Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

A.2 Pembagian Isti’aarah Ashliyyah dan Taba’iyyah

  1. Contoh-Contoh
  2. Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati kalam:

Lidah pena itu meludahkan kegelapan di siang hari dan ia paham apaapa yang dikatakan seseorang tanpa melalui pendengaran.

  1. Ia berkata ketika berbicara dengan Saifud-Daulah:

Aku cinta kamu, wahai matahari dan bulan zaman ini, sekalipun bintang-bintang yang samar dan yang jauh mencaci-makiku karena menyukaimu.

  1. Al-Ma’arri bersyair dalam ratapannya:

“Seorang pemuda yang mencintai tuak Babil, di suatu masa kerinduan, nya tidak akan dapat disembuhkan oleh kecupan dan ciuman.

  1. Allah Swt. berfirman:

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh. luh (Taurat) itu: dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmar untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. (QS Al-A’raf: 154)

  1. Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati singa:

Apabila si merah itu datang ke Danau (Thabriyah) untuk minum, maka raungannya sampai ke Sungai Furat dan Nil.

  1. Pembahasan Pada tiga bait pertama terdapat isti’aarah tashriyyah dan makniyyah. Pada bait pertama, pena (kata ganti pada lafaz lisaanuhu) diserupakan dengan manusia, lalu musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan dengan salah satu sifat khasnya, yaitu lidah. Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah makniyyah. Tinta diserupakan dengan gelap karena sama-sama hitam dan dipinjamkan lafaz yang menjadi musyabbah bih sebagai musyabbah untuk menjadi isti’aarah tashrihiyyah. Kertas diserupakan dengan siang hari karena sama-sama putih, lalu lafaz yang menjadi musyabbah bih dipinjamkan sebagai musyahbah untuk menjadi isti’aarah tashrihiyyah.

Pada bait kedua, Saifud-Daulah diserupakan dengan matahari dan bulan karena sama-sama berkedudukan tinggi dan jelas..Kemudian lafaz yang menjadi musyabbah bih, yakni asy-syams dan al-badr, dipinjam sebagai musyabbah untuk membuat isti’aarah tashriyyah pada kedua kata itu. Orang-orang yang di bawahnya diserupakan dengan bintang-bintang yang tersembunyi dan bintang yang jauh karena sama-sama kecil dan tidak jelas. Kemudian lafaz yang menjadi musyabbah bih itu dipinjam sebagai musyabbah untuk membuat isti’aarah tashrihiyyah pada kedua kata tersebut.

Pada bait ketiga, perempuan diserupakan dengan tuak Babil. Kemudian musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan dengan salah satu sifatnya, yakni kata ‘asyigat-hu (rindu kepadanya) untuk membuat isti’aarah makniyyah.

Bila kita perhatikan kembali pembuatan seluruh isti’aarah di atas, maka akan kita temukan bahwa dalam pembuatan isti’aarah tashrihiyyah kita hanya meminjam lafaz yang menjadi musyabbah bih untuk menggantikan musyabbah, dan dengan langkah ini isti’aarahnya sudah sempurna. Dalam membuat isti’aarah makniyyah kita cukup membuang musyabbah bih: sebagai isyaratnya kita tetapkan salah satu sifatnya, dan dengan langkah ini isti’aarah juga telah sempurna. Bila kita perhatikan lagi, maka lafaz-—lafaz isti’aarah-nya bukan lafaz musytag (dibentuk dari kata dasar), melainkan merupakan kata jamid (kata benda yang tidak memiliki kata dasar). Isti’aarah yang demikian disebut isti’aarah ashliyah.

Selanjutnya kita perhatikan kedua contoh berikutnya. Maka akan kita temukan bahwa keduanya mengandung isti’aarah tashrihiyyah. Dalam pembuatannya adalah berhentinya kemarahan diserupakan dengan diam karena sama-sama tenang, lalu lafaz yang menjadi musyabbah bih, yakni as-sukut (diam) dipinjam sebagai ganti musyabbah, yaitu selesainya kemarahan, lalu dari kata dasar as-sukut dibentuk kata kerja, yaitu sakata dengan makna inta-haa (selesai).

Sampainya raungan singa ke wilayah Sungai Furat diserupakan dengan sampainya air karena sama-sama mencapai tujuan. Lalu lafaz yang menjadi musyabbah bih, yaitu kata warada, dipinjam sebagai ganti musyabbah, yaitu sampainya suara. Jadi, kata warada bermakna washala.

Bila kita bandingkan pembuatan kedua isti’aarah terakhir ini dengan pembuatan isti’aarah-isti’aarah sebelumnya, maka kita dapatkan bahwa pembuatan isti’aarah yang kedua ini tidak hanya dengan meminjam musyabbah bih sebagai ganti musyabbah, sebagaimana cara pembuatan isti aarah-isti aarah sebelumnya, melainkan lebih dari itu, yaitu membentuk kata lain dari kata dasar yang menjadi musyabbah bih itu, dan lafaz-lafaz isti’aarah jenis kedua ini semuanya ntustag. bukan jamid. Isti’aarah yang demikian disebut sebagai isti’aarah taba’iyah karena fungsinya dalam bentuk musytag sama dengan fungsinya dalam bentuk mashdar (kata dasar).

Bila kita kaji kembali kedua contoh terakhir, akan kita dapatkan pengetahuan baru. Pada contoh pertama terdapat kata-kata walaniniaq sakata ‘an Musaa al-ghadhabu. Pada kata-kata ini al-ghadhab (kemarahan) dapat diserupakan dengan manusia, lalu musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan dengan salah satu sifatnya, yaitu sakata (diam) sehingga pada kata al-ghadhab pada isti’aarah makniyyah. Pada contoh kedua terdapat kata-kata waradal-furaata za’itruhuu (maka raungannya sampai ke wilayah Sungai Furat). Padanya kata az-z’iir (raungan) dapat diserupakan dengan hewan, lalu dibuang dan diisyaratkan dengan salah satu sifatnya, yaitu kata warada. Dengan demikian, kata za’iiruhuu adalah isti’aarah makniyyah. Demikian hal nya pada setiap isti’aarah taba’iyyah, karinah-nya dapat berupa isti’aarah makniyyah. Hanya saja kita tidak dapat membuat isti’aarah kecuali pada salah satu dari kedua isti’aarah (tashrihiyyah dan makniyyah), tidak dapat pada keduanya.

  1. Kaidah-Kaidah

(14) Isti’aarah disebut sebagai isti’aarah ashliyyah apabila isim (kata benda) yang dijadikan isti’aarah berupa isim jamid.

(15) Isti’aarah disebut sebagai isti’aarah taba’iyyah apabila lafaz yang dijadikan isti’aarah berupa isim musytag atau fi’il (kata kerja).

(16) Karinah pada isti’aarah taba’iyyah adalah makniyyah, namun bila isti’aarah taba’iyyah ini diberlakukan pada salah satu dari keduanya, maka tidak dapat dibuat pada yang lainnya.

  1. Latihan-Latihan
  1. Masa menggigitku dengan taringnya, aduhai seandainya gigi taringnya terkena penyakit.
  1. Al-Mutanabbi berkata:

Saya menyampaikan kepadanya sebuah taman dari lisanku yang disiram dengan akal seperti siraman hujan terhadap taman.

  1. Penyair lain berkata dalam menyeru seekor burung:

Engkau berada di taman hijau yang tertawa karena tangisan awan yang tebal.

Contoh Penyelesaian:

  1. Masa disamakan dengan hewan buas karena sama-sama menyakitkan, lalu musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan oleh salah satu sifatnya, yaitu adhdha (menggigit). Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah makniyyah ashliyyah.
  1. Syair diserupakan dengan taman karena sama-sama memiliki keindahan, lalu kata yang menjadi musyabbah bih dipinjam untuk menggantikan musyabbah. Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah tashrihiyyah ashliyyah. Akal diserupakan dengan hujan karena sama-sama bermanfaat, lalu musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan oleh salah satu sifatnya, yaitu sagaa. Jadi, isti’aarahnya adalah isti’aarah makniyyah ashliyyah.
  1. Berbunga disamakan dengan tertawa karena sama-sama memutih. Lalu lafaz yang menjadi musyabbah bih dipinjam sebagai ganti musyabbah. Kemudian dari kata adh-dhahk diambil kata musytag-nya, yaitu dhaahikah dengan makna muzhirah (berbunga). Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah tashrihiyyah taba’iyyah. Dapat juga kita lihat sisi lain dari isti’aarah ini, dan kita berpegang kepada karinah-nya, yaitu bumi yang menghijau diserupakan dengan manusia, lalu musyabbah bih-nya dibuang dan diisyaratkan dengan salah satu sifat khasnya, yaitu dhaahikah. Jadi lah isti’aarah makniyyah.

Turunnya hujan diserupakan dengan menangis karena sama-sa ma meneteskan air, lalu lafaz yang menjadi musyabbah bih dipin. jam untuk menjadi ganti musyabbah. Jadi isti aarah-nya adalah. isti’aarah tashrihiyyah ashliyyah. Dapat juga dibuat isti’aarah mak niyyah pada kata al-‘aaridh.

  1. Bedakan antara isti’aarah ashliyyah dan isti’aarah taba’iyyah pada kalimat-kalimat berikut ini!
  2. As-Sariyyur-Rafa’ berkata dalam menyifati syairnya:

Ketika pada suatu hari syairku berjabatan tangan dengan beberapa pendengaran, maka tersenyumlah beberapa hati.

  1. Ibnur-Rumi berkata:

Di suatu negara baru, saya bergaul dengan para pemudi dan anakanak kecil, sedangkan saya memakai pakaian hiburan yang baru.

  1. Ia berkata:

Melalui aku kau mendapat penghormatan dari angin utara yang berputar di sebuah taman, menebarkan bau yang sedap lagi semerbak.

Angin itu bertiup menjelang pagi, maka sebatang dahan berbisik kepadanya, sedangkan burung-burung bersahut—sahutan secara terang-terangan.

4, Al-Buhturi berkata dalam menyifati tentara:

lApabila senjata telah memerangi medan perang, maka musuh akan melihat daratan yang padanya lautan besi berkilauan.

  1. Ibnu Nubatah As-Sa’di berkata dalam menyifati kuda yang berbelang putih pada dahinya:

Dan tiba-tiba malam akan senantiasa menyelimutinya, dan di antara kedua matanya terbit bintang Suraya.

  1. At-Tihami berkata dalam meratapi anaknya: Wahai bintang, apakah yang membuatnya pendek umur, dan begitulah umur bintang-bintang pagi.
  1. Asy-Syarif berkata tentang uban:

Sinar telah tersebar di kehitaman rambut kepalaku, aku tidak akan menggunakannya sebagai obor dan lampu. Aku menjual Masa muda dengannya sebagai tanda cinta kepadanya Suatu perdagangan orang yang tahu bahwa ia tidak akan beruntung.

  1. Al-Buhturi berkata dalam menyifati sebuah istana:

Dinding-dindingnya memenuhi areal, dan ketinggiannya menjulang menembus awan yang mengandung hujan.

  1. Ia berkata dalam menyifati sebuah taman:

Waktu dhuha mengajaknya tertawa di suatu masa dan di masa lain hujan mengalir deras kepadanya.

  1. Ia berkata tentang uban:

Banyak rambut kurindukan kehitamannya, tetapi uban tidak memberi ampun dan maaf kepadaku untuk mendapatkannya.

  1. Ibnut-Ta’awidzi berkata dalam menyifati sebuah taman:

Ranting-ranting dahan tampak semangat, dan tipuan angin kepadanya lemah lembut.

  1. Mihyar berkata:

Tidak ada orang yang bersenang-senang di malam yang mesra tersesat pada waktu fajar, semuanya jelas di kepalaku.

  1. Ubahlah isti’aarah-isti’aarah taba’iyyah berikut ini menjadi isti’aarah ashliyyah!

1.Apabila kedua mataku hujan deras, maka karena beberapa kilat bersinar di ujung kepalaku.

  1. Sesungguhnya berjauhan itu tidak membahayakan apabila hati masih tetap dekat.
  1. Ibnul Mu’taz berkata dalam menyifati awan:

Ia menangis dan bertemu bumi dengan mengulurkan talinya, sedangkan kilatnya tertawa.

III. Ubahlah isti’aarah-isti’aarah ashliyyah berikut menjadi isti’aarah taba’iyyah!

  1. Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang rela merobohkan agamanya untuk membangun dunianya.
  1. Membeli jiwa dengan berbuat kebaikan itu lebih baik daripada menjualnya dengan permusuhan.
  1. Sesungguhnya keterlibatan seseorang dalam hal yang bukan urusannya dan ia lari dari kebenaran adalah salah satu sebab kefrustrasiannya (kegagalannya).

Sebagus-bagusnya perhiasan bagi masa muda adalah mengekang nafsu ketika keras kepala.

  1. Buatlah enam buah isti’aarah, tiga buah isti’aarah ashliyyah, dan tiga buah isti’aarah taba’iyyah!
  1. Uraikan syair As-Sariyyur-Rafa’ berikut ini dalam menyifati timba be-sar, dan jelaskan jenis isti’aarahnya! –

Maka dari kebun engkau melihat bunga yang tersenyum dan air yang tercurah tidak pada waktunya. Seakan-akan timba siramannya ketika merintih adalah pengembara yang jauh yang sudah merindukan kampung halamannya. Ia menangis ketika bunga-bunga di taman itu disakiti oleh mendung yang menjadi orang tuanya, maka ia menjadi bapaknya. Ig cekatan dalam menjalankan tugas. Hal itu tidak menjadikannya menjauh dari tempat itu dan tidak menjadikannya tampak kepayahan. Ia senantiasa dengan penuh kesungguhan mencari pemberian laut bagi daratan hingga daratan itu segar dan berhiaskan bunga dan rumput.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker