Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

A.3 Pembagian Isti’aarah kepada Murasysyahah, Mujarradah, dan Muthlagah

  1. Contoh-Contoh
  1. 1) Allah Swt.berfirman:

Mereka adalah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya. (QS Al-Baqarah: 16)

2) Al-Buhturi berkata:

Mereka menyampaikan penghormatan dari kejauhan kepada bulan dari tempat yang tinggi di daerah pedalaman.

3) Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami, ketika air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang kamu) ke dalam bahtera. (QS AlHaggah: 11)

1) Al-Buhturi berkata:

Saya melihat kematian itu bila telah dilihatnya bahwa kamu beruban, maka ia jadikan kamu sebagai. sasaran anak panahnya yang telah direntangkan.

2)  Polan adalah orang yang paling hebat tulisannya ketika penanya minum tinta dan menari di atas kertasnya.

3) Ouraizh bin Unaif  berkata:

Bila kejelekan menampakkan kedua taringnya kepada suatu kaum maka mereka akan meyerangnya secara berkelompok dan sendiri. sendiri. 2. Pembahasan . Pada contoh-contoh bagian a terdapat beberapa isti’aarah tashrihiyyah, yakni lafaz isytarau bermakna ikhtaaruu (memilih), lafaz gamar dengan maksud orang yang dipuji, dan lafaz thaghaa bermakna bertambah atau naik. Dan masing-masing isti’aarah memiliki karinah: karinah isytarau adalah lafaz adh-dhalaalata, karinah lafaz gamar adalah yu’adduuna at-tahiyyata, dan karinah thaghaa adalah lafaz al-maa’.

Bila kita perhatikan isti’aarah pertama, maka akan kita temukan kata-kata yang relevan dengan musyabbah bih —yang menjadi isti’ aarah—, dan kata-kata tersebut adalah famaa rabihat tijaaratuhum. De. mikian pula bila kita perhatikan isti’aarah kedua, akan kita temukan kata-kata minal-iiwaani baad. Dan bila kita perhatikan isti’aarah ketiga, kata-kata serupa tidak kita temukan.

Tiga contoh pada bagian b terdapat beberapa isti’aarah makniy. yah, yakni dhamir pada lafaz ra’at yang kembali kepada lafaz al-ma. naayaa yang diserupakan dengan manusia, lafaz al-galam yang diserupakan dengan manusia juga, dan lafaz asy-syarr yang diserupakan dengan binatang buas. Dan masing-masing memiliki karinah, pada isti’aarah pertama kematian dikatakan melihat, pada isti’aarah kedua galam dikatakan minum dan menyanyi, dan pada isti’aarah ketiga kejelekan dikatakan menampakkan kedua taringnya.

Bila kita perhatikan, maka akan kita lihat bahwa pada isti’aarah yang pertama terdapat kata-kata yang relevan dengan musyabbah bih, yaitu kata-kata ja’alatka marma nabliha. Pada isti’aarah kedua terdapat kata-kata yang relevan dengan musyabbah, yaitu kata-kata dawaatihii dan girthaasihii, sedangkan pada isti’aarah ketiga tidak terdapat katakata yang demikian. Isti’aarah macam pertama disebut dengan isti’aarah murasysyahah, isti’aarah macam kedua disebut isti’aarah mujarradah, dan isti’aarah macam ketiga disebut isti’aarah muthlagah.

  1. Kaidah-Kaidah

(17) Isti’aarah Murasysyahah adalah isti’aarah yang disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musyabbah bih.

(18) Isti’aarah Mujarradah adalah isti’aarah yang disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musyabbah.

(19) Isti’aarah Muthlagah adalah isti’aarah yang tidak disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musyabbah bih maupun musyabbah.

(20) Suatu isti’aarah tidak dapat diklasifikasikan ke dalam isti’aarah murasysyahah maupun isti’aarah mujarradah sebelum sempurna disebut karinah-nya, baik lafzhiyyah maupun haliyyah. Oleh karena itu, karinah tashrihiyyah tidak dapat disebut sebagai ciri isH’aarah mujarradah, dan karinah isti’aarah makniyyah tidak dapat dijadikan sebagai ciri isti’aarah murasysyahah.

  1. Latihan

Contoh Soal:

  1. Akhlak Polan itu lebih lembut daripada napas angin timur ketika bercanda dengan bunga-bunga dataran tinggi.
  1. Bila ia binasa, maka setiap pemuka kaum akan berpindah dari dunia kepada kebinasaan.
  1. Sesunyguhnya saya sangat haus untuk bertemu denganmu.
  1. Banyak malam yang sakit dari segala penjuru, tiada bintang dan bulan yang meneranginya.
  1. Semoga Allah memberikan siraman dan memberi kami kehidupan melaluimu. Sesungguhnya pada punggung unta terdapat bunga, sedang. kan yang menaikinya adalah perawan pingitan.

