- Maksud dan Tujuan Tasybih
- Contoh-contoh
- Al-Buhturi berkata:
Ia dekat dengan orang-orang yang membutuhkannya, namun ia jauh dengan orang-orang yang setaraf dengannya dalam kebajikan dan kemuliaannya. Bagaikan bulan yang sangat tinggi, namun cahayanya sangat dekat bagi orang-orang yang menempuh perjalanan di malam hari.
- An-Nabighah Adz-Dzubyani berkata:
Seakan-akan engkau adalah matahari, sedangkan raja-raja lain adalah bintang-bintangnya. Bila matahari telah terbit, maka tiada satu bintang pun tampak.
- Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati seekor singa:
Kedua mata singa itu bila dalam kegelapan tidak dapat ditangkap mata kita kecuali disangka sebagai api sekelompok orang yang mendiami daerah itu.
- Allah Swt. berfirman:
Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu bagi meraka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya air itu sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. (QS Ar-Ra’d: 14)
- Abul Hasan Al-Anbari” berkata dalam menyifati orang yang disalib:
Uluran tanganmu kepada mereka dengan penuh penghormatan adalah seperti uluran tangan kepada mereka dengan beberapa pemberian.
- Seorang Arab Badui berkata dalam mencela istrinya:
la membuka mulutnya, sebaiknya ia tidak pernah lahir. Bila engkau melihat mulutnya itu, maka engkau akan menduganya sebagai satu pintu neraka yang terbuka.
- Pembahasan
Dalam kedua bait pertama Al-Buhturi menyifati orang yang dipuji, nya, bahwa ia sangat dekat dengan orang-orang yang membutuhkan. nya, namun ia sangat tinggi kedudukannya, jauh dengan Orang. orang yang setaraf dengannya. Akan tetapi, ketika Al-Buhturi merasa bahwa ia harus menyifati orang yang dipujinya itu dengan dua sifa yang berlawanan, yakni dekat dan jauh, maka ia hendak menunjuk. kan bahwa hal itu dapat terjadi dan tiada kesulitan dalam masalah itu. Untuk itu, ia menyerupakan orang yang dipujinya itu dengan bu. lan yang letaknya jauh di langit, tetapi cahayanya sangat dekat kepa. da orang-orang yang menempuh perjalanan di waktu malam. Hal ini adalah salah satu tujuan tasybih, yakni menunjukkan kemungkinan suatu hal dapat terjadi pada musyabbah.
An-Nabighah menyerupakan orang yang dipujinya dengan matahari dan menyerupakan raja-raja lainnya dengan bintang-bintang karena pengaruh raja yang dipujinya itu mengalahkan semua raja lainnya, seperti matahari menyembunyikan bintang-bintang. Jadi, ia ingin menjelaskan kondisi raja yang dipuji dan kondisi raja-raja lainnya. Dengan demikian, penjelasan suatu keadaan juga merupakan salah saru maksud dan tujuan tasybih.
Syair Al-Mutanabbi menjelaskan sifat mata singa dalam kegelapan, ia tampak merah menyala sehingga orang yang melihatnya dari kejauhan akan menyangkanya sebagai api yang dinyalakan oleh sekelompok orang yang tengah bermukim. Seandainya Al-Mutanabbi tidak hendak membuat tasybih, maka ia cukup berkata, “Sesungguhnya kedua mata singa itu merah.” Namun, karena ia merasa perlu untuk menghadirkan isi hatinya itu dalam bentuk tasybih, maka ia menjelaskan kadar kebesaran warna merah mata singa tersebut. Jadi, menjelaskan gambaran sesuatu adalah salah satu maksud dan tujuan tasybih.
Adapun firman Allah adalah menjelaskan keadaan orang yang menyembah berhala yang menyembah tuhan-tuhan mereka yang tidak dapat memenuhi permintaan mereka, dan doa mereka itu tidak membawa faedah bagi diri mereka. Allah ingin menegaskan hal itu agar dapat diresapi oleh setiap orang, maka Dia menyerupakan mereka dengan orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air untuk minum, maka dengan cara demikian air tidak akan sampai ke mulut, melainkan akan jatuh kembali melalui sela-sela jari tangannya selama telapak dan jarinya terbuka. Jadi, maksud dan tujuan tasybih dalam ayat di atas untuk menegaskan keadaan musyabbah. Maksud dan tujuan demikian ditempuh manakala musyabbah merupakan hal yang bersifat abstrak, mengingat sesuatu yang abstrak sulit dipahami, tidak sebagaimana hal yang kongkret. Maka untuk memudahkan pengertian, diserupakanlah dengan hal yang kongkret.
