Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

BAB IV : MUSAWAH, IJAZ, DAN ITHNAB

  1. Musawah
  2. Contoh-Contoh
  3. Allah Swt. berfirman:

Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. (QS Al-Baqarah: 110)

  1. Allah Swt. berfirman:

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali atas orang yang merencanakannya. (QS Faathir: 43)

  1. An-Nabighah Adz-Dzubyani berkata:

Sesungguhnya kamu itu seperti malam yang dapat mengejarku sekalipun engkau menduga bahwa menghindar darimu banyak tempat yang luas.

  1. Tharafah bin Abd berkata:

Hari-hari akan menunjukkan kepadamu apa-apa yang belum engkau ketahui, dan akan datang kepadamu orang-orang yang belum pernah kauberi bekal dengan membawa aneka ragam berita.

2, Pembahasan

Orang yang balig dalam rangka mengutarakan isi hatinya akan memilih salah satu dari ketiga cara pengungkapan berikut ini, menggunakan kalimat dengan seringkas-ringkasnya, dengan panjang lebar, dan sedang-sedang saja, sesuai dengan keadaan mukhathab dan situasi pembicaraannya. Dalam kesempatan ini akan dibahas ketiga cara pengungkapan tersebut, dan dimulai dengan musawah (kalimat yang diungkapkan dengan sedang) karena musawah itu merupakan, gaya bahasa yang pokok dan menjadi ukuran.

Bila kita perhatikan contoh-contoh di atas, kita dapatkan bahwa kata-katanya disusun sesuai dengan makna yang dikehendaki, dan seandainya kita tambahi satu kata saja, niscaya tampak ada kelebihan: dan bila kita kurangi satu kata saja, niscaya akan menQur’angi maknanya. Jadi, kata-kata yang tersusun dalam setiap contoh di atas sama dengan banyaknya makna. Oleh karena itu, pengungkapan kaJimat vang demikian disebut sebagai musawah.

  1. Kaidah

(65) Musawah adalah pengungkapan kalimat yang maknanya sesuai dengan banyaknya kata-kata, dan kata-katanya sesuai dengan luasnya makna yang dikehendaki tidak ada penambahan ataupun penQur’angan.

  1. Ijaz
  2. Contoh-Contoh
  3. Allah Swt. berfirman

Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. (QS Al-A’raf: 54) .

  1. Rasulullah Saw. bersabda:

Orang yang lemah itu penguasa suatu rombongan musafir.

  1. Dikatakan kepada seorang Arab Badui yang sedang menggiring untanya yang banyak:

“Milik siapa harta ini?” Ia menjawab, “Milik Allah di tanganku.”

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris. (QS Al-Fajr: 22)

  1. Allah Swt. berfirman:

Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya), bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka. (QS Oaaf: 1-2)

  1. Allah Swt. berfirman tentang kisah Musa bersama dua anak perempuan Syu’aib:

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Maka datanglah kepada Musa salah seorang dari dua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, “Sesungguh: nya bapakku memanggil kaniu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan) kamu memberi minum (ternak) kami.” (QS Al-Oashash: 24 – 25).

  1. Pembahasan Bila kita perhatikan contoh-contoh bagian pertama, kita dapatkan bahwa kata-kata pada setiap kalimat sedikit jumlahnya, namun mencakup banyak makna. Pada contoh pertama terdapat dua kata yang mencakup segala sesuatu dan segala urusan dengan sehabis-habisnya. Sehubungan dengan itu diriwayatkan bahwa Ibnu Umar ketika membaca ayat tersebut berkata, “Barangsiapa yang beranggapan masih ada sesuatu yang lain, hendaklah ia mencarinya.” Contoh kedua merupakan simbol balaghah dan keindahan. Kalimat ini mencakup sopan-santun dalam perjalanan dan keharusan memperhatikan nasib orang lemah. Hal ini tidak mudah diungkapkan oleh seseorang yang baligh kecuali dengan kata-kata yang panjang. Demikian juga halnya dengan contoh ketiga. Uslub yang demikian disebut dengan jijaz. Karena lingkup ijaz itu sesuai dengan keluasan cakupan kata-kata yang sedikit terhadap makna yang banyak, dan bukan dengan cara membuang sebagian kata atau kalimat, maka yang demikian disebut sebagai ijaz qashr.

