BAB II QASHR
A Pengertian, Sarana-Sarana, dan Kedua Tharaf (Bagian)-nya
1 Contoh-Contoh
- Tidak akan beruntung kecuali orang yang bersungguh-sungguh.
- Hidup itu hanyalah kepayahan.
- Bumi itu bergerak, bukan diam.
- Bumi itu tidaklah diam, melainkan bergerak.
- Bumi itu tidaklah diam, tetapi bergerak.
- Hanya kepada orang-orang lelaki yang bekerja aku memuji.
2, Pembahasan
Bila kita perhatikan contoh-contoh di atas, kita dapatkan bahwa maSing-masing contoh mengandung pengkhususan suatu perkara pada perkara lainnya. Pada contoh pertama terdapat pengkhususan keberuntungan bagi orang yang bersungguh-sungguh, dengan arti bahwa keberuntungan itu hanya akan diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh dan tidak akan diraih oleh orang lain. Pada contoh kedua terdapat pengkhususan hidup dan kepayahan, dengan arti bahwa hidup dipersiapkan untuk payah dan tidak akan memisahkan diri darinya menuju santai. Demikian pula halnya pada contoh-contoh lainnya.
Bila kita ingin mengetahui pembuatan takhshish (pengkhususan) dalam kalimat, maka perhatikan sejenak contoh-contoh di atas. Ambil saja contoh pertama, buanglah darinya huruf nafyi dan huruf istitsna’. Maka kalimat tersebut tidak lagi menunjukkan makna takhshis. Kalau demikian, nafyi dan istitsna’ adalah sarana pembuatan takhshish dalam kalimat tersebut. Dengan demikian, dapatlah kita ketahui bahwa sarana-sarana takhshish pada contoh yang lain adalah: innamaa ( ). ‘athaf dengan huruf Iaa ( ), bal ( ) atau laakin ( ), dan mendahulukan lafaz yang menurut kedudukannya harus diakhirkan. Para ulama Ma’ani menyebut takhshish yang ditunjukkan oleh sarana-sarana tersebut sebagai qashr, dan sarana-sarana tersebut mereka namakan sebagai thurugul-qashr.
Kembali kita perhatikan contoh-contoh di atas dan kita bahas satu per satu. Maka kita dapatkan bahwa pembicara kalimat pertama mengkhususkan keberuntungan bagi orang yang bersungguh-sungguh. Jadi, keberuntungan adalah magshur, dan orang yang bersungguh-sungguh disebut sebagai magshur ‘alaih. Kedua komponen ini disebut sebagai tharaf qashr. Karena keberuntungan itu adalah salah satu sifat, dan orang yang bersungguh-sungguh itu adalah salah satu maushuf, maka gashar dalam contoh ini disebut qashr shifat ‘ala maushuf, dengan arti bahwa sifat tersebut tidak merembet dari satu maushuf kepada maushuf yang lain. Pada contoh kedua kita dapatkan bahwa hidup menjadi magshur dan payah menjadi magshur ‘alaih. Karena hidup itu adalah maushuf dan payah itu adalah sifat, maka qashr pada contoh ini disebut sebagai qashr mausuf ‘ala shifat, dengan arti bahwa maushuf tidak dapat dipisah dari sifat (payah menuju santai). Bila kita perhatikan seluruh qashr, baik yang disebut di atas maupun yang tidak tersebut di sini, maka akan kita dapatkan bahwa setiap qashr mengandung magshur dan magshur ‘alaih. Juga akan kita dapatkan bahwa qashr itu ada dua macam, qashr shifat ‘ala maushuf dan qashr maushuf ‘ala shifat.
Bila kita ingin mengetahui tanda-tanda yang mempermudah mengetahui dan membedakan antara magshur dan magshur ‘alaih, maka marilah kita perhatikan kaidah-kaidah berikut ini.
- Kaidah-Kaidah
(57) Qashr adalah pengkhususan suatu perkara pada perkara lain dengan cara yang khusus.
(58) Sarana-sarana qashr yang termasyur ada empat, yaitu:
- Nafyi dan istitsna’, dan magshur ‘alaihnya terdapat setelah huruf istitsna’.
- innamaa ( ), dan magshur ‘alaihnya adalah lafaz yang wajib disebut terakhir.
- Athaf dengan laa ( ), bal ( ), atau laakin ( )
Bila athafnya memakai huruf laa, maka magshur ‘alaihnya adalah lafaz yang bertolak belakang dengan lafaz yang jatuh setelah laa, dan bila ‘athafnya itu dengan bal atau laakin, maka magshur ‘alaihnya adalah lafaz yang jatuh setelahnya.
- Didahulukannya lafaz yang seharusnya diakhirkan. Di sini magshur ‘alaih-nya adalah lafaz yang didahulukan. () Setiap qashr memiliki dua tharaf, yaitu magshur dan magshur ‘alaih.
(60) Berdasarkan kaitan kedua tharafnya, qashr dibagi menjadi dua, yaitu qashr shifat ‘ala maushuf dan qashr maushuf ‘ala shifat.
- Pembagian Qashr menjadi Hagigi dan Idhafi 1. Contoh-Contoh
- Tidak ada sungai yang menyegarkan Mesir selain Nil.
- Pemberi rezeki hanyalah Allah.
- Tidak ada orang yang dermawan kecuali
- Hasan hanyalah seorang pemberani. .
- Pembahasan Di depan telah dijelaskan bahwa berdasarkan kaitan kedua tharafnya, qashr dibagi menjadi qashr shifat ‘ala maushuf dan qashr maushuf ‘ala shifat. Di sini akan dijelaskan pembagian lain yang berdasarkan hakikat dan kenyataan.
Bila kita perhatikan kedua contoh pertama, kita dapatkan bahwa qashr-nya termasuk qashr shifat ‘ala maushuf. Bila kita perhatikan lebih jauh, kita dapatkan bahwa sifat yang menjadi magshur pada kedua contoh tersebut tidak dapat terpisah dari maushufnya secara mutlak. Kesegaran tanah Mesir pada contoh pertama adalah sifat yang tidak lepas dari fungsi Sungai Nil dan bukan fungsi sungai yang lain. Pada contoh kedua, rezeki tidak lepas dari kemurahan Allah dan bukan kemurahan selain Allah.
Oashar pada kedua contoh pertama di atas disebut sebagai qashr hakiki. Demikian pula setiap qashr yang padanya magshur hanya tertentu bagi magshur ‘alaih menurut hakikat dan kenyataannya, yakni tidak lepas darinya kepada yang lain.
Perhatikanlah kedua contoh terakhir, maka kita dapatkan bahwa contoh pertama (cl) qashr shifat ‘ala maushuf, sedangkan contoh kedua () merupakan qashr maushuf ‘ala shifat. Bila kita perhatikan lebih jauh, kita dapatkan bahwa magshur pada kedua contoh tersebut adalah tertentu bagi magshur ‘alaih bila disandarkan kepada suatu hal tertentu dan tidak disandarkan kepada hal-hal yang lain karena si pembicara pada contoh pertama bermaksud mengkhususkan sifat dermawan kepada Ali bila dinisbatkan kepada orang-orang tertentu, seperti Khalid misalnya, dan pembicara itu sama sekali tidak bermaksud menyatakan bahwa sifat dermawan itu sama sekali tidak ada pada seorang pun selain Ali karena kenyataannya memang tidak demikian. Demikian juga halnya dengan contoh terakhir. Oleh karena itu, qashr pada kedua contoh terakhir ini disebut sebagai qashr idhafi. Begitu juga setiap qashr yang pengkhususannya terbatas dengan dinisbatkan kepada sesuatu yang tertentu.
3, Kaidah-Kaidah
(61) Berdasarkan hakikat dan kenyataan, qashr itu dapat dibagi menjadi dua, Yaitu:
- Hakiki adalah dikhususkannya magshur pada magshur ‘alaih berdasarkan hakikat dan kenyataan, yaitu sama sekali magShur, tidak lepas dari magshur ‘alaih kepada yang lain.
- Idhafi , adalah dikhususkannya magshur pada magshur ‘alaih dengan disandarkan kepada sesuatu yang tertentu.
- Latihan-Latihan
Contoh Soal
1: Sebutkan macam qashr, magshur, dan magshur ‘alaih pada contoh-contoh qashr berikut ini!
1, Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama. (QS Faathir: 28)
- Allah Swt. berfirman:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? (QS Ali Imran: 144)
3, Labid berkata:
Seseorang itu tidak lain hanyalah seperti hilal, cahayanya makin bertambah sempurna pada pertengahan bulan, lalu menghilang.
- Ibnur-Rumi berkata dalam suatu pujiannya: ”
Harta bendanya berada di pundak-pundak manusia sebagai pemberian, bukan berupa emas dan harta benda lainnya dalam gudang sebagai timbunan.
- Ia berkata:
Aku tidak heran meskipun kauheran kepadaku karena aku dapat mengetam emas dari ladangnya. Akan tetapi, keherananku adalah terhadap suatu kebaikan yang tidak dapat aku balas, dan aku berharap engkau lebih heran terhadapnya daripada terhadapku.
- Al-Ghathammasy Adh-Dhabiyyu berkata:
Hanya kepada Allah aku mengadu dan bukan kepada sesama manusia. Sesunguhnya aku lihat bumi masih tetap, sedangkan teman-teman dekat telah tiada.
Contoh Soal 2:
1.Tunjukkanlah magshur ‘alaih yang terdapat pada dua contoh berikuk ini dan jelaskan perbedaan makna kedua kalimatnya!
Sesungguhnya yang membela kedudukanmu hanyalah Ali.
2, Sesungguhnya Ali hanyalah mentbela kedudukanmu.
Contoh Jawaban 2:
1, Magshar ‘alaih pada kalimat pertama adalah Ali. Jadi, pembicara menyatakan kepada mukhathab: Ali sendiri yang memberi. kan pembelaan terhadap kedudukanmu, tidak seorang pun melakukan hal itu bersamanya. Boleh jadi Ali memiliki keterampilan lain untuk melayani masyarakat, seperti mengobati orang sakit dan menyantuni orang-orang fakir.
- Magshur ‘alaih pada kalimat kedua adalah membela. Jadi, Ali tidak melakukan hal lain selain membela, di samping itu kemungkinan ada orang lain melakukan hal yang sama seperti dia.
Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa kalimat pertama lebih baligh dalam memuji Ali dari dua sisi, pertama karena kalimat tersebut menunjukkan bahwa hanya Ali-lah yang melakukan pembelaan, tidak ada orang lain yang menyertainya: kedua karena kalimat tersebut tidak meniadakan keterampilan Ali yang lain.
Latihan-Latihan
- Sebutkan macam qashr, sarananya, magshur, dan magshur ‘alaih-nya pada contoh-contoh berikut!
- Allah Swt. berfirman: :
.. karena sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. (QS Ar-Ra’d: 40)
- Allah Swt. berfirman:
Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. (QS Al-Fatihah: 5)
- Ibnur-Rumi berkata dalam sebuah pujiannya:
Kebaikannya pada seluruh manusia terbagi, dan pujiannya pada seluruh manusia bukan untuk golongan tertentu.
- Ia berkata:
Ja menampakkan kepada mereka sebagai orang kampung, namun bukan karena kedunguannya hidup di kampung, melainkan karena akalnya melebihi akal orang yang pandai.
5, Ia berkata:
Ia bergoyang ke kanan dan ke kiri ketika mendengar pujian. Goyangan keagungan, bukan goyangan karena bergetar kegirangan.
- Ia berkata:
Aku tidak berkata tentang dirimu kecuali yang sebenarnya, dan engkau senantiasa berada di jalur sunnah yang agung dan jelas.
7, Ibnul-Mu’taz berkata:
Ingatlah, sesungguhnya dunia itu tiada lain hanyalah bekal untuk mencapai tujuan, baik kepada jalan bengkok maupun kepada jalan yang lurus.
- Ia berkata:
Kehidupan itu hanyalah sebentar dan kelak akan berakhir, dan harta itu hanyalah sesuatu yang akan musnah dan musnah.
- Abuth-Thayyib berkata:
Dengan mengharapkan kemurahanmu, kefakiran dapat diusir, dan dengan bermusuhan umur akan habis.
- Ia berkata:
Keheranan itu bukan karena banyaknya peniberian hartanya, melainkan karena keselamatan hartanya sanipai waktu pemberian lagi.
- Allah Swt. berfirman:
Dan tiada taufik bagiku kecuali dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS Hud: 88)
- Hanya kepada Allah aku mengadu bahwa padaku ada kebutuhan yang telah dilalui beberapa hari, namun masih seperti semula.
- Abuth-Thayyib berkata:
Sesungguhnya kita berada pada generasi yang sama cela dan hinanya, yang lebih jahat bagi orang yang merdeka daripada luka di badan.
- Kamu adalah orang yang bepergian dan beberapa malam kamu hidup menumpang, dan merupakan hal yang memadharatkan kamu berdiam diri lebih lama.
- Ibnur-Rumi berkata:
Mereka tidak mengharapkan balasan atas kenikmatan yang mereka berikan. Akan tetapi, mereka mampu melumatkan kebutuhan untuk mencapai keagungan.
- Abul Atahiyan berkata dalam memuji Yazid bin Mazyad AsySyaibani
Seakan-akan engkau sedang berperang, namun sesungguhnya engkau berlari hanya dari barisan yang berada di belakangmu. Maka tiada bengana kecurangan prajurit kecuali dalam kebisinganmu, dan tidak ada bencana harta benda kecuali pemberian kepadamu.
- Abu Tamam berkata:
Hanya terhadap rumah dan tempat bermain yang semisal curahan air mata yang terbendung itu terhina.
- Sebutkanlah magshur ‘alaih pada kalimat-kalimat berikut dan jelaskan perbedaan makna-maknanya!
- Ali hanya senang berenang di pagi hari.
- Sesungguhnya yang senang berenang di pagi hari hanyalah Ali.
- Sesungguhnya yang disenangi Ali di pagi hari hanyalah renang.
III. Kalimat mana di antara kedua kalimat berikut yang lebih baligh dalam memuji Sa’id? Jelaskanlah sebabnya!
- Sesungguhnya yang bagus dalam berpidato adalah Sa’id.
- Sesungguhnya Sa’id hanya agus dalam berpidato.
- Buatlah kalimat-kalimat berikut menjadi kalimat yang menunjukkan makna qashr, lalu jelaskanlah macam qashrnya dan sarananya!
- PengangQur’an itu merusak.
- Berkahnya harta itu dengan dibayar zakatnya.
- Keselamatan itu dalam kehati-hati
- Berteman dengan orang yang bodoh itu payah.
- Saya diam terhadap orang yang dungu.
- Banyak latihan menambah kecerdasan.
- Kebahagiaan akan langgeng dengan melihat teman-teman seagama.
- Telah mengkhianatimu orang yang menunjukkan kamu kepada kejahatan.
- Seseorang akan menguasai kaumnya dengan berbuat baik kepada mereka.
- Menempatkan kebaikan pada selain tempatnya adalah suatu kezaliman.
- Perhatikan kalimat berikut! –
Tidak menggembirakan kedua orang tua kecuali kecerdasan anakanaknya. Kapankah qashr pada kalimat tersebut disebut sebagai qashr galab, kapankah disebut sebagai qashr ifrad, dan kapankah disebut sebagai qashr tayin?
- 1. Jadikanlah kalimat berikut untuk menunjukkan qashr sifat “ala maushuf tanpa menambahkan satu huruf pun!
Kami memuliakan orang alim yang mengamalkan ilmunya.
- Jadikanlah kalimat berikut untuk menunjukkan qashr, dan gunakanlah sarana qashr yang engkau ketahui!
Kami telah bosan bersahabat dengan orang-orang bodoh.
- Jadikanlah kalimat berikut untuk menunjukkan qashr dengan menggunakan sarana nafyi dan istitsna, dan dengan sarana athaf!
Ketika datang musibah, teman akan diketahui.
VII, Tolaklah pendapat orang yang berkeyakinan bahwa bumi ini diam atau tidak bergerak dengan salah satu uslub qashr, lalu jelaskanlah macam qashrnya dan sarananya!
VIII. Jelaskanlah macam-macam qashr yang terdapat pada kisah berikut ini, sarananya, magshur, dan magshur ‘alaih-nya!
Orang Arab berkisah bahwa seekor kelinci menemukan sebutir kurma, lalu direbut oleh seekor musang. Maka mereka datang bertengkar minta pengadilan kepada biawak. Kelinci berkata, “Hai Abal Hisl!” Ia menjawab, “Aku mendengar engkau memanggil.” Kelinci berkata, “Kami datang kepadamu untuk menyelesaikan pertengkaran kami.” Ia berkata, “Kepada orang adil kamu berdua mencari hukum.” Kelinci berkata, “Keluarlah kepada kami!” Ia berkata, “Di rumahnya para hakim didatangi.” Kelinci berkata, “Sesungguhnya saya menemukan sebutir kurma.” Ia menjawab, “Manis, makanlah!” Kelinci berkata, “Lalu dirampas oleh seekor musang.” Ia menjawab, “Untuk dirinya, ia mendurhakai kebaikan.” Kelinci berkata, “Maka aku tempeleng dia Sekali.” Ia menjawab, “Terhadap hakmu, ambillah!” Kelinci berkata, “Namun, ia lalu menempelengku.” Ia berkata, “Ia merdeka, carilah pertolongan!” Kelinci berkata, “Maka hukumilah kami berdua!” Ia menjawab, “Telah aku lakukan.” Kemudian kata-kata biawak itu menJadi peribahasa.
- 1. Buatlah dua kalimat qashr shifat ‘ala maushuf: yang pertama berupa qashr hakiki dan yang kedua qashr idhafi.
- Buatlah dua kalimat qashr maushuf ‘ala shifat, keduanya qashr idhafi.
- Buatlah contoh untuk tiap sarana qashr dua kalimat dengan ketentuan kalimat pertama magshur ‘alaih-nya berupa shifat dan pada kalimat kedua berupa maushuf.
- Buatlah dua kalimat qashr maushuf ‘ala shifat dengan menggunakan sarana huruf athaf bal pada kalimat pertama dan huruf athaf laakin pada kalimat kedua.
- Uraikanlah kedua bait Abuth-Thayyib dalam memuji Abu Syuja’ Fatik ini dan jelaskan macam qashr dan sarananya!
Tidak akan mencapai kemuliaan kecuali seorang sayyid yang cerdas karena tidak berat atas para sayyid mengerjakannya. Bukan orang yang mendapat warisan, orang yang tangan kanannya tidak mengetahui apa yang telah ia berikan, dan bukan orang yang banyak beruntung, orang yang tanpa pedang mentinta-minta.


One Comment