- Kalam Khabar
B.1 Tujuan Pengungkapan Kalam Khabar
- Contoh-Contoh
1)Nabi Muhammad Saw. dilahirkan pada tahun Gajah, diturunkan wahyu kepadanya ketika beliau berumur empat puluh tahun. Beliau bermukim di Mekah selama tiga belas tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun.
2) Umar bin Abdul Aziz tiaak mengambil harta sedikit pun dari baitul mal, dan tidak menetapkan bagi dirinya satu dirham pun dari harta fai’.
3) Sungguh benar-benar kamu bangkit dari tidurmu hari ini pagi sekali.
4) Anda bekerja di kebun Anda setiap hari.
5) Yahya Al-Barmaki berkata kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid:
Sesungguhnya orang-orang ‘Barmak yang ditimpa bencana darimu waJah-wajahnya menguning dan pakaiannya tampak hina.
6) Allah Swt. berfirman mengisahkan pengaduan Zakariya a.s.:
Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban. (QS Maryam : 4)
7) Salah seorang Arab Badui meratapi anaknya:
Ketika aku memanggil kesabaran dan dukacita setelah kaupergi, maka dukacita memenuhi panggilanku dengan taat, sedangkan kesabaran tidak mau memenuhinya. Maka apabila darimu aku putus harapan, sesungguhnya kesusahan akan senantiasa menimpamu selama waktu masih berjalan.
8) Amr bin Kultsum berkata:
Apabila anak kita sudah sampai waktu penyapihan (berhenti menyusu), maka orang-arang besar dan sombong akan tunduk sujud kepadanya.
9) Thahir bin Al-Husain mengirim surat kepada Al-Abbas bin Musa Al-Hadi yang terlambat membayar upeti daerahnya:
Orang yang punya banyak kebutuhan itu bukanlah orang yang sepanjang malam tidur nyenyak. Akan tetapi, orang yang punya banyak kebutuhan adalah orang yang sepanjang malam dalam ketakutan.
- Pembahasan
Perhatikanlah dua contoh pertama, masing-masing menunjukkan bahwa si pembicara bermaksud menyampaikan hukum yang terkandung dalam berita yang disampaikannya. Hukum tersebut disebut sebagai faa-idatul khabar. Jadi, pembicara dalam contoh pertama bermaksud memberi tahu pendengarnya tentang hal yang semula tidak diketahuinya, yakni tahun kelahiran Nabi Saw., sejarah pewahyuan Al-Qur’an kepadanya, dan lama mukimnya di Mekah dan Madinah. Sedangkan dalam contoh kedua pembicara memberi tahu pendengar nya tentang hal yang belum diketahuinya mengenai Umar bin Abdul Aziz, yakni sikap memelihara kehormatan dan zuhud terhadap harta umat Islam.
Setelah itu perhatikan kedua contoh berikutnya, maka akan Anda temukan bahwa pembicaranya tidaklah bermaksud sekadar memberitahukan sesuatu kepada pendengarnya karena hukum yang terkandung dalam kalimat yang disampaikan itu telah maklum baginya sebelum si pembicara menyampaikannya. Maksud pembicara tiada lain adalah ingin menjelaskan bahwa dirinya juga tahu tentang isi berita yang ia sampaikan itu. Hal yang demikian disebut sebagai laazimul faa-idah.
Selanjutnya, perhatikanlah kelima contoh berikutnya, maka akan Anda temukan bahwa si pembicara dalam setiap contoh itu ti, daklah bermaksud menyampaikan faa-idatul khabar maupun laazimu faa-idah, melainkan mempunyai maksud-maksud lain yang dapat di, ketahui oleh orang yang tajam pemahamannya dengan menganalisis maksud pembicara itu dari susunan kalimatnya. Yahya Al-Barmakij dalam contoh kelima tidak bermaksud memberi tahu Harun Ar-Rasyid tentang segala hal yang ia ketahui mengenai nasib yang diderita orang-orang Barmak yang terhina lagi miskin karena Harun Ar-Rasyid sendirilah yang menginstruksikan tindakan itu. Jadi, tentang hal itu Harun Ar-Rasyidlah yang lebih tahu. Tidak pula pembicara itu bermaksud menunjukkan bahwa ia tahu tentang penderitaan tersebut. Maksudnya tiada lain adalah untuk mengharap belas kasihan dan perhatian Harun Ar-Rasyid, barangkali ia sudi memperhatikan pembicaraannya dan kembali berbuat baik dan belas kasihan kepada mereka.
Pada contoh keenam, Zakariya menyifati dirinya dan menampakkan kelemahannya dan terkikis kekuatannya. Seorang Arab Badui pada contoh ketujuh menampakkan kesedihannya karena kehilangan anak dan tambatan hatinya. Dalam contoh kedelapan, Amr bin Kultsum pamer dan sombong dengan kaumnya dan bangga terhadap kekuatan mereka. Thahir bin Al-Husain pada contoh terakhir tidak bermaksud menyampaikan berita, melainkan bermaksud mengimbau pegawainya untuk giat dan bersunguh-sungguh dalam menarik upeti daerahnya.
Seluruh maksud pada lima contoh terakhir ini dapat dipahami dari susunan kalimatnya, bukan dari pokok susunannya.
- Kaidah
(30) Pada pokoknya kalam khabar itu diucapkan untuk salah satu dari dua maksud berikut:
- Memberi tahu kepada orang yang diajak bicara mengenai hukum yang terkandung di dalamnya, dan hukum tersebut disebut sebagai faa-idatul khabar.
- Memberi tahu bahwa si pembicara mengetahui hukum yang terkandung di dalamnya, dan hal ini disebut sebagai laazimul faa-idah.
(31) Akan tetapi, kadang-kadang kalam khabar diucapkan untuk maksud yang lain yang dapat dipahami dari susunan kalimat. Maksud-maksud lain tersebut antara lain adalah:
- Al-Istirhaam, untuk mencari belas kasihan.
- Izhhaarudh-Dha’fi, untuk menampakkan kelemahan.
- Izhhaarut-Tahassur, untuk menampakkan kekecewaan.
- Al-Fakhr, untuk kesombongan.
- Mengimbau untuk berusaha dan rajin.
- Latihan-Latihan
Contoh Soal:
1) Mu’awiyah r.a. adalah orang yang bagus politik dan kepemimpinannya, penyantun dan lembut pada tempatnya, dan berlaku keras pada tempatnya.
2) Sungguh engkau benar-benar mendidik anakmu dengan lunak dan penuh kasih sayang, bukan dengan kasar dan siksaan.
3) Umar bin Al-Khaththab wafat pada tahun dua puluh tiga Hijriah.
4) Abu Firas Al-Hamdani berkata:
Kemurahanku adalah sejumlah bintang, rumahku adalah tempat perlindungan orang-orang mulia dan tempat peristirahatan para tamu.
5) Abuth-Thayyib berkata:
Tidak setiap orang yang senang keindahan itu dapat mewujudkannya, dan tidak setiap orang yang mewujudkan keindahan itu sempurna.
6) Abuth-Thayyib berkata dalam meratapi saudara perempuan Saifud-Daulah:
Wahai kematian, engkau telah khianat, sudah berapa banyak jiwa orang yang engkau renggut dengan musibahmu dan sudah berapa banyak engkau diamkan hiruk-pikuk mereka.
7) AbulAtahiyah meratapi kematian anaknya, yakni Ali:
Aku menangisimu wahai Ali, dengan air mataku, namun tangisan itu tiada memberi faedah sedikit pun bagimu. Dalam kehidupanmu banyak terdapat pelajaran bagiku, dan hari ini kamu menjadi pelajaran yang lebih mendalam daripada ketika kamu masih hidup.
8) Sesungguhnya delapan puluh dan penemuanku terhadapnya benar-benar menjadikan pendengaranku membutuhkan juru terjemah.
9) Abul-‘ala’ Al-Ma’arri berkata:
Aku mempunyai pemikiran yang tidak rela dengan kedudukanmu yang sebenarnya, mengingat bahwa aku diam di antara dua bintang yang tinggi.
10) Ibrahim bin Al-Mahdi berkata kepada Al-Ma’mun:
Aku melakukan suatu kesalahan yang besar, dan engkau sangat pengampun. Maka bila kamu memaafkanku, itulah yang kuharapkan, dan bila kamu membunuhku, maka engkau adalah adil.
Contoh Jawaban:
1) Maksudnya adalah memberi tahu orang yang diajak bicara mengenai hukum yang terkandung di dalam pembicaraan.
2) Maksudnya adalah memberi tahu kepada orang yang diajak bicara bahwa orang yang bicara itu mengetahui tata cara mendidik anaknya.
3) Untuk memberi tahu kepada orang yang diajak bicara tentang hukum yang terkandung di dalam pembicaraan.
4 Menampakkan kebanggaan, sebab Abu Firas tiada lain hanya hendak membanggakan kemurahan dan akhlak-akhlaknya.
5) Untuk memberi tahu kepada orang yang diajak bicara tentang hukum yang terkandung di dalam pembicaraannya karera Abuth-Thayyib hendak menjelaskan kepada orang-orang yang mendengar tentang kelalaian dalam kebaikan yang dilakukan sebagian manusia.
6) Untuk menampakkan kesedihan dan penderitaan.
7) Untuk menampakkan kesusahan dan kesedihan atas kepergian orang tuanya.
8) Untuk menampakkan kelemahan dan ketidakmampuan.
9) Untuk membanggakan akal dan lisan.
10) Untuk minta belas kasihan dan kasih sayang.
- Jelaskan maksud kalimat-kalimat berikut!
- Barang siapa baik hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Barang Siapa membaguskan urusan akhiratnya, maka Allah akan membaguskan urusan dunianya. Dan barang siapa menjadikan dirinya sebagai peringatan, maka Allah akan menjadi pelindungnya.
- Sesungguhnya engkau benar-benar dapat menahan kemarahan dan bersabar ketika marah, engkau mau memberi maaf ketika berkuasa, dan lapang dada terhadap ketergelinciran.
- Abu Firas Al-Hamdani berkata:
Sesungguhnya kami, bila zaman mulai genting dan peperangan kig membesar, engkau meniinta bantuan untuk menjaga di sekitar rumah kami sarana-sarana keberanian dan kemurahan untuk meyambut da. tangnya musuh dengan pedang-pedang yang tajam, dan untuk dignya berupa ternak unta merah. Itulah dan itulah tradisi kami, darah dialirkan dan dibayar diatnya.
- Seorang penyair berkata:
Malam-malam yang terang telah berlalu di masa kecil, dan uban berdatangan pada setiap hari yang gelap.
- Marwan bin Abi Hafshah menyatakan dalam gasidah yang panjang dalam meratapi Ma’n bin Za-idah.
Ma’n telah meninggal di jalan Allah dengan meninggalkan jasa yang tidak akan musnah dan tidak dapat diraih orang lain. Seakan-akan matahari pada hari kematian Ma’n itu berselimutkan peneduh karena saking gelapnya. Ia adalah gunung yang padanya Bani Nizar memukul mundur musuhnya ke gunung lainnya. Apabila karena kematiannya itu negaranya menjadi bungkam dan tenggelam, maka dengan kematiannya itu kesombongan akan bertahan. Kematian itu ketika menimpa diri Ma’n adalah telah merenggut seorang manusia yang paling mulia perbuatannya. Seluruh manusia merasa berkepentingan kepada Ma’n sehingga mereka menziarahi makamnya.
