Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

BAB V :PENGARUH ILMU MA’ANI TERHADAP ASPEK BALAGHAH SUATU KALIMAT

Setelah masalah Ilmu Ma’ani dibahas panjang lebar, maka dapatlah kiranya disimpulkan di sini bahwa pembahasan Ilmu Ma’ani itu berpangkal pada dua hal, yaitu:

Pertama, Ilmu Ma’ani menjelaskan keharusan penerapan suatu kalimat sesuai dengan keadaan para pendengar dan masalah yang diungkapnya, dan menunjukkan kepada kita bahwa perkataan itu tidak dikatakan baligh, bagaimanapun bentuknya, sebelum sesuai dengan masalah yang diungkapnya dan kondisi pendengarnya. Sejak dulu orang Arab berkata, “Setiap masalah memiliki teknik penyampaian.”

Kadang-kadang kalam khabar disampaikan dengan disertai taukid, dan kadang-kadang tidak disertai taukid, sesuai dengan kondisi pendengarnya karena ia belum tahu kandungan kalimat, atau sebelumnya telah meragukan masalah yang dijelaskan kalimat tersebut, atau mengingkarinya. Membangkitkan kondisi yang asal ini bila tidak disertai dengan daya tarik berarti berpaling dari ketentuan yang telah digariskan dalam kaidah-kaidah balaghah. Perhatikan firman Allah Swt. tentang utusan-utusan Isa a.s. yang diutus kepada penduduk Anthakiyyah:

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka: (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya: kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, “Sesungguhnya kami adalah orangorang diutus kepadamu.” Mereka menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.” Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.” (QS Yaasiin: 13 – 16)

Para utusan itu ketika merasa bahwa penduduk Anthakiyyah mengingkari mereka untuk pertama kalinya, maka mereka menolak keingkaran tersebut dengan mempertegas kalimat dengan huruf taukid “inna”, sehingga mereka berkata, “Innaa ilaikum mursalun.” Dan ketika penduduk negeri itu bertambah ingkar dan menentang, maka mereka berkata, “Rabbunaa ya’lamu innaa ilaikum lamursalun,” yakni mereka mempertegas pernyataan mereka itu dengan gasam, inna, dan lam taukid.

Masalah yang lembut ini kadang-kadang tidak mendapat perhatian dari orang yang bukan ahli bahasa. Diriwayatkan bahwa Al-Kindi naik kuda menuju Abul-Abbas Al-Mubarrid”? dan berkata kepadanya, “Sungguh saya mendapatkan tambahan yang tidak berguna dalam percakapan orang Arab.” Abul Abbas bertanya, “Di mana Anda mendapatkan hal itu?” Al-Kindi berkata, “Kudapatkan hal itu dari ucapan mereka “Abdullah gaa-imun’, ‘inna abdallaaha qaa-imun’, dan ‘inna Abdallaaha lagaa-imun’. Ketiga kalimat itu diulang-ulang, sedangkan maknanya adalah satu. “Abul Abbas berkata, “Bahkan maknanya berbeda-beda. Kalimat pertama merupakan informasi atas berdirinya Abdullah, kalimat kedua merupakan jawaban suatu pertanyaan, dan kalimat ketiga merupakan penolakan terhadap orang yang mengingkari berdirinya Abdullah.”

Demikianlah Ilmu Ma’ani mengharuskan agar setiap orang diyjak bicara sesuai dengan kesiapan pemahamannya dan kemampuan-nya dalam segi bahasa dan sastra. Oleh karena itu, orang yang bodoh tidak dapat diajak bicara dengan menggunakan bahasa orang terdidik yang banyak mengerti tentang bahasa Arab dan rahasia-rahasianya.

Seseorang berkata kepada Basyar bin Burd, “Sesungguhnya engkau benar-benar membawa sesuatu yang cacat dari segala penjuru:” Ja berkata, “Apa itu?” Orang itu berkata, “Yaitu ketika engkau menaburkan debu dan melepaskan hati dengan ucapanmu:

Apabila kami marah dengan kemarahan yang tiada terkendali, maka kami akan mengoyak tabir matahari sehingga matahari itu menurunkan hujan darah. Bila kami mencela seorang bangsawan dari suatu kabilah yang berada di atas mimbar, maka ia akan memintakan rahmat dan salam bagi kami. Aku melihatmu berkata:

Anak perempuan pengurus rumahku itu menuangkan cuka ke dalam minyak. Ia memiliki sepuluh ekor ayam betina-dan seekor ayam jago yang bagus suaranya. tasyar berkata, “Masing-masing kalimat mempunyai arah dan tembat, Ucapanku yang pertama adalah benar-benar terjadi, sedangkan ucapanku yang kedua aku katakan mengenai anak perempuan istri- Aku tidak pernah memakan telur dari pasar. Dan ia memiliki sepuluh ekor ayam betina dan seekor ayam pejantan, dan ia yang me. ngumpulkan telur untukku.

Ucapan ini bagi anakku itu lebih baik daripada kata-kata ‘Qifaa nabki min dzikrai habiibin wa manzili’ bagimu.”

Banyak sekali kita dapatkan penyair yang sangat mudah dan lembut mengungkap isi hatinya sehingga syairnya mirip dengan ba’hasa percakapan. Kadang-kadang mereka juga kasar dan keras sehingga seakan-akan mereka mencampakkan kita dengan batu yang teramat besar. Semua itu sesuai dengan situasi dan kondisinya. Di antara contoh yang terbaik bagi jenis ini adalah syair Abu Nuwas karena syairnya tentang pujian dan penjelasannya dapat mencakup yang lain.

Prinsip Ilmu Ma’ani ini dipetik dari Rasulullah Saw., yakni ketika beliau hendak menulis surat kepada Raja Persi, beliau memilih kata-kata yang paling jelas dan mudah dipahami. Beliau menuliskan:

Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, pembesar Persi. Keselamatan semoga melimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Aku mengajakmu dengan ajakan Allah. Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup hatinya dan supaya pastilah ketetapan azab bagi orang-orang kafir. Islamlah, maka engkau akan selamat. Bila engkau tidak menerima tawaran ini, maka dosa orang-orang Majusi itu berada di pundakmu.

Dan ketika beliau hendak mengirim surat kepada Ukaidir, hakim

Daumatul-Jandal, maka beliau memilih kata-kata yang tegas dan berat serta kata-kata yang jarang diucapkan:

Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Ukaidir ketika siap menerima Islam dan melepaskan kemusyrikannya dan berhala. Sesungguhnya kita mempunyai tapal batas dari batang kurma yang berdiri kokoh, batang kurma yang telah lapuk, bumi-bumi yang belum diketahui identitasnya, bumi-bumi yang belum terjamah tangan manusia, dan senjata serta pedang. Akan tetapi, tapal batas dari batang kurma dan sumber mata air itu telah diramaikan, dan binatang ternakmu tidak boleh digembalakan di sana, sisa milikmu itu tidak dapat disatukan dengannya, dan tumbuh-tumbuhannya tidak dapat kamu harapkan. Engkau harus mendirikan salat sesuai dengan waktunya dan menunaikan zakat. Begitulah janji Allah kepadamu. Kesesuaian suatu kalimat dengan tuntutan keadaan pendengar dan masalah yang dibicarakan adalah Suatu hal yang harus diperhatikan dalam memilih ijaz dan ithnab, sebab ijaz memiliki tempat dan ithnab juga memiliki tempat tersendiri. Orang yang cerdik, yang cukup baginya ucapan yang sekejap, maka sangat baik kepadanya dilontarkan kalimat ijaz. Sedangkan terhadap orang yang lamban berpikirnya atau orang yang sombong, dianggap baik dilontarkan kalimat-kalimat ithnab.

Bila kita perhatikan Al-Qur’an, kita dapatkan bahwa bila menyeru orang-orang Arab atau Arab Badui, menggunakan kalimat yang seringkas-ringkasnya dan hampir-hampir hanya berupa isyarat Yan simbol. Dan apabila Al-Qur’an itu menyeru Bani Israil atau bers kisah tentang Bani Israil, maka menggunakan kalimat-kalimat ithnah yang panjang-panjang. Contoh firman Allah Swt. dalam menyeru Orang-orang Mekah:

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak da

pat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk

menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS Al-Hajj: 73)

Dan sedikit sekali kita dapatkan Al-Qur’an menyeru Bani Israil kecuali dengan kalimat-kalimat yang panjang lebar karena Yahudi Madinah beranggapan bahwa dirinyalah orang-orang ahli ilmu dan ahli kitab sehingga mereka berlebihan dalam kesombongan dan keingkaran, sedangkan Al-Qur’an menempatkan mereka sebagai orang-orang yang picik akalnya, dan karenanya Al-Qur’an menggunakan kalimatkalimat yang panjang-panjang. Sebagai bukti pandangan mereka yang demikian itu adalah apa yang diceritakan Al-Qur’an tentang mereka dan kadar pengetahuan mereka terhadap hal-hal yang mereka jumpai dalam perjalanan.

Ijaz mempunyai tempat-tempat yang baik untuknya, seperti dalam bersyukur, beralasan, menghibur, mencela, dan sebagainya. Ithnab juga mempunyai tempat-tempat yang tepat baginya, seperti dalam menyampaian ucapan-selamat datang, mendamaikan dua kelompok, bercerita, berpidato tentang kemasyarakatan. Dan bagi orang yang mempunyai jiwa sastra yang murni dapat menyumbangkan pemikirannya yang benar dalam masalah ini.

Adapun masalah kedua yang dibahas dalam ilmu Ma’ani adalah bahwa ilmu Ma’ani itu mempelajari rahasia yang terdapat dalam suatu kalimat melalui garinah-garinah yang ada, karena ilmu Ma’ani mengajarkan bahwa asal penyusunan suatu kalimat itu untuk menunjukkan suatu makna. Akan tetapi, kadang-kadang memberi kesan adanya makna lain yang dapat dipahami dari rangkaian kalimat tersebut dan keadaan yang berkaitan. Ilmu Ma’ani menjelaskan bahwa kalam khabar dapat menunjukkan tahassur (pengungkapan kesedihan), kalimat perintah dapat bermakna memperlemah (untuk menantang), kalimat larangan dapat bermakna doa, istifham dapat bermakna nafyi, dan sebagainya.

Ilmu Ma’ani juga menjelaskan bahwa kalam khabar kadang-kadang harus disertai dengan taukid kepada orang yang khaalidz-dzihni, dan kadang-kadang diucapkan kepada orang yang ingkar tanpa disertai taukid karena suatu alasan balaghah yang dikehendaki oleh si pembicara sehingga ia menyimpangkan makna dari makna lahiriyah.

Ilmu Ma’ani menjelaskan bahwa qashr sering kali digunakan oleh ahli sastra untuk tujuan yang banyak, seperti menggunakan qashr idhafi untuk melebih-lebihkan sesuatu, seperti ucapan Al-Mutafa-il:

Dunia itu tiada lain hanyalah mimpi indah yang dibangunkan (diakhiri) oleh kesegaran pagi. Al-Mutasya-im berkata: 

Waktu itu tiada lain hanyalah suatu malam yang panjang begadangnya, yang menghembuskan angin panas di siang harinya. dash dapat juga digunakan untuk menyindir, seperti firman Allah

Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (QS Ar-Ra’d: 19)

Sebab maksud ayat ini bukanlah agar pendengar mengetahui makna lahiriahnya, melainkan untuk menyindir orang-orang musyrik yang karena berlebihan dalam menentang dan mengikuti hawa nafsunya, maka Al-Qur’an menganggap mereka sebagai orang yang tidak berakal.

Ilmu Ma’ani menunjukkan bahwa di antara tujuan fashal dalam salah satu jenisnya adalah untuk menegaskan dan memantapkan makna di hati pendengar, sebagaimana dalam fashal karena adanya kesinambungan yang sempurna.

Semoga uraian yang singkat ini dapat memberi kepuasan kepada para pembaca, memberikan pengertian tentang Ilmu Ma’ani, beberapa uslub sastra, dan tata cara penyusunan kalimat yang baik sesuai dengan kondisi dan situasinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker