Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

C, Kalam Insya’

C1. Kalam Insya’ Terbagi Menjadi Insya” Thalabi dan Insya “Ghair Thalabi

1.Contoh-Contoh

a, Cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu!

  1. Di antara fatwa Al-Hasan r.a. adalah:

Janganlah kau menuntut balasan kecuali senilai apa yang kamu kerjakan.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Perhatikanlah, hari ini tidak ada seorang pun yang mencela SaifudDaulah. Semoga seluruh manusia menebusinya dengan pedang-pedang yang paling tajam.

  1. Hisan bin Tsabit berkata:

Semoga syairku dan burung itu memberitahukan kepadaku apa yang terjadi antara Ali dan Ibnu Affan.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Wahai orang yang bagi kami sulit berpisah dengan mereka, apa pun yang kami dapatkan setelah (perpisahan dengan)-mu adalah tidak ada (bagi kami).

  1. Ash-Shimmah bin Abdullah berkata:

Demi diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai tenipat peristirahatan di musim panas dan musim semi.

  1. AlJahizh berkata tentang kitab:

Setelah itu, maka sebaik-baiknya pengganti dari ketergelinciran adalah berdalih, dan sejelek-jeleknya pengganti dari tobat adalah terus-menerus melakukan maksiat.

  1. Abdullah bin Thahir berkata:

Demi usiamu, kekayaan itu tidak dapat diperoleh dengan akal, sebagaimana akal pun tidak dapat diperoleh dengan harta.

  1. Dzur-Rummah!

Barangkali cucuran air mata itu dapat menjadi penawar kerinduan Atau dapat menyembuhkan kegelisahan dan kesusahan yang memenuhi dada.

  1. Seorang penyair berkata:

Barangkali orang yang meminta kepadamu suatu permintaan di hari ini mempunyai kebutuhan ketika engkau tidak melayaninya, dikhawatirkan keadaannya berbalik, besok adalah hari untuknya.

  1. Pembahasan Seluruh kalimat pada contoh-contoh di atas adalah kalani insya’ karena semuanya tidak mengandung pengertian membenarkan dan tidak pula mendustakan. Bila kita perhatikan, maka contoh-contoh itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah kalimat-kalimat yang digunakan untuk menghendaki keberhasilan sesuatu yang belum berhasil pada saat kehendak itu dikemukakan. Oleh karena itu, kalam insya’ yang demikian disebut sebagai kalam insya’ thalabi. Adapun kalimat pada contoh-contoh kalam insya’ bagian kedua tidak digunakan untuk menghendaki terjadinya scsuatu, dan oleh karenanya disebut sebagai insya’ ghair thalabi.

Kalau kita perhatikan kalam insya’ thalabi pada contoh-contoh bagian pertama, maka akan kita dapatkan bahwa insya’ thalabi ada yang berupa amr (kata perintah) seperti dalam contoh pertama, ada yang berupa nahyi (kata larangan) seperti pada contoh kedua, ada yang berupa istifham (kata tanya) seperti pada contoh ketiga, ada yang berupa tamanni (kata untuk mengharapkan sesuatu yang sulit terwujud) seperti dalam contoh keempat, dan ada yang berupa nida’ (kata yang didahului dengan seruan) seperti pada contoh kelima. Itulah macam-macam insya’ thalabi yang akan kita bahas lebih lanjut.

Dan bila kita perhatikan contoh-contoh bagian kedua, kita dapatkan pada beberapa bentuk kalam insya’, ada yang berbentuk ta’ajjub (kata yang menunjukkan rasa takjub) seperti pada contoh keenam, ada yang berbentuk al-mad-h wadz-dzamm (kalimat untuk menyatakan pujian dan celaan) seperti pada contoh ketujuh, ada yang didahului gasam (sumpah) seperti pada contoh kedelapan, ada yang berbentuk kalimat-kalimat tarajji (kalimat-kalimat yang didahului dengan la’alla/asaa, dan sejenisnya) seperti pada kedua contoh terakhir, dan di samping itu ada juga yang berbentuk akad seperti kata bi’tu atau isytaraitu.

Jenis insya’ ghair thalabi buranlah bidang pembahasan ilmu ma’ani, karena itu pembahasannya tidak perlu kami panjang lebarkan lagi.

  1. Kaidah

(36) Kalam insya’ itu ada dua macam, yaitu thalabi dan ghair thalabi.

  1. Kalam thalabi adalah kalimat yang menghendaki terjadinya sesuatu yang belum terjadi pada waktu kalimat itu diucapkan. Kalam jenis ini ada yang berupa.armr (kata perintah), nahyi (kata larangan), istifham (kata tanya), tamanni (kata untuk menyatakan harapan terhadap sesuatu yang sulit terwujud), dan nida’ (kata seru).
  1. Kalam insya’ ghair thalabi adalah kalimat yang udak menghendaki terjadinya sesuatu. Kalam jenis ini banyak bentuknya, antara lain fa’ajjub (kata untuk menyatakan pujian), adzdzanim (kata untuk menyatakan celaan), gasam, kata-kata yang diawali dengan afalur raja, dan demikian pula kata-kata yang mengandung makna akad (transkasi).
  1. Latihan-Latihan

Contoh Soal:

Jelaskan jenis kalam insya’ pada setiap contoh berikut:

  1. Abu Tamam berkata:

Jangan kausirami aku dengan air celaan, karena sesungguhnya aku adalah tukang minum yang menganggap tawar air tangisku.

  1. Suatu pepatah menyatakan:

Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, barangkali suatu hari ia akan berubah menjadi orang yang engkau benci: dan bencilah orang yang kaubenci sedang-sedang saja, barangkali suatu hari ia akan berubah menjadi kekasihmu.

  1. Ibnuz-Zayyat berkata memuji Al-Fadhl bin Shl.

Wahai penolong agama, ketika jeratnya telah rusak, sungguh engkau adalah benar-benar semulia-mulianya orang yang menjadi tempat berlindung dan yang menolong.

  1. Umayyah bin Abush-Shalt berkata dalam meminta sesuatu keperluan:

Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah rasa malumu itu cukup bagiku, sesungguhnya rasa malu itu adalah perangaimu.

  1. Zuhair bin Abi Salma berkata:

Sebaik-baiknya orang adalah Harim (bin Sinan), yang setiap terjadi musibah ia menjadi tempat perlindungan setiap orang yang ketakutan.

  1. Imru-ul Oais berkata:

Wahai penolongku, sesungguhnya kita berdua di sini adalah pengembara, dan setiap pengembara itu senasib dengan pengembara lainnya.

  1. Seorang penyair lainnya berkata:

Seandainya arang yang mencegah kebaikan itu terhalang mendapatkan kebaikan, hingga banyak orang yang akan merasakan akibat apa yang mereka kerjakan.

  1. Abu Nuwas berkata dalam, rangka mengharap belas kasihan Al-Amin:

Demi Dzat yang memberimu hidup, aku tidak akan mengulangi hal yang serupa, demi Dzat yang meniberimu hidup.

i Di’bal Al-Khuza’i berkata:

Alangkah banyaknya manusia! Tidak, bahkan alangkah sedikitnya mereka! Allah Mahatahu bahwa saya tidak berkata dusta. Sesungguhnya saya benar-benar membuka mata kepada orang banyak, tetapi saya tidak melihat seorang pun.

  1. Jelaskanlah mana redaksi kalam insya’, macamnya, dan tharigahnya | pada kalimat-kalimat berikut ini!
  1. Abuth-Thayyib berkata dalam memuji dirinya:

Aku adalah Alangkah jauhnya aib dan kekurangan dari kemu bintang kejora, sedangkan aib dan kekurangan itu adalah uban dan pikun.

  1. Ia berkata:

Semoga kepayahanmu itu terpuji akibatnya. Sering kali badan menjadi Sehat karena beberapa penyakit.

  1. Ia berkata:

Aduhai, seandainya antara aku dan kekasihku sejauh antara aku dan musibah-musibahku.

  1. Ia berkata dalam memuji Saifud-Daulah:

Pemi usiaku, sungguh kamu benar-benar telah menyibukkan maut terhadap musuh-musuhmu. Maka dengan cara apakah maut meminta pekerjaan kepadamu?

5 Ia berkata dalam memuji orang yang sama: |

Wahai orang yang membunuh dengan pedangnya terhadap siapa saja yang dikehendakinya, namun saya menjadi korban pembunuhanmu dengan kebaikanmu.

  1. Ia berkata dalam memuji orang yang sama: ‘

Demi Allah, seandainya tidak ada kamu, maka tidak seorang pun tahu bagaimana bermurah hati itu dan bagaimana memukul kepala (membunuh).

7, Ia berkata pula:

Tipu daya orang-orang yang bodoh itu akan menimpa diri mereka, seWangkan memusuhi para penyair itu adalah sejelek-jeleknya hal yang disimpan.

  1. Ia berkata pula:

Celalah malam-malam yang membinasakan harta bendaku itu dengan sangat lembut, maafkanlah saya, dan janganlah kaucela saya.

9, Ia berkata pula:

Sejelek-jeleknya malam (adalah malam) yang pada malam itu aku tidak dapat tidur karena merindukan dan mengkhawatirkan seseorang yang tidur pulas.

  1. 1. Buatlah delapan buah kalam insya’, yang empat insya’ thalabi dan yang empat lagi kalam insya’ ghair thalabi!
  1. Buatlah dua buah redaksi kalam insya’ dalam bentuk gasam, dua buah redaksi dalam bentuk mad-h dan dzamm, dan dua redaksi dalam bentuk ta’ajjub!
  1. Pergunakanlah kata-kata berikut untuk menyusun kalimat, lalu jelaskanlah macam insya’-nya!

Laa nahyihamzah istifhamlaitala’alla“asaahabadzaalaa habadzaamaa ta’ajjubwawu qasanihal.

III.Jelaskan macam kalam insya’ dan kalam khabar berikut ini!

  1. Demi usiamu, bumi ini tidak akan menjadi sempit oleh para penghuninya. Akan tetapi, yang menjadi sempit adalah akhlak manusia.
  1. Apabila diri orang yang bernasab itu tidak sama dengan pokok (orang tua)-nya, maka apakah guna kemuliaan derajat orang tua itu ?
  1. Seandainya gunung-gunung itu meletus dengan hebatnya di saat kematiannya, hingga tidak tersisa sepotong batu pun darinya.
  1. Sungguh, apabila beberapa ratapan bagimu dan kata-katanya itu baik, maka sudah pastilah bahwa sebelumnya pujian-pujian bagimu adalah baik.
  1. Saat bermain itu sangatlah sebentar dan cepat berlalu, bagaikan ciuman yang diberikan oleh seorang kekasih yang berlalu.
  1. Wahai kekasih-kekasiliku, seandainya bukanlah maut yang menimpamu, niscaya aku akan mencelanya, namun tidak ada alasan untuk mencela zaman.
  1. Sesungguhnya kesusahan itu mempunyai janji dengan kebahagiaan. Keduanya adalah dua bersaudara yang dipertaruhkan untuk sore hari atau esok harinya.

Maka bila kamu mendengar ada orang yang binasa, yakinilah olehmu bahwa jalan itu pasti akan kautempuh, maka bersiap-siaplah.

  1. Setiap keberanian itu cukup bagi keberadaan seseorang. Akan tetapi, keberanian bagi seseorang yang bijaksana tidak sama.
  1. Tinggalkanlah aku, karena sesungguhnya kekikiran itu tidak akan menjadikan seseorang kekal, dan kebaikan itu tidak akan membinasakan orang yang melakukannya.
  1. Pada suatu saat setiap manusia itu dengan terpaksa akan naik keranda di atas pundak musuh dan kerabatnya.
  1. Menurutku, pertemuan air dan api itu tidak lebih sulit daripada aku memadukan keberuntungan dan kepandaian,
  1. Wahai putriku, bila kamu ingin mengetahui tanda kebaikan dan keindahan yang menghiasi badan dan akal, maka buanglah jauh-jauh kebiasaan mempertontonkan diri, karena keindahan jiwa itu lebih berharga dan lebih tinggi. Banyak orang dapat menibuat bunga mawar buatan. Akan tetapi, bunga niawar asli di taman tidak dapat diserupai bentuknya.
  1. Ubahlah kalam-kalam khabar berikut ini menjadi kalam insya’ dan lengkapilah macani-macam insya’ thalabi yang kauketahui!

Taman itu berbunga. Burung itu berkicau. Para pengrajin itu saling bersaing. Sungai Nil itu meluap. Pekerja itu giat. Juru tulis itu bagus tulisannya.

  1. Jelaskanlah macam insya’ pada dua bait berikut ini, lalu buatlah menjadi kalimat prosa dengan baik!

Wahai orang yang berhias dengan selain perangainya dan orang yang perangainya berubah-ubah dan manis bibirnya, kembalilah kepada akhlakmu yang telah dikenal sebagai kebiasaanmu karena berperilaku dengan sesuatu yang bukan perangainya itu akan ketahuan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker