BAB II: HAKIKAT DAN MAJAZ
- Majaz Lughawi
- Contoh-contoh
- IbnulAmid berkata:
Telah berdiri menaungiku dari teriknya matahari, seseorang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Ia telah menaungiku, amatlah mengherankan, bila ada matahari menaungiku dari terik matahari.
- Al-Buhturi berkata dalam menyifati duel antara Fat-h bin Khagan dengan seekor singa:
Aku belum pernah melihat perkelahian dua singa yang lebih Sungguhsungguh daripada kamu berdua (Fat-h dan singa) ketika orang-orang penakut dan lemah itu tidak berani menghadapinya. Singa lawan singa, yaitu singa (pemberani) dari kaum bertarung melawan singa sungguhan, dan ia dapat mengalahkannya.
- Al-Mutanabbi berkata tentang hujan yang mengguyur Saifud Daulah:
Mataku setiap hari berkesempatan memandangmu. Dalam pada itu ada suatu pemandangan yang mengherankan, yaitu terbawanya pedang ini di atas pedang, dan jatuhnya hujan ini di atas hujan.
- Al-Buhturi berkata:
Ketika mata telah tenang dan menjadi mata-mata terhadap segala kata hati, maka bukanlah suatu rahasia apa-apa yang tertutup oleh tulang rusuk.
- Pembahasan Perhatikanlah baris terakhir dari dua bait pertama, maka akan kita jumpai kata asy-syamsu yang dipakai dengan dua makna, pertama adalah makna hakiki sebagaimana yang kita kenal, dan makna yang kedua adalah orang yang bercahaya wajahnya, yang menyerupai kecemerlangan matahari. Makna yang kedua ini bukanlah makna hakiki. Bila kita perhatikan, maka akan kita temukan kaitan antara makna pertama yang hakiki dan makna kedua yang bukan hakiki. Kaitan dan hubungan kedua makna itu disebut dengan musyabahah (saling menyerupai/kesurupaan) karena seseorang yang bercahaya wajahnya itu menyerupai matahari dalam memancarkan cahaya, dan hal ini tidak mungkin menimbulkan ketidakjelasan yang membawa pemahaman bahwa kata syamsun tuzhalliluni adalah menunjukkan makna yang hakiki karena matahari yang hakiki itu tidaklah akan menaungi. Dengan demikian, kata tuzhalliluni menghalangi kemungkinan dikehendakinya makna yang hakiki, dan oleh karenanya kata itu disebut sebagai karinah yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksug adalah makna yang lain.
Bila kita perhatikan bait kedua dari syair Al-Buhturi yang perta, ma, maka akan kita temukan kata hizabrun yang kedua, dimaksud, kan untuk menunjukkan makna hakiki, yakni singa, sedangkan mak, na kata hizabrun yang pertama adalah orang pemberani yang dipuji, jadi bukan makna hakiki. Hubungan kedua makna itu adalah keserupaan dalam keberanian, sedangkan karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki adalah bahwa susunan kalimat menghendaki pemberian makna baru yang bukan hakiki. Demikian pula halnya pada kata aghlabun minal-qaum dan basil al-wajhi aghlaba. Kata-kata kedua menunjukkan makna asli, yakni singa. Sedangkan kata-kata yang pertama menunjukkan makna yang lain, yakni laki-laki yang pemberani. Hubungan kedua makna itu adalah keserupaan dalam keberanian. Karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki terhadap kata-kata pertama adalah lafaz minal gaum.
Setelah penjelasan di atas, dapatlah kita tangkap bahwa kata husaam yang kedua pada bait kedua dari syair Al-Mutanabbi digunakan dalam makna yang bukan hakiki karena adanya hubungan kesamaan dalam menanggung bahaya. Karinah-nya dapat dipahami dari kedudukan unsur-unsur yang terkait dalam kalimat. Sama halnya dengan kata sahaab yang kedua, digunakan dengan makna Saifud-Daulah karena adanya hubungan antara dia dan hujan dalam kemurahan. Karinah-nya adalah haliyah (kenyataan empiris).
Adapun makna syair Al-Buhturi yang terakhir adalah bahwa bila mata manusia karena menangis lalu menjadi mata-mata bagi kemarahan dan kesusahan yang bergejolak dalam hati, maka segala yang terdapat dalam hati itu bukan lagi suatu rahasia. Dengan demikian, kita tahu bahwa kata al-‘ain yang pertama digunakan dalam makna hakiki, sedangkan kata ‘ain yang kedua digunakan dalam makna lain, yakni mata-mata. Namun, karena mata itu sebagian dari mata-mata dan justru alatnya yang utama, maka digunakanlah kata al-ain itu untuk makna keseluruhan. Dan suatu tradisi orang Arab mengatakan sebagian dengan maksud seluruhnya. Kita pun tahu bahwa hubungan antara mata dan mata-mata bukanlah adanya keseyupaan, melainkan salah satunya merupakan bagian yang lain. Dan karinah-nya adalah kata ‘alal-jawa (bagi isi hati), jadi karinah lafzhiyah. Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa kata syams, hizabr, aghlab, husaam, sahaab, dan ‘ain digunakan dalam makna bukan hakiki karena adanya hubungan antara makna hakiki dan makna yang tidak hakiki, dan kata-kata itu disebut kata-kata majaz lughawi.
- Kaidah
(12) Majaz lughawi adalah lafaz yang digunakan dalam makna yang bukan seharusnya karena adanya hubungan disertai karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki. Hubungan antara makna hakiki dan makna majazi itu kadang-kadang karena adanya keserupaan dan kadang-kadang lain dari itu. Dan karinah itu adakalanya lafzhiyah dan adakalanya haliyah.
- Latihan Contoh Soal:
- Abuth—Thayyib berkata ketika menderita sakit panas di Mesir: –
Bila aku sakit, maka kesabaranku tidak akan sakit. Dan bila aku terserang sakit panas, maka keteguhan jiwaku tidak akan terserang sakit panas.
- Ia berkata ketika memberikan peringatan terhadap awan, sedangkan ia bersama orang yang dipujinya:
Ketika kami dalam perjalanan pulang, awan terlihat menghadangku. Maka kukatakan (kepadanya), “Menyingkirlah engkau, karena aku bersama dengan awan.”
- Penyair lain berkata:
Negaraku sangat kucintai sekalipun telah berbuat jahat kepadaky d kaumku adalah mulia meskipun mereka bakhil kepadaku.
- Kata-kata yang bergaris bawah berikut ini sebagian digunakan dalam makna hakiki, sedangkan sebagian lain digunakan dalam makna majazi. Jelaskan kata-kata yang majazi dengan menyebutkan hubungan kedua makna dan karinahnya, baik lafzhiyah maupun haliyah.
- Al-Mutanabbi berkata tentang orang yang dipujinya:
Suatu hari -dengan pasukan berkudakau mengusir tentara Rumawi dari mereka, dan suatu hari -dengan kemurahan kau mengusir kefakiran dan kelaparan.
- la berkata:
Maka senantiasa matahari yang berada di langit itu terbit bersama matahari yang tertutup cadar.
- Ia berkata:
Adalah suatu cela bagimu bila dalam suatu peperangan kau menyandang pedang. Apa yang akan diperbuat oleh pedang dengan pedang yang disandangnya?
- Ia berkata:
Bila Saifud-Daulah terserang penyakit, maka akan sakit pula bumi.
- Abu Tamam berkata dalam ratapannya:
Dia tidak akan mati sebelum mata pedangnya mati, tidak dapat untuk memukul, dan tombaknya tidak lagi dapat membela.
- Bila Khalid bin Walid berjalan, maka berjalanlah pertolongan di bawah benderanya.
Engkau membangun beberapa rumah yang tinggi-tinggi, dan sebelumnya engkau telah membangun suatu kesombongan yang tingginya tidak terkalahkan.
- Jelaskan apakah kata-kata berikut ini termasuk hakikat ataukah majaz:
- Lafaz syamsain (dua matahari) dalam ratapan Al-Mutanabbi te,. hadap kematian saudara perempuan Saifud-Daulah:
Andaikata dua matahari yang terbit itu tenggelam dan andaikata ke. dua matahari yang tenggelam itu tidak tenggelam.
- Kata badr (bulan purnama) dalam syair:
Dia memandang bulan purnama yang menerangi kegelapan malam, dan saya melihat dia (yang sedang memandang bulan itu). Maka masing-masing kami memandang bulan purnama.
- Kata Layaaliya arba’an (empat malam) dalam syair:
Pada suatu malam tiga ikat rambutnya terurai, maka ia menunjukkan empat malam kepadaku.
- Kata al-gamarain (dua bulan) dalam syair Al-Mutanabbi:
Dia menghadapkan wajahnya ke bulan di langit, maka dia menunjuk kan kepadaku dua buah bulan secara bersamaan dalam satu waktu.
III. Pergunakanlah kata-kata benda dan kata-kata kerja berikut ini masing: masing dalam makna hakiki dan makna majazi dengan hubungan makna musyabhah!
kilat — angin — hujan — intan — musang — burung garuda — bintang-bintang — hanzhal (sejenis ramuan pahit).
tenggelam — membunuh — merobek — minum — mengubur — menumpahkan — melempar — terjatuh.
- Isilah titik-titik di bawah ini dengan maf’ul bih dengan makna miajazi, lalu jelaskan hubungannya dengan makna hakiki dan karinahnya!
- Thal’at Harb menghidupkan ……
- Khatib Membeberkan ….
- Orang yang baik menananikan ………..
- Guru itu meluruskan ……
- Pemalas itu menghabisi …….
- Eropa memerangi ……..
- Buatlah kalimat dengan ketentuan:
- Menggunakan kata udzun (telinga) dalam arti majazi, yakni seorang laki-laki yang senang sekali mendengarkan perguncingan orang, dan jelaskan hubungannya dengan makna hakiki!
- Menggunakan kata yamiin (tangan kanan) dalam arti kekuatan secara majaz dan jelaskan hubungannya dengan makna hakiki!
- Buatlah empat buah kalimat yang mencakup majaz lughawi yang hubungan makna majazi dengan makna hakikinya adalah musyabahah (adanya keserupaan)!
VII. Jelaskan kedua bait syair Al-Buhturi berikut ini disertai penjelasan kandungan makna majazi dan makna hakiki pada kata syamsain (dua buah matahari)!
Kamu tampil kepada mereka pada saat terbit matahari, Maka mereka me, mandang cahaya matahari dari satu arah dan melihat wajahmu dari ara lain. Sebelum peristiwa itu mereka tidak pernah melihat dua buah matahari yang sinarnya berbenturan dari arah barat dan arah timur.


One Comment