- Seorang penyair lain berkata:
Maka tiada daya bagiku kecuali berharap dan berprasangka baik terhadap ampunanmu bila engkau mengampuni.
Sering kali karena aku tergelincir ke dalam dosa-dosa (kesalahan-kesalahan), maka aku menggigit ujung jari dan mengadukan gigi (menyesal). Manusia menganggapku baik, padahal sesungguhnya aku benar-benar makhluk yang terjelek bila engkau tidak mengampuniku.
- Abu Nuwas berkata ketika sakit menjelang kematiannya:
Penyakit menyerangku dari atas dan dari bawah, dan kurasa seluruh anggota tubuhku mati satu per satu. Masa mudaku telah berlalu dengan mengikuti hawa nafsuku, dan aku tersadar untuk taat kepada Allah ketika berbaju rusak dan kurus (tua renta). Jiwaku menderita siang dan malam, yang semuanya kulewati dengan bermain dan berfoya-foya. Kami benar-benar telah berbuat kejelekan. Maka dari itu Ya Allah, aku mohon maaf dan ampunan-Mu.
- Bila kamu melihat suatu aib pada saudaramu, maka janganlah kau menyembunyikannya.
- Ibnuh Nabatah As-Sa’di berkata:
Akan sirnalah barang yang dicari bagi orang yang malas dengan penuh harapan yang kosong, dan orang yang senantiasa berusaha akan dapat mendekati kebutuhannya.
- Al-Amir Abul-Fadhl Ubaidullah’) menyifati hari yang hujan:
Langit menimpakan bencana kepadaku pada waktu terang cuaca dengan siraman hujan yang menutupi ketelantaranku.
Teman-temanku dapat menghindar dari bahayanya, padahal ia menutupi bahaya yang sangat menakutkan.
Maka tidak ada seorang pun yang berlindung di balik tembok dan mengungsi ke lubang gunung yang kosong.
Langit-langit atap berbuat baik kepadaku dengan curahan air mata yang tidak mengalir karena berdukacita.
- AlJahizh berkata, “Musyawarah itu benih akal dan pemandu kebenaran, orang yang bermusyawarah itu berada di dekat (keberuntungan), dan tersinarinya seseorang oleh pendapat orang lain, termasuk suatu hal yang pasti dan merupakan suatu estafeta pendidikan.”
- Al-Mutanabbi berkata ketika terserang penyakit demam:
Aku bermukim di wilayah Mesir karena baik di belakang maupun di depanku tidak ada unta yang membawaku.
Kasur telah membosankan aku, dan punggungku bosan bertemu dengannya sekalipun setahun hanya satu kali.
- Uraikanlah Ucapan Abuth-Thayyib berikut ini dan jelaskan maksudnya!
Aku bersahabat dengan kesabaranku bila bersikap toleran terhadapku, dan aku tidak bersahabat dengan kesabaranku bila ia bersikap pengecut terhadapku. Dan aku tidak mau bergelimang harta yang menyebabkan aku terhina, dan aku tidak mau bersenang-senang dengan sesuatu yang menyebabkan harga diriku tercemar.
III. Jelaskanlah sifat negaramu (dengan kalam khabar) dengan maksud untuk membanggakan letaknya, udaranya, jernihnya langit, kesuburan tanahnya, dan kemajuan pembangunannya.
- 1. Buatlah enam jumlah khabariyah, yang tiga untuk maksud memberitahukan hukum yang terkandung di dalamnya, dan yang tiga lagi untuk maksud bahwa Anda juga mengetahui hukum yang terkandung di dalamnya.
- Buatlah tiga jumlah khabariyah, susunan dan karinah-karinah kondisinya menunjukkan untuk minta belas kasihan, menampakkan kelemahan dan kekecewaan.
- Buatlah tiga jumlah khabariyah yang susunannya dan karinah kondisinya menunjukkan imbauan untuk usaha, lalu untuk mencela, dan yang ketiga untuk menyombongkan diri secara berurutan.


One Comment