Contoh Penyelesaian:

  1. Pada kata ash-shabaa (angin yang berhembus dari timur) terdapat isti’aarah makniyyah karena angin diserupakan dengan manusia dengan dibuang musyabbah bih-nya dan diisyaratkan dengan kata yang menunjukkan sifatnya yang khas, yakni kata anfaas yang menjadi karinah makniyyah. Dan pada kata ghaazalat terdapat ciri isti’aarah murasysyahah.
  1. Pada kata ‘amuud terdapat isti’aarah tashrihiyyah ashliyyah. Pemuka kaum diserupakan dengan tiang karena sama-sama menanggung beban, dan karinah-nya adalah kata yahlik (binasa). Dan pada kata-kata ilaa hulkin yashiiru terdapat ciri isti’aarah mujarradah.
  1. Kerinduan diserupakan dengan kehausan karena sama-sama memandang sesuatu yang dituju. Maka isti’aarah-nya adalah isti’aarah tashrihiyyah ashliyyah. Karinah-nya adalah kata-kata ilaa ligaa-ika. Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah muthlagah.
  1. Pada kata maridhat terdapat isti’aarah taba’iyyah, yakni diserupakannya kegelapan dengan sakit karena sama-sama tidak jelasnya aktivitas yang berlangsung. Lalu dibentuklah kata maridhat dari kata dasar al-maradh. Maka isti’aarah-nya adalah isti’aarah tashrihiyyah taba’iyyah. Dan pada kata-kata maa yadhii-u lahaa najmun walaa gamarun terdapat ciri isti’aarah mujarradah.
  1. An-naur adalah bunga atau bunga putih, dan yang dikehendaki dengannya adalah wanita karena sama-sama indah. Maka isti’aarah-nya adalah isti’aarah tashrihiyyah ashliyyah. Dengan penyebutan kata al-khuduur, terdapat ciri isti’aarah mujarradah, dan pada penyebutan kata al-kamaa-im terdapat ciri isti’aarah murasysyahah. Jadi, isti’aarah-nya adalah isti’aarah muthlagah.
  1. As-Sariyyur Rafa’ berkata:

Tangan-tangan musim semi telah menulis beberapa lembar, seakanakan keindahan pohon yang tinggi itu adalah tulisannya (wanita/kekasih).

  1. Bila waktu telah membusungkan dadanya kepada sejumlah manusia, maka ia akan menimpakan cobaan kepada kaum lainnya.
  1. Al-Mutanabbi berkata dalam mencela Kafuur:

Para penjaga tanaman Mesir tertidur tanpa menghiraukan musangmusangnya yang telah buncit sekalipun tandan-tandan (kurma, anggur, dan sebagainya) tidak habis.

  1. Seorang penyair menyifati suatu peperangan:

Kematian itu menyerbu suatu golongan manusia dengan dikawal para prajuritnya yang terdiri atas pedang tajam dan tombak runcing.

  1. Saya melihat sinar matahari laksana perangkap para pemburu yang mengurung kita dari segala penjuru.

Ke mana pun kita berada, ia selalu bersama kita, namun kematian itu sangat haus dan lapar, dan senantiasa memperhatikan kedatangan dan kepergian kita.

  1. Al-Mutanabbi berkata:

Orang-orang dahulu mendapatkan zaman ketika masih muda sehingga mereka mendapatkan kesenangan darinya, sedangkan kita mendapatkan zaman telah tua lagi pikun.

  1. Abu Tamam berkata:

Kegelisahanku tidur meninggalkan aku setelah aku berkata kepadanya, “Inilah Abu Dullaf (seorang pemberani) yang mencukupi segala kebutuhanku.”

  1. Hati-hatilah engkau membunuh masa mudamu, karena setiap pembunuhan itu ada gishash (balasan)-nya.
  1. Sebagian penyair berkata dalam menyifati kitab:

Kami punya teman yang kami tidak pernah bosan dengan ceritanya. Mereka sangat pintar dan dapat dipercaya, baik ketika kami tinggal pergi maupun ketika kami di rumah.

  1. Abu Tamam berkata:

Ketika aku mengajukanmu untuk menghadapi bahaya, ternyata akulah yang dapat menumpasnya. Pedang itu tidak dapat membelamu sebelum terhunus.

  1. Si Pulan telah berlumuran aib dan cela yang tidak dapat dibersihkan untuk selama-lamanya.
  1. Jelaskanlah macam-macam isti’aarah-isti’aarah berikut dan jelaskan pula ciri-ciri isti’aarah mujarradahnya! ..
  1. Semoga Allah mengasihi orang yang mengekang nafsunya dengan menjauhi segala keinginannya.
  1. Tukarkanlah kehormatanmu dengan perbuatan bajik agar selamat dari gangguan.
  1. Pendapatnya menerangi perkara yang sulit-sulit.
  1. Lidahnya terlepas dari ikatannya, maka bicaranya ringkas dan sulit ditiru.

5,  Matanya tidak pernah bercelak tidur karena gelisah dan bergadang.

  1. AI-Mutanabbi berkata:

Jarak yang jauh telah memisahkan diriku dari wanita-wanita (yang bermata jeli bagaikan) kijang-kijang. Akan tetapi, (hatiku terhibur) oleh kain kelambu dan cadar (mereka).

  1. Jangan menyelam ke dalam suatu percakapan yang kamu tidak berhak mendengarkannya.
  1. Janganlah kalian sering menggunjingkan kehormatan orang lain, karena sesungguhnya sejelek-jelek akhlak adalah mengumpat.
  1. Di antara kedua rahang bawahnya terdapat pedang tajam dan memiliki perkataan yang benar.
  1. Bumi berpakaian tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan.
  1. Kilat itu tersenyum, maka menerangi alam sekelilingnya.

III. Jelaskanlah apa sebab isti’aarah-isti’aarah berikut disebut isti’aarah muthlagah dan jelaskan macamnya!

  1. Seorang Arab Badui berkata tentang khamr:

Saya tidak akan minum sesuatu yang menjauhkan akalku.

  1. Al-Mutanabbi berkata memuji orang yang disanjungnya:

Wahai bulan, wahai laut, wahai mendung, wahai singa dari Syara, wahai pelindung, wahai laki-laki.

  1. Seorang Arab Badui menyifati musim paceklik:

Debu itu kering dan harta menjadi muram.

  1. “Allah Swt. berfirman:

Mereka itulah orang-orang yang menukar kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka: (QS Al-Baqarah: 175)

  1. Saya lihat (perahu-perahu bak) gunung-gunung yang membelah lautan.
  1. Berita itu menyebar di seluruh kota.
  1. Burung mendendangkan lagu-lagunya di atas dahan.
  1. Matahari muncul dari kelambunya.
  1. Waktu menyerang kita dengan prajuritnya yang terdiri atas siang dan malamnya.
  1. Jelaskan isti’aarah-isti’aarah berikut dengan menjelaskan ciri-ciri murasysyahah, mujarradah, dan muthlagahnya!
  1. Al-Mutanabbi berkata:

Di pipinya, ketika teman dekatnya bermaksud melakukan perjalanan, terdapat hujan yang menambah kelayuan pipi-pipi itu.

  1. At-Tihami berkata dalam menyanggah orang-orang yang dengki kepadanya:

Tiada dosa bagiku, aku telah bermaksud menyembunyikan kelebihankelebihanku,seakan-akan aku menutup terangnya sinar matahari.

  1. Abu Tamam berkata tentang orang yang dipujinya:

Kelaparan telah melanda pulau itu, maka.aku berkata kepada penghuninya: Tunggulah embunnya apabila kilat tidak bisa ditunggu hujannya.

4 Badruddin Yusuf Adz-Dzahabi berkata:

Mari teman, ke taman yang dapat menghibur seseorang yang susah dan lelah. Angin taman itu membentur ekornya dan bunga-bunganya tertawa di lengan bajunya.

  1. Ibnul Mu’tazz berkata:

Tidakkah Anda tahu berkah langit bagi bumi dan syukur taman-taman kepada hujan.

  1. Sa’id bin Humaid ( ) berkata:

Bulan purnama telah berjanji untuk datang malam hari. Maka apabila ia memenuhi janjinya itu, aku akan melaksanakan nazar-nazarku.

  1. Gunung datang mengunjungiku hingga aku merisa terganggu oleh omelannya.
  1. Seorang Arab Badui berkata:

Alangkah sulitnya mengubah pendapat ketika emosi, dan alangkah beratnya mengekang nafsu ketika usia puber.

  1. Seorang Arab Badui berkata dalam menyifati Bani Barmak:

Saya lihat mereka berpakaian kenikmatan, seakan-akan kenikmatan it, adalah salah satu pakaiannya.

  1. Buatlah isti’aarah-isti’aarah berikut ini masing-masing menjadi isti’aarah murasysyahah dan isti’aarah mujarradah!

Jangan menyandang riya’: Jangan mengejar orang yang membabi buta: Jangan meremehkan kasih sayang teman: Jangan kau berteman kejelekan: Jangan kamu tertipu ketika memandang semua urusan oleh fatamorgana, tetapi ikutilah cahaya selama di dunia ini: Hindarilah kegelapan: Apabila kamu terjatuh, maka bangunlah, janganlah putus asa: Ketika masa menerangimu, maka perindahlah dirimu, dan jangan muram.

  1. a. Buatlah enam isti’aarah tashrihiyyah yang terdiri atas isti’aarah murasysyahah, mujarradah, dan muthlagah!
  1. Buatlah enam buah isti’aarah makniyyah yang terdiri atas isti’aarah murasysyahah, mujarradah, dan muthlagah!

VII. Jelaskanlah bait-bait syair berikut dan jelaskanlah jenis keindahan bayannya! Asy-Syarif berkata dalam menyifati malam:

Banyak malam kuarungi dengan tergesa-gesa, padahal paginya berlindung di balik kegelapan. Fajar bermunculan di sekelilingnya, dan gelap pun terlepas dari tali kendalinya. Seakan-akan mendung yang berdesak-desakan adalah kuda, sedangkan kilatkilatnya sebagai kendalinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker