BAGIAN KEDUA : ILMU MA’ANI
BAB I : KALAM KHABAR DAN KALAM INSYA’
- Pengertian
- Contoh-Contoh
- Abu Ishag Al-Ghazzi berkata:
Seandainya tidak ada Abuth-Thayyib Al-Kindi, maka tidak akan penuh pendengaran manusia dengan pujian terhadap Ibnu Hamdan.
- Abuth-Thayyib berkata:
Saya tidak berharap terhadap sesuatu yang masih ada karena rakus, dan saya tidak kecewa atas hilangnya sesuatu yang telah tiada.
- Abul-‘Atahiyah berkata:
Sesunguhnya orang yang bakhil itu sekalipun menjadi kaya kareng. nya, pastilah Anda lihat padanya terdapat tanda-tanda kefakiran.
- Salah seorang filosof berkata kepada anaknya:
Wahai anakku, belajarlah kamu tentang cara menerima informasi yang bagus, sebagaimana kamu belajar tentang cara menyampaikan infor. masi yang bagus.
- Abdullah bin Abbas memberi wasiat kepada seseorang:
Janganlah kamu berkata sesuatu yang tidak berguna bagimu, dan tinggalkanlah berbicara dalam kebanyakan hal yang berguna bagimu sehingga kamu temukan situasi yang tepat untuk berbicara.
- Abuth-Thayyib berkata:
Janganlah kausambut waktumu, melainkan dengan sikap tidak peduli selama rohmu masih menyertai badanmu.
- Pembahasan
Abu Ishag Al-Ghazzi menceritakan kepada kita bahwa Abu AthThayyib Al-Mutanabbi adalah orang yang menyebarluaskan keutamaan-keutamaan Saifud-Daulah bin Hamdan. Untuk itu ia berkata, “Seandainya tidak ada Abuth-Thayyib, niscaya tidak muncul kemasyhurannya, dan manusia tidak mengetahui seluruh kelebihannya seperti yang telah mereka ketahui sekarang.” Pernyataan ini memungkinkan bahwa Al-Ghazzi benar, sebagaimana memungkinkan ia berdusta. Apabila pernyataannya itu sesuai dengan kenyataannya, maka ia benar, dan apabila tidak sesuai dengan kenyataannya, maka ja berdusta.
Al-Mutanabbi dalam contoh kedua menyebutkan bahwa dirinya puas dan rela terhadap kondisinya yang ada. Jadi, ia tidak punya kepribadian mengharapkan sesuatu yang akan datang yang akan membawa kemuliaannya, dan tidak menyesali segala sesuatu yang telah tiada. Dan barangkali ia berdusta dan tidak jujur.
Demikian pula AbulAtahiyah, dalam contoh ketiga ia mungkin benar dan mungkin pula dusta.
Kemudian perhatikanlah contoh keempat, maka akan kita temukan seseorang yang berbicara memanggil anaknya dan memerintahnya untuk belajar cara menerima berita dengan baik dan cara menyampaikan berita dengan baik. Orang yang berbicara dengan kalimat yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai orang yang jujur atau sebagai orang yang dusta karena ia tidak memberi tahu kita tentang terjadinya sesuatu atau tidak terjadinya sesuatu, melainkan ia hanya menyeru dan memerintah.
Demikian juga Abdullah bin Abbas dalam contoh kelima dan Al-Mutanabbi dalam contoh keenam. Mereka tidak dapat disifati sebagai orang yang jujur maupun orang yang dusta karena masingmasing tidak menginformasikan terjadi atau tidaknya sesuatu.
Bila kita perhatikan dengan saksama seluruh kalimat atau pembicaraan yang kita dengar, maka seluruhnya tidak lepas dari salah satu dari kedua macam kalimat ini. Kalimat macam pertama disebut sebagai kalam khabar (kalimat berita), sedangkan kalimat macam kedua disebut sebagai kalam insya’ (bukan kalimat berita).
Kemudian perhatikanlah contoh-contoh di atas atau kalimat-kalimat lainnya, maka akan kita dapatkan bahwa setiap kalimat terdiri atas dua unsur dasar, yaitu mahkum ‘alaih (subyek) dan mahkum bih (predikat). Unsur pertama disebut sebagai musnad ilaih (tempat pe. nyandaran berita), dan unsur kedua disebut sebagai musnad (berita yang disandarkan). Adapun kata-kata yang bukan termasuk salah sa, tu dari keduanya disebut sebagai gaid (pelengkap kalimat) dan bukan unsur yang asasi.
- Kaidah
(28) Kalam itu ada dua macam, yaitu kalam khabar dan kalam insya’.
- Kalam khabar adalah kalimat yang pembicaranya dapat dikatakan sebagai orang yang benar atau dusta. Bila kalimat itu sesuai dengan kenyataan, maka pembicaranya adalah benar: dan bila kalimat itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka pembicaranya adalah dusta.
- Kalam insya adalah kalimat yang pembicaranya tidak dapat disebut sebagai orang yang benar ataupun sebagai orang yang dusta.
(29) Setiap kalam, baik kalam khabar maupun kalam insya”, terdiri atas dua unsur asasi, yaitu mahkum ‘alaih dan mahkum bih. Unsur pertama disebut sebagai musnad ilaih dan unsur kedua disebut sebagai musnad sedangkan kata-kata selebihnya, selain mudhaf ilaih dan shilah, disebut sebagai gaid.”
4 Latihan-Latihan
Contoh Soal:
Jelaskan macam-macam jumlah (kalam/kalimat) dan tentukanlah musnadilaih dan musnad pada setiap kalimat pokok berikut ini!
- Abdul Hamid Al-Katib memberi wasiat tentang keindahan sastra kepada orang-orang yang seprofesi:
Wahai para penulis, berlomba-lombalah dalam memperindah aspek-aspek sastra, pahamilah agama, mulailah dengan mempelajari ilmu kitab Allah, lalu bahasa Arab karena ia menjadi pemanis bahasamu, lalu perbaikilah tulisanmu karena ia sebagai penghias kitab-kitabmu, riwayatkanlah syair-syair, kenalilah keunikan dan makna-maknanya, kenalilah hari-hari orang Arab dan non-Arab, kejadian-kejadian dan perjalanan hidup mereka karena yang demikian akan mendukung tercapainya cita-citamu.
- Abu Nuwas berkata:
Datang dan terhentinya rezeki itu ditentukan oleh keputusan dan kekuasaan Allah. Oleh karena itu, bersabarlah bila waktu menimpakan bencana kepadamu, karena perisai orang yang teguh hati adalah dengan bersabar.
- Bedakanlah jumlah khabariyyah dari jumlah insya’iyyah dan tentukan musnad ilaih dan musnadnya!
- Sebagian mutiara hikmah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abu Thalib r.a. dalam suratnya kepada Al-Harits Al-Hamadzani100 adalah:
Berpegang teguhlah kepada ketentuan Al-Qur’an dan mintalah nasihat kepadanya. Halalkanlah apa yang dihalalkannya, haramkanlah apa-apa yang diharamkannya. Ambillah pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah terjadi di muka bumi untuk menghadapi kejadian-kejadian yang akan datang karena sebagian kejadian-kejadian dunia itu menyerupai sebagian kejadian yang lain. Kejadian-kejadian dunia yang terjadi di kemudian hari adalah mengikuti kejadian yang telah berlalu. Setiap kejadian itu berubah-ubah. Agungkanlah nama Allah dan jangan kau menyebut nama-Nya kecuali dalam hal yang benar.
- Di antara mutiara hikmah yang juga disandarkan kepada Ali k.w.:
Hindarilah olehmu awal datangnya dingin dan terimalah akhirnya karena rasa dingin itu menyerang tubuh sebagaimana ia menyerang tumbuh-tumbuhan, awalnya meruntuhkannya dan akhirnya menumbuhkan kembali daun-daunnya.
- Sebagian ahli balaghah menulis tentang permohonan belas kasihan:
Aku berlindung kepada ampunanmu, aku bernaung dalam kemurahan hatimu. Maka berilah aku manisnya kerelaan, dan lupakanlah dariku pahitnya kemurkaan di masa lalu.
III. ‘ Pahamilah bait-bait syair berikut, bedakan jumlah khabariyah dan jumlah insya’iyah-nya, dan tentukan musnad ilaih dan musnad-nya!
- Penyusun kitab Al ‘Igdul-Farid menyifati dunia:
Perhatikanlah, sesungguhnya dunia itu (bagaikan) indahnya pohonpohonan yang bila salah satu sisinya menghijau, maka sisi yang lain kering. Orang yang banyak berharap terhadap dunia, pastilah ia lapar. Dan tiada kenikmatan dunia kecuali merupakan musibah. Maka janganlah kamu mencelak kedua matamu dengan air mata karena menangisi sebagian dunia yang lenyap, karena sesungguhnya engkau pun akan lenyap.
- Ibnul-Mu’tazz berkata:
Orang yang pemurah itu bukanlah orang yang memberikan pemberi. annya karena ingin dipuji sekalipun harga peniberiannya itu mahal, Bahkan orang yang pemurah itu adalah orang yang memberikan pem. beriannya tanpa motivasi apa pun selain ia mengetahui kebaikan sebagai sesuatu yang baik.
la tidak mengharapkan pujian kerena berbuat kebaikan, dan tidak mengharapkan balasan setelah meniberi.
III. ‘Ubahlah ke dalam bentuk kalimat prosa yang benar, lalu tentukanlah jumlah khabariyyah-nya dan jumlah insya’iyyah-nya! .
Janganlah kamu berbuat baik kecuali kepada orang-orang yang mulia, karena mereka akan membalas kenikmatan kepada orang yang memberinya kenikmatan.
Sedangkan orang yang berbuat baik kepada orang-orang yang suka mencela, maka setelah itu akan Anda lihat bahwa ia kecewa.
- 1. Sifatilah kehidupan orang-orang pedesaan dengan kalam khabar!
- Kirimlah surat kepada seseorang yang sedang sakit mata dan Anda mengharapkan kesembuhannya, dan Anda menasihatinya dengan hal-hal yang mendukung kesembuhannya untuk selamanya, dan sebagian surat tersebut hendaknya berupa kalam insya’!


One Comment