BAGIAN PERTAMA
BAB I TASYBIH (PENYERUPAAN)
- Unsur-Unsur Tasybih
- Contoh-Contoh
- Al-Ma’arri menyatakan tentang seseorang yang dipujanya:
Engkau bagaikan matahari yang memancarkan sinarnya walaupun kau berada di atas planet Pluto di tempat yang paling tinggi.
- Penyair lain menyatakan:
Engkau bagaikan serigala yang tampil dengan segala keberaniannya, dan bagaikan pedang yang siap menumpas semua penghalang.
c, Penyair lain menyatakan:
Sungguh kelembutan dan kelunakan perangaimu bagaikan udara sejuk di pagi hari.
- Penyair lain menyatakan:
Sungguh air yang bening dan mengalir itu bagaikan cairan perak.
- Pembahasan
Pada bait pertama, si penyair tahu bahwa orang yang dipujanya ity wajahnya bercahaya dan menyilaukan mata, lalu ia ingin membuat perumpamaan yang memiliki sifat paling kuat dalam hal menerangi dan ternyata ia tidak menjumpai suatu hal pun yang lebih kuat daripada sinar matahari. Maka ia menyerupakannya dengan mataha, ri, dan untuk itu ia bubuhi huruf kaf (kata perumpamaan/Ssepetti).
Dalam bait kedua, si penyair memandang orang yang dipujanya memiliki dua sifat, yaitu keberanian dan ketabahan mengatasi segala kesulitan. Ia mencari dua perumpamaan yang masing-masing memiliki sifat yang paling kuat dalam jenisnya. Maka ia menyerupakannya dengan serigala untuk sifat yang pertama dan dengan pedang yang tajam untuk sifat yang kedua. Penyerupaan ini ia nyatakan dengan huruf kaf.
Pada bait ketiga, si penyair mengungkap kelemahlembutan akhlak temannya yang sangat menyejukkan hati. Maka ia berusaha membuat perumpamaan yang menonjolkan. sifat tersebut dengan gambaran paling kuat. Untuk itu, ia memandang bahwa udara pagi yang sejuk dapat menggambarkannya, maka dirangkailah perumpamaan di antara keduanya. Perumpamaan ini ia nyatakan dengan huruf ka-anna (seakan-akan/sungguh seperti).
Pada bait keempat, si penyair mencari padanan (perumpamaan) bagi air yang bening untuk menonjolkan kebeningannya. Ia berkeyakinan bahwa perak yang mencair. dapat menggambarkan keadaan itu. Maka ia menyerupakan air bening itu dengan cairan perak, dan penyerupaan itu ja nyatakan dengan huruf ka-anna.
Dapat kita lihat pada bait di atas adanya penyerupaan sesuatu kepada sesuatu yang lain yang memiliki kesamaan sifat. Pernyataan yang menunjukkan penyerupaan ini adalah huruf kaf atau ka-anna. Penyerupaan tersebut disebut dengan tasybih. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa tasybih harus mengandung empat unsur, yaitu:
- Sesuatu yang hendak diserupakan. Hal ini disebut sebagai musyabbah.
- Sesuatu yang diserupai. Hal ini disebut sebagai musyabbah hih.
Kedua unsur ini disebut sebagai tharafait-tasybih (kedua pihak yang diserupakan).
- Sifat yang terdapat pada kedua pihak itu. Hal ini disebut sebagai wajhusy-syabah/wajah syibeh. Disyaratkan sifat tersebut harus lebih kuat dan lebih dikenal pada musyabbah bih daripada pada musyabbah, sebagaimana dapat dilihat pada contoh-contoh di atas.
- Huruf/kata yang menyatakan penyerupaan. Huruf-huruf ini disebut sebagai adatut-tasybih, yaitu kaf, ka-anna, dan sebagainya.
Dalam setiap tasybih harus terdapat dua pihak yang diserupakan. Kadang-kadang musyabbah dibuang, tetapi dalam i’rab dianggap ada, sehingga kata-kata yang berkaitan harus disesuaikan. Seperti bila ditanyakan: “Ali bagaimana?” Lalu dijawab: “Bagaikan bunga yang layu.” Lafaz adalah khabar bagi mubtada’ yang dibuang dan i’rabnya ialah rafa’, yaitu Kadang-kadang wajah syibeh-nya yang dibuang, dan kadang-kadang adat tasybih-nya yang dibuang, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
- Kaidah-Kaidah
(1) Tasybih adalah penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal yang lain. Penjelasan tersebut menggunakan huruf kaf atau sejenisnya, baik tersurat maupun tersirat.
(2) Unsur tasybih ada empat, yaitu musyabbah, musyabbah bih (kedua unsur ini disebut sebagai tharafait-tasybih/dua pihak yang diserupakan), adat tasybih, dan wajah syibeh. Wajah syibeh pada musyabbah bih disyaratkan lebih kuat dan lebih jelas daripada musyabbah.


One Comment