A.6 Majaz Mursal
- Contoh-Contoh
- Al-Mutanabbi berkata:
la mempunyai tangan-tangan yang berlimpah padaku, dan diriku ini merupakan bagian darinya, dan aku tidak kuasa menghitungnya.
- Allah Swt. berfirman:
… dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. (QS Al-Mu’min: 13)
Berkali-kali kami mengutus tentara dalam jumlah besar dan kami melepaskan banyak mata-mata.
- Allah Swt. berfirman, mengisahkan pengaduan Nabi Nuh a.s.:
Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga. (QS Nuh: 7)
- Allah berfirman:
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka. (QS An-Nisa’: 2)
- Allah Swt. berfirman,mengisahkan pengaduan Nabi Nuh a.s.:
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (QS Nuh: 27)
- Allah Swt. berfirman:
Maka biarkan dia memanggil golongannya (untuk menolongnya) kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah. (QS AlAlag: 17183)
- Allah Swt. berfirman: –
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). (QS Al-Muthaffifin: 22)
- Pembahasan
Telah kita ketahui bahwa isti’aarah termasuk majaz lughawi dan bah, wa isti’aarah itu adalah kata yang digunakan bukan untuk maknanya yang asli karena adanya hubungan keserupaan antara kedua makna tersebut, yakni makna asli dan makna majazi. Selanjutnya kita perha. tikan contoh-contoh di atas dan kita bahas majaz yang terkandung dj dalamnya.
Perhatikan kata ayaad dalam syair Al-Mutanabbi. Apakah Anda beranggapan bahwa ia menghendaki maknanya yang hakiki, yaitu tangan-tangan yang sesungguhnya? Yang ia kehendaki adalah kenik. matan-kenikmatan yang banyak. Jadi, kata ayaad dalam ungkapan ini adalah majaz. Akan tetapi, apakah Anda melihat adanya hubungan keserupaan antara tangan dan kenikmatan? Tentu saja tidak. Kalau demikian, apa hubungan antara kedua makna tersebut, sedang: kan orang Arab tidak akan mengucapkan Suatu kata untuk makna yang lain kecuali bila telah nyata adanya kaitan dan hubungan antara maknanya yang asli dan makna majazinya? Ketahuilah bahwa tangan hakiki adalah alat untuk menyampaikan beberapa kenikmatan. Jadi, tangan itu merupakan sebab bagi kenikmatan tersebut. Oleh karena itu, hubungannya adalah as-sababiyyah, dan hal ini banyak digunakan dalam bahasa Arab.
Kemudian perhatikan firman Allah Swt. pada contoh kedua! Rezeki itu tidak diturunkan Allah dari langit, melainkan yang diturunkan adalah air hujan yang dengannya tumbuh-tumbuhan menjadi hidup dan menjadi sumber rezeki bagi kita. Maka rezeki adalah musabbab atau akibat dari turunnya hujan. Jadi, hubungannya adalah musabbabiyyah.
Adapun kata al-“uyuun pada contoh ketiga, maksudnya adatah mata-mata (spion). Jadi, sangat mudah dimengerti bahwa penggunaan kata tersebut adalah majaz. Hubungannya adalah bahwa mata adalah suatu bagian, bahkan yang amat dominan dari spion, dan karenanya yang diucapkan hanya sebagian, namun yang dimaksud adalah seluruhnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hubungannya adalah juz’iyyah.
Selanjutnya bila kita perhatikan firman Allah Swt. pada contoh keempat. Kita yakin bahwa seseorang tidak mungkin dapat meletakkan seluruh jarinya di telinganya. Jadi, sekalipun yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seluruh jari, namun yang dimaksudkan adalah ujung salah satu jarinya (biasanya jari telunjuk kiri dan kanan). Penggunaan kata-kata tersebut adalah majaz, dan hubungannya adalah kulliyyah.
Kemudian perhatikanlah firman Allah Swt. pada contoh kelima. Kita tahu bahwa anak yatim menurut bahasa adalah anak kecil yang ayahnya meninggal. Apakah Anda beranggapan bahwa Allah memerintahkan untuk memberikan harta peninggalan ayahnya kepada anak yatim yang masih kecil-kecil? Hal ini tidak dapat dibenarkan. Akan tetapi, yang benar adalah Allah memerintah untuk memberikan harta itu kepada anak yatim yang telah mencapai usia dewasa. Jadi, penggunaan kata yataamaa pada ayat di atas adalah majaz kare
“na yang dimaksud dengannya adalah orang-orang yang justru telah meninggalkan usia yatimnya. Hubungan antara kedua makna ini adalah i’tibaar maa kaana (mempertimbangkan apa yang telah bertalu).
Selanjutnya perhatikan firman Allah Swt. pada contoh keenam. Kata faajiran kaffaaran adalah majaz kedua-duanya karena anak yang baru dilahirkan itu tidak bisa melakukan maksiat dan tidak dapat berbuat kekufuran, tetapi mungkin akan melakukan yang demikian setelah masa kanak-kanak. Jadi, yang diucapkan adalah anak yang maksiat, namun yang dimaksud adalah orang dewasa yang maksiat. Hubungannya adalah i’tibaar maa yakuunu (mempertimbangkan sesuatu yang akan terjadi).
Pada contoh ketujuh, Allah berfirman: “Fal-yad’u naadiyah.” Perintah dalam ayat ini adalah untuk mengejek dan menyepelekan, karena kita tahu bahwa makna kata an-naadii adalah tempat berkumpul. Akan tetapi, yang dimaksud dengannya adalah orang-orang yang ada di tempat yang sama, baik keluarga maupun para pembantunya. Jadi, kata an-naadii dalam ayat ini adalah majaz, yaitu menyebutkan tempat, namun yang dimaksud adalah orang yang menempatinya. Hubungannya adalah al-mahalliyyah.
Sebagai kebalikannya adalah firman Allah dalam contoh kedelapan. Kenikmatan itu tidak dapat ditempati oleh manusia karena kenikmatan itu sesuatu yang bersifat abstrak. Yang bisa ditempati adalah tempat kenikmatan itu. Maka penggunaan kata kenikmatan untuk tempatnya adalah majaz, yaitu menyebutkan suatu hal yang menempati suatu tempat, namun yang dimaksud adalah tempatnya itu, Jadi, hubungannya adalah al-haaliyyah.
Bilamana terjadi yang demikian, yaitu setiap majaz yang hu bungan antara makna aslinya dan makna majazinya bukan adanya keserupaan serta ada karinah yang menghalangi pemahaman maknz aslinya, maka ketahuilah bahwa jenis majaz lughawi yang demikian disebut dengan majaz mursal. .
- Kaidah
(22) Majaz mursal adalah kata yang digunakan bukan untuk makna. nya yang asli karena adanya hubungan yang selain keserupaan serta ada karinah yang menghalangi pemahaman dengan mak. na yang asli.
(23) Hubungan makna asli dan makna majazi dalam majaz mursaj adalah: as-Sababiyyah, al-Musabbabiyyah, al-Juz-iyyah, al-Kul. liyyah, Ytibaaru maa kaana, I’tibaaru maa yakuunu. al-Mahalliy. yah, al-Haalliyyah.
- Latihan
Contoh Soal:
- Aku minum air Sungai Nil.
b Khatib menyampaikan kata yang besar pengaruhnya.
- Tanyakan kepada kota yang semula kami di sana.
- Orang-orang Mesir memakai katun yang diproduksi oleh negara mereka.
- Kuda-kuda yang gagah di belakang mereka sepenuh jalan, dan pedangpedangnya di atas mereka sepenuh hari.
- Aku akan menyalakan api.
Contoh Penyelesaian:
- Yang dimaksud dengan air Sungai Nil adalah sebagiannya. Majaz mursal, hubungannya adalah al-kulliyyah.
- Yang dimaksud dengan kalimat adalah pembicaraan. Majaz mursal, hubungannya adalah al-juz’iyyah.
- Yang dimaksud dengan kota adalah penduduknya. Majaz mursal, hubungannya adalah al-mahalliyyah.
- Yang dimaksud dengan katun adalah kain dari katun. Majaz mursal, hubungannya adalah i’tibaaru maa kaana.
- Yang dimaksud dengan sepenuh hari adalah sepenuh penjuru pada siang itu. Majaz mursal, hubungannya adalah al-haalliyyah.
- Yang dimaksud dengan api adalah bahan bakar yang akan menjadi api. Majaz mursal, hubungannya adalah i’tibaaru maa yakuunu.
Il. Jelaskan hubungan tiap majaz mursal yang bergaris bawah!
- Ibnuz-Zayyat berkata dalam meratapi istrinya:
Ingatlah hai orang yang melihat anak kecil dipisahkan dari ibunya, ia jauh dari tidur dan kedua matanya bercucuran air matanya.
- Sebuah syair dinisbatkan kepada As-Samu-al:
Jiwa kami mengalir di atas mata pedang, dan tidak mengalir pada se, lain pedang.
- Berhentilah kamu berdua pada Ma’n, dan berkatalah kepada kuburnya, “Semoga kau disirami mendung empat hari, kemudian empat hari (lagi).”
- Saya tidak akan naik laut, saya takut binasa di sana. Saya adalah lumpur, sedangkan laut adalah air. Dan lumpur itu hancur dalam air.
- . Tidak ada satu tangan pun kecuali tangan Allah berada di atasnya. Dan tidak ada seorang zalim pun kecuali akan dicoba oleh orang yang lebih zalim.
- Al-Mutanabbi berkata dalam mencela Kafuur:
Sesungguhnya aku bertamu pada orang-orang pembohong yang tidak mau menjamuku dan aku tidak boleh pergi.
- Pendapat kaum itu berbeda-beda.
- Pemenuhan janji telah menyurut dan kecurangan telah melimpah.
5, Dan jadikanlah aku lidah (buah tutur) yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (QS Asy-Syu’ara’: 84)
- Air hujan itu menghidupkan bumi setelah mati. .
- Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu gishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (yakni orang-orang yang akan kaubunuh). (QS Al-Baqarah: 178)
- Dewan menteri menetapkan demikian.
- Engkau mengirimkan kepadaku kebun yang agung maknanya dan tegas kata-kata penutupnya.
- Saya minum kopi.
- Jangan jadi telinga yang mau menerima segala pergunjingan.
- m, Pencuri itu mencuri rumah.
- Allah Swt. berfirman:
“(Berkatalah salah seorang dari keduanya): Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras Khamr.” (QS Yusuf: 36)
- Pergunakanlah kata-kata berikut sebagai majaz mursal dengan hubungan makna sebagaimana ditentukan!
Kata Hubungan makna
- Mata | Juz’iyyah
- Negeri Syam Kulliyyah
- Madrasah Mahalliyyah
- Kota Madinah Mahalliyyah
- Katun I’tibaaru maa kaana
- Orang-orang lelaki/ I’tibaaru maa yakuunu Pemimpin
- Buatlah dua kalimat dengan tiap-tiap kata berikut ini dengan catatan satu kalimat menggunakan kata-kata berikut sebagai majaz mursal dan pada kalimat yang lain sebagai majaz isti’aarah!
Pena — pedang — kepala — teman
- Uraikanlah dua bait syair berikut dan jelaskan majaznya!
Jangan sekali-kali kamu tertipu apa yang kamu lihat pada kebanyakan ma, nusia karena di bawah tulang rusuk itu terdapat penyakit yang sangat me, nyakitkan. Maka letakkanlah cambukmu dan angkatlah pedangmu sehingga tidak terli, hat lagi olehmu seorang pun dari Bani Umayyah.


One Comment