3) Makna-Makna yang Ditunjukkan oleh Istifham Berdasarkan Beberapa Karinah
1 Contoh-Contoh
a Al-Buhturi berkata:
Waktu itu tiada lain hanyalah datang dan perginya kesulitan dan silih bergantinya kesempitan dan kesempatan dengan cepat.
- Abuth-Thayyib berkata tentang orang yang dipujinya:
Apakah musulimusuh itu akan tetap menuntut bukti kemenangannya setelah mereka melihat tanda-tanda kemenangan itu dengan jelas?
- Al-Buhturi berkata:
Bukankah Anda adalah orang yang paling merata kemurahannya, paling sehat badannya, dan paling tajam pedangnya?
- Penyair lain berkata:
Sampai ke mana persengketaan di antara kamu, sampai ke mana? Dan keributan itu atas dasar apa?
- Abuth-Thayyib berkata dalam sebuah ratapannya:
Siapa lagi yang akan memimpin perkumpulan-perkumpulan, para prajurit, dan pejalan malam yang kehilangan obor karena kematianmu? Siapakah yang akan kautunjuk sebagai penggantimu untuk menerima para tamu? Mereka telah tersia-sia, sedangkan orang seperti Anda hampir-hampir tidak pernah menyia-nyiakan.
f.. Ia berkata dalam suatu penghinaannya terhadap Kafur:
Dari sudut mana kemuliaan datang kepada orang yang seperti Anda? Wahai Kafur, di manakah botol-botol yang untuk membekam itu dan di mana pula sisir itu?
- Ia berkata pula:
Sampai kapan kita dapat mengejar bintang di tengah kegelapan? Sedangkan perjalanan bintang itu tanpa sepatu dan telapak kaki.
- Ia berkata ketika terserang sakit panas (demam):
Wahai putri zaman, seluruh putri telah ada paddku. Maka bagaimana engkau akan meraihiku dari desakan putri-putri itu?
- Allah Swt. berfirman:
Mereka menjawab, “ Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat.” (QS Asy-Syu’ara’: 136)
- Allah Swt. berfirman:
Maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami? (QS Al-A’raf: 53)
k Allah Swt. berfirman:
Ya Apakah kamu suka aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (QS Ash-Shaff: 10)
- Pembahasan
Pada keterangan yang lalu telah kita ketahui redaksi-redaksi istifham dengan makna-maknanya yang hakiki. Sekarang akan dibahas bahwa redaksi-redaksi istifham itu kadang-kadang menyimpang kepada makna-makna yang lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimatnya.
Perhatikanlah contoh pertama, maka kita dapatkan bahwa AlBuhturi tidak menanyakan sesuatu kecuali ia hendak menyatakan bahwa zaman itu tiada lain adalah muncul tenggelamnya kesulitan dan silih bergantinya kesempitan dan kelonggaran. Jadi, kata hal dalam kalimat itu untuk nafyi (bermakna “tidak ada”), bukan untuk minta penjelasan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Abuth-Thayyib pada contoh kedua tiada lain mengingkari keraguan musuh terhadap kemenangan Kafur dan tuntutan mereka terhadap bukti-bukti pertolongan Allah berupa kemenangan, sesudah mereka mengetahui bagaimana ia menundukkan setiap orang yang hendak menyerangnya dan bagaimana zaman menimpakan bencana kepada setiap orang yang bermaksud jahat kepadanya. Jadi, istifham pada kalimat tersebut tidak menunjukkan makna lain selain ingkar.
Al-Buhturi pada contoh ketiga tiada lain bermaksud memotivasi orang yang dipujinya untuk mengakui kebolehan yang didakwakan kepadanya, yakni mengungguli seluruh khalifah dalam hal kemurahan, kekuatan fisik, dan keberaniannya. Ia sama sekali tidak bermaksud bertanya kepada mukhathabnya tentang semua kebolehan tersebut. Jadi, istiffham pada kalimat tersebut bermakna tagrir (penetapan/penegasan).
Penyair pada contoh keempat mencela para mukhathabnya karena senantiasa bertengkar dan senantiasa saling menghina dan menjauhi. Di samping itu, ia menegur mereka atas keterlaluan mereka dalam berteriak-teriak dan ribut. Jadi, redaksi istifham pada contoh tersebut telah keluar dari makna aslinya kepada taubih (celaan) dan tagri’ (teQur’an).
Abuth-Thayyib pada contoh kelima bermaksud mengagungkan dan menghormati orang yang diratapinya dengan menampakkan kebolehannya ketika masih hidup, yaitu sifat kebangsawanannya, keberaniannya, dan kemurahannya sambil menampakkan kekecewaan dan kesakitan hatinya. Adapun pada contoh keenam, dengan menghina Kafur, ia menyebut kekurangan, menegaskan kehinaan, dan merendahkan kemuliaannya.
Dan bila kita perhatikan contoh-contoh berikutnya, maka kita dapatkan beberapa adatul-istifham yang keluar dari maknanya yang asli kepada istibtha (melemahkan semangat), ta’ajjub (keheranan). taswiyah (penyamaan), tamanni (harapan yang mustahil tercapai), dan tasywig (merangsang).
- Kaidah
(48) Kadang-kadang redaksi istifham itu keluar dari makna aslinya kepada makna lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat. Makna yang lain tersebut adalah nafyi (meniadakan), inkar, tagrir (penegasan), taubih (celaan). ta’zhim (mengagungkan/ membesar-besarkan), tahgir (menghina), istibtha (melemahkan), ta’ajjub (kehcranan), taswiyah (menyamakan), tamanni (harapan yang mustahil tercapai), dan tasywig (merangsang).
- Latihan-latihan
Contoh Soal 1:
- Di Madinah telah terjadi kebakaran dan engkau tidak melihatnya..Maka bertanyalah kepada temanmu tentang penyaksiannya terhadap peristiwa kebakaran itu!
- Engkau mendengar bahwa salah satu dari dua orang temanmu, Ali dan Najib, telah menyelamatkan orang yang tenggelam. Tanyakan kepada Ali agar menjelaskan kepadamu tentang siapakah yang menyelamatkannya!
- Bila kamu tahu ada satu jenis tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh, namun kamu tidak tahu persis apakah tumbuhnya itu pada musim gugur ataukah pada musim dingin (hujan). Maka buatlah suatu pertanyaan untuk mendapat penjelasan musim tumbuhnya itu!
Contoh Soal 2:
Jelaskanlah maksud pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
- Abu Tamam berkata tentang orang yang dipujinya:
Tidak sekali-kali seluruh kabilah Adnan berkumpul di medan tempur kecuali engkaulah pemimpinnya?
- Al-Buhturi berkata:
Apakah mungkin aku mengufuri nikmat yang kuterima, sedangkan nikmat itu senantiasa berkembang seperti perkembangan fajar, dan faJar itu cahaya? Engkau adalah Dzat yang memuliakan aku setelah aku hina. Maka tidak ada perkataan itu direndahkan dan tidak ada pula penglihatan itu tunduk.
- Ibnur-Rumi berkata dalam salah satu pujiannya:
Bukankah kamu adalah seorang yang menampung seluruh pujian ketika tidak ada orang yang pantas menampung pujian itu.
- Abu Tamam berkata:
Apa alasan kesusahan dan kesengsaraan itu melanda diriku, seakanakan ia tidak tahu bahwa kemurahanmu itu senantiasa mengintai.
- Penyair lain berkata:
Maka tinggalkanlah ancaman itu, sebab ancamanmu itu tidak membahayakan aku. Apakah suara sayap lalat itu membahayakan?
- Maka telah menyia-nyiakan aku, dan kepada pemuda mana (lagi) mereka menyia-nyiakan pada hari berkecamuknya perang dan perbatasan perlu dijaga ketat?
Latihan-Latihan
- Seorang temanmu berjanji akan berkunjung kepadamu besok, namun kamu ragu apakah ia akan berkunjung sebelum Lohor atau sesudah Lohor. Maka buatlah pertanyaan untuk minta penjelasan waktu kunjungannya itu!
- Kamu tahu bahwa salah seorang dari dua pamanmu, Hamid dan Mahmud, telah membeli rumah. Maka buatlah pertanyaan untuk menanyakan siapakah sebenarnya yang membeli rumah itu!
- Bila kamu ragu apakah tebu itu ditanam pada musim semi ataukah pada musim kemarau, maka bagaimanakah cara membuat pertanyaan untuk menanyakan waktu penanamannya yang sebenarnya? :
- Tanyakanlah kepada temanmu tentang kecenderungannya untuk bepergian!
- Buatlah kalimat tanya tentang hal (keterangan keadaan), maf’ul bih, zharaf, mubtada, khabar, dan jar majrur pada pernyataan-pernyataan berikut!
Ia menyusun gasidah dengan sangat terpengaruh.
Ia membeli pena.
la menulis surat pada malam hari.
Ali adalah orang yang beruntung.
Mesir itu subur.
Kitab itu ada di rumah.
III. Buatlah pertanyaan tentang hal-hal sebagai berikut!
- Khalifah Ar-Rasyidin yang pertama.
- Jalan yang tepanjang di Madinah.
3 Keadaan Mesir pada masa Dinasti Mamlouk.
- Waktu musim anggur masak.
- Jumlah Madrasah Aliyah di Mesir.
- Lokasi pemeliharaan
- Hakikat kejujuran
- Arti dhaigham (singa).
- 1. Mengapa istifham pada Contoh-contoh berierikut berturut-turut menunjukkan arti nafyi, inkar, dan ta’zhim?
- Adakah (tiada lain) waktu itu kecuali sekejap, lalu habis karena kesedihan dan kenikmatan yang silih berganti?
- Allah Swt. berfirman:
Sipakah kamu menyeru (Tuhan) selain Allah? (QS Al-An’ am: 40)
- Siapakah di antara kamu yang menjadi raja yang ditaati, yang seakan-akan ia berada dalam baju besi yang sepadan dengan Tubba’ di Himyar?
- Mengapa istifham pada contoh-contoh berikut ini berturut-turut menunjukkan makna tagrir, ta’ajjub, dan tamanni?
- Allah Swt. berfirman:
(Firaun menjawab,) “Bukankah kami telah mengasuhmu di dalam (keluarga) kami waktu kamu masih kanak-kanak .. .?” (QS Asy-Syu’ara’: 18)
- Salah seorang wanita Arab berkata mengadukan anaknya: ..Ia tumbuh berkembang menyobek-nyobek pakaianku dan mendidikku. Apakah setelah aku beruban ia masih akan mendidikku?
- Abul “Atahiyah memuji Al-Amin:
Sadarilah wahai Aminallah, akan lak dan kehormatanku. Engkau bukanlah seorang penguasa atasku, semoga kausadar. Siapakah yang akan memandangku dengan pandangan mata seperti yang pernah kauberikan sekali di masa yang lanipau.
- Apakah maksud istifham pada contoli-contoh berikut?
- Al-Mutanabbi berkata:
Siapakah orang yang tidak mencintai dunia sejak zaman dahulu? Akan – tetapi, dunia itu tidak dapat menibawa kelanggengan hidup.
2 la berkata:
Aku tidak peduli setelah aku raih kedudukan yang tinggi, apakah apaapa yang aku raih itu merupakan barang warisan ataukah hasil jerih payah sendiri.
3 Ia berkata:
Apakah dengan surat-surat itu cukup dalam menghadapi musuh bila tidak disertai dengan mata pedang yang tajam?
- Ia berkata ketika Badr bin ‘Ammar menaklukkan singa:
Wahai orang yang menjungkalkan singa ke tanah dengan cambuknya, untuk siapakah engkau menyediakan pedangmu yang tajam dan mengilap itu?
- Abu Tamam berkata:
Apakah aku mendiamkan orang yang jika aku ejek dia niscaya kebaikannya yang ada padaku berbalik mengejekku?
- Bagaimana aku takut terhadap kefakiran atau terhalang cita-citaku, sedangkan pandangan Amirul mu’minin itu indah.
- Wahai dunia, siapakah engkau sebenarnya, apakah impian orang tidur, malam pengantin baru, ataukah minuman arak?
- Abuth-Thayyib berkata:
Mengapa engkau sangat niemperhatikan pemeliharaan tombak, padahal posisiniu dapat menumpas musuhmu tanpa senjata lembing?
- Ia Apakah dengan menangguhkan peniberian kepada peminta-minta itu berarti menolak? Atau apakah dengan kata-kata penangguhan itu berarti berjanji?
- Sampai kapan engkau bermain-main dan berfoya-foya? Padahal kematian itu senantiasa mengintaimu dengan mulut terbuka.
- Abuth-Thayyib berkata:
Kalimat demi kalimat akan habis sebelum dapat mengungkapkan seluruh keutamaanmu. Apakah sesuatu yang bakal habis itu dapat mencakup sesuatu yang tidak akan habis?
12.Allah Swt. berfirman:
Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (QS Al-Baqarah: 255)
13 Abuth-Thayyib berkata:
Apakah rumah itu mengetahui darah manakah yang ia alirkan dan hafi orang yang mana di antara rombongan ini yang dilanda kerinduan?
14 Al-Mutanabbi berkata tentang Saifud-Daulah yang menjenguknya karena sakit bisul:
Bagaimana dunia dapat menimpakan suatu penyakit kepadamu? Padahal engkau adalah tabib bagi penyakit dunia. Dan mengapa engkau mengaduh kesakitan? Padahal engkau adalah fempat meminta pertolongan dalam setiap bencana.
- Abul ‘Ala’ Al-Ma’arri:
Apakah engkau beranggapan bahwa engkau tengah menggapai kedudukan tinggi? Akhir urusanmu adalah kejahatan dan aib yang paling jelek.
- 1. Pergunakanlah seluruh adatul istifham dalam dua jumlah dengan meniberikan jawaban setiap pertanyaannya. Palingkanlah maksud pemakaian istifham itu untuk makna yang hakiki!
- Pergunakanlah hamzah istifham dalam enam kalimat, yang tiga pertanyaan menanyakan tashawwur, dan tiga kalimat lain untuk menanyakan tashdig. Palingkan maksud istifhani Anda untuk makna yang hakiki!
- Buatlah tiga buah kalimat tanya yang sempurna dengan menggunakan adatul istifham hal dan dengan maksud untuk menunjukkan makna hakiki!
- Buatlah tiga kalimat tanya dengan menggunakan kata anna ( ) dengan seluruh maknanya dan dengan maksud untuk menunjukkan makna hakiki!
VII. 1. Buatlah tiga kalimat tanya yang berturut-turut menunjukkan makna taswiyah, nafyi, dan inkar!
- Buatlah tiga buah kalimat tanya yang berturut-turut menunjukkan ta’zhim, tahgir, dan taubih!
- Buatlah contoh kalimat tanya yang keluar dari maknanya yang asli kepada ta’ajjub, tamanni, dan istibtha!
VIII. Uraikanlah dua bait berikut dan jelaskanlah niaksud pertanyaan yang terdapat padanya! Kedua bait berikut dinisbahkan kepada seorang Arab Badui yang memuji Al-Fadhl bin Yahya Al-Barmaki:
Para imam mencela kemurahanmu, wahai Fadhl. Maka aku berkata kepada mereka, “Apakah celaan itu berpengaruh pada laut? Apakah kalian melarang Fadhl banyak meniberi kepada manusia? Dan siapakah yang dapat melarang mendung meneteskan air hujan?”


One Comment