Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

BAGIAN KETIGA : ILMU BADI

Telah dijelaskan di muka bahwa Ilmu Bayan adalah suatu sarana untuk mengungkapkan suatu makna dengan berbagai uslub dengan tasybih, majaz, atau kinayah. Juga telah dijelaskan bahwa Ilmu Ma’ani itu membantu pengungkapkan suatu kalimat agar cocok dengan tuntutan keadaan, dengan mencakup salah satu tujuan balaghah yang dapat diketahui melalui rangkaian kalimatnya dan garinah-garinah yang meliputinya.

Namun, masih ada lagi aspek balaghah lain yang tidak tercakup dalam pembahasan Ilmu Bayan dan Ilmu Ma’ani. Akan tetapi, aspek ini juga tidak lebih sebagai penghias lafaz atau makna dengan bermacam-macam corak kehidupan lafaz dan makna. Ilmu yang mencakup pembahasan ini disebut dengan Ilmu Badi’. Ilmu ini — sebagaimana diisyaratkan — mencakup keindahan-keindahan lafaz dan keIndahan-keindahan makna, dan berikut ini adalah penjelasan masingmasing.

BAB I : KEINDAHAN-KEINDAHAN LAFZHI

  1. Al-jinas
  2. Contoh-contoh
  1. Allah Swt. berfirman:

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, “Mereka tidak berdiam (di dalam kubur), melainkan sesaat sa| ja” (QS Ar-Ruum: 55)

  1. Seorang penyair berkata dalam meratapi seorang anak kecil yang bernama Yahya:

Dan aku memberinya nama Yahya agar ia senantiasa hidup, namun tidak ada jalan untuk menolak perintah Allah padanya.

  1. Allah Swt. berfirman:

Adapun terhadap anak yatim, kamu jangan berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. (QS Adh-Dhuha: 9 – 10)

  1. Ibnul-Faridh berkata:

Hendaklah akalmu itu mencegahmu dari mencaci seseorang. KecelakaAn itu tidak dapat dirasakan oleh orang yang tidak pernah mendapatkan kenikmatan.

  1. Al-Khunsa’ mfratapi saudaranya, Shakhr, dengan gasidah:

Sesungguhnya tangisan itu obat bagi kesedihan mendalam yang terdapat di antara tulang rusuk.

  1. ” Allah Swt. berfirman, menceritakan percakapan Harun kepada Musa a.s.:

Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Israil….” (QS Thaha: 94)

  1. Pembahasan

Bila kita perhatikan contoh-contoh di atas, kita dapatkan dalam setiap contoh dua kata yang bermiripan bentuknya, tetapi maknanya berbeda. Pengungkapan kalimat yang demikian disebut dengan jinas.

Pada contoh pertama kita dapatkan kata “as-saa’ah” diulang dua kali, sedangkan maknanya yang pertama adalah hari kiamat, sedangkan yang kedua adalah waktu. Pada contoh kedua kita dapatkan kata “yahyaa”, juga diucapkan dua kali dengan makna-yang berbeda. Perbedaan makna dua kata — dalam kajian ilmu badi’ — yang sama persis macam hurufnya, syakalnya, jumlahnya, dan urutannya disebut sebagai jinas tam (kemiripan yang sempurna).

Bila kita perhatikan dua kata yang bermiripan pada contoh-contoh bagian kedua, maka kita dapatkan bahwa masing-masing berbeda dalam salah satu dari keempat segi kemiripannya, seperti kata taghar dengan kata tanhar, nahaaka dengan nuhaaka, al-jawaa dengan alJawaanih, dan baina dengan banii, sesuai dengan urutan contoh di atas. Kemiripan yang demikian disebut jinas ghair tam (kemiripan yang tidak sempurna).

Menurut pendapat jumhur ahli sastra Arab, jinas itu tidak disukai karena jinas akan membawa kegagapan dan menghalangi seseOrang yang baligh, mengungkapkan makna yang tersimpan. Tentu Saja kecuali bagi yang dapat dengan mudah diungkapkan tanpa dibuat-buat.

  1. Kaidah

(68) Jinas adalah kemiripan pengungkapan dua lafaz yang berbeda artinya. Jinas ada dua macam:

  1. Jinas tam, yaitu kemiripan dua kata dalam empat hal, macam hurufnya, syakalnya, jumlahnya, dan urutannya.
  1. Jinas ghair tam, yaitu perbedaan dua kata dalam salah satu dari empat hal tersebut.

4, Latihan-Latihan

  1. Tunjukkan jinas tam pada contoh-contoh berikut!
  2. Abu Tamam berkata:

Tidak mati dari kemurahan zaman di sisi Yahya bin Abdullah selama ia masih hidup.

  1. Abul ‘AlaAl-Ma’arri berkata:

Kami tidak bertemu seorang manusia pun yang dapat dijadikan perlindungan kecuali kamu. Maka engkau senantiasa menjadi orang di mata zaman.

  1. Al-Busti berkata: –

Aku telah paham terhadap kitab Anda, wahai Sayyidku. Maka aku mencintainya, dan tidak heran bila aku mencintainya.

  1. Ia berkata dalam suatu pujiannya:

Dengan Saifud-Daulah teraturlah segala urusan yang kami lihat (semula) bercerai-berai. Ia mulia dan melindungi Bani Sam dan Bani Ham. Tidak ada orang Sam dan orang Ham seperti dia.

  1. Abu Nuwas berkata:

Hai Abbas, hai Abbas, bila perang berkecamuk dan hai Fadhl dan Ar-Rabi’.

Il. Tunjukkanlah jinas ghair tam pada contoh-contoh berikut ini serta jelaskan mengapa dikatakan ghair tam!

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. (QS An-Nisa: 83)

2 Allah Swt. berfirman:

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya. (QS Al-An’am: 26)

  1. Ibnu Jubair Al-Andalusi berkata:

Wahai penunggang unta yang galak, apakah kamu tahu — tebusanmu adalah diriku — bagaimana petunjuk jalan itu?

  1. Al-Hariri menyifati Huyam yang tidak mengenal dunia:

Ia tidak akan meningkatkan kecintaannya dan kerinduannya terhadap dunia. Seandainya ia tahu, niscaya telah mencukupinya sisa air itu terhadap apa yang ia inginkan. :

  1. Abdullah bin Rawahah”? memuji Rasulullah Saw. Menurut suatu pendapat, dikatakan bahwa syairnya yang ini merupakan syair yang paling baik di kalangan orang-orang Arab dalam hal pujian: |

Beliau mengendarai unta putih seraya memakai baju bordelnya, bagaikan bulan purnama yang sinarnya menerangi semua kegelapan.

III. (Tunjukkan tempat-tempat jinas pada contoh-contoh berikut ini dan jelaskan macam jinasnya! 

  1. Al-Buhturi berkata dalam gasidahnya yang terkenal:

Apakah karena tidak bertemu aku akan binasa, ataukah karena orang yang mengadukan kerinduanku ini aku akan menjadi sembuh?

  1. An-Nabighah berkata dalam suatu ratapannya:

Aduhai sayangnya kamu, dengan niat dan tekad yang terkubur oleh kematian mendadak di antara batu-batuan dan batu atap liang lahat..

  1. Al-Buhturi berkata:

Angin taman yang bertiup dengan lembut itu termasuk angin utara, dan cucuran hujan dari awan. itu khamr yang ditiup angin utara.

4, Al-Hariri berkata:

Aku tidak akan memberikan tali kekangku kepada orang yang melanggar janjiku. Dan aku tidak akan menanamkan tangan-tanganku di bumi musuh.

5, Ia berkata:

Mereka berjalan secepat banjir, dan terhadap kebaikan secepat kuda.

  1. Al-Buhturi berkata:

Maka berhentilah dengan penuh kebahagiaan bersama mereka bilu kamu memaafkan, dan pergilah menjauh dari mereka bila kamu mencela.

  1. Abu Tamam berkata:

Putihnya lempengan (pedang) bukan hitamnya lembaran (tinta), di , dalamnya terkandung pengaruh semua keraguan dan kebimbangan.

  1. Allah Swt. berfirman:

Yang demikian itu disebabkan kamu bersukaria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersukaria (dalam kemaksiatan), (QS Al-Mu-min: 75)

  1. Rasulullah Saw. bersabda:

Pada ubun-ubun kuda terkandung kebaikan.

  1. Hisan bin Tsabit r.a. berkata:

Bila Nabi Saw. memerangi suatu kabilah, kami senantiasa melindungi beliau dengan tombak dan panah terhunus.

  1. Abu Tamam berkata:

Mereka siap melindungi semua hal yang harus dilindungi dengan menghunus pedang-pedang yang memutuskan lagi mematahkan (semua gangguan).

  1. Cita-cita tidak akan tercapai melainkan dengan menempuh segala rintangan.
  1. Susunlah dua kalimat yang mencakup jinas tam dan dua kalimat lagi yang mencakup jinas ghair tam, dengan menghindari kesan dibuatbuat!
  1. Uraikanlah ucapan Abu Tamam berikut ini dan jelaskan niacam jinas yang terdapat padanya!

Belum aku lihat seperti kebaikan sesuatu yang didakwakan hak-haknya sebagai utang sebagian kaum, padahal ia adalah ghanimah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker