Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

C.2 Kalam Insya’ Thalabi

C.2.a Amar (Kalimat Perintah)

  1. Contoh-Contoh
  2. Di antara isi surat Ali kepada Ibnu Abbas yang saat itu menjadi gubernur di Mekah adalah: “Amma ba’du, maka dirikanlah ibadah haji bagi manusia dan ingatlah mereka dengan hari-hari Allah. Imamilah mereka dalam salat Magrib dan Isya. Berilah fatwa kepada orang yang membutuhkannya. Ajarilah orang yang bodoh. Dan saling mengingatkanlah dengan orang yang alim.”

b Allah Swt. berfirman:

Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS Al-Hajj: 29)

c Allah Swt. berfirman:

Jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. (QS Al-Maidah: 105)

  1. Allah Swt. berfirman:

Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS Al-Isra’: 23)

  1. Abuth-Thayyib berkata dalam memuji Saifud-Daulah: .

Demikianlah, hendaklah orang yang mencari musuh itu melakukan perjalanan malam, dan hendaklah seperti perjalanan malammu orang-orang yang mencari musuh itu melakukan perjalanan malam.

  1. Ia berkata menyerunya:

Hilangkanlah kedengkian para pendengki itu dariku dengan menghinakan mereka, karena engkaulah orang yang menjadikan mereka dengki kepadaku.

g Imru-ul-Qais berkata:

Berhertilah bersama kita nienangis, karena ingat kekasih dan kampung halaman yang terletak di Sigthil-liwa, yaitu antara Dakhul dan Haumal.

  1. Ia berkata pula:

Ingatlah wahai malam yang panjang, alangkah baiknya engkau menampakkan cahaya pagi, dan penampakan cahaya pagi olehmu itu (sebenarnya) bukanlah suatu hal yang lebih baik.

  1. Al-Buhturi berkata:

Maka barang siapa menghendaki, hendaklah ia berlaku kikir, dan barang siapa menghendaki, maka hendaklah ia berderma. Kemurahanmu telah mencukupiku dari segala kebutuhan.

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Hiduplah sebagai orang yang terhormat, atau miatilah sebagai orang yang mulia antara mata lenibing dan kibaran bendera.

k Penyair lain berkata:

Tunjukkanlah kepadaku seseorang yang bakhil menjadi panjang umur karena kebakhilannya, dan tunjukkanlah kepadaku seseorang yang pemurah meninggal karena banyak memberi.

  1. Seorang penyair lain berkata:

Apabila engkau tidak khawatir terhadap akibat semua perbuatan dan kamu tidak malu, maka kerjakanlah apa yang kaumau.

  1. Allah Swt. berfirman: –

Dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (QS Al-Baqarah: 187)

  1. Pembahasan

Bila kita perhatikan contoh-contoh bagian pertama, kita dapatkan bahwa masing-masing kalimat mengandung redaksi untuk menuntut terjadinya sesuatu yang waktu itu belum terjadi dengan tuntutan yang bersifat tekanan dan keharusan. Bila kita perhatikan lebih lanjut, kita dapatkan bahwa pihak yang menuntut itu lebih tinggi kedudukannya daripada orang yang dituntut mengerjakan pekerjaan yang dimaksud. Yang demikian adalah amar (kata perintah) yang hakiki, Dan bila kita perhatikan redaksi-redaksinya, maka tidak lepas dari empat rcdaksi berikut: fi’il amar seperti pada contoh pertama, fi’il mudhari yang didahului dengan lan amar seperti pada contoh kedua, isim fi’il amar seperti pada contoh ketiga, dan miashdar yang menggantikan fi’il amar seperti pada contoh keempat.

Bila kita perhatikan contoh-contoh bagian kedua, semuanya tidak digunakan dalam maknanya yang hakiki, yaitu menuntut suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah sebagai suatu keharusan, melainkan masing-masing menunjukkan makna tersendiri yang dapat kita ketahui melalui susunan kalimatnya dan situasi serta kondisi yang berkaitan.

Abuth-Thayyib pada contoh kelima tidaklah bermaksud menuntut atau mengharuskan, melainkan menasihati orang yang bermegahmegahan dengan Saifud-Daulah serta menunjukkannya jalan yang ditempuh oleh Saifud-Daulah dalam mencari keagungan dan keluhuran. Jadi, redaksi perintah di sini bermakna nasihat dan petunjuk, bukan tuntutan dan pengharusan.

Redaksi kalimat perintah pada contoh keenam juga tidak dimaksudkan untuk maknanya yang asli, karena Abuth-Thayyib AlMutanabbi berbicara dengan penguasanya, sedangkan penguasa itu tidaklah dapat diperintah oleh salah scorang rakyatnya. Maksud ucapannya itu tiada lain adalah sebagai doa atau permohonan. Demikian pula setiap kalimat perintah yang disampaikan oleh pihak yang lebih rendah kepada pihak yang lebih tinggi kedudukannya.

Bila kita perhatikan contoh ketujuh, Imru-ul Oais mengkhayalkan kehadiran dua orang sahabat yang dihentikannya dan diajak menangis bersama, sebagaimana kebiasaan para penyair. Ia mengungkapkan rahasia dirinya dan apa yang tersimpan dalam dadanya kepada kedua sahabatnya itu. Bila redaksi semacam ini disampaikan oleh seseorang kepada temannya atau kepada musuhnya, maka bukanlah sebagai tuntutan dan pengharusan, melainkan sekadar tawaran.

Imru-ul Oais pada contoh kedelapan juga tidak memerintah majam untuk melakukan sesuatu kerena malam itu tidak mendengar dan tidak akan melaksanakan perintah. Kalimat perintah yang ia ucapkan tidak lain dimaksudkan sebagai tamanni (harapan yang sulit perpenuhi atau pengandaian).

Bila kita perhatikan contoh-contoh lainnya dan kita pahami susunan kalimatnya serta kita kupas karinah-karinah yang berkaitan dengannya, maka kita dapatkan bahwa semua redaksi amarnya tidaklah dimaksudkan untuk maknanya yang asli, melainkan untuk menunjukkan takhyiir (pemilihan), taswiyah (menyamakan), ta’jiz (mejemahkan), tahdid (ancaman), dan ibahah (kebolehan). Makna-makna tersebut di atas adalah berurutan dari contoh kesembilan (f) sampai terakhir ().

  1. Kaidah

(37) Amar adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah.

(38) Amar mempunyai empat macam redaksi, yaitu fi’il amar, fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amar, isim fi’il amar, dan mashdar yang menggantikan fi’il amar.

(39) Kadang-kadang redaksi amar tidak digunakan untuk maknanya yang asli, melainkan kepada makna lain. Hal ini dapat diketahui melalui susunan kalimat. Makna lain tersebut adalah untuk irsyad (bimbingan), doa (permohonan), iltimas (tawaran), tamanni (harapan yang sulit tercapai), takhyir (pemilihan), taswiyah (menyamakan), ta’jid (melemahkan mukhathab), tahdid (ancaman), dan ibahah (kebolchan).

  1. Latihan-Latihan

Contoh Soal:

  1. Allah Swt. berfirman meng-khitab-i Yahya a.s.:

Ambillah A.l-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh! (QS Maryam: 12)

  1. Al-Arrajaani berkata: .

Bermusyawarahlah dengan orang lain ketika engkau tertimpa musibah pada suatu waktu sekalipun engkau termasuk ahli musyawarah.

  1. Abul’Atahiyah berkata:

Rendahkanlah dirimu bila engkau dikaruniai suatu kekuasaan, dan jauhkanlah dirimu dari kenikmatan-kenikmatan yang hina.

  1. Abul’Ala’ berkata:

Wahai kematian, datanglah, sesungguhnya kehidupan itu tercela. Dan wahai jiwa, bersungguh-sungguhlah, sesungguhnya zaman itu kurus.

  1. Seorang penyair lain berkata:

Tunjukkanlah kepadaku seorang pemurah yang meninggal karena kurus (kelaparan) atau seorang yang bakhil yang hidup kekal, barangkali aku dapat berpandangan seperti pendirianmu.

  1. Khalid bin Shafwan berkata dalam menasihati anaknya:

Tinggalkanlah olehmu perbuatan rahasia yang tidak pantas kaukerjakan dengan terang-terangan.

  1. Basyar bin Burd berkata:

Hiduplah sendirian atau bertemanlah dengan saudaramu itu, karena sesungguhnya ia suatu saat melakukan perbuatan dosa dan di saat lain menjauhinya.

h Allah Swt. berfirman:

Katakanlah:”Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka.” (QS Ibrahim: 30)

  1. Abuth-Thayyib berkata kepada Saifud-Daulah:

Wahai orang yang pemurah, berilah manusia dengan apa yang kaumiJiki dan jangan sekali-kali kauberi mereka dengan apa-apa yang aku katakan.

  1. Oathari bin Al-Fuja’ah berkata kepada dirinya sendiri:

Bersabarlah dengan sesabar-sabarnya dalam hal kematian, sebab meraih keabadiannya itu suatu hal yang tidak mungkin.

Latihan-Latihan

  1. Mengapa redaksi-redaksi amar berikut ini secara berurutan menunjukkan irsyad, iltimas, ta’jiz, tamanni, dan permohonan?
  1. Berhati-hatilah terhadap manusia, niscaya kau akan dapat menutupinya. Dan janganlah kau terbuai dengan cemerlangnya gigi orang yang tersenyum. |
  1. Wahai kedua kekasihku, tinggalkanlah aku dengan apa yang ada padaku, atau kembalikanlah kepadaku masa mudaku.
  1. Wahai rumah “Ablah di Lembah Jiwa’, bicaralah, selamat pagi hai rumah “Ablah dan selamatlah engkau.
  1. Mengapa redaksi-redaksi Amar berikut ini secara berurutan menun— jukkan arti permohonan, ta’jiz, dan taswiyah (menyamakan)
  1. Tunduklah wahai Yazid, karena dalam agama itu tidak ada penyelewengan bila kamu tunduk, dan dalam kerajaan (Allah) tidak ada suatu kerusakan.
  1. Tunjukkanlah kepadaku siapa orangnya yang kau bergaul dengannya, engkau dapatkan ia tidak marah-marah kepadamu karena alasan yang sepele.
  1. Bersabarlah atau janganlah bersabar.

III. Jelaskanlah mana redaksi amar pada pernyataan-pernyataan berikut ini dan apa maksudnya?

  1. Seorang khalifah menasihati salah seorang aparatnya:

Berpegang teguhlah kepada aturan Al-Qur’an dan mintalah nasihatnya, halaikariah apa yang dihalaikan dan haramkanlah apa yang diharamkannya.

  1. Hakim berkata kepada anaknya:

Wahai anakku, berlindunglah kepada Allah dari kejelekan-kejelekan manusia, dan jadilah sebagai orang yang terbaik dengan penuh kehatihatian.

  1. Seorang ulama berkata kepada anaknya:

Wahai anakku, desaklah ulama dengan kedua lututmu dan perhatikanlah mereka dengan kedua telingamu, karena hati itu akan menjadi hidup dengan cahaya ilmu, sebagaimana bumi yang telah mati menjadi hidup oleh air hujan.

  1. Abuth-Thayyib berkata kepada Saifud-Daulah:

Berilah penghargaan kepadaku bila dibacakan syair pujian kepadamu, karena sesungguhnya dengan syairkulah orang-orang yang memujimu berdatangan kepadamu berkali-kali. Tinggalkanlah seluruh suara kecuali suaraku, karena sesungguhnya aku adalah burung yang ditirukan suaranya, sedangkan orang selain aku adalah para pemburunya.

  1. Al-Buhturi berkata:

Peliharalah keselamatan perangaimu yang sempurna dari beberapa peristiwa dan situasi yang tidak menguntungkan.

  1. Abu Nuwas berkata:

Maka berlalulah, janganlah kauberi aku suatu pemberian. Pemberianmu dengan suatu kebaikan itu mengeruhkan kenikmatan yang ada padaku.

  1. Ash-Shimah bin Abdullah berkata:

Berhentilah, dan tinggalkanlah Najed dan para penghuninya yang terlindungi. Dan menurutku, sedikit sekali Najed itu ditinggalkan orang.

  1. Allah Swt. berfirman:

Hai kelompok jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, engkau tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuasaan. (QS Ar-Rahman: 33)

  1. Abuth-Thayyib berkata:

Wahai hati, sedikitkanlah kerinduan, sering kali aku melihatmu tulus mengasihi seseorang yang tidak mau membalas kasih sayangmu.

  1. Mihyar Ad-Dailami berkata:

Hiduplah sebagai teman seseorang yang disiplin, yang dapat dipercaya ketika ia pergi, atau hiduplah sebagai seorang diri.

  1. Al-Ma’arri berkata:

Hai anak-anak perempuan Al-Hadil, berbahagialah, atau berjanjilah untuk sedikit bersedih dengan menibahagiakan (orang lain). Alangkah beruntungnya kantu, kamu adalah wanita-wanita yang pandai memeli. hara kasih sayang dengan baik.

  1. 1. Buatlah beberapa contoh redaksi amar yang empat untuk maknanya yang hakiki!
  2. Buatlah dua contoh redaksi amar untuk makna takhyir!
  3. Buatlah dua contoh redaksi amar untuk niakna tahdid!
  4. Buatlah dua contoh redaksi amar untuk makna ta’jiz!
  1. Perhatikan redaksi amar berikut ini!

Bermainlah dan tinggalkanlah belajar! Kadang-kadang dua perintah di atas dimaksudkan untuk taubih (mencela), untuk irsyad (membimbing), atau untuk tahdid (menakutnakuti). Jelaskan dalam kondisi mukhathab yang bagaimana perintah tersebut sesuai dengan masing-masing maksud itu!

  1. Perhatikan redaksi amar berikut ini!

Berenanglah di laut. Kadang-kadang perintah di atas dimaksudkan untuk doa, untuk iltimas (tawaran), untuk ta’jiz, atau untuk irsyad. Jelaskan dalam kondisi mukhathab yang bagaimana perintah di atas sesuai dengan masing-masing maksud tersebut!

VII. Ubahlah kalam khabar berikut ini ke dalam kalam insya’ tharigah amar dengan memakai seluruh redaksinya!

Engkau terlalu pagi dalam kerjamu. Ali berangkat ke kebun. Diriku sabar menanggung berbagai beban derita. Seorang pemberani itu memegang pedang. Hisyam tetap pada kedudukannya. Muhammad meninggalkan senda gurau.

III. Uraikan kalimat berikut serta jelaskanlah segi balaghah dan bagusnya  rangkaian maknanya sesuai dengan pemahaman Anda! ”

Abu Muslim berkata kepada para panglimanya, “Penuhilah hatimu dengan keberanian, karena keberanian itu salah satu faktor penentu kemenangan. Perbanyaklah ingat kedengkian, karena hal itu akan membangkitkan semangat untuk menghadapi lawan. Dan tetaplah bersama dengan pasukan, karena hal itu merupakan benteng bagi seorang prajurit.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker