C.2.e Nida’ (Seruan)
- Contoh-Contoh
- Abuth-Thayyib mengirim surat kepada seorang gubernur di Ytigal:
Wahai pemilik kehambaanku, dan (wahai) orang yang bertabiat memberikan perak dan memerdekakan haniba. Aku memanggilmu ketika tidak ada lagi harapan, sedangkan kematian itu bagiku seperti urat nadi.
- Abu Nuwas berkata:
Wahai Rabb-ku, seandainya dosa-dosaku sangat besar, maka sesungguhnya aku tahu bahwa penganmipunan-Mu itu lebih besar. Al-Farazdag menyombongkan nenek moyangnya dan menghina & farir:
Inilah nenek moyangku, maka tunjukkanlah kepadaku orang-orang seperti mereka ketika pada suatu saat kita bertemu dalani suatu pertenian, wahai Jarir.
d Penyair lain berkata:
Wahai orang yang menghinpun dunia tanpa batas, untuk siapakah engkau menghimpun harta, sedangkan engkau bakal meninggal?
- Pembahasan Bila kita menghendaki orang lain menghadap kepada kita, maka kita harus memanggilnya dengan menyebut namanya, salah satu sifatnya setelah menyebutkan huruf-huruf pengganti lafaz ad’uu/ (aku memanggil) dengan nida’ (seruan).
Huruf-huruf nida’ adalah hamzah, ay, yaa, aa, aay, ayaa, hayaa, dan waa.
Huruf nida’ yang asli untuk memanggil orang yang dekat adalah hamzah dan ay, dan dalam memanggil orang yang jauh adalah dengan huruf nida’ yang lain. Akan tctapi, atas dasar pertimbangan balaghah kadang-kadang huruf nida’ dapat digunakan dengan menyalahi fungsi asli tersebut. Berikut ini kami jelaskan sebab-sebab penyimpangan tersebut
Bila kita perhatikan contoh pertama, kita dapatkan bahwa orang yang dipanggil itu jauh. Akan tetapi, Abuth-Thayyib memanggilnya dengan huruf nida’ hamzah yang disediakan untuk munada (orang yang dipanggil) yang dekat. Apakah pertimbangan balaghahnya?
pertimbangannya adalah, Abuth-Thayyib ingin menjelaskan bahwa munada-nya meskipun tempatnya jauh, namun dekat di hati, senantiasa hadir dalam hatinya. Jadi, seakan-akan ia senantiasa hadir bersamanya di satu tempat. Hal ini adalah rahasia balaghah yang lembut, yang membolehkan penggunaan hamzah dan ay untuk memanggil munada yang jauh.
Kemudian bila kita perhatikan tiga contoh berikutnya, kita dapatkan bahwa munada pada setiap contoh itu dekat, namun pembicaranya menggunakan huruf-huruf nida’ yang disediakan untuk munada yang jauh. Mengapa demikian?
Alasannya munada pada contoh kedua sangat mulia dan disegani. Jadi, seakan-akan kejauhan derajat keagungan itu sama dengan jauhnya jarak perjalanan. Oleh karena itu, si pembicara memilih huruf yang disediakan untuk memanggil munada yang jauh untuk menunjukkan ketinggian itu. Adapun pada contoh ketiga adalah karena menurut penilaian si pembicara munadanya rendah kedudukannya, seakan-akan perbedaan derajat munada yang jauh di bawah pembicara itu sama dengan jarak yang jauh di antara tempat mercka. Sedangkan pada contoh terakhir adalah karena mukhathabnya lalai dan tidak tentu arah sehingga ia seakan-akan tidak hadir bersama si pembicara dalam satu tempat.
Kadang-kadang bahkan kalimat nida’ itu keluar dari maknanya yang asli — yakni menghendaki menghadapnya seseorang — kepada makna lain. Hal ini dapat diketahui melalui karinah-karinahnya. Di antara makna lain tersebut adalah:
- TeQur’an atau peringatan keras, seperti ucapan syair:
Wahai hati, celaka kamu tidak mau mendengarkan orang yang menasihatimu ketika kau tersudutkan dan tidak dapat menghindari celaan.
- Menampakkan keresahan dan kesakitan, seperti dalam syair:
Wahai kubur Ma’n, bagaimana kamu menutupi kemurahannya, padahal daratan dan lautan dapat berkumpul karenanya.
- Anjuran, seperti perkataan yang disampaikan kepada orang yang menghadap karena teraniaya: “Wahai yang teraniaya, bicaralah!”
- Kaidal-Kaidah
(52) Nida’ adalah menghendaki menghadapnya seseorang dengan menggunakan huruf yang menggantikan lafaz ad’uu.
(53) Huruf-huruf nida’ itu ada delapan: Hamzah ( ), ay ( ), yaa Ka – ( ) | ba ay ( ) ayaa ( ), hayaa ( ), dan waa ( )
(54) Hamzah dan ay untuk memanggil munada yang dekat, sedangkan huruf nida’ yang lain untuk memanggil munada yang jauh.
(55) Kadang-kadang munada yang jauh dianggap sebagai munada dekat, lalu dipanggil dengan huruf nida’ hamzah dan ay. Hal ini merupakan isyarat atas dekatnya munada dalam hati orang yang memanggilnya. Dan kadang-kadang munada yang dekat dianggap sebagai munada yang jauh , lalu dipanggil dengan huruf nida’ selain hamzah dan ay. Hal ini sebagai isyarat atas ketinggian derajat munada, atau kerendahan martabatnya, atau kelalaian dan kebekuan hatinya.
(56) Kadang-kadang nida’ dapat menyimpang dari maknanya yang asli kepada makna yang lain, dan hal ini dapat diketahui melalui beberapa karinah, seperti sebagai teQur’an, untuk menyatakan kesusahan, dan untuk menghasut.
- Latihan-Latihan
Contoh Soal:
Tunjukkanlah huruf-huruf nida’ pada contoh-contoh berikut dan jelaskan mana yang digunakan untuk fungsi yang asli dan mana yang digunakan untuk fungsi yang tidak sebenarnya!
- Wahai anakku, sesungguhnya ayahmu telah mendekati hari kematian. Maka bila kamu dipanggil untuk mendapatkan kemuliaan, maka bergegaslah.
- Wahai Dzat yang diharap-harapkan bantuan-Nya untuk menghadapi segala macam kesulitan. Wahai Zat yang kepada-Nya diadukan segala kekecewaan.
- Abul Atahiyah berkata:
Wahai orang yang hidup lama di dunia, menghabiskan umurnya untuk memperguncingkan orang lain, menguras tenaganya untuk sesuatu yang bakal sirna, dan menghimpun harta yang haram atau yang halal. Seandainya dunia seluruhnya diberikan kepadamu, bukankah akhir semua itu akan sirna?
- Sawar bin Al-Mudharrab berkata:
Wahai hati, apakah nasihat dapat mencegahmu, ataukah justru waktu yang panjang telah membuatmu lupa?
Seorang ayah mengirim surat kepada anaknya untuk menasihati:
Wahai Husain, sesungguhnya aku memberi nasihat dan mendidikmu. Maka pahamilah, karena sesungguhnya orang yang berakal itu adalah orang yang mau dididik.
Contoh Jawaban:
- Huruf nida’-nya adalah hamzah, untuk memanggil munada yang dekat, sesuai dengan fungsi semula.
2, Huruf nida-nya adalah yaa, untuk memanggil munada yang dekat, menyalahi fungsi semula, sebagai isyarat atas ketinggian martabat munada.
- Huruf nida’-nya adalah ayaa, untuk memanggil munada yang dekat, menyalahi fungsi semula, sebagai isyarat kelalaian mukhathab.
- Huruf nida’-nya adalah yaa, untuk memanggil munada yang dekat, menyalahi fungsi semula, sebagai isyarat atas kelalaian munada sehingga seakan-akan ia tidak dekat.
- Huruf nida-nya adalah hamzah, untuk memanggil munada yang jauh, menyalahi fungsi semula, sebagai isyarat bahwa munada senantiasa hadir dalam hati seakan-akan ia hadir secara fisik.
- Tunjukkanlah huruf-huruf nida’ pada contoh-contoh berikut dan jelaskanlah huruf yang digunakan sesuai dengan fungsinya yang semula dan yang digunakan tidak sesuai dengan fungsinya yang semula, serta jelaskan dasar pertimbangan balaghahnya!
- Abuth-Thayyib berkata:
Wahai pemburu pasukan tentara besar yang ditakuti, sesungguhnya “singa itu memburu manusia satu per satu.
Ya Rabb-ku, Engkau telah berbuat baik kepadaku tiada hentinya, namun Syukur terhadap kebaikan-Mu itu tidak juga bangkit.
Wahai penghuni Na’man Al-Arak, yakinlah bahwa sesungguhnya kamu berada dalam hatiku.
- Allah Swt. berfirman, mengungkapkan ucapan Firaun kepada Musa a.s.:
Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir. (QS Al-Isra’: 101)
- Abul ‘Atahiyah berkata:
Wahai orang yang berangan-angan sepanjang hayatnya, dan kehidupan yang panjang itu baginya adalah sesuatu yang membahayakan, ketika engkau menjadi tua dan masa muda memisahkan diri darimu, maka tiada kebaikan lagi dalam kehidupan di masa tua.
- Abuth-Thayyib berkata dalam memuji Kafur dengan gasidah:
Wahai harapan semua mata di seluruh dunia, tiada lagi harapanku selain dapat melihatmu.
- Wahai anakku, ungkapkanlah kembali apa yang telah kaudengar dariku!
- Hai Muhammad, janganlah kaukeraskan suaramu sehingga tidak seprang pun dapat mendengar pembicaran kita.
- Hai orang ini, perhatikanlah bahwa hal-hal yang menakutkan telah mengelilingimu
- Panggillah orang-orang tersebut di bawah ini dengan menggunakan “huruf-huruf nida’ yang tidak sesuai dengan fungsi semula serta jelaskan dasar pertimbangan balaghahnya!
- Orang yang jauh, yang kaurindukan pertemuan dengannya.
- Seorang dungu yang kaularang mendekati orang mulia.
3, Orang yang berpaling dari pekerjaannya yang kauajak untuk kembali bekerja dengan sungguh-sungguh.
4 Orang besar yang kauajak bicara dan kauharapkan pertolongan darinya.
III. Apa yang dikehendaki dengan nida’ pada contoh-contoh berikut ini?
- Wahai “Adda’, tidak ada kenikmatan hidup tanpa kamu, dan tidak ada ‘kebahagian seorang teman bersama temannya.
- Wahai pemberani, majulah! (Disampaikan kepada orang yang bimbang dalam menghadapi musuh.)
- Aku memanggilmu, hai anakku, namun kau tidak memenuhi panggilanku itu. Maka ditolaknya panggilanku, menjadikan aku putus asa.
- Demi Allah, katakanlah kepadaku, hai Fulan, aku berhak berkata dan aku berhak bertanya. Apakah sesuatu yang dapat kaukerjakan dalam usia dua puluh tahun akan kaukerjakan ketika kau telah menginjak usia tujuh puluh tahun nanti?
- Hai rumah Atikah, semoga kehidupan menempati rumahmu, sengaja aku hadiahkan syair-syairku buatmu dan juga orang-orang yang ada padamu.
- 1. Buatlah dua buah contoh nida’ dengan huruf nida’ hamzah untuk memanggil munada yang jauh dan jelaskan alasan penyimpangan fungsi tersebut!
- Buatlah dua contoh nida’ untuk munada dekat yang dianggap sebagai orang yang jauh karena ketinggian derajatnya!
- Buatlah dua contoh nida’ untuk munada dekat yang dianggap jauh karena kerendahan martabatnya!
- Buatlah dua contoh nida’ untuk munada dekat yang dianggap jauh karena kelalaian dan kelengahan hatinya!
- Buatlah contoh nida’ yang digunakan untuk menyatakan kesusahan (tahassur), teQur’an (zajr), dan anjuran lighra’).
- Uraikanlah dua bait syair Abuth-Thayyib ini dengan benar dan jelaskanlah maksud nida’ yang terdapat padanya!
Wahai orang yang paling adil kecuali terhadap diriku, padamu berpangkal permusuhan. Engkau adalah musuhku dan sebagai hakim dalam sengketa ini. Aku berharap semoga pandanganmu benar, sehingga engkau tidak mengira .gemuk karena lemak terhadap orang yang gemuk karena bengkak.


One Comment