Selanjutnya bila kita perhatikan contoh-contoh bagian kedua, kita dapatkan bahwa kalimat-kalimatnya ringkas juga. Untuk mengetahui rahasia keringkasannya, marilah kita perhatikan contoh keempat. Maka kita dapatkan bahwa sebagian katanya dibuang, sebab diperkitakan asal kalimatnya adalah: “Wa jaa-a aniru Rabbika”. Pada contoh kelima juga ada sebagian kalimat yang dibuang, yaitu jawab gasam, karena diperkirakan asal kalimatnya adalah: “Oaaf, wal-Our-aanil-majd latub’atsunna” L.. sungguh engkau benar-benar akan dibangkitkan). Adapun pada contoh keenam, lafaz yang dibuang adalah bebetapa kalimat, yang seandainya tidak banyak dibuang, niscaya alur cetitanya adalah: Lalu kedua wanita itu pergi menemuai ayah mereka, dan mereka menceritakan hal-hal yang terjadi pada diri Musa. Maka “yah mereka mengutus salah scorang dari mereka untuk menemui Musa, Maka datanglah salah seorang . .. . Karena ijaz pada contoh-contoh bagian kedua ini ditempuh dengan membuang sebagiannya, Maka disebut sebagai ijaz hadzf. Disyaratkan bagi ijaz jenis ini harus ada dalil yang menunjukkan lafaz yang dibuang tersebut. Bila tidak ada dalil yang demikian, maka pembuangan sebagian kata/kalimat itu suatu hal yang merusak dan tidak dapat dibenarkan.

  1. Kaidah

(66) Ijaz adalah mengumpulkan makna yang banyak dalam kata-kata yang sedikit dengan jelas dan fasih. Ijaz dibagi menjadi dua:

  1. Ijaz gishar, yaitu ijaz dengan cara menggunakan ungkapan yang pendek, namun mengandung banyak makna, tanpa disertai pembuangan beberapa kata/kalimat.
  1. Ijaz hadzf, yaitu ijaz dengan cara membuang sebagian kata atau kalimat dengan syarat ada karinah yang menunjukkan adanya lafaz yang dibuang tersebut.
  1. Latihan-Latihan Contoh Soal: Jelaskan macam ijaz pada contoh-contoh berikut!
  1. Allah Swt. berfirman:

Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan. (QS Al-An’am: 82)

  1. Allah Swt. berfirman: .

Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf. (QS Yusuf: 85)

  1. Allah Swt. berfirman:

Ia mengeluarkan darinya mata airnya dan tumbuh-tumbuhannya. (QS An-Naazi’aat 31)

  1. Allah Swt. berfirman:

Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya, (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelah kamu beriman? .. (QS Ali Imran: 106)

5, Allah Swt. berfirman:

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengannya gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah, atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu AlQur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. (QS Ar-Ra’d: 31)

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Anak-anak zaman telah mendapatkan zaman ketika masih muda sehingga zaman itu membahagiakan mereka, dan kita mendapatkannya telah pikun.

  1. Saya makan buah-buahan dan air.

Contoh Jawaban:

1 Pada ayat ini terdapat ijaz gishar karena kata “al-imnu” mencakup seluruh hal yang menyenangkan, termasuk bebas dari ketakutan fakir, mati, penganiayaan, hilangnya kenikmatan, dan dari hal-hal menakutkan yang lain.

  1. Pada ayat ini terdapat ijaz hadzf karena makna ayat adalah “Tallaahi laa tafta-u . ..” (Demi Allah, engkau tidak henti-henti/senantiasa . . .), lalu dibuang huruf nafyi-nya.
  1. Pada ayat ini terdapat ijaz gishar. Dengan dua kata tersebut Allah menunjukkan bahwa Dia mengeluarkan segala apa yang Dia keluarkan dari bumi, baik berupa bahan makanan maupun barang yang menjadi sarana kenikmatan bagi manusia, seperti rumput, pohon-pohonan, kayu bakar, pakaian, api, dan air.
  1. Pada ayat ini terdapat ijaz hadzf karena jawab ammaa dibuang, sebab asal kalimatnya adalah “Fayugaalu lahum akafartum ba’da jimaanikum” (maka dikatakan kepada mereka mengapa mereka kafir setelah beriman).
  1. Pada ayat ini terdapat ijaz hadzf karena jawab lau dibuang, sebab diperkirakan kalimat yang dibuang adalah “Lakaana haadzal-Our-aan”.
  1. Pada syair ini terdapat ijaz hadzf, yaitu dengan dibuangnya kata fa saa-anaa sebagai bandingan kata fasarrahum.
  1. Pada kalimat ini terdapat ijaz hadzf, diperkirakan asal kalimatnya adalah… wa syaribtu maa-an.

Latihan-Latihan

  1. Jelaskan macam ijaz pada kalimat-kalimat berikut serta jelaskan sebabnya!
  1. Allah Swt. berfirman:

Dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada Tuhan beserta-Nya, tentu masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk ciptaannya, dan sebagian dari Tuhan-Tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. (QS Al-Mu-minun: 91)

  1. Allah Swt. berfirman:

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS Al-A’raf: 199)

  1. Rasulullah Saw. bersabda:

Sesungguhnya sebagian bayan itu benar-benar mengandung sihir.

4 Allah Swt. berfirman tentang surga:

Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata. (QS Az-Zukhruf: 71)

5, Allah Swt. berfirman:

Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat), maka mereka tidak dapat melepaskan diri …. (QS Saba’: 51)

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu (QS Faathir: 4)

  1. Rasulullah Saw. bersabda:

Thama’ adalah kefakiran dan putus harapan itu suatu kekayaan.

  1. Ali kw. berkata:

Kunci keberhasilan pemimpin adalah lapang dada.

  1. Dikatakan bahwa As-Samau-al berkata:

Dan seandainya ia tidak sanggup menanggung penderitaan dirinya, maka tidak ada jalan baginya untuk dapat meraih pujian yang indah.

  1. Allah Swt. berfirman tentang berakhirnya bencana banjir:

Dan difirmankan: “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan), berhentilah”: dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS Huud: 44)

  1. Jelaskan keindahan ijaz dan sebutkan macam ijaznyu pada’ kalimatkalimat berikut ini!
  1. Thahir bin Al-Husain mengirim surat kepada Al-Ma-mun. Thahir adalah perdana menteri yang diangkat Al-Ma-mun setelah berhasil mengalahkan pasukan Ali bin Isa bin Mahan”)),

Suratku kepada Amirul-Mu-minin: Kepala Ali bin Isa bin Mahan telah berada di tanganku, cincinnya telah berada di tanganku, dan pasukannya telah menyerah kepada perintahku. Wassalam.

  1. Ziyad berpidato :

Wahai manusia, jangan sekali-kali kejahatan perbuatanmu sampai menghalangimu untuk memanfaatkan kebaikan dan apa yang kalian dengar dariku.

III. Jelaskan keindahan ijaz yang terdapat pada taugiat berikut!

  1. Abu Ja’far Al-Manshur menerima keluhan dari sebagian kaum dari kalangan gubernurnya, maka ia berkata: ,

Sesuai keadaan kalian, maka kalian ditugaskan menjadi gubernur.

  1. Hakim Mesir mengirim surat kepadanya tentang menQur’angnya air Sungai Nil, maka ia menulis:

Bersihkanlah pasukanmu dari kerusakan, maka Sungai Nil akan memberimu penuntun.

  1. Ia menanggapi surat dari pembantunya di Himsha, sebuah kota yang tengah dilanda penyelewengan:

Carilah pengganti sekretarismu: kalau tidak, maka kamu akan diganti.

  1. Hakim India mengirim surat kepadanya bahwa suatu pasukan telah menganiayanya dan merusak kunci-kunci baitul mal. Maka ia menulis:

Seandainya kamu adil, mereka tidak akan menganiayamu, dan seandainya kamu memenuhi hak mereka, mereka tidak akan merampok.

  1. Harun Ar-Rasyid menulis kepada hakim Khurasan:

lukamu, maka tidak akan meluas.

  1. Ia menulis tentang kisah orang-orang Barmak:

Mereka ditumbuhkan oleh ketaatan dan dipaneni oleh maksiat.

  1. Ibrahim bin Mahdi mengirim surat kepada Al-Ma-mun: “Bila Anda memaafkan, maka atas kemurahanmu: dan bila Anda menghukum, maka ia adalah hakmu.” Maka Al-Ma-mun menulis:

Kekuasaan menghilangkan kemarahan.

  1. Ziyad bin Abih menulis tentang orang yang teraniaya:

Telah cukup bagimu.

  1. Ja’far bin Yahya menulis kepada seorang pegawainya yang banyak pengaduan tentang dirinya:

Telah banyak orang yang mengadukan kamu, dan sedikit orang yang mensyukurimu. Maka apakah kamu akan menjadi adil, ataukah akan mengundurkan diri?

  1. Ia menulis tentang orang yang dipenjara:

Keadilan memasukkannya ke penjara, dan tobat akan melepaskannya.

  1. Seorang laki-laki Arab Badui yang bernama Dhabbah mempunyai dua orang anak laki-laki, yang seorang bernama Sa’d dan yang seorang lagi bernama Su’aid. Pada suatu hari unta milik Dhabbah lari. Maka kedua anaknya itu mencarinya dengan terpisah. Sa’d menemukannya dan mengembalikannya, sedangkan Su’aid terus saja mencarinya hingga bertemu dengan Al-Harits bin Ka’b.

Saat itu Su’aid memakai dua lembar selimut. Lalu Harits meminta kedua selimut itu kepadanya. Ia tidak memberikannya, maka Harits membunuhnya dan mengambil kedua selimut tersebut.

Bila hari sudah sore Dhabbah melihat sosok tubuh dalam kegelapan, maka ia berkata, “Apakah Sa’d ataukah Su’aid?” Ucapannya itu kemudian menjadi peribahasa untuk keberhasilan dan kegagalan. Kemudian setelah peristiwa itu Dhabbah tidak keluar rumah untuk waktu yang cukup lama. Kemudian ia menunaikan ibadah haji, dan ketika masuk ke pasar ‘Ukazh ia bertemu dengan Harits bin Ka’b. Ia melihat Harits memakai dua lembar selimut anaknya, Su’aid, dan ia mengenalnya. Maka ia bertanya kepadanya, “Apakah Anda dapat memberitahuku bagaimana riwayat kedua selimut yang Anda pakai ini?” Ia menjawab, “Aku bertemu seorang anak memakai dua selimut ini, lalu aku memintanya kepadanya. Ia tidak memberikannya, maka ia kubunuh, dan kedua selimut itu kuambil.” Dhabbah bertanya, “Dengan pedangmu ini? Harits berkata, “Benar.” Dhabbah berkata, “Tunjukkan kepadaku, aku kira pedang itu sangat tajam.” Maka Harits memberikan pedang itu kepada Dhabbah. Ketika Dhabbah memegang pedang itu, maka ia menggerak-gerakkannya seraya berkata, “Cerita itu banyak jalannya.” Lalu ia memukulkan pedang itu kepada Harits sehingga meninggal.

Maka ditanyakan kepadanya, “Wahai Dhabbah, apakah pada bulan ha

ram (engkau melakukan pembunuhan)?” Ia menjawab, “Pedang

itu mengalahkan cercaan.” Jadi, ia adalah orang yang pertama kali mengatakan tiga peribahasa di atas.

  1. 1. Buatlah tiga buah contoh untuk ijaz gishar dan jelaskan segi ijaznya!
  1. Buatlah tiga buah contoh ijaz hadzf dengan lafaz yang dibuang pada contoh pertama adalah satu kata, pada contoh kedua satu kalimat, dan pada contoh ketiga lebih dari satu kalimat, serta jelaskanlah lafaz-lafaz yang dibuang tersebut!
  1. Jelaskanlah segi balaghah dan ijaz pada syair Abu Tamam dalam sebuah pujiannya berikut ini!

Seandainya engkau harus menggambarkan dirimu, maka engkau tidak dapat menambahi kemuliaan tabiat yang ada padamu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker