Balaghah
Balaghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati, dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan orang-orang yang diajak bicara.
Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar di antara macam-macam uslub (ungkapan). Kebiasaan mengkaji balaghah merupakan modal pokok dalam membentuk tabiat kesastraan dan menggiatkan kembali beberapa bakat yang terpendam. Untuk mencapai tingkatan itu seorang siswa harus membaca karya-karya sastra pilihan, memenuhi dirinya dengan pancaran tabiat sastra, menganalisis dan membanding-bandingkan karya-karya sastra, dan harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri sehingga mampu menilai baik dan jelek terhadap suatu karya sastra sesuai dengan kemampuannya.
Perbedaan antara ahli balaghah dan ahli lukis terletak pada bidang garapannya saja. Ahli balaghah mengolah kalimat dan pembicaraan untuk diperdengarkan, sedangkan ahli lukis mengolah warna dan bentuk untuk diperlihatkan. Dalam segi yang lain mereka adalah sama. Seorang ahli lukis ketika berhasrat melukis sesuatu, berpikir tentang warna yang tepat dan mengombinasikan warna-warna itu sehingga sedap dipandang dan memukau perhatian. Seorang ahli balaghah bila hendak menyusun suatu syair, makalah, ataupun teks pidato, berpikir tentang lingkup pembicaraannya, lalu disusunlah olehnya kata-kata dan uslub yang mudah dicerna, yang paling berkaitan dengan temanya, paling kuat pengaruhnya dalam jiwa, dan paling memikat keindahannya.
Unsur-unsur balaghah adalah kalimat, makna, dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat bicaranya, waktunya, temanya, kondisi para pendengarnya, dan emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai mereka. Banyak kata yang bagus dipakai di satu tempat, namun tidak tepat dan tidak disenangi di tempat lain. Pada masa yang lalu para sastrawan tidak menyenangi penggunaan kata “aidhan”. Mereka menganggap kata tersebut monopoli para ilmuwan. Oleh karena itu, mereka tidak mau menulisnya dalam syair maupun tulisan prosa mereka, sehingga salah seorang dari mereka berkata:
Sering kali burung-burung berkicau dengan lantang mengungkap kesedihannya di waktu dhuha sambil bertengger di atas dahan.
Karena ia teringat kekasih di masa lalu, maka ia menangis. Kesusahanku pun bangkit.
Sering kali tangisku membuatnya terjaga, dan sering kali tangisnya membuatku terjaga.
Sungguh, kadang-kadang ia mengeluh, namun aku tidak dapat memahami keluhannya, dan kadang-kadang aku mengeluh, ia pun tidak dapat memahami keluhanku.
Akan tetapi, dalam kerinduan aku mengenalnya, dan dalam kerinduan ia juga mengenalku.
Dalam syair di atas, si penyair meletakkan kata “aidhan” pada tempat yang tidak dapat ditempati dan digunakan kata yang lain, dan daya tarik serta keindahan kata itu tidak dapat dijelaskan.
Sering kali suatu kalimat hakikatnya baik dan indah, namun ke. tika terucap tidak pada tempat dan kondisi yang tepat, maka kelua, dari batas balaghah dan menjadi sasaran kritikan para pengkritik.
Contoh ucapan Al-Mutanabbi kepada Kaafuur Al-Ikhsyidi’ pada awal gasidah pujiannya:
Bagimu sakitnya melihat kematian itu menjadi penawar. Dan cukup bagimu kematian itu menjadi harapanmu. Di antara pujian itu adalah:
Kegiranganku ketika aku melihatmu bukanlah suatu bid’ah. Sebelumnya aku berharap dapat melihatmu dan saya girang karenanya.
Al-Wahidi berkata, “Bait syair ini menyerupai ejekan karena penyairnya berkata, ‘Saya bergetar kegirangan ketika melihatmu, sebagaimana seseorang yang bergetar kegirangan karena lawak’.” Ibnu Jinni berkata, “Ketika saya membacakan bait syair ini kepada Abuth-Thayyib, maka saya berkata kepadanya, “Tuan tidak lebih menjadikan seseorang sebagai monyet.’ Maka beliau tersenyum.” Kita tahu bahwa Al-Mutanabbi itu bergejolak dadanya karena menahan dendam terhadap Kaafuur dan terhadap hari-hari yang memaksa ia memujinya. Oleh karena itu, meluncur darinya kata-kata yang lepas dari kontrolnya. Jadi, kekeliruan para penyair ialah dalam melontarkan syairnya hingga membuat para pendengarnya kesal dan berpaling darinya. Maka hal itu menjadikan ungkapannya keluar dari batas balaghah. Diriwayatkan bahwa Abun-Najm menemui Hisyam bin Abdul Malik dan membacakan syair untuknya:
Matahari yang kuning itu hampir muncul, dan ketika muncul tak ubahnya bagaikan mata juling di ufuk.
Sedangkan mata Hisyam itu juling, maka ia memerintahkan agar Abun-Najm ditangkap.
Jarir memuji Abdul Malik bin Marwan dengan gasidahnya yang isinya antara lain:
Apakah Tuan cerah ataukah hati Tuan tidak cerah? Mendengar kalimat ini Abdul Malik tidak senang, dan karenanya ia balik berkata kepada Jarir, “Bahkan hatimulah yang tidak cerah!”
Ulama sastra menyesalkan kekeliruan Al-Buhturi yang memulai pujiannya dengan kalimat berikut:
Kecelakaan yang besarlah bagi Tuan karena malam hari yang bagian-bagian akhirnya terasa amat cepat berlalu. Mereka mencela Al-Mutanabbi yang berbelasungkawa atas kematian ibu Saifud-Daulah”
Semoga rahmat Allah Yang Maha Pencipta memolesi wajah yang berseli. mutkan keindahan. Ibnu Waki’ berkata, “Ia (Mutanabbi) menyifati ibu raja dengan ke. indahan wajah.” Ungkapan ini dinilai tidak terpuji.
Memang Al-Mutanabbi terlalu berani dalam menyeru para raja. Barangkali keagungan dan keperkasaan dirinyalah yang melatarbelakangi tingkahnya yang ganjil itu.
Suatu hal yang perlu diperhatikan dengan serius oleh seorang ahli balaghah adalah mempertimbangkan beberapa ide yang bergejolak dalam jiwanya. Ide yang dikemukakan itu harus benar, berbobot, dan menarik sehingga memberi kesan sebagai hasil kreasi seseorang yang berwawasan utuh dan bertabiat lembut dalam merangkai dan menyusun ide. Setelah hal itu ia selesaikan, kemudian memilih katakata yang jelas, meyakinkan, dan sesuai. Lalu menyusunnya dengan susunan yang indah dan menarik. Jadi, balaghah itu tidak terletak pada kata per kata, juga tidak pada makna saja, melainkan balaghah adalah kesan yang timbul dari keutuhan paduan keduanya dan keserasian susunannya.


One Comment