Syair Abul Hasan Al-Anbari merupakan kasidah yang sangat masyhur di dunia sastra Arab. Hal ini tiada lain karena menyatakan kebagusan sesuatu yang disepakati oleh seluruh manusia sebagai sesuatu yang jelek dan mengerikan, yakni penyaliban. Ia menyerupakan uluran tangan orang yang disalib ke tiang salib dan dikelilingi oleh sekelompok manusia dengan uluran tangannya untuk memberikan sesuatu kepada para peminta-minta ketika hidup. Maksud dan tujuan tasybih dalam syair ini adalah untuk memperindah sesuatu. Tujuan tasybih yang demikian sering ditampakkan dalam bentuk pujian, ratapan, keagungan, dan untuk mengundang rasa belas kasihan.
Pada bait terakhir, penyair menyifati istrinya yang sedang marah dan menyakitkan, sehingga ia menyesalkan keberadaannya, dan untuk itu ia berkata laa kaanat (sebaiknya ia tidak pernah lahir). Ia menyerupakan mulut istrinya itu ketika terbuka menghamburkan kemarahannya dengan salah satu pintu neraka. Maksud dan tujuan tasybih dalam syair ini adalah menjelekkan sesuatu. Kebanyakan maksud dan tujuan demikian dipakai untuk mengejek dan menggambarkan hal-hal yang tidak disukai.
- Kaidah-Kaidah
(10) Maksud dan tujuan tasybih itu banyak di antaranya:
- Menjelaskan kemungkinan terjadinya sesuatu hal pada musyabbah, yakni ketika sesuatu yang sangat aneh disandarkan kepada musyabbah, dan keanehan itu tidak lenyap sebelum dijelaskan keanehan serupa dalam kasus lain.
- Menjelaskan keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah tidak dikenal sifatnya sebelum dijelaskan melalui tasybih yang menjelaskannya. Dengan demikian, tasybih itu memberikan pe, ngertian yang sama dengan kata sifat.
- Menjelaskan kadar keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah sudah diketahui keadaannya secara global, lalu tasybih dida, tangkan untuk menjelaskan rincian keadaan itu.
- Menegaskan keadaan musyabbah, yakni bila sesuatu yang di. sandarkan kepada musyabbah itu membutuhkan penegasan dan penjelasan dengan contoh.
- Memperirtdah atau memperburuk musyabbah.
- Latihan Contoh Soal:
- Ibnur-Rumi berkata dalam memuji Ismail bin Bulbul:
Banyak sekali puncak kemuliaan seorang ayah itu karena kemuliaan anaknya, seperti Adnan mencapai puncak kemuliaan karena kemuliaan Rasulullah Saw.
- Abuth-Thayyib berkata tentang orang yang dipujinya:
Saya melihat semua orang dermawan menuju kepadamu, seakan-akan engkau adalah laut dan raja-raja lainnya adalah sungai-sungai kecil.
- Jelaskan maksud dan tujuan setiap tasybih berikut ini!
- Al-Buhturi berkata:
Engkau merendah dengan tawadhu’ dan menjadi tinggi karena kemuliaan. Maka begitulah keadaanmu, merendah dan menaik. Begitu halnya matahari, jauh dan tinggi, namun sinar dan cahayanya dekat.
- Asy-Syarif Ar-Ridha berkata:
Aku mencintaimu, hai masa pemuda, karena aku melihatmu berdua dengan hati dan mata sebagai dua hal yang kembar. Engkau menetap di lubuk hati karena engkau menyerupuinya, hingga aku tidak mengetahui karena sulit menentukan siapakah di antara kamu berdua yang menjadi hati sebenarnya.
- Dalam kitab Kalilah wa Daminah dinyatakan:
Keunggulan orang yang berilmu meskipun ia merahasiakan ilmunya adalah seperti minyak kesturi yang tertutup rapi, namun baunya tetap semerbak.
- Seorang penyair berkata:
Diriku terhadap Laila pagi ini laksana orang yang menggenggam air yang dikhianati oleh jari-jari yang merenggang.
- Al-Mutanabbi berkata dalam sebuah syair sindiran:
Apabila ia berisyarat sambil bicara, maka seakan-akan ia adalah seekor kera yang tertawa terbahak-bahak atau seorang nenek-nenek yang marah-marah.
- As-Sirri Ar-Raffa’ berkata:
Rumahku yang kudiami sempit bagaikan liang biawak, yang kedua siSi-sisinya berdekatan sehingga benar-benar sempit. Saya harus memutar-mutar badan ketika memasukinya sehingga saya tidak dapat lagi meluruskan kaki dan betis.
- Ibnul Mu’taz berkata:
Ombak anak sungai itu bergelombang bila tertiup angin kencang dan angin sepoi-sepoi. Dan ketika matahari terbit di atasnya, maka engkau akan menduganya sebagai baju besi yang berlapis emas.
- Sa’id bin Hasyim Al-Khalidi membuat kasidah untuk menyifati pembantunya:
Ia bukanlah seorang budak, melainkan anak yang dikuasakan Allah yang Mahakuasa lagi bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dengan pelayanannya yang bagus, ia sangat membantuku. Maka ia adalah tanganku, hastaku, dan bahuku.
- Al-Ma’arri berkata tentang uban dan pemuda:
Ceritakan kepadaku mengapa kamu membenci uban, apakah dosanya orang yang beruban: apakah karena terangnya siang hari, ataukah karena sinar mufiara, dan ataukah karena ia mengerti gigi depan kekasihmu? Dan katakanlah kepadaku tentang kelebihan masa muda, termasuk penampilan yang menarik lagi baik, yaitu pengkhianatannya terhadap kekasih ataukah kecintaannya kepada penyelewengan atau kesukaannya kepada kehidupan sastrawan.
- Sebagian Syair dinisbatkan kepada ‘Antarah.
Saya adalah anak seorang wanita hitam pelipisnya, sehitam serigala yang tumb-ih berkembang di sekitar rumah. Betisnya panjang seperti betis burung unta dan rambutnya keriting seperti biji lada.
- Ibnu Syuhaid Al-Andalusi berkata dalam menyifati kutu busuk:
Hitam kelam, jinak tapi liar, tidak lamban, dan tidak lemah, seakanakan ia suatu bagian yang tak terpisahkan dari malam, atau setetes tinta, atau biji hitam hati, minum tanpa meneguk, berjalan dengan meloncat, bersembunyi di siang hari. Keluar di waktu malam, mengejar dengan tusukan yang menyakitkan, menghalalkan darah orang yang baik dan orang yang jahat, menyerang semua pemberani, menghunus mata senjatanya kepada orang-orang kuat, tidak peduli terhadap penguasa, tidak mempedulikan sikap orang yang cemburu, ia adalah sehina-hinanya makhluk, kejahatannya tersebar di mana-mana dan perjanjiannya selalu ia khianati. Alangkah lemahnya manusia, dan betapa jelasnya kekuasaan Allah Yang Maha Pengasih.
Il. Buatlah tasybih untuk:
- menjelaskan keadaan harimau.
- menjelaskan keadaan bulatan.
- menjelaskan keadaan obat yang pahit.
- menjelaskan keadaan kobaran api di rumah.
- menegaskan keadaan orang yang membabi buta sedang menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kerusakan tanpa disadarinya.
- menegaskan keadaan orang yang berada di dalam kegelapan, kebatilan, dan tersiksa bila terkena cahaya kebenaran.
- menjelaskan kemungkinan terjadinya bahaya yang besar dari sesuatu yang tidak seberapa.
- menjelaskan kemungkinan bahwa kepayahan “akan membuahkan ketenangan dan kenikmatan.
- kebaikan anjing.
- kebaikan masa tua.
- keburukan musim kemarau
- keburukan musim penghujan.
III. Uraikan dengan singkat bait-bait syair berikut ini dan sebutkan maksud dan tujuan setiap tasybihnya!
Kami terpelihara dari kobaran panas bumi yang tersengat panas mata hari oleh lembah yang disiram hujan yang rata dan lebat.
Kami berteduh di bawah pohon besar di lembah itu, maka pohon itu mengayomi kami seperti ibu yang membelai anak yang telah disapihnya. .
Dan lembah itu memberi kami minuman dengan air tawar yang lebih nikmat daripada tuak bagi pencandunya.
- Tasybih Maglub (Penyerupaan yang Terbalik)
- Contoh-contoh
- Muhammad bin Wuhaib Al-Hinmyari berkata:
Pagi telah muncul, seakan-akan gebyarnya adalah wajah khalifah kerika dipuji.
- Al-Buhturi berkata:
Seakan-akan cahaya awan di sore hari sampai menjelang pagi itu adalah senyuman Isa ketika mengucapkan janji.
- Penyair lain berkata:
Aku rindu kepada mereka, namun untuk sampai ketempat mereka harus melewati tanah lapang yang luasnya seperti lapang dadanya seorang penyantun.
- Pembahasan Al-Himyari menyatakan bahwa cemerlangnya gebyar pagi itu menyerupai wajah khalifah ketika mendengar pujian dan sanjungan untuknya. Dari pernyataan ini dapat kita ketahui bahwa tasybih yang dibuat oleh Al-Himyari keluar dari gambaran yang ada di hati kita, yakni bahwa selamanya sesuatu itu diserupakan kepada yang lain yang lebih kuat dalam titik kescrupaannya. Yang sering terdengar adalah bahwa wajah khalifah menyerupai gebyar pagi, sedangkan Al-Himyari menyatakan sebaliknya dengan maksud untuk berlebihlebihan dan habis-habisan mendakwakan bahwa wajah syibeh lebih kuat pada musyabbah. Tasybih demikian merupakan salah satu keunggulan seni dan keindahan bahasa.
Al-Buhturi menyerupakan cahaya awan yang terus-menerus memantul sepanjang malam dengan senyuman orang yang dipujinya ketika menjanjikan pemberian. Padahal sudah pasti bahwa pantulan cahaya awan itu lebih kuat daripada pantulan cahaya senyuman. Dan yang biasa kita dengar adalah senyuman diserupakan dengan pantulan cahaya awan, sebagaimana kebiasaan para penyair. Akan tetapi, Al-Buhturi menyatakan tasybih yang sebaliknya.
Dalam contoh tasybih terakhir, tanah lapang diserupakan dengan dada seorang penyantun dalam hal keluasannya. Pernyataan terakhir ini juga suatu tasybih maqlub.
- Kaidah
(11) Tasybih maqlub adalah menjadikan musyabbah sebagai musyabbah bih dengan mendakwakan bahwa titik keserupaannya lebih kuat pada musyabbah.
- Latihan
Contoh Soal:
- Seakan-akan angin yang lembut itu adalah akhlaknya.
- Seakan-akan kejernihan air itu adalah perangainya.
- Seakan-akan terangnya siang itu adalah pelipisnya.
- Seakan-akan hamparan bumi yang menghijau itu adalah kebagusan perjalanan hidupnya.
- Mengapa tasybih-tasybih berikut ini dikatakan sebagai tasybih maglub?
- Ibnul-Mu taz berkata:
Pagi itu berada pada penghujung malam yang mulai meremang, seakan-akan ia adalah bulu putih pada kuda yang berbulu merah.
- Al-Buhturi berkata:
Pada kemerahan bunga mawar terdapat sesuatu dari kemerahan pipinya, dan pada gerakan dahan terdapat sesuatu “dari lenggak-lenggoknya.
- Al-Buhturi juga berkata dalam menyifati jamban Al-Mutawakkil:
Seakan-akan jamban itu ketika terus-menerus mengucurkan air adalah tangan khalifah ketika pemberiannya mengalir.
- Perahu berjalan membawa kita di laut yang seakan-akan ia adalah pemberianmu, dan memancar cahaya purnama itu yang seakan-akan ia adalah keindahan wajahmu.
- Bedakan antara tasybih maglub dan lainnya pada kalimat-kalimat berikut dan sebutkan maksud dan tujuan setiap tasybihnya!
Seakan-akan kegelapan malam itu rambut yang hitam kelam.
- Abuth-Thayyib berkata:
Ujung-ujung tombaknya berkilauan membabat musuh-musuh dalan kegelapan debu medan perang, sedangkan di kanan-kirinya banyak terdapat bintang-bintang.
- Seakan-akan anak panah itu ucapannya, dan hujan adalah pemberiannya.
- Al-Abyuwardi berkata:
Kata-kataku adalah untaian kalung penghias leher, zaman terus berlalu, tetapi kataku itu akan kekal.
- Salah seorang juru tulis Al-Ma’mun mengirimkan seekor kuda kepadanya seraya berkata:
Telah aku kirimkan kebaikan yang tiada dapat ditemui semisalnya, yakni seekor kuda yang dapat dibanggakan dengan pelana dan kendalinya. Wajahnya adalah (bagaikan) subuh (putih), tetapi seluruh badannya gelap gulita (hitam). Segala sesuatu yang patut bagi Tuan adalah tidak pantas bagi budak. .
III. Ubahlah tasybih-tasybih berikut menjadi tasybih maglub dan jelaskanlah jenis tasybih mana yang lebih baligh!
1 Al-Buhturi berkata dalam menyifati suatu gedung di atas lereng:
.Terletak pada tempat yang menonjol, kerikilnya adalah mutiara dan debunya adalah minyak kesturi yang dicampur dengan minyak ambar.
- Ia berkata:
Pemberian Fat-h bin Khagan bagimu adalah pemberian hujan bagi bumi yang terbakar oleh musim kering.
- Ia berkata dalam suatu senda gurau:
Aku tidak lupa kepadanya ketika ia muncul dari kejauhan. Gaya jalannya bagaikan ranting dahan muda yang bergoyang.
- Ia berkata tentang orang yang dipujinya:
Dia tampak cerah karena bahagia, ia adalah bunga di pagi hari, dan kebersihan akhlaknya adalah gerimis di pagi hari.
- Ubahlah tasybih-tasybih maglub berikut ini menjadi tasybih ghai, maglub:
- Kami naik kereta api yang meluncur. cepat seakan-akan kuda balap.
- Bunga itu semerbak, seakan-akan ia adalah kisahmu yang indah.
- Pagi telah tiba, seakan-akan ia adalah argumentasimu yang cemerlang,
- Seorang penunggang kuda itu menyandang pedangnya, seakan-akan pedang itu adalah keteguhan jiwanya dalam peperangan.
- Buatlah tasybih maglub dengan tharaf-tharaf berikut ini dan terlebih dahulu jodohkanlah menjadi berpasang-pasangan!
- Gemuruh petir. g. Cahaya kilat.
- Cahaya kekasihnya. h. Rambutnya.
- Pancaran sinar matahari. i. Kegelapan malam.
- Kemarahannya. j-Akhlaknya.
- Sambaran petir. k. Senyumannya. .
- Suaranya. l. Bunga-bunga musim, semi.
- Sempurnakanlah tasybih-tasybih maglub berikut!
- Seakan-akan ………. adalah kedatanganmu untuk menengokku.
- Seakan-akan ……….. dalah keberanianmu.
- Seakan-akan …….. adalah suaranya yang tidak menyenangkan.
- Seakan-akan ……. adalah kepanasan dendamnya.
- Seakan-akan ……. Adalah batas keteguhan jiwamu.
- Seakan-akan ……. adalah tipu muslihatnya.
VII. Sempurnakanlah tasybih-tasybih maqlub berikut!
- Seakan-akan hembusan angin adalah ………
- Seakan-akan kehinaan anak yatim adalah ………..
- Seakan-akan kesegaran bunga mawar itu Adalah……
- Seakan-akan intan itu adalah ……,
- Seakan-akan kejernihan air itu adalah………
- Seakan-akan sihir itu adalah ……..
VIII. Dijelaskan dalam buku-buku sastra bahwa Abu Tamam ketika memuji Ahmad bin Al-Mu’tashim dengan syair berikut:
(Ia) memiliki sifat keberanian Amr kemurahan Hatim lapang aada Ahnaf dan kecerdikan Iyas.
Maka berkatalah orang yang dengki kepadanya di hadapan orang yang dipujinya itu, “Engkau (Wahai Abu Tamam) tidak lebih hanyalah menyerupakan seorang penguasa dengan orang-orang yang di bawah martabatnya.”
Maka berkatalah Abu Tamam:
Janganlah kamu ingkari perumpamaan yang aku buat baginya dengan orang yang di bawahnya, suatu perumpamaan yang sejalan dengan kemuliaan dan keberaniannya.
Allah membuat perumpamaan yang kecil bagi cahaya-Nya, seperti diserupakan lubang yang tidak tembus dan lentera.
Soal: Apa maksud sanggahan yang diberikan oleh Abu Tamam dalam dua bait syair di atas? Dapatkah kamu membela Abu Tamam dengan argumentasi lain setelah kamu perhatikan seluruh bait syairnya? Jenis tasybih apa yang disetujui oleh para kritikus itu?
- Buatlah tasybih-tasybih maglub tentang:
- Sifat keberanian seseorang.
- Sifat perahu.
- Sifat kalimat yang baligh.
- Perhatikan syair Al-Mutanabbi berikut:
Seandainya bukan penghinaan terhadap singa, maka saya serupakan mereka dengannya. Akan tetapi, singa jarang didapat di antara binatang ternak. Jelaskanlah tentang keindahan penjelasan dalam bait syair di atas. Apakah kau melihat suatu pujian yang lebih baligh seandainya AlMutanabbi itu berkata, “Syabbahtuhaa bihim (maka saya menyerupakannya dengan mereka)?” Kalau demikian, tasybih akan menjadi bagaimana?
- Balaghah Tasybih dan Sebagian Pengaruhnya bagi Orang Arab dan Ahli Bahasa Berikutnya?”
Balaghah tasybih muncul bilamana tasybih itu membawa kita dari suatu keadaan kepada keadaan baru yang menyerupainya, atau kepada gambaran serupa yang mempunyai nilai lebih. Bila perpindahan gambaran itu jauh dan jarang terlintas di hati, atau disertai sedikit atau banyak khayalan, maka tasybihnya akan semakin indah dan me, ngagumkan.
Bila kau katakan bahwa si Polan menyerupai Zaid dalam ke, tinggian badannya, atau bumi itu menyerupai bola dalam bentuknya atau kepulauan Inggris itu menyerupai negara Jepang, maka tasybih, tasybih ini tidak mempunyai nilai balaghah karena keserupaannya je, las dan tidak membutuhkan kesungguhan, kecerdikan, dan keahlian sastra untuk memahaminya, juga karena tidak mengandung daya khayal.
Tasybih yang demikian diucapkan sebagai metode penjelasan dan mempermudah pemahaman tentang sesuatu. Dan tasybih ini sa. ngat banyak digunakan dalam berbagai disiplin ilmu dan seni.
Namun, bila kita memperhatikan syair Al-Ma’arri berikut dalam menyifati sebuah bintang, maka akan kita temukan keindahan tasy. bih-nya:
Bintang itu dalam kemerahannya mempercepat kerlipan cahayanya, sebagainana orang yang dalam puncak kemarahannya mempercepat kedipan dan lirikan matanya. Karena penyerupaan kedipan bintang dengan kemerahan cahayanya terhadap kecepatan kedipan dan lirikan mata orang yang marah adalah suatu penyerupaan yang sangat jarang terjadi dan tidak akan dibuat kecuali oleh seorang sastrawan.
Contoh lain adalah syair berikut:
Seakan-akan bintang-bintang di antara kegelapan malam itu adalah beberapa sunah yang bersinar terang menerangi perbuatan bid’ah. Keindahan tasybih ini berada pada anggapan kita akan pengetahuan dan kecerdikan penyair dalam menyusun tasybih antara dua keadaan yang tidak pernah terlintas dalam hati adanya keserupaan itu, yakni keserupaan keadaan bintang-bintang dalam kegelapan malam dengan keadaan sunah-sunah agama yang sahih, yang menyebar terpisah-pisah di antara bid’ah-bid’ah yang batil. Tasybih di atas memiliki daya tarik lain, yakni bahwa penyair mengkhayalkan bahwa sunahsunah itu bercahaya dengan terang, sedangkan bid’ah itu gelap gulita.
Di antara tasybih yang paling indah adalah pernyataan Al-Mutanabbi berikut:
Binasalah diriku jika aku tidak berhenti di tempat-tempat bekas kekasihku itu, sebagaimana seorang yang bakhil berdiri menyesali kehilangan cincinnya di tanah.
Al-Mutanabbi mendoakan dirinya akan binasa bila ia tidak berhenti untuk mengenang nostalgianya bersama para penghuni reruntuhan itu di masa yang silam. Kemudian menggambarkan keadaannya ketika berhenti untuk mengenang nostalgia, maka ia berkata, “Sebagaimana orang yang bakhil berdiri menyesali kehilangan cincinnya di tanah.” Tiada seorang pun yang berkemampuan menggambarkan kepadamu keadaan orang yang bingung, susah, sedih, dan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menundukkan kepalanya seperti keadaan orang bakhil kehilangan cincinnya yang mahal. Demikianlah nilai balaghah tasybih dari segi sangat jarangnya dan jauhnya sasaran, serta kadar isinya yang khayali. Adapun balaghah tasybih dari segi bentuk kalimatnya juga berbeda-beda. Tasybih yang paling rendah tingkat balaghahnya adalah tasybih yang disebutkan seluruh unsurnya, karena balaghah tasybih terletak pada dakwaan bahwa musyabbah adalah musyabbah bih itu sendiri,” sedangkan keberadaan adat tasybih dan wajah syibeh akan menghalangi dakwaan ini. Maka bila dibuang adat-nya atau wajah syibeh-nya, tingkat balaghahnya akan meningkat karena dengan dibuangnya salah satu unsur tersebut akan sedikit memperkuat dakwaan kesatuan musyabbah dengan musyabbah bih. Adapun tasybih yang paling tinggi tingkat balaghahnya adalah tasybih baligh. (Lihat kembali pembagian tasybih) karena tasybih baligh dibuat atas dasar dakwaan bahwa miusyabbah dan musyabbah bih itu hal yang satu.
Telah menjadi tradisi orang Arab dan para ahli bahasa setelah mereka menyerupakan orang yang dermawan dengan laut dan hujan, orang yang pemberani diserupakan dengan singa, wajah yang bagus diserupakan dengan matahari dan bulan, orang yang Cerdik cendekia dalam menangani segala urusan diserupakan dengan pe dang, kedudukan yang tinggi diserupakan dengan bintang, orang pe, nyantun yang teguh pendiriannya diserupakan dengan gunung, ha, rapan-harapan palsu diserupakan dengan mimpi, wajah yang berca, haya diserupakan dengan dinar, rambut yang hitam pekat diserupa, kan dengan malam, air yang bening diserupakan dengan perak, ma. lam diserupakan dengan ombak laut, pasukan tentara diserupakan dengan laut yang pasang, kuda diserupakan dengan angin dan kilat, bintang diserupakan dengan mutiara dan bunga, gigi diserupakan dengan salju dan mutiara, perahu diserupakan dengan gunung, anak-anak sungai diserupakan dengan ular yang melingkar, uban di. serupakan dengan siang dan kilauan pedang, bulu putih di dahi ku. da diserupakan dengan bulan sabit, penakut diserupakan dengan bu. rung unta dan lalat, orang yang tercela diserupakan dengan musang, orang yang membabi buta diserupakan dengan laron yang mengerumuni cahaya lampu, orang yang hina diserupakan dengan patok, orang yang keras hati diserupakan dengan besi dan batu, orang yang bodoh diserupakan dengan himar, dan orang yang bakhil diserupakan dengan bumi yang tandus.
Banyak tokoh Arab yang terkenal dengan kepribadian yang terpuji, hingga mereka dijadikan sebagai tolok ukur dalam penyerupaan sifat-sifat. Oleh karena itu, orang yang tepat janji diserupakan dengan Samuel orang yang dermawan diserupakan dengan Hatim, orang yang adil diserupakan dengan Umar orang yang penyantun diserupakan dengan Al-Ahnaf, orang yang fasih diserupakan dengan Sahban, orang yang jago pidato diserupakan dengan Quss Orang yang pemberani diserupakan dengan ‘Amr ibnu Ma’dikariba, orang yang bijak diserupakan dengan Lugman, dan orang yang cerdas diserupakan dengan Iyas.
Dan sebaliknya banyak pula orang Arab yang dikenal berperangai sangat tercela, yang juga dijadikan sebagai tolok ukur tasybih. Maka orang yang kepayahan diserupakan dengan Bagil, orang yang dungu diserupakan dengan Habanaggah! , orang pemurung diserupakan dengan Kusa’i, orang bakhil diserupakan dengan Marid orang yang suka mengejek diserupakan dengan Hutha”ah dan orang yang keras kepala diserupakan dengan Hajjaj.


One Comment