C.2.b Nahyi (Larangan)
- Contoh-Contoh
- Allah Swt. berfirman dalam melarang mengambil harta anak yatim tanpa hak:
Dan janganlah kaudekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat. (QS Al-An’am: 152)
- Allah Swt. berfirman dalam melarang memutuskan silaturahmi dengan seseorang:
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapang. an di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya. (QS An-Nuur: 22)
- Allah Swt. berfirman dalam melarang mengambil teman kepercayaan yang jahat:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadharatan bagimu. (QS Ali-Imran: 118)
- Muslim bin Al-Walid berkata tentang Harun Al-Rasyid:
Sekali-kali pagar larangan Islam tidak menghentikan kamu dari jabatan raja, (justru) kamu menegakkan panji-panjinya setelah bengkok.
- Abuth-Thayyib berkata tentang Saifud-Daulah:
Jangan sekali-kali kausampaikan kepadanya apa yang saya katakan, karena ia adalah seorang pemberani yang bila disebutkan kepadanya suatu celaan, maka ia marah.
- Abu Nuwas berkata dalam memuji Al-Amin:
Wahai unta, janganlah kaubosan atau datang kepada raja, mencium telapak tangannya dan mencium rukun hathim (pada Ka’bah) itu sama. Kapan saja kamu berhasil menempuh perjalanan kepadanya dengan selamat, maka engkau akan menyaksikan bagaimana pengumpulan makhluk dalam bentuk patung manusia.
g Abul-‘ Ala’ Al-Ma’arri berkata:
.Dan janganlah kamu berteman orang yang berselera rendah, karena akhlak orang-orang bodoh itu menular.
- Abul-Aswad Ad-Dauli berkata:
Janganlah kamu melarang suatu perbuatan, sedangkan kamu mengerjakan pekerjaan yang sejenisnya. Bila kaulakukan yang deniikian, maka aib besar bagimu.
- Penyair lain berkata:
Jangan sekali-kali kamu menawarkan diri kepada Ja’far untuk menolongnya, karena engkau bukan orang yang sebanding dengannya.
j Jangan kauturuti perintahku. (Diucapkan kepada orang yang lebih rendah.)
- Abuth-Thayyib mencela Kafur:
Jangan kaubeli hariba kecuali sambil membeli tongkat, karena hamba itu najis dan sedikit kebaikannya.
- Pembahasan
Bila kita perhatikan contoh-contoh bagian pertama, kita dapatkan masing-masing berupa redaksi untuk melarang dilakukannya suatu perbuatan, dan bila kita perhatikan lebih jauh, maka yang melarang itu derajatnya lebih tinggi daripada yang dilarang, karena pelarangnya pada contoh-contoh bagian pertama ini adalah Allah Swt., sedangkan yang dilarang adalah hamba-hamba-Nya. Larangan seperti contoh-contoh tersebut adalah larangan yang hakiki. Bila kita perhatikan, redaksi larangannya pada masing-masing contoh tersebut adalah sama, yakni fi’il mudhari’ didahului dengan laa nahiyah.
Selanjutnya perhatikan contoh-contoh bagian kedua. Maka kita dapatkan seluruhnya tidak digunakan untuk makna larangan yang hakiki, melainkan menunjukkan makna lain yang dapat kita pahami berdasarkan susunan kalimat dan kondisi serta situasinya.
Muslim bin Al-Walid pada contoh keempat tidak ada maksud lain dari redaksi larangan yang diucapkannya kecuali untuk doa (permohonan) kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk tetap berkuasa demi memperkuat agama Islam dan meninggikan kalimatnya.
Abuth-Thayyib pada contoh kelima semata-mata mengajak kepada kedua temannya untuk tidak menyampaikan kepada SaifudDaulah apa-apa yang mereka dengar darinya (Abuth-Thayyib) tentang keberaniannya, penyerangannya terhadap musuh, dan bagusnya semangat perang karena ia adalah seorang pemberani, dan setiap orang pemberani akan merindukan perang bila diberitahukan kepadanya. Syair ini sesuai dengan tradisi orang Arab dalam bersyair, sebab dalam syair. ini penyair mengkhayalkan kehadiran dua orang temannya yang menemaninya dan mendengarkan syairnya, sehingga ia berbicara kepada mereka dengan gaya bahasa yang disampaikan kepada orang yang setaraf. Bila redaksi larangan itu disampaikan pich seseorang kepada orang lain yang setaraf, maka menunjukkan makna iltimas tajakan/ tawaran).
Abu Nuwas pada contoh keenam tiada lain berharap agar untanya dapat menempuh suatu perjalanan yang berat tanpa lelah dan putus asa hingga sampai di desa Al-Amin, dan di sana ia melihat bagaimana Allah menghimpun alam dalam bentuk manusia.
Abul ‘Ala’ pada contoh ketujuh bermaksud menasihati orang yang diajak bicara dan menunjukkannya untuk menjauhkan diri dari orang-orang bodoh dan orang-orang yang berselera rendah.
Abul Aswad Ad-Dauli pada contoh kedelapan bermaksud mencela orang yang melarang orang lain berbuat kejelekan, namun dirinya melaksanakannya.
Sedangkan ketiga contoh terakhir secara berurutan dimaksudkan untuk tai-iis (pesimistis), tahdid (mengancam), dan tahgir (penghipaan). |
- Kaidah
(40) Nahyi (larangan) adalah tuntutan tidak dilakukannya suatu perbuatan yang disampaikan oleh sescorang kepada orang yang martabatnya lebih rendah.
(41) Redaksi nahyi adalah fi’il mudhari’, didahului dengan laa nahiah.
(42) Kadang-kadang redaksi nahyi keluar dari maknanya yang hakiki dan menunjukkan makna lain yang dapat dipahami dari susunan kalimat serta kondisi dan situasinya, seperti untuk doa, iltimas, tamanni, irsyad, taubih, tai-iis (pesimistis), tahdid, dan tahgir (penghinaan).
Latihan-latihan
Contoh Soal:
jelaskanlah mana redaksi nahi dan bagaimana maksud masing-masing!
- Allah Swt. berfirman:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (QS Al-A’raf: 56)
- Abul ‘Ala’ berkata:
Jangan sekali-kali kamu bersumpah atas kejujuran dan jangan pula kedustaan, karena sumpah itu tidak memberi manfaat kepadamu kecuali dosa.
- Allah Swt. berfirman:
Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan). (QS Al-Hujurat: 11)
- Allah Swt. berfirman:
Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman. (QS At-Taubah: 66)
- Al-Buhturi berkata kepada Al-Mu’ tamid ‘Alallah
Selamanya engkau tidak akan terlepas dari kehidupan yang tiada mcnbawa kebahagian, tetapi Hari Raya Nauruz merupakan hari raya bagimu.
f, Al-Ghazzi berkata:
Janganlah kau perberat leherku dengan kebajikan orang yang bodoh, lalu aku bepergian dengan senantiasa membawanya seperti burung merpati yang berkalung.
g Penyair lain berkata:
Janganlah kaucari kejayaan, sesungguhnya tangga kejayaan itu adalah kesulitan. Hiduplah dengan santai, dengan hati yang senang.
h Al-Khunsa’ meratapi saudaranya, Shakhr:
Wahai kedua mataku, dermawanlah, dan janganlah kau kering, hendaklah kau menangis untuk bermurah hati kepada Shakhr.
- Khalid bin Shafwan berkata:
Jangan kau menuntut kebutuhanmu selain pada waktunya, dan jangan kau menuntutnya selain dari ahlinya.
I Mengapa larangan pada kalimat-kalimat berikut ini berurutan menunjukkan makna irsyad, tamanni, tahdid, dan tahgir?
- Janganlah sekali-kali kau terbujuk air mata musuhnu, dan sayangilah masa mudamu dari musuh, maka engkau akan disayangi.
- Janganlah kauturunkan hujan, wahai langit!
- Janganlah kaulepaskan kecongkakannu! (Dikatakan kepada orang yang martabatnya lebih rendah.)
- Janganlah kaupaksakan dirintu melakukan sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh orang-orang dermawan!
- Jelaskanlah redaksi-redaksi nahyi berikut ini dan makna masing-masing!
1 Abuth-Thayyib memuji Saifud-Daulah:
Janganlah sekali-kali kaucari seorang dermawan setelah kau melihat Saifud-Daulah, sesungguhnya para dermawan dengan kedermawanan mereka telah diakhiri (olehnya).
- Janganlah kauanggap keagungan itu bagaikan kurma yang setiap saat dapat kaumakan. Engkau tidak akan mencapai keagungan sebelum engkau menjilat ketabahan.
- Ath-Thaghraz-i berkata:
Janganlah engkau merindukan beberapa kedudukan sebelum kau penuhi sarana dan prasarananya.
- Asy-Syarif Ar-Ridha berkata:
Janganlah sekali-kali kau percaya kepada niusuh yang bersikap lembut karena di balik kelenibutannya terdapat bisa ular ganas yang tidak ada obatnya.
- Abuth-Thayyib berkata:
Janganlah sampai malam-malam itu menguasaimu, sesungguhnya tangan-tangannya bila memukul akan memecahkan pohon yang besar dan keras hanya dengan tumbuhan yang kecil dan lemah.
- Jangan sekali-kali kau terlalaikan dari tempat kembalimu (akhirat) oleh kenikmatan yang akan binasa dan lalu selamanya engkau akan mendapat kesengsaraan.
- Janganlah kamu kira bahwa orang yang kamu bunuh itu masih bernyawa sehingga tidak akan ada yang memakan bangkai kecuali dubuk atau sejenis anjing hutan (hyena).
- Abul ‘Ala’ berkata:
Janganlah kausenibunyikan rahasia itu dariku pada hari bencana karena perbuatan itu adalah dosa yang tidak terampuni. Cuka itu seperti air: menampakkan apa-apa yang ada padanya ketika jernih dan menyenibunyikannya ketika keruh.
- Allah Swt. berfirman:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. (QS Al-Baqarah :188)
- Abuth-Thayyib berkata:
Janganlah kamu mengadu kepada orang lain, akibatnya ia merasa senang, seperti pengaduan orang yang terluka kepada burung gagak dan burung pemakan bangkai.
- Janganlah kau mencari keagungan, dan terimalah apa adanya, sebab mencari keagungan itu sulit.
III.1: Buatlah dua kalimat larangan yang menunjukkan larangan yang hakiki!
- Buatlah tiga kaliriat larangan yang secara berurutan menunjukkan makna doa, iltimas, dan tamanni!
- Buatlah tiga kalimat larangan yang secara berurutan menunjukkan makna irsyad, tai-iis, dan tahdid!
- Perhatikan kalimat berikut ini!
Janganlah kautinggalkan tenipat tidurmu. Kalimat larangan ini bisa bermakna irsyad, tahdid, atau taubih. Maka jelaskanlah dalam kondisi mukhathab yang bagaimana sehingga kalimat tersebut sesuai dengan makna-makna tersebut!
- Ubahlah kalarni-kalam khabar berikut menjadi kalam-kalarmn insya” tharigah nahyi dan jelaskan makna yang dimaksud dalam setiap redaksi larangan!
- Engkau bergantung kepada orang lain.
2, Engkau menuruti perintahku.
- Engkau banyak mencela teman.
- Engkau melarang kejahatan, tetapi engkau sendiri mengerjakannya.
- Engkau berdalih hari ini.
- Engkau selalu menghukumku setiap aku melakukan kelalaian.
- Ali menghadiri majelis kita.
- Orang-orang desa tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya.
- Uraikan kedua bait syair berikut dan jelaskanlah makna yang dimaksud dalam setiap redaksi larangan yang ada!
Jangan sekali-kali menibebani manusia dengan yang selain keahliannya, maka engkau akan payah karena banyaknya caci-maki, dan mereka pun akan payah. Janganlah engkau terbujuk oleh keramahan sebagian mereka, kilat yang paling banyak sinarnya adalah kilat yang tidak diiringi turunnya hujan.


One Comment