56 Qadha Adalah Pemenang, Sementara Ajal Adalah Pencari
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Segala pengalaman spiritual merupakan pengekangan, sebab sang wali diperintahkan untuk menjaga hal- hal itu. Segala yang diperintahkan untuk dijaga menimbulkan pengekangan. Berada dalam ketentuan Allah merupakan kemudahan, sebab yang diperintahkan hanyalah memberadakan diri ke dalam ketentuan-Nya. Sang wali tak boleh bersitegang dalam masalah ketentuan-Nya. Ia harus selaras dan tak boleh bertentangan dengan segala yang terjadi pada dirinya, entah manis atau pahit. Pengalaman itu terbatas, maka dari itu diperintahkan untuk menjaga pengalaman itu. Di lain pihak, kehendak Allah, yang merupakan ketentuan, tak terbatas.
“Tanda bahwa hamba Allah telah mencapai kehendak-Nya dan kemudahan adalah ketika seseorang diperintahkan-Nya untuk meminta kenikmatan-kenikmatan setelah diperintahkan untuk mencampakkannya dan menjauh darinya, sebab bila ruhaninya hampa akan kenikmatan, dan yang tinggal dalam dirinya hanyalah Tuhan, maka ia dimudahkan dan diperintahkan untuk meminta, mendambakan dan menginginkan hal- hal yang menjadi haknya dan yang bisa ia peroleh melalui permintaannya akan hal- hal itu, sehingga harga dirinya di mata Allah, kedudukannya dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla, dengan diterimaNya doanya, menjadi kenyataan.
“Pembebasan meminta anugerah pemberian termasuk gejala terkuat yang menunjukkan kelapangan setelah pengekangan, keluar dari segala ahwal dan magamat, serta memikul tugas memelihara batas.
“Jika ada yang mengatakan, ‘Ini menunjukkan lenyapnya kewajiban, ucapan ateistik (zindiq), keluar dari Islam, dan penolakan atas firman-Nya, ‘Dan, sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. al-Hijr [15]: 99).
‘Jawabnya, ‘Hal ini tak berarti begitu dan takkan begitu, tetapi bahwa Allah amat pemurah dan wali-Nya amat dicintai-Nya, sehingga Dia tak dapat mengizinkannya untuk menduduki suatu kedudukan hina di mata hukum dan agamaNya. Sebaliknya, Dia menyelamatkannya dari semua itu, menjauhkannya dari semua itu, melindunginya dan menjaganya di dalam batas-batas hukum. Maka, ia terlindung dari dosa dan senantiasa berada di dalam batas-batas hukum tanpa upaya dan perjuangan dari dirinya, sedangkan ia tak sadar akan keadaan ini dikarenakan oleh kedekatannya kepada Tuhannya. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia adalah salah satu dari hamba- hamba terpilih Kami. (QS. Yusuf [12]: 24). Firman-Nya lagi, ‘Sesungguhnya, terhadap hamba-hamba-Ku kau tak berkuasa’ (QS. al-Hijr [15]: 42). Firman lain, ‘Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan.’ (QS. ash-Shaaffaat [37]: 40).
“Duhai orang yang malang! Sang wali berada dalam tanggungan dan kehendak Tuhan
‘Azza wa Jalla, dan Dia mendidiknya di pangkuan kedekatan dan kelembutan-Nya. Bagaimana bisa si iblis mendekatinya? Bagaimana mungkin setan akan mampu mengusiknya dan memasukkan kejelekan-kejelekan dan hal-hal makruh di dalam syariat padanya?
“Dosa dan kekejian telah dijauhkan darinya, lalu bagaimana kau bisa mengatakan hal keji seperti itu? Abaikan saja pikiran-pikiran kotor yang hina dan akal-akal yang kurang, serta pendapat-pendapat bobrok!
“Semoga Dia melindungi kita dengan perlindungan dan kasih sayang sempurna
sehingga kita senantiasa mampu menjauhkan diri dari dosa-dosa. Semoga Dia
memelihara kita dengan rahmat-rahmat dan karunia-karunia sempurna-Nya melalui tindak kasih sayang-Nya!”
57 Tiada Cahaya Selain dari Misykat-Nya
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- “Butalah terhadap segala hal. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal itu. Bila kau lihat sesuatu pun dari hal-hal itu, maka karunia dan kedekatan Allah ‘Azza wa Jalla akan tertutup bagimu. Oleh karena itu, tutuplah segala hal dengan kesadaranmu akan keesaan Allah dan dengan peniadaan diri. Maka, akan tampak oleh mata hatimu hal Allah ‘Azza wa Jalla, dan kau akan melihatnya dengan kedua mata hatimu ketika hal itu tersinari oleh nur hatimu, nur imanmu, dan nur keyakinan teguhmu. Pada saat itu, cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu bak cahaya sebuah lampu di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangnya sehingga sisi luar rumah menjadi tercerahkan oleh cahaya dari dalam. Maka, diri dan anggota tubuh akan merasa ridha dengan janji Allah dan karunia-Nya.
“Kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia ke dalam gelap ketakacuhan dan kebodohanmu, agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana, dan tak bertumpu pada hal-hal itu. Sebab, jika kau lakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan karunia Allah akan tertutup pula bagimu lantaran kesyirikanmu. Nah, bila telah kau sadari keesaan-Nya, telah kau lihat karunia- Nya, kau hanya berharap kepada-Nya dan telah kau butakan dirimu terhadap segalanya selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, akan mengasihimu, akan menjagamu, akan memberimu makanan, minuman dan perawatan, akan membuatmu bahagia, akan menganugerahimu karunia-karunia, akan menolongmu, akan menjadikan kau penguasa, akan menafikanmu dari ciptaan serta dari dirimu sendiri, dan akan membuatmu tiada, sehingga kau takkan melihat baik kemiskinanmu maupun kekayaanmu.”









One Comment