Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

BAB III : KINAYAH

  1. Pembagian Kinayah
  1. Contoh-Contoh
  2. Orang Arab berkata:

Si Pulanah adalah wanita yang jauh tempat turun anting-antingnya.

  1. Al-Khansa berkata tentang saudara laki-lakinya, Shakhr:

Ia adalah orang yang panjang sarung pedangnya, tiangnya tinggi, dan banyak abu dapurnya bila ia bermukim.

  1. Penyair lain berkata tentang keutamaan Darul Ulum dalam menghidup-kembangkan bahasa Arab:

Binti Adnan menemukan padamu suatu tempat tinggal yang mengingatkannya daerah pedalaman orang-orang Badui.

  1. Seorang penyair lain berkata:

(Sungguh terpuji) orang-orang yang memukul dengan seluruh pedang tajam yang putih dan menusuk tempat berkumpulnya kedengkian

  1. Keagungan berada di kedua pakaianmu, dan kemuliaan itu memenuhi kedua baju burdahmu.
  1. Pembahasan

Yang dimaksud dengan tempat turun anting-anting adalah jarak antara ujung daun telinga dan pundak. Jadi, seakan-akan orang Arah tersebut mengganti ucapannya yang sebenarnya berbunyi:

(Sesungguhnya wanita itu panjang lehernya), namun ia menyampaikan kepada kita dengan ungkapan baru yang menunjukkan bahwa wanita itu bersifat panjang lehernya.

Pada contoh kedua, Khansa’ menyifati saudara laki-lakinya bahwa ia panjang sarung pedangnya, tiangnya tinggi, dan banyak abunya. Untaian kata-kata ini ia maksudkan untuk menunjukkan bahwa saudara laki-lakinya itu seorang pemberani, terhormat di lingkungan kaumnya, dan seorang dermawan. Jadi, ia mengemukakan sifat-sifat ini tidak dengan kata-kata yang sharih (jelas), melainkan dengan isyarat dan kinayah, karena panjangnya sarung pedang itu menunjukkan bahwa pemiliknya adalah jangkung, dan orang yang jangkung itu umumnya adalah pemberani. Selain itu, panjangnya tiang itu menunjukkan tingginya kedudukan di tengah-tengah kaumnya dan keluarganya, sebagaimana orang yang banyak abunya itu banyak membakar kayu bakar, lalu banyak memasak, lalu banyak tamunya, lalu ia adalah seorang pemurah. Karena untaian kata-kata yang telah diuraikan di atas itu merupakan kinayah dari sifat yang sesuai dengan maknanya, maka kata-kata tersebut serta yang serupa dengannya disebut kinayah ‘an sifat.

Pada contoh ketiga, penyair tersebut bermaksud untuk menyatakan bahwa bahasa Arab menemukan padamu, wahai madrasah, suatu tempat untuk mengingatkannya tentang masa keterasingannya. Namun, ia menggantinya dari ungkapan yang sharih itu dengan menyebut bahasa Arab dengan untaian kata yang mengisyaratkannya dan dianggap sebagai kinayah darinya, yaitu lafaz bintu Adnan (putri Adnan).

Pada contoh keempat, penyair tersebut bermaksud menyifati orang-orang yang dipujinya, bahwa mereka menusuk hati dalam peyang. Namun, ia memalingkannya dari ungkapan yang sharih kepada ungkapan yang lebih menyentuh jiwa, yaitu kata majaami’al-adhghaani (tempat berkumpulnya kedengkian) karena dari kata itu dapatlah dipahami keberadaan hati, yakni sebagai tempat berkumpulnya kedengkian, kemarahan, kesombongan, dan sebagainya.

Jadi, bila kita perhatikan kedua untaian kata-kata ini, yakni bintu Adnan dan majaami’al-adhghaani, maka kita dapatkan bahwa masing-masing untaian kata itu menjadi kinayah dari zat yang sesuai dengan maknanya. Oleh karena itu, masing-masing untaian kata di atas merupakan kinayah dari maushuf (sesuatu yang disifati), demikian juga setiap untaian kata yang menyerupainya.

Adapun pada contoh terakhir, pembicara bermaksud menisbatkan keagungan dan kemuliaan kepada orang yang diajak bicara. Namun, ia tidak menisbatkan kedua sifat itu secara langsung kepadanya, melainkan kepada sesuatu yang berkaitan dengannya, yakni dua pakaian dan dua selimut. Penisbatan yang seperti ini disebut dengan kinayah ‘an nisbah. Alamat yang paling menonjol dari kinayah ini adalah kata-katanya menjelaskan sifat atau sesuatu yang menunjukkan sifat, seperti kata-kata fii tsaubaihi asadun (Di dalam kedua pakaiannya terdapat singa). Contoh ini adalah kinayah dari penisbatan keberanian kepada orang yang bersangkutan.

Bila kita perhatikan kembali contoh-contoh kinayah di atas, maka akan kita dapatkan bahwa sebagian kinayah boleh jadi menunjukkan makna hakiki yang dipahami dari lafaz yang sharih, dan dalam sebagian kinayah tidak dapat demikian.

  1. Kaidah

(26) Kinayah adalah lafaz yang dimaksudkan untuk menunjukkan pengertian lazimnya. tetapi dapat dimaksudkan untuk makna asalnya.

(27) Ditinjau dari sesuatu yang berada di balik kinayah, maka kinayah ada tiga macam karena sesuatu yang dijelaskan dengan kinayah itu adakalanya berupa sifat, adakalanya berupa mau, shuf, dan adakalanya berupa nisbat.

  1. Latihan

Contoh Soal:

  1. Al-Mutanabbi berkata tentang pertempuran Saifud-Daulah dengan Bani Kilab:

la mendatangi mereka di sore hari, hamparan mereka adalah sutera. Dan ia mendatangi mereka di waktu pagi, dan hamparan mereka adalah tanah. Orang yang memegang batang tombak dari mereka, bagaikan orang yang memegang pacar (untuk mewarnai ujung-ujung jari).

  1. Ia berkata dalam memuji Kafur: –

Sesungguhnya dalam pakaianmu terdapat keagungan yang darinya terpancar sinar yang menyilaukan sinar-sinar lainnya.

Contoh Penyelesaian:

  1. Kinayah bahwa alas mereka itu sutera,menunjukkan kebangsawanan dan kemuliaan mereka: dengan kinayah bahwa alas mereka itu debu, menunjukkan kemiskinan dan kehinaan mereka. Jadi, kinayah pada kedua kalimat ini adalah kinayah tentang sifat.

Yang dimaksud dengan kinayah orang yang membawa batang tombak adalah orang laki-laki, sedangkan orang yang memegang pacar adalah orang perempuan. Al-Mutanabbi berkata bahwa laki-laki dan perempuan sama lemahnya dalam menghadapi serangan Saifud-Daulah. Kedua kinayah ini adalah kinayah tentang maushuf.

  1. Pada bait ketiga, Al-Mutanabbi bermaksud menetapkan keagungan bagi Kafur. Namun, ia tidak mengutarakan maksudnya itu dengan ungkapan yang Sharih, melainkan menetapkan keagungan itu kepada sesuatu yang berkaitan dengannya, yakni pakaiannya. Jadi, kinayahnya adalah tentang nisbat.
  1. Jelaskanlah sifat yang sesuai dalam setiap kinayah berikut!
  1. Kami adalah orang yang banyak tidur di waktu dhuha (orang kaya).
  1. Ia meletakkan tongkatnya (berhenti untuk istirahat).
  1. Wanita itu orang yang lembut kedua telapak tanganya (orang kaya).
  1. Pulan menghentakkan giginya (marah). .
  1. Banyak ditunjuk oleh jari-jari telunjuk (orang terkenal).
  1. Akhirnya ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangannya itu kosong (usaha yang susah, tidak membawa hasil).
  1. Ia naik dua sayap burung unta (cepat larinya).
  1. Malam-malam itu menjadikannya menempelkan telapak tangan ke tongkatnya (tiada pernah berhenti berjalan sepanjang malam).
  1. Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati kudanya:

Dan saya dapat membunuh seluruh binatang buas yang aku kejar dengan kudaku ini. Dan biasanya aku turun dari kuda yang sepertinya.

10,   Pulan tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (orang yang kuat berjalan).

  1. Jelaskan maushuf yang dimaksud dalam setiap kinayah berikut!
  1. Suatu kaum pada hari perang kaulihat tombak-tombak mereka mencintai tempat-tempat persembunyian.
  1. Allah SWT. berfirman: –

Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam perhiasan, sedangkan ia tidak dapat memberikan alasan yang terang dalam pertengkaran? (QS Az-Zukhruf: 18)

  1. Al-Manshur berada di sebuah kebun pada hari-hari pertempurannya dengan Ibrahim bin Abdillah bin Al-Hasan” dan memandang pohon khallah, lalu berkata kepada Ar-Rabi “Ini pohon apa?” ArRabi’ menjawab: “Taat, wahai Amiral-Mukminin.”
  1. Seorang laki-laki lewat di halaman rumah Ar-Rasyid membawa seikat rotan. Maka Ar-Rasyid berkata kepada Al-Fadhl bin Arabi, “Apa itu?” Ar-Rabi’ menjawab, “Itu adalah tali-tali pengikat ujung tombak.” Ia tidak senang mengatakan Khizuran (rotan) karena sama dengan nama ibu Ar-Rasyid.
  1. Abu Nuwas berkata tentang khamr:

Ketika kami meminum khamr dan pengaruhnya mulai merayap menelusuri syaraf-syarafku, maka aku berkata kepadanya, “Berhentilah!”

  1. Al-Ma’arri berkata tentang pedang:

Tempaan api itu tipis lagi ramping, sehingga seakan-akan bapaknya telah menurunkan kepadanya penyakit TBC.

  1. Umur si Pulan telah tua dan datanglah kepadanya peringatan,
  1. Seorang Arab Badui ditanya tentang sebab penuhnya uban menjawab, “Ini adalah buih usia muda.”
  1. Seorang Arab Badui lain ditanya tentang hal yang sama. Mak, ia menjawab, “Ia adalah debunya kejadian-kejadian zaman.”
  1. Diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj berkata kepada Al-Ghadhaban bin AlQaba’tsara, “Aku benar-benar akan membawamu di atas adham (yakni akan menyeretnya dalam keadaan terbelenggu)” Al-Ghadhaban menjawab, “Orang yang sederajat dengan amir (tuan) pantas memberikan kendaraan adham (kuda hitam) dan asyhab (kuda blonde).” Al-Hajjaj berkata, “Aku bermaksud al. hadid (rantai).” Al-Ghadhaban menjawab, “Al-hadid (kuda yang energik) benar-benar lebih baik daripada al-balid (kuda yang loyo).” (Akhirnya Al-Hajjaj memaafkannya, padahal sebe. lum itu ia bermaksud akan menghukumnya. Berkat kecerdikannya, Al-Ghadhaban akhirnya selamat dari Al-Hajjaj yang terkenal kejam dan berdarah dingin itu).

III. Jelaskan nisbat yang sesuai dalam setiap kinayah berikut!

  1. Sesungguhnya kemurahan, kewibawaan, dan kelembutan itu terdapat dalam kubah yang dibuat untuk Ibnul-Hasyraj.
  1. Seorang Arab Badui berkata:

Aku memasuki kota Bashrah, maka tatkala itu pakaian orang-orang merdeka dipakai oleh para hamba.

  1. Seorang penyair berkata:

Barakah itu mengikuti bayang-bayangnya, dan keagungan itu berjalan mengikuti kendaraan tunggangannya.

  1. Jelaskan macam-macam kinayah berikut dan sebutkanlah makna yang dimaksud dengannya!
  2. Seorang Arab Badui memuji seorang khatib:

Ia basah lisannya dan sedikit geraknya.

2 Yazid bin Al-Hakam memuji Al-MuhallabV.

Dalam kepemimpinanmu terdapat kemurahan, keagungan, keutamaan perdamaian, dan kedudukan.

  1. Orang Arab berkata:

Si Pulan adalah orang yang panjang hastanya, bersih pakaiannya, suci sarungnya, dan bersih hatinya.

  1. Al-Buhturi berkata, menggambarkan keadaannya setelah membunuh seekor serigala:

Maka saya mengikutkan tusukan dengan tusukan yang lain dengan menghunjamkan mata pedangku ke arah jantung hati dan kedengkiannya.

  1. Penyair lain berkata dalam meratapi seseorang yang mati kare. na suatu penyakit di dadanya:

Dan suatu penyakit bergerak dengan jahatnya di tempat kesabarannya, seperti gerakan ular shilal (ular kecil berbisa dan sangat berbahaya).

  1. Seorang Arab Badui menyifati seorang wanita:

Ia mengulurkan ekornya di atas urat tumit burung unta.

  1. Jelaskan macam kinayah-kinayah berikut dan jelaskan penafsiran yang tepat darinya serta penafsiran yang tidak benar!
  1. Seorang Arab Badui menyifati seseorang yang jelek pergaulannya:

Ketika ia melihatku, maka ia mendekatkan alisnya ke alisku.

  1. Abu Nuwas memuji seseorang:

Kemurahan tidak melewatinya dan tidak pula menghalanginya. Akan tetapi, kemurahan itu berjalan bila ia berjalan.

  1. Orang Arab menjuluki orang yang terang-terangan memusuhi orang lain:

Ia memakaikan kepadanya kulit macan, kulit ular belang, dan membalikkan muka perisai terhadapnya. .

  1. Pulan panjang bantalnya lehernya) dan tebal rambut tengkuknya.
  1. Seorang penyair berkata:

Gelang-gelang kaki menghiasi kaum wanita, namun saya tidak pernah melihat gelang kaki Ramlah yang menghiasinya.

  1. Orang Arab berkata tentang orang yang dipuji:

Kemurahan ada di tengah-tengah pakaiannya. Mereka berkata, “Pulan membesarkan kedua ujung bibirnya (yakni sombong), (ia) hidungnya membengkak bila marah.”

  1. Seorang Arab Badui berkata kepada sebagian penguasa:

Aku mengadu kepadamu tentang sedikitnya tikus.

  1. Seorang penyair berkata:

Putihnya (kebersihan) dapur itu karena wanita-wanitanya tidak memasak kendil dan tidak mencuci sapu tangan.

  1. Penyair lainnya berkata:

Kebersihan dapur Daud itu paling serupa dengan tahta Bilgis. Pakaian para juru masaknya bila kotor, masih lebih putih daripada kertas.

  1. Penyair lain berkata:

Ia adalah seorang pemuda yang sedikit makan dan minumnya serta wewangiannya, dan bersih gelasnya, mangkoknya, sapu tangannya, dan periuknya.

  1. Uraikan syair berikut ini dan jelaskanlah macam kinayahnya!

Maka tidak berdiri di atas tumit kami dengan luka-luka yang berdarah, melainkan kami berdiri di atas telapak kaki yang bercucuran darah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker