Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

  1. Ithnab

1, Contoh

  1. Allah Swt. berfirman:

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril. (QS AlOadr: 4)

  1. Allah Swt. berfirman:

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan. (QS Nuh: 28)

c Allah Swt. berfirman:

Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Subuh. (QS Al-Hijr: 66)

  1. Antarah bin Syaddad berkata dalam sebagian riwayatnya yang pernah digantungkan pada Ka’bah:

Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan panah-panah itu seakanakan tambang sumur di dada kuda. Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan pedang-pedang itu seakanakan cahaya kilat di awan yang gelap.

  1. An-Nabighah AlJa’di berkata:

Apakah anak-anak Sa’d tidak beranggapan bahwa saya — sebenarnya mereka bohong — adalah orang yang sudah tua dan akan musnah?

f Al-Huthai-ah berkata:

Engkau menengok seorang pemuda yang memberikan hartanya berkata pujian. Siapa orangnya yang memberi karena dipuji adalah orang yang terpuji.

  1. Ibnu Nubatah berkata:

Kemurahanmu tidak lagi menyisakan bagiku sesuatu yang dapat aku harapkan. Engkau meninggalkan aku menempuh kehidupan dunia tanpa harapan.

  1. Ibnul-Mu’taz menyifati kuda:

Kami cambukkan kepadanya cambuk-cambuk kami dengan zalim, maka melayanglah tangan dan kakinya dengan cepat.

  1. Pembahasan

Pada penjelasan terdahulu telah kita ketahui pengertian ijaz. Dan dajam kesempatan ini akan dijelaskan jenis uslub lain yang merupakan kebalikannya, yaitu lafaznya lebih banyak daripada makna yang dimaksud.

Bila kita perhatikan contoh pertama, kita dapatkan bahwa lafaz “Ar-Ruuh” adalah lafaz tambahan karena maknanya telah tercakup oleh lafaz sebelumnya, yaitu lafaz “al-Malaa-ikatu”. Bila kita perhatikan contoh kedua, juga kita dapatkan bahwa lafaz “Lii wa liwaalidayya” adalah tambahan juga karena maknanya telah tercakup pada keumuman lafaz “al-Mu-miniin wal-Mu-minaat”. Begitu juga semua contoh di atas, mencakup kata-kata tambahan, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut, dan akan dijelaskan pula bahwa kata-kata tambahan itu tidaklah sia-sia, melainkan didatangkan dari aspek yang halus dari balaghah untuk menambah bobot kalimat yang meninggikan maknanya. Pengungkapan kalimat dengan cara demikian disebut ithnab.

Bila kita perhatikan lagi satu per satu, kita dapatkan bahwa teknik ithnab itu bermacam-macam. Cara yang pertama pada contoh pertama adalah penyebutan lafaz yang khusus setelah lafaz yang umum (dzikrul-khash ba’dal-‘am). Dalam ayat tersebut, Allah secara khusus menyebut Ar-Ruuh, yakni Jibril, padahal ia telah tercakup dalam keumuman malaikat. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan dan penghargaan bagi Jibril, seakan-akan ia dari jenis lain. Jadi, faedah benambahan dalam ayat ini adalah untuk menghormat sesuatu yang 

Cara kedua pada contoh kedua adalah dengan menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus (dzikrul-‘am ba’dal-khash). Dalam ayat ini Allah menyebutkan lafaz “al-mu-miniin wal-mu-micat”, yang keduanya adalah lafaz yang umum, mencakup oranQur’ang yang disebut pada lafaz-lafaz sebelumnya. Tujuan penambahan lafaz-lafaz tersebut adalah untuk menunjukkan ketercakupan lafaz yang khas ke dalam lafaz yang umum dengan memberi perhatian khusus kepada sesuatu yang khas karena disebut dua kali.

Cara ketiga pada contoh ketiga adalah dengan al-idhah ba’dal-ibham (menyebutkan lafaz yang maknanya jelas setelah menyebutkan lafaz yang maknanya tidak jelas) karena firman Allah “Anna daabira haa-ulaa-i maqthuu’un mushbihiin” merupakan penjelasan bagi lafaz “al-amr” yang disebut sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk menambah ketegasan makna di hati pendengar dengan disebutkan dua kali, pertama secara samar, dan kedua dengan tegas.

Cara keempat pada kedua bait syair ‘Antarah adalah dengan cara tikrar (diulang penyebutannya), untuk menegaskan dan memantapkan maknanya di hati pendengar. Maksud ini sangat tampak dalam pidato dan dalam rangka menyombongkan/membanggakan diri, memuji, memberi bimbingan, dan memberi peringatan. Pengulangan itu dapat juga disebabkan oleh hal-hal yang lain, seperti tahassur (menampakkan kesedihan), seperti dalam syair Al-Husain Muthayyar/ ) dalam meratapi Ma’n bin Zaidah:

Wahai kubur Ma’n, engkau adalah lubang bumi pertama yang menjadi tempat kemuliaan dan kemurahan.

Wahai kubur Ma’n, bagaimana kamu menutupi kemurahannya, padahal daratan dan lautan itu dipenuhi oleh kemurahannya itu? Alasan lain lagi adalah karena adanya kalimat pemisah yang banyak seperti dalam syair: .

Orang-orang Yaman telah tahu bahwa bila saya berkata «Amma Ba’du”, saya adalah orang yang mengatakannya.

Cara kelima adalah dengan cara i’tiradh, yaitu dengan memasukkan satu kalimat atau lebih ke tengah-tengah suatu kalimat atau ke antara dua kata yang berhubungan. Kalimat yang ditambahkan tersebut tidak mempunyai kedudukan dalam i’rab. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan ke-baligh-an suatu kalimat. Lafaz “alaa kadzabuu” dalam syair An-Nabighah terletak di antara isim inna dan khabarnya, dengan maksud untuk menegaskan peringatan kepada orang yang menuduhkan telah tua. Alasan lain dari i’tiradh di antaranya adalah untuk tanzih (membersihkan), seperti: “Innallaaha — tabaaraka wa t’aalaa — lathiifun bi’ibaadih” (Sesungguhnya Allah Yang Mahaberkah dan Mahaluhur adalah Mahalembut kepada hamba-hamba-Nya). Kadang-kadang juga untuk doa, seperti: “Innii — wagaakallaahu — maridhun” (Sesungguhnya aku — semoga Allah memeliharamu — adalah sedang sakit).

Cara keenam pada contoh keenam dan ketujuh adalah dengan tadzyiil, yaitu mengiringi suatu kalimat dengan kalimat lain yang mengandung makna yang sama. Hal ini dimaksudkan. untuk mempertegas maknanya. Sesungguhnya makna kedua bait syair tersebut telah selesai pada syathar pertama, namun diulas kembali pada syathar kedua. Bila kita perhatikan tadzyiil pada kedua contoh tersebut, kita dapatkan adanya perbedaan di antara keduanya. Tadzyiil pada contoh pertama adalah kalimat yang maknanya mandiri, tidak terikat dehgan pemahaman terhadap kalimat sebelumnya. Tadzyiil yang demikian disebut sebagai jaarin majral mitsl (berlaku sebagai contoh). Sedangkan pada bait kedua bukan kalimat yang maknanya mandiri, sebab maknanya tidak dapat dipahami tanpa lebih dulu memahami kaimat sebelumnya. Tadzyiil yang demikian disebut ghairu jaarin maj’al-mitsl (tidak dapat berlaku sebagai contoh).

Selanjutnya marilah kita perhatikan contoh terakhir, maka kita dapatkan bahwa seandainya kita hilangkan lafaz zhaalimiin, niscaya pendengar akan beranggapan bahwa kuda Ibnul-Mu’taz itu dungu Ian berhak dipukul. Makna yang demikian tidak sesuai dengan makbud pembicara. Tambahan yang demikian disebut sebagai ihtiraas ‘dalam rangka menjaga). Demikian juga setiap lafaz yang ditambahkan untuk menjaga kesalahpahaman terhadap suatu kalimat.

3 Kaidah

(9) Ithnab adalah bertambahnya lafaz dalam suatu kalimat melebihi makna kalimat tersebut karena suatu hal yang berfaedah.

Teknik ithnab banyak sekali, di antaranya adalah:

  1. Dzikrul-khash ba’dal-‘am (menyebutkan lafaz yang khusus setelah lafaz yang umum). Hal ini berfaedah untuk mengingatkan kelebihan sesuatu yang khas itu.
  1. Dzikrul-‘am ba’dal-khash (menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus). Hal ini berfaedah untuk menunjukkan keumuman hukum kalimat yang bersangkutan dengan memberi perhatian tersendiri terhadap sesuatu yang khas itu.
  1. Al-Idhah ba’dal-Ibham (menyebutkan lafaz yang jelas maknanya setelah menyebutkan lafaz yang maknanya tidak jelas). Hal ini berfaedah mempertegas makna dalam perhatian pendengar.
  1. Tikrar (mengulangi penyebutan suatu lafaz). Hal ini berfaedah, seperti untuk mengetuk jiwa pendengarnya terhadap makna yang dimaksud, untuk tahassur (menampakkan kesedihan), dan untuk menghindari kesalahpahaman karena ba

. nyaknya anak kalimat yang memisahkan unsur pokok kalimat yang bersangkutan.

  1. Ftiradh (memasukkan anak kalimat ke tengah-tengah suatu kalimat atau antara dua kata yang berkaitan, dan anak kalimat tersebut tidak memiliki kedudukan dalam i’rab).
  1. Tadzyiil (mengiringi suatu kalimat dengan kalimat lain yang mencakup maknanya). Hal ini berfaedah sebagai taukid. Tadzyiil itu ada dua macam:
  2. Jaarin majral-mitsl (berlaku sebagai contoh) bila kalimat yang ditambahkan itu maknanya mandiri, tidak membutuhkan kalimat yang pertama.
  3. Ghairu jaarin majral-mitsl (bila kalimat kedua itu tidak dapat lepas dari kalimat pertama).
  1. Ihtiras (penjagaan), yaitu bila si pembicara menyampaikan suatu kalimat yang memungkinkan timbulnya kesalahpahaman, maka hendaklah ia tambahkan lafaz atau kalimat untuk menghindarkan kesalahpahaman tersebut.

4 Latihan

Contoh Soal:

  1. Allah Swt. berfirman:

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab A’inh kecuali orang-orang yang merugi. (QS Al-A’raf: 97 – 99) .

  1. Allah Swt. berfirman:

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS Al-Anbiya’: 34 – 35)

3, Abuth-Thayyib berkata:

Sesungguhnya aku bersahabat dengan kearifanku dan ia membuatku mulia dan aku tidak bersahabat dengan kearifanku bila akan membuatku penakut.

4, An-Nabighah Al-Ja’di berkata dalam suatu umpatannya:

Seandainya saja orang-orang yang bakhil itu — dan kamu adalah salah seorang dari mereka — melihatmu, maka mereka akan belajar kepadamu dalam waktu yang lama.

  1. Seorang wanita Arab Badui berkata kepada seorang laki-laki:

Sesungguhnya Allah telah menetapkan semua musuhmu bermanfaat untuk dirimu kecuali nafsumu.

  1. Allah Swt. berfirman:

Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.

Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak dan anak-anak. (QS Asy-Syu’ara: 132 – 133)

Contoh jawaban:

  1. Dalam ayat ini terdapat ithnab dengan tikrar dalam rangka memberi peringatan. Hal ini untuk menegaskan makna di hati para pendengarnya.
  1. Dalam ayat ini terdapat ithnab di dua tempat, yang pertama adalah lafaz “Afa in mitta fa humul-khaaliduun”, dan penyebutan lafaz ini adalah tadzyiil yang tidak dapat diberlakukan sebagai contoh. Tempat kedua adalah lafaz “Kullu nafsin dzaa’iqatulmaut”, lafaz ini berlaku sebagai contoh.
  1. Dalam bait ini terdapat ithnab dengan ihtiras di dua tempat, yaitu yang pertama terdapat pada syathar pertama dengan menyebut kata “wahuwa bii karamun”, dan yang kedua pada syathar kedua dengan menyobut lafaz “wahuwa bii jubunun”.
  1. Dalam bait ini terdapat ithnab dengan i’tiradh. Lafaz “wa anta minhum” diletakkan di antara isim inna dan khabarnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempertajam celaan kepada mukhathab.

5, Dalam ungkapan ini terdapat ithnab dengan ihtiras karena nafsu setiap orang itu berlaku sebagai musuhnya, sebab ia mengajak manusia kepada kebinasaan.

  1. Dalam ayat ini terdapat ithnab dengan al-idhah ba’dal ibham karena penyebutan kata bi an’aamin wa baniin merupakan penjelasan bagi lafaz bimaa ta’lamuun.
  1. Jelaskanlah maksud pengulangan kata pada contoh-contoh ithnab pada kalimat-kalimat berikut ini!
  1. Sebagian penyair yang berani berkata:

(Pergilah) ke pusat kemuliaan dan kemurahan yang agung. Di sana, di sana terdapat keutamaan dan perangai yang mapan dan mulia.

  1. Seorang wanita Arab Badui meratapi dua anak laki-lakinya:

Wahai orang yang mengetahui dua anak kesayanganku, yang keduanya bagaikan dua butir mutiara yang terpisah dari kerangnya. Wahai orang yang mengetahui dua anak kesayanganku, yang keduanya adalah pendengaranku dan penglihatanku. Maka penglihatanku pada hari ini tersambar.

3 Amrbin Kultsum’ berkata:

Mana mungkin mau, hai Amr bin Hindin kami menjadi pelayan para pembantumu. Mana mungkin mau, hai Amr bin Hindin, kami taat kepada orang-orang hina, dan engkau sendiri telah tahu siapa kami.

  1. Allah Swt. berfirman:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Alam Nasyrah: 5 – 6)

  1. Jelaskanlah tempat-tempat i’tiradh dan faedahnya pada kalimat-kalimat berikut!
  1. Al-Abbas bin Al-Ahnaf berkata:

Apabila pengasingan ini telah sempurna, hai Zhalum, dan belum sempurna pada saat ini, maka tiada lagi bagiku hasrat untuk hidup.

  1. Abul-Fattaah Al-Busti berkata:

Ketika seseorang yang mulia itu memuji (bersyukur) di pagi hari, dan mengapa demikian, maka ia tidak akan memuji di sore hari.

3, Abu Khirasy Al-Hudzali berkata memperingatkan saudaranya Urwah:

Wanita itu berkata, “Aku melihatnya (Abu Khirasy) menjadi lalai setelah ditinggal Urwah.” Yang begitu adalah kecelakaan besar kalau kamu tahu. Janganlah kamu beranggapan bahwa aku melupakan janjinya. Akan tetapi, kesabaranku itu bagus, hai Umaim.

  1. Ketahuilah, bahwa ilmu seseorang itu bermanfaat baginya. Sesungguhnya segala sesuatu yang telah ditakdirkan itu bakal datang.

III. Jelaskanlah tempat-tempat tadzyiil dan macamnya pada kalimat-kalimat berikut ini! Abu Tamam berkata ketika berta’ziyah kepada khalifah karena anaknya meninggal:

Bersabarlah, wahai Amiral-Mu-minin, karena sesungguhnya demi peristiwa yang engkau saksikan itu anak kecil diberi makan dan dilahirkan. Tidak lain anakmu hanyalah anak cucu Adam. Setiap orang memiliki jalan menuju telaga kematian itu.

  1. Ibrahim bin Mahdi meratapi anak laki-lakinya:

Carilah ganti rumah selain rumahku dan tetangga selain aku. Dan bencana zaman juga akan berganti.

3, –  Bila aku mati terbunuh, maka jadilah kamu sebagai pembunuhku. Sebagian kematian kaum itu lebih mulia daripada sebagian yang lain.

  1. Allah Swt. berfirman:

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu) kecuali kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS Saba’: 17)

  1. Jelaskanlah tempat-tempat ihtiras dan sebab-sebabnya pada kalimat-kalimat berikut!
  1. Abul-Husain Al-Jazzaar berkata tentang orang yang dipuji:

la bergoyang seperti mendapatkan pemberian ketika aku memujinya, sebagaimana goyangnya peminum khamr kecuali ucapannya.

  1. Penyair lain berkata:

Aku tidak pernah merasa haus kepada air kecuali air Sungai Nil meskipun — astaghfirullah — air Zamzam sekalipun.

3, ‘Antarah berkata:

Bercerita kepadamu orang yang ikut berperang, bahwa aku ikut perang dan aku tidak mau mengambil bagian ghanimah.

4, Ka’bbin Sa’id Al-Ghanawi berkata:

la adalah penyantun ketika kesantunan itu menghiasi (dipujikan kepada) ahlinya. Meskipun ia penyantun, namun dalam pandangan banyak orang ia menakutkan.

  1. Tunjukkan tempat-tempat ithnab, dan jelaskan macamnya dan maksudnya pada kalimat-kalimat berikut ini!
  1. Allah Swt. berfirman :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaJikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. (QS An-Nah!: 90)

2 Allah Swt. berfirman: –

Peliharalah semua salatlmu, dan peliharalah salat wustha (salat Asar). (QS Al-Baqarah: 238)

  1. Seorang penyair berkata:

Berusaha mencari rezeki, padahal rezeki itu telah dibagi-bagi, adalah suatu kezaliman. Perhatikanlah bahwa kezaliman seseorang itu akan menimpa dirinya sendiri.

4, Allah Swt. berfirman:

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (QS Al-Infithar: 17 – 18)

  1. Allah Swt. berfirman:

Orang yang beriman itu berkata, “Hai kaumiku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS Al-Mu’min: 38 – 39)

  1. Allah Swt. berfirman:

Masukkanlah tanganniu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat. (QS Al-Oashash: 32)

7, Al-Hummasi berkata:

Wahai penjara, tali pengikat, kerinduan, keterasingan, dan jauhnya kekasih, sesungguhnya hal ini adalah masalah besar. Dan sesungguhnya setiap orang yang selama dapat memenuhi janjinya sedemikian rupa, sesungguhnya ia adalah orang yang benar-benar mulia.

8, Allah Swt. berfirman:

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, “Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi.” (QS Thaha: 120)

  1. Ibrahim bin Mahdi berkata dalam meratapi anak laki-lakinya:

Sesungguhnya aku — meskipun engkau mati lebih dulu sebelum akubenar-benar tahu bahwa sesungguhnya aku — meskipun aku mati kemudian — adalah dekat kepadamu.

10, Allah Swt. berfirman:

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan — MahasuCi Allah — sedangkan untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak laki-laki). (QS An-Nahl: 57)

  1. Ausbin Hajar berkata:

Aku selamanya bukanlah orang yang berhenti makan karena takut hari esok, untuk setiap hari esok ada makanan.

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. (QS Ali Imran: 104)

  1. Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya di antara istri-istri kamu dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka: dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At-Taghabun: 14)

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan aku tidak “membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS Yusuf: 53)

  1. Allah Swt. berfirman:

Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari, dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku. (QS Yusuf: 4)

  1. Tunjukkan kecacatan balaghah pada bait-bait syair berikut!

1, Abu Nuwas berkata:

Kami bermukim di sana sehari, sehari lagi, dan hari ketiga, dan lima hari yang lain untuk berpindah-pindah tempat.

  1. An-Nabighah berkata dalam menyifati rumah:

Menjadi jelas tanda-tandanya sehingga aku mengenalnya. Hal itu telah berjalan selama enam tahun, dan sekarang adalah tahun ketujuh.

3, AbulAtahiyah berkata:

Telah meninggal — demi Allah — Sa’id bin Wahb, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Sa’id bin Wahb. | Hai Abu Utsman, engkau menjadikan mataku menangis. Hai Abu Utsman, engkau menjadikan hatiku sakit.

VII. Perhatikanlah kalimat ijaz, lalu susunlah dua kalimat lain dengan memasukkan kalimat ijaz tersebut, kalimat pertama redaksinya seimbang dengan maknanya, dan kalimat kedua redaksinya lebih panjang.

Amma ba’du. Maka nasihatilah manusia dengan perbuatanmu, malulah kepada Allah selaras dengan kedekatan-Nya darimu, dan takutlah kepada-Nya selaras dengan kekuasaan-Nya terhadapmu.

VIII. Mengapa setiap kalimat yang padanya terdapat fashal karena adanya kesinambungan yang sempurna itu termasuk salah satu jenis ithnab? Buatlah contoh-contoh yang berbeda-beda dan jelaskanlah macam ithnab-nya!

  1. 1. Buatlah dua kalimat ithnab dengan dzikrul-khash ba’dal-‘am dan

dua kalimat ithnab lain dengan dzikrul-‘am ba’dal-khash. Dan jelaskanlah faedah lafaz tambahan pada setiap kalimat!

  1. Buatlah dua kalimat ithnab dengan i’tiradh dan jelaskan faedah i’tiradh tersebut!
  1. Buatlah empat kalimat ithnab dengan tikrar yang baik, dan jelaskan maksud pengulangan tersebut, serta tempuhlah seluruh maksud tikrar tersebut!
  1. Buatlah dua kalimat ithnab dengan tadzyiil yang dapat berlaku sebagai contoh, dan dua kalimat ithnab dengan tadzyiil lainnya yang tidak dapat berlaku sebagai contoh!
  1. Buatlah dua kalimat ithnab dengan ihtiras!
  1. Jelaskanlah dua bait Al-Mutanabbi dalam menyifati Syi’b Bawwan (nama tempat di Syiraz), dan jelaskanlah jenis ithnab-nya!

Ia adalah tempat bermainnya jin. Seandainya Nabi Sulaiman melewatinya, pasti melewati bersama juru bahasanya.

Alangkah menawannya kuda-kuda kami, sehingga aku takut — sekalipun tempat itu begitu mulia — kuda-kuda itu tetap tinggal di sana dan tidak mau berpindah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker