Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

B Tempat-Tempat Washal

  1. Contoh-Contoh
  1. AbulAla al-Ma’arri berkata:

Cinta kehidupan itu memperbudak setiap orang merdeka dan mengajarkan orang yang lapar untuk makan tumbuh-tumbuhan yang pahit.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Rahasia dalam diriku mendapat tempat yang tidak dapat diketahui olek teman peminum minuman keras, dan tidak dapat dibongkar dengan minuman keras.

  1. Ia berkata:

Ia menyingsingkan pakaiannya dari kedua betisnya untuk mengarungi tengah laut, dan ombak telah menerjangnya ketika masih di tepi laut.

  1. Basyar bin Burd berkata:

Dekatkanlah dirimu kepada orang dekat yang mendekatkan dirinya kepadamu, dan janganlah kamu mengajak musyawarah dengan orang yang tidak dapat memelihara rahasia.

  1. Tidak, dan semoga Allah memberkatimu. (Untuk menjawab pertanyaan: “Apakah Anda punya keperluan yang dapat saya bantu?”)
  1. Belum, semoga Allah meringankan penderitaannya. (Untuk menjawab pertanyaan: “Apakah saudaramu telah sembuh dari penyakitnya?”)
  1. Pembahasan

Perhatikanlah dua kalimat pada contoh pertama, maka akan Anda dapatkan bahwa kalimat pertama, “A’bada kulla hurrin”, memiliki kedudukan dalam i’rab karena ia menjadi khabar mubtada’ yang jatuh sebelumnya, dan pembicaranya bermaksud menyertakan kalimat kedua kepada kalimat pertama dalam hal i’rab ini.

Kemudian perhatikan pula kalimat “Laa yanaaluhu nadiimun” dan kalimat “Laa yufdhii ilaihi syaraabun” pada contoh kedua, maka akan Anda dapatkan bahwa kalimat pertama juga memiliki kedudukan dalan i’rab karena ia menjadi sifat bagi lafaz nakirah sebelumnya. Pembicaranya juga bermaksud menyertakan kalimat kedua kepada kalimat pertama dalam hukum ini.

Dan bila Anda perhatikan lebih jauh kedua kalimat kedua pada kedua contoh di atas, maka Anda temukan bahwa kalimat-kalimat tersebut diathafkan kepada kalimat yang pertama, disambungkan dengannya. Begitu juga wajib di-washal-kan setiap dua kalimat yang seperti ini.

Bila kita perhatikan dua kalimat pada contoh ketiga, kita dapatkan keduanya sama-sama kalam khabar yang bersesuaian maknanya, namun tidak kita dapatkan keduanya di-fashal-kan, melainkan diwashal-kan dengan diathafkannya kalimat kedua kepada kalimat pertama. Demikian juga contoh keempat, terdiri atas dua kalimat yang sama-sama kalam insya’, dan keduanya bersesuaian dalam maknanya, namun keduanya tidak di-fashal-kan, melainkan di-washal-kan dengan diathafkannya kalimat kedua kepada kalimat pertama. Begitu juga wajib di-washal-kan setiap dua kalimat yang sama-sama kalam khabar atau insya’ serta bersesuaian maknanya serta tidak ada halhal yang mengharuskan keduanya di-fashal-kan.

Selanjutnya marilah kita perhatikan contoh kelima. Maka kita dapatkan bahwa kalimat yang pertama, laa, adalah kalam khabar, sedangkan kalimat yang kedua, baarakallaahu fiika, adalah kalam insya”. Seandainya kedua kalimat tersebut kita fashal-kan dan kita katakan “Lag baarakallaahu fiika”, maka pendengar anak-anak beranggapaar bahwa kita mendoakan jelek kepadanya, padahal kita mendoakan paik. Oleh karena itu, wajib berpindah dari fashal kepada washal. Demikian juga halnya contoh terakhir, kedua, kalimatnya berbeda khapar dan insya’nya, yang seandainya tidak diathafkan, niscaya akan menimbulkan kesalahpahaman yang menyalahi maksud sebenarnya.

3, Kaidah

(64) Wajib washal di antara dua kalimat dalam tiga tempat, yaitu bila:

  1. kalimat kedua hendak disertakan kepada kalimat pertama dalam hukum i’rabnya.
  1. kedua kalimat tersebut sama-sama kalam khabar atau samasama kalam insya’ dan bersesuaian maknanya dengan sempurna, namun tidak ada hal-hal yang mengharuskan keduanya di-fashal-kan.
  1. Kedua kalimat tersebut berbeda khabar dan insya’nya, dan bila di-fashal-kan akan menimbulkan kesalahpahaman yang menyalahi maksud semula.
  1. Latihan-Latihan

Contoh Soal:

Jelaskanlah tempat-tempat fashal dan washal pada kalimat-kalimat berikut dan sebutkan sebab-sebabnya!

  1. Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (QS Al-Baqarah: 6)

  1. Al-Ahnaf bin Oais berkata:

Tidak ada kesetiaan bagi seorang pembohong, dan tidak ada ketenangan bagi orang pendengki.

  1. Allah Swt. berfirman:

dan ia merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan takut…” (QS Huud: 70)

  1. Disebutkan dalam kata-kata hikmah:

Uban itu cukup menyakitkan, kebaikan seorang manusia itu tergantung kepada pemeliharaan lidah.

  1. Suatu ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Ali k.w.:

Tinggalkanlah berlebih-lebihan demi alasan ekonomi, dan ingatlah pada hari ini tentang hari esok, dan simpanlah sebagian hartamu sesuai dengan kebutuhan primermu, dan dahulukanlah sisa untuk hari kebutuhanmu.

  1. Abu Bakar berkata:

Wahai manusia, sesungguhnya aku diberi kekuasaan untuk mengatur kamu, dan aku bukanlah orang terbaik di antara kamu.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Sesungguhnya bencana-bencana zaman memberi tahu kepadaku, aku adalah orang yang lama menggigit kayu (tahan dan tabah terhadap musibah).

  1. Tidak, semoga engkau dicukupi dari kejahatannya. (Sebagai jawaban atas pertanyaan: “Apakah panas si sakit telah turun?”)

9 Allah Swt. berfirman:

….yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, anak-anak, kebun-kebun, dan mata air. (QS Asy-Syu’ara’: 132 – 134)

10, Abul Atahiyah berkata:

Kadang-kadang orang yang tidur yang mendapat petunjuk dapat mencapai apa yang dicarinya, dan kadang-kadang orang yang berjalan sore dan petang itu mengalami kerugian.

  1. Al-Ghazzi mengadu kepada manusia:

Mereka berpaling tanpa alasan ketika dilanda bencana, dan mereka menurut perintah dan larangan ketika dalam kenikmatan.

  1. Abul ‘Ala Al-Ma’arri berkata:

Janganlah sekali-kali mengherankan kamu kehadiran seseorang yang menunjukkan cahaya, sesungguhnya ketenangan api itu — demi usiaku — adalah puncak gejolaknya.

  1. Mereka berkata bahwa aku membawa kehinaan bagi mereka. Aku berlindung kepada Rabb-ku dari dihinanya orang yang sepadan denganku.
  1. Allah Swt. berfirman:

Mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelihi anak-anakmu yang laki-laki… . (QS Al-Baqarah: 49)

  1. Allah Swt. berfirman: .

Dan tiadalah yang diucapkannya (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm: 3 – 4)

Contoh Jawaban:

  1. Kedua kalimat tersebut di-fashal-kan, yaitu antara kalimat “Sawaa-un ‘alaihim a’andzartahum am lam tundzirhum” dan kalimat “Laa yu-minuun” karena kedua kalimat ini memiliki keterkaitan yang sempurna, karena kalimat kedua merupakan taukid bagi kalimat pertama.
  1. Kedua kalimat tersebut di-washal-kan karena keduanya sama-sama kalam khabar dan bersesuaian maknanya, dan karena tidak ada hal-hal yang mengharuskan keduanya di-fashal-kan.
  1. Kalimat kedua (gaaluu) di-fashal-kan dengan kalimat pertama (wa aujasa minhum khiifah) karena kedua kalimat ini memiliki kesinambungan yang sempurna, sebab kalimat kedua merupakan jawaban bagi pertanyaan yang muncul dari pemahaman terhadap kalimat pertama. Jadi, seakan-akan muncul pertanyaan: “Lalu apa yang mereka katakan ketika mereka melihatnya: ketakutan?” Jawabannya adalah: Mereka berkata, “Janganlah kamu takut.”
  1. Kedua kalimat tersebut di-fashal-kan karena di antara kedua kalimat tersebut terdapat keterputusan yang sempurna, sebab tidak ada kesesuaian makna antara kalimat pertama dan kalimat kedua.

5, Semua kalimat tersebut di-washal-kan karena semuanya kalam insya’ dan memiliki kesesuaian makna, dan karena tidak ada hal-hal yang mengharuskan kalimat-kalimat tersebut di-fashalkan.

  1. Kalimat “Ayyuhan-naas” dan kalimat “Innii wulliitu “alaikum” difasial-kan karena ada perbedaan khabar dan insya’ di antara kedua kalimat tersebut. Dan kalimat “Wulliitu ‘alaikum’ dan “Lastu bi khairikum” di-washal-kan karena Abu Bakar bermaksud menyertakan kalimat kedua itu kepada kalimat pertama dalam segi i’rab karena kedua-duanya dalam posisi rafa’. Bila wawu athaf diartikan sebagai wawu haliyah, maka bukan washal namanya.
  1. Kedua syathar bait syair terscbut di-fashal-kan karena syathar kedua merupakan jawaban dari pertanyaan yang muncul dari pemahaman pendengar terhadap syathar pertama. Jadi, kedua syathar tersebut memiliki kemiripan kesinambungan yang sempurna.
  1. Kalimat “Iaa” dan kalimat “Kuffiita .. ” di-washal-kan karena ada perbedaan khabar dan insya’, dan bila di-fashal-kan akan menimbulkan kesalahpahaman yang menyalahi maksud semula.
  1. Kalimat “Amaddakum bi maa ta’lamuun” dan kalimat “Amaddakum bi an’aamin .. .” di-fashal-kan karena keduanya memiliki keSinambungan yang sempurna, sebab kalimat kedua merupakan badal dari kalimat pertama, yaitu bahwa binatang-binatang ternak, anak-anak, kebun-kebun, dan mata air itu termasuk barang-barang yang kamu ketahui.
  1. Abul-‘Atahiyah me-washal-kan kedua kalimat tersebut karena keduanya sama-sama kalam khabar dan memiliki kesesuaian makna yang sempurna, serta tidak ada hal-hal yang mengharuskan kedua kalimat tersebut di-fashal-kan.
  1. Dengan alasan yang sama, Al-Ghazzi juga me-washal-kan kedua SYathar syairnya.
  1. Abul-‘Ala’ mem-fashal-kan kedua syathar syairnya karena ada nya keterputusan yang sempurna, sebab kedua kalimat tersebut berbeda khabar dan insya’nya.
  1. Kalimat “Yaguuluuna innii ahmiludh-dhaima” dan kalimat “A’uudzu bi Rabbii …” di-fashal-kan karena keduanya memiliki kemiripan kesinambungan yang sempurna, sebab kalimat kedua merupakan jawaban dari pertanyaan yang muncul dari pemahaman terhadap kalimat pertama. Jadi, seakan-akan sctelah penyair membacakan syathar pcrtama, ada yang bertanya kepadanya, “Apakah ucapan mereka bahwa engkau membawa kehinaan itu benar?” Maka ia menjawab dengan syathar kedua.
  1. Kalimat “Yasuumuunakum suu-al-‘adzaabi” dan kalimat “Yudzab bihuuna abnaa-akum” di-fashal-kan karena keduanya memiliki keSinambungan yang sempurna, sebab kalimat kedua merupakan badal dari kalimat pertama.
  1. Allah mem-fashal-kan dua kalimat dalam ayat terscbut karena keduanya memiliki kesinambungan yang sempurna, sebab kalimat kedua merupakan penjelasan bagi kalimat pertama.

Latihan-Latihan

  1. Jelaskan tempat-tempat fashal dan washal pada contoh-contoh berikut dan jelaskan pula alasannya!
  1. Sebagian ahli hikmah berkata:

Seorang hamba itu merdeka bila ia gana’ah (menerima kenyataan), dan seorang merdeka itu adalah hamba bila ia thama’ (senantiasa berharap lebih atau tidak menerima kenyataan).

  1. Ibnur-Rumi berkata:

Kadang-kadang seorang pencari kebaikan yang tergesa-gesa itu melewatkannya, dan kadang-kadang kejahatan itu mengenai orang yang berlari menghindarinya. 

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Suatu pendapat bagi orang yang belum sempurna keberaniannya adalah pertama (dalam kemunculannya), dan ia menempati posisi kedua.

4 Al-Hajjaj berpidato:

Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku bahwa kecurangan itu adalah kecurangan sehingga aku dapat menjauhinya, dan tunjukkanlah kepadaku bahwa petunjuk itu adalah petunjuk sehingga aku dapat mengikutinya, dan janganlah Kauserahkan hal itu kepadaku sehingga aku menjadi tersesat dengan sejaul-jauhnya.

  1. Asy-Syarif Ar-Radhiy berkata dalam suatu ratapannya:

Tahukah Anda siapakah yang mereka bawa di atas keranda, tahukah Anda bagaimana padamnya cahaya orang yang bermurah hati?

6, Hisan bin Tsabit Al-Anshari berkata:

Aku memelihara jiwaku dengan hartaku, aku tidak akan mengotorinya. Allah tidak memberi berkah pada harta tanpa jiwa vang baik. Seandainya harta telah habis, aku dapat berusaha untuk mendapatkannya lagi, dan aku tidak dapat berusaha mendapatkan jiwaku /harga diriku lagi setelah binasa/ rusak.

  1. Am-Nabighah Adz-Dzubyani meratapi saudaranya seibu:

Telah cukup bagi dua orang bersahabat bumi memisahkan mereka, seorang hidup di atasnya, dan seorang lagi hancur di bawahnya.

  1. Ath-Thaghra’i berkata:

Wahai orang yang menempuh sisa kehidupan, seluruh sisa kehidupan itu keruh. Engkau telah mencurahkan seluruh umurmu di hari-harimu yang telah lampau.

  1.  

Air mata tidak perlu menetes dan hatimu tidak harus terhibur. Kematian singgah di sarang singa.

  1. Zainab binti Ath-Thatsariyyah meratapi saudaranya:

Ia dapat memuaskan pedang dengan telapak tangannya dan pemberiannya telah mencapai kabilah di tempat yang jauh.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Tempat yang paling mulia di dunia adalah pelana kuda yang cepat larinya, dan kawan yang paling baik sepanjang zaman adalah kitab.

  1. Mata menibuatku menangis dan nafsu membuatku haus. Akalku telah mati dan keagungan seorang dermawan telah sirna.
  1. Seorang laki-laki dari Bani Asad berkata dalam sebuah ejekannya:

Jangan kauanggap keagungan itu sebagai sebutir kurma yang engkau tinggal memakannya. Kamu tidak akan dapat mencapai keagungan sebelum kamu menjilat getah pohon yang pahit.

14 Umarah Al-Yamani’ berkata:

Kecurangan seseorang itu berada pada janji dan pemenuhannya, dan kecurangan pedang yang tajam adalah ketika tidak dapat digunakan untuk memotong.

15, Allah Swt. berfirman tentang kisah Firaun dan Musa a.s.:

Firaun berkata, “Siapakah Tuhan semesta alam itu?” Musa menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu) jika kamu sekalian adalah orang-orang yang mempercayai-Nya.” Firaun berkata kepada orang-orang sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Musa berkata, “Tuhan kamu dan Tuhan nenek moyang kamu yang dahulu.” (QS AsySyw’ara’: 23 – 26)

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah ia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya. (QS Lugman: 7)

  1. 1. Mengapa syathar kedua dari syair Abu Tanam berikut ini tidak tepat di-athaf-kan kepada syathar pertamanya?

Tidak, demi Allah Yang Mahatahu, sesungguhnya An-Nawatwi itu orang yang tabah, dan sesungguhnya Abul Husain itu orang yang mulia.

2 Mengapa baik bila dikatakan:

(Ali adalah seorang ahli pidato dan Sa’id adalah seorang penyair).

Dan mengapa tidak baik bila dikatakan:

(Ali sakit dan Sa’id adalah seorang yang alim)?

III. 1. Buatlah tiga buah contoh’kalimat yang masing-masing di-fashal-ka karena memiliki kesinambungan yang sempurna!

  1. Buatlah dua contoh kalimat yang di-fashal-kan karena memiliki kemiripan kesinambungan yang sempurna!

3, Buatlah dua contoh kalimat yang di-fashal-kan karena memiliki keterputusan yang sempurna!

IV, Buatlah dua buah contoh bagi masing-masing tempat washal!

V, Uraikan dua bait Abuth-Thayyib tentang pujiannya kepada SaifudDaulah berikut ini serta jelaskan sebab-sebab fashal dan atau washalnya!

Wahai orang yang senantiasa membunuh dengan pedangnya terhadap orang yang dikehendaki, aku telah menjadi korban pembunuhan dengan kebaikanmu.

Ketika aku melihatmu, maka tercenganglah penglihatanku: dan ketika aku memujimu, maka tercenganglah lidahku.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker