E dan F. Menegaskan Pujian dengan Kata-Kata yang Menyerupai Celaan dan Sebaliknya
- Contoh-Contoh
- Ibnur-Rumi berkata:
Tidak ada cacat padanya selain bahwasanya mata tidak akan melihat orang yang serupa dia.
b Penyair lain berkata:
Tidak ada cela dalam kebaikan mereka, hanya saja akan tampak ketidakmampuan orang-orang yang bersyukur untuk mensyukurinya.
- Rasulullah Saw. bersabda:
Saya adalah orang Arab yang paling fasih, hanya saja saya seorang Quraisy.
- An-Nabighah Al-Ja’di:
Ia adalah seorang pemuda yang sempurna aklilaknya, hanya saja ia seorang dermawan sehingga tidak ada lagi sisa dari hartanya.
- Pembahasan
Kita tidak ragu lagi bahwa seluruh contoh di atas menunjukkan pujian, namun dengan uslub yang anch yang belum kita temukan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.
Pada contoh pertama, Ibnur-Rumi mengawali pembicaraannya dengan meniadakan kecacatan dari orang yang dipujinya, lalu ia datangkan huruf istitsna”, yaitu siwaa sehingga sedikit memberi kesan kepada pendengar bahwa ada kecacatan pada orang yang dipuji itu. Ibnur-Rumi akan berani menjelaskannya, dan pendengar pun lalu memahami bahwa kata-kata setelah huruf istitsna itu sifat pujian, namun mereka terkecoh dengan uslub tersebut. Pendengar pun akan tahu bahwa Ibnur-Rumi telah mengelabuinya. Jadi, ia tidak menyebutkan kecacatan, melainkan justru menguatkan pujiannya dengan kalimat yang membcri kesan mencela. Demikian juga halnya dengan contoh kedua.
Pada contoh ketiga, kita dapatkan bahwa Rasulullah Saw. menyifati dirinya dengan sifat untuk pujian, yaitu bahwa beliau adalah orang Arab yang paling fasih. Namun, setelah itu beliau mendatangkan huruf istitsna , maka pendengar akan menjadi bingung dan beranggapan bahwa beliau akan menyebutkan kata-kata yang tidak menyenangkan setelah huruf istitsna itu. Akan tetapi, kondisi yang demikian segera normal kembali begitu beliau menyebutkan sifat yang terpuji, yaitu bahwa beliau adalah orang Quraisy. Dan orang Quraisy adalah kabilah Arab yang paling fasih, tidak diperselisihkan. Dengan demikian, mendatangkan huruf istitsna’ dan kata-kata berikutnya justru memperkuat pujian pada kalimat yang pertama yang dengan uslub yang telah dikenal umum. Demikian juga halnya contoh yang terakhir. Uslub yang demikian disebut dengan menguatkan pujian dengan kalimat yang menyerupai celaan.
Di samping itu, masih ada uslub yang untuk menguatkan celaan dengan kalimat yang menyerupai pujian, seperti: “Khotbah itu sama sekali tidak baik, hanya saja panjang, tanpa faedah” dan “Kaum itu kikir, hanya saja mereka penakut”.
- Kaidah
(75) Memperkuat pujian dengan kalimat yang menyerupai celaan itu ada dua macam:
- Mengecualikan sifat pujian dari sifat celaan yang dinafikan.
- Menetapkan sifat pujian bagi sesuatu, setelah itu mendatangkan huruf istitsna, diikuti sifat pujian yang lain.
(76) Memperkuat celaan dengan kalimat yang menyerupai pujian itu ada dua macam pula:
- Mengecualikan sifat celaan dari sifat pujian yang dinafikan.
- Menetapkan sifat celaan atas sesuatu, lalu mendatangkan huyuf istitsna’, diikuti sifat celaan yang lain.
4 Latihan-Latihan
- Jelaskan penguatan kalimat celaan dengan kalimat yang menyerupai pujian pada contoh-contoh berikut ini dan jelaskan macamnya!
- Ibnu Nubatah Al-Mishri berkata:
Tidak ada cela padanya, hanya saja aku akan menemuinya. Maka hari-hari telah melupakan aku dari keluarga dan negara.
Wajah-wajah itu berseri seperti bunga di taman. Akan tetapi, pada musim perang bagaikan batu besar yang keras.
- Tiada cela padamu, hanya saja tamu-tamumu menggerutu karena lupa terhadap istri dan negaranya.
- Mereka itu sangat cepat bicaranya, namun mereka adalah orang-orang ningrat dan agung.
- Jelaskanlah penguatan kalimat pujian dengan kalimat yang menyerupai celaan pada pernyataan-pernyataan berikut!
- Tiada keutamaan bagi suatu kaum, namun mereka tidak mengetahui hak-hak tetangga
- Kalimat itu berbelit-belit, di samping maknanya hambar.
- Tiada keindahan di rumah, hanya saja gelap dan sempit kamarnya..
III. Jelaskanlah penguatan pujian dengan kalimat yang menyerupai celaan atau sebaliknya pada kalimat-kalimat berikut!
- Shafiyuddin Al-Hilli berkata:
Tiada aib pada mereka, hanya saja orang-orang yang singgah pada mereka terhibur dari keluarga, negara, dan kemarahan.
- Tiada kebaikan pada kaum itu, hanya saja mereka mencela zaman dan mereka juga cela.
- Tiada aib padanya terhadap setiap orang, hanya saja dunia itu baginya dicela, sedangkan mereka tidak dicela.
- Ia adalah orang yang kotor lidahnya, hanya saja dadanya merupakan tempat berkumpulnya kedengkian.
5 Oleh suatu kaum dosaku dibilang banyak, padahal tiada dosa bagiku kecuali dosa-dosa yang tinggi dan utama.
- Tidak ada kemuliaan bagi mereka dalam pergaulan, hanya saja tetangga mereka orang-:ang hina.
7 . Orang bodoh itu adalah musuh dirinya, tetapi teman orang-orang bodoh.
- Tidak ada cela bagi taman itu kecuali anginnya lembut dan pelan.
- 1. Pujilah sebuah kitab yang telah kamu baca, lalu perkuatlah pujianmu itu dengan kalimat yang menyerupai celaan!
- Pujilah suatu negara yang engkau kunjungi dan perkuatlah pujianmu itu dengan kalimat yang menyerupai celaan!
- Celalah suatu jalan yang engkau lalui,lalu perkuatlah celaanmu itu dengan kalimat yang menyerupai pujian!
- Uraikan dua bait syair berikut dan jelaskan uslub penguatan pujian dengan kalimat yang menyerupai celaan dalam kedua bait ini!
Aku memujimu dengan suatu pujian yang seandainya aku gunakan untuk memuji Laut Hijaz, niscaya intan-intannya akan menjadikan aku kaya.
Tiada cela bagiku kecuali bahwa aku berasal dari desamu. Dan peniup suling suatu kabilah itu tidak disenangi serulingnya.


One Comment