Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

  1. Tasybih Tamtsil
  2. Contoh—contoh
  3. Al-Buhturi berkata:

Ia adalah lautan kemurahan. Tingkatkan pendekatanmu kepadanya, maka kamu akan bertambah jauh dari kefakiran. .

  1. Umru’ul-Oais berkata:

Beberapa malam bagaikan ombak lautan, menutupkan kelambunya yang pekat kepadaku secara beruntun dengan berbagai macam kesusahan untuk mengujiku.

  1. Abu Firas A-Hamdani berkata:

Sungai memisahkan taman bunga itu pada kedua pinggirnya, bagaikan baju sulaman yang dihamparkan, sedangkan di atasnya tergeletak sebilah pedang yang telah terhunus dari sarungnya.

  1. Al-Mutanabbi berkata tentang Saifud-Daulah:

Pasukan di sekelilingmu bergerak seirama di kanan kirimu, sebagaimana burung rajawali yang menggerakkan kedua sayapnya.

  1. As-Sariyyur-Rafa’ berkata:

Dan seakan-akan bulan sabit itu huruf nuun dari perak yang tenggelam dalam piring besar yang biru.

  1. Pembahasan

Al-Buhturi menyerupakan kemurahan orang yang dipujanya dengan lautan. Di samping itu, ia mengimbau kepada orang-orang untuk meningkatkan pendekatan mereka kepadanya agar terjauhkan dari kefakiran. Umru’ul-Oais menyerupakan kegelapan dan kengerian malam dengan ombak laut, dan bahwa malam-malam itu menutupkan kelambunya disertai berbagai kesusahan dan penderitaan untuk menguji kesabaran dan kekuatan mentalnya.

Bila kita perhatikan wajah syibeh masing-masing tasybih di atas, maka wajah syibeh tersebut adalah suatu sifat atau beberapa sifat yang hanya dimiliki bersama oleh dua hal, yakni dalam kesempatan ini orang yang dipuja oleh Al-Buhturi dan laut, sama-sama memiliki sifat kemurahan, malam dan laut sama-sama memiliki sifat gelap dan menakutkan. Wajah syibeh yang demikian disebut sebagai wajah syibeh mufrad. Ke-mufrad-annya itu tidak menutup kemungkinan berbilangnya sifat yang dimiliki bersama tersebut. Tasybih yang wajah syibehnya demikan disebut tasybih ghairu tamtsil.

Setelah itu, perhatikan tasybih-tasybih berikut!

Abu Firas’menyerupakan keadaan air sungai, yakni air yang membelah taman menjadi dua bagian di kedua pinggirnya, yang dihiasi oleh bunga-bunga indah berwarna-warni, yang tersebar di antara tumbuh-tumbuhan hijau segar, diserupakan dengan pedang berkilau yang dihunus oleh para pembuat senjata, lalu diletakkan di atas kain sutera yang bersulamkan aneka warna. Maka manakah wajah syibeh-nya? Apakah Anda mengira bahwa penyair itu ingin mengaitkan dua tasybih, pertama, tasybih kali kepada pedang: kedua, tasbih taman dengan hamparan kain sutera berwarna-warni? Tidak demikian. Tiada lain ia hendak menyerupakan suatu keadaan yang ia lihat dengan keadaan lain yang ia khayalkan. Ia hendak menyerupakan kali yang terletak di antara dua taman berbunga dengan pedang terhunus yang diletakkan di atas hamparan kain bersulam. Maka wajah syibeh-nya adalah gambaran secara menyeluruh, pukan mufrad. Gambaran ini diambil dari beberapa hal. Gambarari yang terdapat pada kedua pihak tasybih adalah adanya warna putih yang memanjang, yang di kanan kirinya terdapat hamparan hijau yang diwarnai dengan aneka ragam bunga-bungaan.

Gambaran dua sayap pasukan, dan Saifud-Daulah berada di antara kedua sayap tentaranya yang bergerak berjalan seirama, digambarkan oleh Al-Mutanabbi sebagai burung rajawali yang menggerakkan kedua sayapnya. Wajah syibeh-nya bukanlah mufrad, melainkan diambil dari beberapa hal, yakni adanya dua barang yang berada di kiri kanan sesuatu yang bergerak dan bergelombang. ‘

Pada bait terakhir, As-Sari menyerupakan keadaan bulan sabit yang putih berkilau — yang berbentuk melengkung dan terletak di langit yang biru — dengan keadaan huruf nuun yang terbuat dari perak dan disimpan di dalam piring besar yang biru Wajah syibeh-nya adalah gambaran yang diambil dari beberapa hal, yakni adanya sesuatu yang putih berbentuk melengkung terletak di suatu tempat yang berwarna biru. Ketiga tasybih terakhir ini dan tasybih-tasybih yang wajah syibeh-nya berupa gambaran yang terangkai dari beberapa hal, disebut sebagai tasybih tamtsil.

  1. Kaidah-Kaidah

(8) Tasybih disebut sebagai tasybih tamtsil bilamana wajah syibeh-nya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal, dan disebut tasybih ghair tamtsil bila wajah syibeh-nya tidak demikian.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker