu pengetahuan, maka ambil sikap tidak memilih dan jangan terburu melakukannya. Katakan pada dirimu sendiri, “Benarkah ini ilham dari Allah dan mesti aku laksanakan?’ Amati sisi kebaikan hal tersebut hingga ilham tersebut datang berulang-ulang dan memerintahkan untuk berlaku cepat, atau muncul pertanda pada orang yang mengetahui Allah Azza wa Jalla yang bisa dinalar oleh penalar dari kalangan para wali, juga oleh para pendukung dari kalangan para abdal. Di sini, kau tidak boleh terburu-buru bertindak melaksanakan karena kau tidak mengetahui akhir atau akibatnya, juga kandungan fitnah, kebinasaan, makar, dan ujian dari Allah Azza wa Jalla yang sengaja dipasang-Nya di dalamnya. Karena itu, bersabarlah  sampai Allah  ‘Azza  wa Jalla sendirilah  yang berbuat di dalam dirimu.

“Bila tindakan itu berdasarkan kehendak-Nya, dan kau terbawa melakukannya, lalu jika kau diadang fitnah, maka kau akan terpelihara darinya (fitnah tersebut), sebab Allah tidak akan menghukummu atas tindakan yang dikehendaki-Nya sendiri, namun Dia hanya akan menghukummu atas keterlibatanmu di dalam sesuatu.

“Jika kau berada dalam status hakikat, yaitu status kewalian, maka lawanlah nafsumu dan ikutlah perintah secara umum. Pelaksanaan perintah itu bisa dilakukan dengan dua pola:

“Pertama, ambil bagian duniawimu sebatas qut (kebutuhan untuk menyambung hidup) yang sudah merupakan hak nafsu, lalu tinggalkan bagian yang lain dan laksanakan kewajiban. Sibukkan diri dengan meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang samar.

“Kedua, terkait dengan perintah tersembunyi (amr batin), yaitu perintah al-Haqq ‘Azza wa Jalla yang bukan berwujud perintah (atas sesuatu yang wajib) dan larangan (atas sesuatu yang haram). Akan tetapi, perintah ini terbentuk dalam hal mubah yang tidak memiliki  ketentuan  hukum  dalam  syariah,  dengan  kata  lain  ia  tidak  termasuk

‘larangan’, juga ‘perintah’ wajib, melainkan diserahkan pada hamba untuk bertindak di

dalamnya atas kehendaknya sendiri. Hal ini disebut mubah.

“Dalam menyikapi hal demikian, seorang hamba tidak boleh terburu-buru melakukan sesuatu terhadapnya, melainkan harus menunggu perintah. Baru jika sudah diperintahkan, ia boleh melaksanakannya. Sehingga, seluruh gerak dan diamnya pun disebabkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

“Jika memang ada ketentuan hukumnya dalam syariah, maka ia harus memegang syariah. Dan, jika tetap tidak ada ketentuannya dalam syariah, maka boleh bertindak atas dasar perintah-perintah tersembunyi. Jika sudah demikian halnya, maka ia pun menjadi kalangan ahli hakikat. Lalu, jika tetap tidak ada perintah batin di dalamnya juga, maka itu hanyalah tindakan berstatus penyerahan diri (taslim). .

“Bila kau telah sampai pada halah kebenaran al-Haqq ‘Azza wa Jaila, yaitu kondisi pelenyapan (mahw) atau peleburan (fana’, yang merupakan kondisi para abdal dan orang-orang yang patah hati demi al-Haqq ‘Azza wa Jalla, juga orang-orang manunggal  dan  ahli makrifat,  para  pemilik  ilmu  dan  akal,  para  tuan  penggerak pengawas dan pelindung umat, para khalifah Sang Maha Pengasih; khalil-khalil, orang-orang kepercayaan-Nya, dan para kekasih-Nya (‘alaihimussalam).

“Dan, pelaksanaan perintah ini adalah dengan melawan nafsumu sendiri. Jangan sekali-kali kau bergantung pada daya dan upaya (kekuatan). Jangan sampai kau menyimpan kehendak dan ambisi untuk melakukan sesuatu sama sekali, baik untuk tujuan duniawi maupun ukhrawi, sehingga kau pun menjadi hamba Allah Yang Maha Memiliki (abdul Malik), bukan hamba kepemilikan (abdul Mulk), hamba perintah, bukan budak hawa (nafsu). Berlakulah seperti bayi di tangan juru rawat, mayit di tangan pemandinya, atau pasien di tangan dokter perawatnya, dalam hal-hal selain perintah dan larangan.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker