- Majaz Aali
- Contoh-Contoh
- Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati Raja Romawi setelah dipukul mundur oleh Saifud-Daulah:
Tongkat yang bermata lembing itu berjalan-jalan di rumah pendeta bersamanya untuk bertobat, padahal semula ia tidak rela melihat larinya kuda blonde yang pendek bulunya.
- Amr bin Ash membangun Kota Fusthath (mesir kuno).
- Siangnya Zahid berpuasa dan malamnya berdiri (salat).
- Jalan-jalan Kairo berdesak-desakan.
- Kesungguhanmu sungguh-sungguh dan kelelahanmu lelah.
- Al-Khuthai’ah berkata:
Biarkanlah kemurahan-kemurahan itu, janganlah kau berangkat untuk mencarinya. Duduklah, karena sesungguhnya engkau adalah pemberi pangan dan sandang.
- Allah Swt. berfirman:
Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup. (QS Al-Isra’: 45)
- Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. (QS Maryam: 61)
- Pembahasan
Perhatikanlah dua contoh pertama! Pada masing-masing contoh itu terdapat fi’il (kata kerja) yang disandarkan tidak kepada fa’il (pelaku)-nya, yakni yamsyii (berjalan) disandarkan kepada al—ukkaazu (tongkat bermata lembing) karena tongkat itu tidak dapat berjalan, dan yabnii (membangun) disandarkan kepada ‘Amr bin Ash karena ‘Amr bin Ash sebagai gubernur tidak mungkin ikut membangun secara langsung, yang membangun adalah para pekerjanya. Akan tetapi, karena tongkat itu menjadi sebab berjalan dan ‘Amr bin Ash menjadi sebab membangun, maka fi’il itu disandarkan kepada keduanya.
Kemudian pada dua contoh kedua, puasa disandarkan kepada siang (bukan kepada Zahid sebagai pelakunya), berdiri salat disandarkan kepada malam, dan berdesak-desakan (padat) disandarkan kepada jalan raya, padahal siang itu tidak berpuasa, yang berpuasa adalah orang yang hidup di siang hari itu, malam juga tidak berdiri, yang berdiri adalah orang yang salat pada malam itu, jalan-jalan raya di Kairo juga tidak berdesak-desakan, yang berdesak-desakan adalah orang atau kendaraan yang lewat di jalan itu. Jadi, pada dua contoh kedua ini fi’il atau yang serupa dengannya disandarkan kepada kata yang bukan tempat sandaran yang sebenarnya. Faktor yang memperbolehkan penyandaran demikian adalah karena musnad ilaih (sesuatu yang menjadi sandaran) pada kedua contoh tersebut merupakan waktu atau tempat berlangsungnya pekerjaan.
Pada contoh kelima terdapat dua fi’il, yaitu jadda dan kadda, disandarkan kepada mashdar (kata dasar/asal) masing-masing dan tidak kepada fa’il masing-masing. Pada contoh keenam, Huthai’ah berkata kepada orang yang diejeknya, “Duduklah, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang memberi pangan dan sandang.” Apakah Anda mengira bahwa setelah berkata, “Jangan berangkat untuk mencari kemurahan,” lalu berkata, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang memberi pangan dan sandang orang lain?” Tentu tidak demiki, an. Yang ia maksud tiada lain adalah: “Duduklah dengan total (men. jadi beban bagi) orang lain dengan mendapat makanan dan pakaian”,
Jadi, kata sifat yang mabnii faa’il disandarkan kepada dhamiir mafuul. Pada dua contoh terakhir terdapat kata mastuuran menggantikan kata saatirun, dan kata ma-tiyyan menggantikan kata aatin. Jadi, isim maful digunakan dengan menggantikan kedudukan isim fa’il. Atau dengan kata lain, sifat yang mabni maf’ul disandarkan kepada fa’il. Dari contoh-contoh di atas kita lihat beberapa fi’il atau yang menyerupainya tidak disandarkan kepada fa’ilnya yang hakiki, melainkan kepada penyebab fi’il, kepada waktunya, tempatnya, atau kepada mashdar—nya, dan beberapa kata sifat yang seharusnya disandarkan kepada maful (obyek penderita), namun disandarkan kepada fa’il (subyek), serta kata sifat yang lain yang seharusnya disandarkan kepada fa’il, namun disandarkan kepada maf’ul. Mudah untuk diketahui bahwa penyandaran yang demikian adalah bukan penyandaran yang hakiki karena penyandaran yang hakiki adalah penyandaran fi’il kepada fa’ilnya yang hakiki. Kalau demikian, maka penyandaran di sini adalah majaz dan disebut sebagai majaz agli karena majaznya tidak terdapat pada lafaz sebagaimana pada majaz mursal dan isti’aarah, melainkan pada penyandaran, dan hal ini dapat diketahui melalui pemikiran yang tajam atau dengan akal.
- Kaidah-Kaidah
(24) Majaz agli adalah penyandaran fi’il atau kata yang menyerupainya kepada tempat penyandaran yang tidak sebenarnya karena adanya hubungan dan disertai karinah yang menghalangi dipahaminya sebagai penyandaran yang hakiki.
(25) Penyandaran majazi adalah penyandaran kepada sebab fi’il, waktu fi’il, tempat fi’il atau mashdar-nya, atau penyandaran isim mabnii fa’il kepada maf’ul-nya, atau isim mabni maf’ul kepada fa’il-nya.
- Latihan-Latihan
- Abuth-Thayyib berkata:
Wahai Abal-Misk (nama julukan Kafur Al-Ikhisyidi), aku mengharap pertolongan darimu untuk menghadapi musuh-musuhku, dan aku mengharapkan kemenangan yang melumurkan pedang dengan darah. Dan (saya mengharapkan) suatu hari yang membuat kemarahan orang-orang yang dengki (kepadaku), dan suatu keadaan yang menempatkan kesengsaraan di tempat kenikmatan.
b Allah Swt. berfirman:
(Nuh berkata), “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah kecuali Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” (QS Huud: 43)
- Kami berangkat ke kebun yang banyak bernyanyi.
- Ismail membangun banyak madrasah di Mesir.
- Abu Tammam berkata:
Hampir-hampir pemberiannya kegila-gilaan bila tidak-diobati oleh rug. yah peminta-mintanya.
Contoh Penyelesaian:
Penyandaran melumurkan pedang ke dalam darah kepada kemenangan adalah penyandaran yang tidak hakiki karena kemenangan itu tidak melumurkan darah ke pedang, melainkan hanya sebab terhimpunnya kekuatan dan bala tentara yang melumurkan pedang mereka ke dalam darah. Jadi, ungkapan di atas mengandung majaz agli yang hubungan maknanya adalah sababiyyah.
Penyandaran membuat kemarahan orang-orang yang dengki adalah penyandaran yang bukan hakiki karena hari itu merupakan waktu berlangsungnya kemarahan. Jadi, kalimat di atas mengandung majaz agli yang hubungan maknanya adalah zamaniyyah.
- Makna ayat adalah (boleh seperti terjemahan di atas, atau): Tidak ada yang dilindungi hari ini dari azab Allah kecuali orang yang disayang Allahu Jadi, isim fa’il disandarkan kepada maf’ul. Yang demikian adalah majaz agli yang hubungannya adalah maf uliyyah.
- Kebun itu tidak bernyanyi-nyanyi. Yang bernyanyi itu tiada lain adalah burung-burung yang ada padanya atau lalat-lalat dan lebahnya. Jadi, kalimat tersebut mengandung majaz agli yang hubungan maknanya addlah makdaniyyah.
Ismail tidaklah membangun sendiri madrasah di Mesir, melainkan beliau hanya memerintahkan pembangunannya. Jadi, penyandaran tersebut adalah majaz agli yang hubungan maknanya adalah sababiyyah.
- Penyandaran fi’il kepada mashdar-nya adalah majaz agli yang hubungan maknanya adalah mashdariyyah.
- Jelaskan majaz agli dari kata-kata yang bergaris bawah pada kalimat berikut dan jelaskan hubungan maknanya serta karinah-nya.
- Allah Swt. berfirman:
Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang aman? (QS Al-Oashash: 57)
- Rumah itu ramai dan kamarnya terang.
- Keagungan menjadi agung ketenarannya (seseorang sangat agung dan terkenal).
- Wahai Ummu Ghailan, kamu telah mencelaku karena berjalan malam sedangkan kamu tidur, padahal kendaraan yang berjalan malam tidak. lah tidur.
- Ketika kami berkuasa, sifat pemaaf bagi kami merupakan tabiat, dan ketika kamu berkuasa, maka seluruh lembah mengalirkan darah.
- Zaman mengadu domba di antara mereka dan mencerai-beraikan sersatuan mereka.
- Wahai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu (yaitu) pintu-pintu langit. (QS AlMu’ min: 36-37)
- Kami duduk menghadap tempat minuman yang tawar airn a memancar.
- Tharafah bin AlAbd berkata:
Hari-hari akan menempatkan padamu apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya, dan datang kepadamu orang yang tidak kamu beri bekal dengan membawa beberapa kabar.
- Ia bernyanyi seperti lengkingan suara pepohonan dan pagi menggugah burung-burungnya.
- Sesungguhnya kami teman-teman dari suatu kaum yang para pendahulunya binasa dalam peperangan, yang penuh keberanian dan menolong orang-orang yang meminta tolong.
- Jelaskan majaz-majaz agli pada kalimat-kalimat berikut ini!
- Jalan itu datang dan pergi (didatangi dan ditinggalkan manusia).
- Ia memiliki kemuliaan yang menaik dan posisi yang menguntungkan.
- Zaman menyusahkan mereka, dan hari-hari menggilas mereka.
- Harta melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh kekuatan manusia.
III. Bedakan antara majaz agli, majaz mursal, dan isti’aarah pada kalimatkalimat berikut ini!
- Seseorang telah dianggap cukup cela bila kaulihat ia memiliki wajah namun tidak berlidah.
- Al-Mutanabbi berkata:
Kesusahan itu mengobati orang,yang gemuk hingga jadi kurus dan menjadikan ubun-ubun anak kecil berubah seperti orang yang lanjut usia.
- Asy-Syarif Ar-Ridha berkata kepada uban:
Wahai pagi, binasalah! Maka alangkah gelapnya hari-hariku setelah kegelapan itu.
- An-Nabighah Adz-Dzibyani berkata:
Maka semalaman seakan-akan aku digigit oleh ular belang kecil yang kurus, di taringnya terdapat bisa yang sangat berbahaya.
- Berkali-kali saya mengajarinya menyusun sajak, namun setelah ia bisa menyusunnya, ia mengejekku.
- Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka. (QS Al-An’am: 6)
- Malam menggelarkan tirai-tirainya.
8 Kemudian keduanya (Nabi Khidhr dan Nabi Musa) mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. (QS Al-Kahfi: 77)
- Tidak ada keutamaan kecuali engkau yang memakainya, dan tidak ada rakyat kecuali engkau yang memimpinnya.
- Dan datanglah Tuhanmu, sedangkan malaikat berbaris-baris. (QS AlFajr: 22)
- (Firaun) menyembelih anak-anak mereka. (QS Al-Oashash: 4)
- Uraikan bait-bait berikut dan jelaskan majaz agli yang terdapat padanya!
Orang-orang sebelum kita telah bersahabat dengan zaman ini, dan apa-apa yang merepotkan kita telah merepotkan mereka. Seluruh mereka meninggalkan zaman ini dengan membawa dukacita, meskipun kadang-kadang zaman ini menibahagiakan sebagian mereka. Malam-malamnya sering kali bersahabat dengannya, akan tetapi mengeruhkan kebaikan. Seakan-akan orang yang menolong masa itu tidak rela terhadap apa yang terjadi di antara kita karena bencana. Ketika zaman telah menumbuhkan batang tombak, maka seseorang memasang mata tombak pada batang itu.
- Nilai Majaz Mursal dan Majaz Aqli dalam Balaghah Apabila kita perhatikan macam-macam majaz mursal dan majaz agli, maka akan kita temukan bahwa kebanyakan majaz itu mengemukakan makna yang dimaksud dengan singkat. Bila kita katakan: (Komandan itu menyisihkan pasukan musuh) atau (Majelis menetapkan demikian), maka akan lebih ringkas daripada kita katakan: (Tentaranya komandan itu mengusir pasukan musuh) atau (Ahli majelis itu menetapkan demikian). Tidak syak lagi bahwa keringkasan ungkapan itu adalah salah satu jenis balaghah.
Di samping itu, ada celah-celah balaghah yang lain pada kedua majay ini, yakni kemahiran memilih titik singgung antara makna asi) dan makna majazi dengan mengusahakan majaz itu dapat menggambarkan makna yang dikehendaki dengan gambaran yang lebih baik,” Seperti menyebut intelijen dengan mata, menyebut telinga kepada orang yang mudah tersinggung, dan menyebut khuf dan telapak kaki dengan maksud keindahan dan kuda. Semua contoh ini adalah dalam majas mursal. Atau seperti menyandarkan sesuatu kepada se. babnya, tempatnya, dan waktunya dalam majaz agli karena balaghah itu mengharuskan pemilihan sebab yang kuat dan tempat serta waktu yang khusus.
Dan apabila kita perhatikan dengan cermat, maka akan kita dapatkan bahwa kebanyakan majaz mursal dan majaz agli itu tidak lepas dari mubalaghah (berlebih-lebihan) yang indah dan berpengaruh, menjadikan majaz itu begitu menarik dan mencengkeram kuat dalam hati. Penyebutan keseluruhan dengan maksud sebagian adalah suatu mubalaghah, demikian juga menyebut sebagian dengan maksud keseluruhan, sebagaimana dikatakan: Fulaanun famun ( Si Pulan adalah mulut) dengan maksud bahwa si Pulan adalah orang yang rakus yang melahap segala sesuatu, atau Fulaanun anfun (Si Pulan adalah hidung) dengan maksud bahwa hidungnya besar sehingga berlebih-lebihan dengan menjadikan bahwa seluruhnya adalah hidung. Di antara pernyataan dalam menyifati orang yang besar hidungnya adalah pernvataan sebagian sastrawan:
(Saya tidak tahu apakah ia yang berada pada hidungnya, ataukah hidungnya yang ada pada dia).


One Comment