- Tasybih Dhimni .
- Contoh-Contoh
- Abu Tammam berkata:
Jangan kauingkari bila orang yang dermawan tiada memiliki kekayaan, sebab banjir itu adalah musuh bagi tempat yang tinggi.
- Ibnur-Rumi berkata:
Kadang-kadang seorang pemuda beruban, dan hal ini tidaklah menghe. rankan. Bunga (pun) dapat keluar pada dahan yang muda dan lembut
- Abuth-Thayyib berkata:
Barang siapa yang merendah, maka akan mudah ia menanggung kehi. naan. Luka bagi mayat tidak memberinya rasa sakit.
- Pembahasan Seorang penulis atau penyair dalam berparamasastra adakalanya memakai ungkapan tasybih bukan dalam bentuknya yang telah dikenal. Hal ini dilakukan untuk merangsang daya pikir, untuk menegakkan dalil atas hukum yang dikehendaki pada musyabbah, dan karena senang menyamarkan tasybih, sebab tasybih yang unik dan sa: mar itu lebih baligh mengena pada jiwa.
Perhatikanlah bait syair Abu Tammam, ia berkata kepada seorang wanita, “Janganlah kauingkari ketidakmampuan seorang dermawan dalam hal kekayaan karena hal itu bukanlah suatu hal yang mengherankan, sebab puncak-puncak gunung yang merupakan tempat tertinggi itu tidak dapat digenangi air banjir.” Apakah dalam kaJimat di atas tertangkap oleh Anda adanya suatu tasybih? Tidakkah Anda ketahui bahwa dalam kalimat itu si penyair secara implisit menyerupakan seorang dermawan yang tidak memiliki kekayaan dengan puncak gunung yang tidak pernah terlanda air banjir? Namun demikian, ia tidak dengan tegas menyatakan yang demikian, melainkan ia mengungkapkannya dengan kalimat tersendiri yang mencakup makna tersebut dalam bentuk bukti.
Pada contoh berikutnya Ibnur-Rumi menyatakan bahwa kadang-kadang seorang pemuda beruban sebelum usianya. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengherankan karena dahan yang masih baru dan lembut kadang-kadang berbunga. Dalam kalimat tersebut Ibnur Rumi tidak mengungkapkan tasybih yang jelas karena ia tidak berkata bahwa seorang pemuda yang telah beruban itu bagaikan dahan muda yang berbunga, melainkan ia menyatakan yang demikian secara implisit.
Abuth-Thayyib menyatakan bahwa orang yang terbiasa merendah akan mudah menanggung kehinaan dan tidak merasa sakit karenanya. Dugaan demikian, bukanlah suatu hal yang batil karena bila mayat dilukai, ia tidak akan merasa sakit. Kalimat ini mengandung tasybih, namun tidak tegas.
Dengan demikian, ketiga bait syair di atas mencakup beberapa unsur tasybih dan menyinggungnya, tetapi semua itu tidak terungkap dalam bentuknya yang telah kita kenal. Tasybih seperti ini disebut tasybih dhimni (penyerupaan secara implisit).
- Kaidah—kaidah
(9) Tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharaf-nya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hukum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.
- Latihan
Contoh Soal:
- Al-Mutanabbi berkata:
Syairku tentang mereka berdua (Amir dan ayahnya) sangat sesua ibarat seuntai kalung di leher seorang wanita cantik akan menjadi sangat indah.
b la berkata:
Dalam pembicaraanmu terkesan kebangsawananmu karena kuda yang istimewa itu dapat diketahui melalui ringkikannya.
- Jelaskan musyabbah, musyabbah bih, dan jenis tasybih pada kalimatkalimat berikut ini!
- Al-Buhturi berkata:
Dia sambil tertawa menghadapi para pendekar, sedangkan mereka takut kepadanya, mengingat pedang itu memiliki ketajaman dan kemilauan ketika dibabatkan.
- Al-Mutanabbi berkata:
Ada baiknya engkau melambatkan pemberian kepadaku. Awan yang paling cepat berjalannya adalah awan yang tidak mengandung air.
- la berkata:
Janganlah orang yang teraniaya merasa kagum dengan kebaikan pakaiannya, mayat yang terkubur merasa senang dengan kain kafannya yang bagus.
- Ta berkata:
Saya tidak termasuk mereka meskipun saya hidup di tengah-tengah mereka, ternyata tambang emas itu adalah debu.
- Abu Firas berkata:
Kaumku akan teringat kepadaku apabila mereka mengalami kesulitan dan kesusahan, pada malam yang gelap bulan purnama baru dirindukan.
- Orang-orang yang ingin bertemu dengannya berdesak-desakan di depan pintunya, sumber air minum yang tawar itu selalu dipadati oleh orang-orang.
- Jelaskan manakah tasybih sharih dengan jenisnya dan manakah tasybih dhimni nada kalimat-kalimat berikut!
- Abul Atahiyah berkata:
Engkau mengharapkan keselamatan, namun tidak kautempuh jalan. nya. Sesungguhnya perahu itu tidak dapat berlayar di atas tanah kering.
- Ibnur-Rumi berkata, menggambarkan tentang tinta:
Tinta Abu Hafsh adalah ‘air liur malam, seakan-akan ia adalah warna kuda yang hitam kelam. Tinta itu mengalir kepada ikhwannya bagaikan mengalirnya banjir, tanpa timbangan dan tanpa takaran.
- Seorang penyair berkata:
Celakalah bila ia memaniang dan bila berpaling, terasa seperti’ hunjaman anak-anak panah, sakit sekali mencabutnya.
- Orang mukmin itu cermin bagi orang mukmin lain.
- Al-Buhturi berkata dalam menyifati akhlak orang yang dipujinya:
Kebaikan akhlaknya yang menonjol itu bertambah-tambah ketika lingkungannya terdiri atas orang-orang yang kecewa dan tiada memiliki kemuliaan. Dan keindahan bintang-bintang yang besar itu akan sangat menonjol ketika muncul di tengah malam yang gelap.
III. Ubahlah tasybih-tasybih dhimni berikut ini menjadi tasybih-tasybih sharih (jelas).
- Abu Tamam berkata:
Bersabarlah terhadap ulah orang yang dengki, karena sesungguhnya kesabaranmu itulah yang memadamkannya. Api itu akan memakan dirinya sendiri bila tidak ada yang dilahapnya.
- Ia berkata:
Berlindung dengan cara menjauhkan diri darimu itu bukan harapan saya. Sesungguhnya hujan itu justru dirindukan bila tersembunyi.
- Abuth-Thayyib berkata:
Bila engkau berada di atas semua orang, padahal kamu salah satu dari mereka, maka sesungguhnya minyak kesturi itu sebagian dari darah kijang.
- Ia berkata:
Sungguh susah kamu berpindah dari kedudukan yang telah kamu per oleh. Bulan pun tidak pernah keluar dari garis edarnya.
- Ia berkata:
Semoga Allah melindungimu dari bidikan anak panah mereka, keliru. lah orang yang membidikkan anak panahnya ke bulan.
- Ia berkata:
Tak diingkari lagi kamu dapat melampaui orang lain. Kuda Arab pun tidak dapat dihindarkan dari berpacu.
- Ubahlah tasybih-tasybih sharih berikut ini menjadi tasybih-tasybih dhimni!
- Muslim bin Al-Walid berkata menggambarkan tuak yang dituangkan dari gucinya:
Seakan-akan tuak itu dengan cairannya yang berbuih adalah intan yang teruntai pada kalung emas.
- Ibnun-Nabih berkata:
Malam berjalan, sedangkan bintang-bintang berada pada posisinya masing-masing, seperti sebuah taman yang bunga-bunganya terapung di atas permukaan sungai.
- Basysyar bin Burd berkata:
Seakan-akan tebaran debu di atas kepala kita dan cahaya pedang-pe dang kita adalah malam yang bintang-bintangnya berjatuhan.
- Bentuklah tasybih dhimni dengan tiap dua tharaf berikut!
- Munculnya kebenaran setelah ia tersembunyi, dan tampaknya matahari dari belakang awan.
- Berbagai musibah itu menampakkan keunggulan orang yang mulia, dan api itu menambah bersihnya emas.
- Ancaman seorang dermawan yang disusul dengan pemberian, dan kilat yang disusul dengan turunnya hujan.
- Kata-kata yang tidak dapat dicabut kembali, dan anak panah yang telah lepas dari busurnya itu sulit untuk kembali.
- Buatlah dua tasybih dhimni!
Yang pertama menerangkan tentang sebuah kebun, dan yang kedua menggambarkan kapal terbang.
VII. Uraikan kata-kata Abu Tamam berikut ini dan jelaskan jenis tasybihnya!
Abu Tamam meratapi kedua anak kecil Abdullah bin Thahir.
Penyesalanku adalah terhadap tanda-tanda kecerdikan dan kegeniusan mereka berdua seandainya diberi kesempatan hingga menjadi matang. Sesungguhnya bila engkau melihat perkembangan hilal, maka engkau yakin bahwa ia akan mejadi bulan purnama yang sempurna.


One Comment