- Pembagian Tasybih
- Contoh-Contoh
- Bila aku rela, maka aku setenang air yang jernih: dan bila aku marah, maka aku sepanas api menyala.
- Aku berjalan pada suatu malam yang gelap dan menakutkan, bagaikan berjalan di tengah laut.
- Ibnur-Ruumi?) menyatakan dalam meresapi nyanyian seorang penyanyi:
Maka kemerduan suaranya yang mengalun itu sungguh bagaikan kantuk yang merayap ke seluruh persendian orang yang mengantuk.
- Ibnul Mu’tazz berkata:
Matahari yang bersinar itu sungguh bagaikan dinar (tuang logam) yang tampak kuning cemerlang berkat tempaan besi cetakannya.
- Kecepatan kuda balap itu bagaikan kilat yang menyambar.
- Kedudukanmu yang tinggi dan kemasyhuranmu bagaikan bintang yang tinggi lagi bercahaya. Semua mata, baik di belahan timur maupun barat, menatap ke arahmu.
- Al-Mutanabbi menyatakan tentang Saifud-Daulah yang hendak menempuh suatu perjalanan:
Ke manakah Tuan hendak menuju, wahai raja yang pemurah? Kami Adalah tumbuh tumbuhan pegunungan dan Tuan adalah mendung.
- Al-Muraggisy menyatakan:
fBaunya yang semerbak itu bak minyak kesturi, wajah-wajahnya yang berkilauan bak dinar (uang logam), dan ujung-ujung telapak tangannya merah bak pacar.
- Pembahasan
Dalam bait pertama, penyair menyerupakan dirinya dengan air jernih yang tenang di kala ia sedang rela, dan dengan api yang bergejolak ketika marah, yakni sebagai sesuatu yang disukai namun berpengaruh. Dalam contoh syair kedua, malam yang gelap dan menakutkan diserupakan dengan laut. Bila kita perhatikan kedua tasybih di atas, pada keduanya adat tasybih disebutkan. Setiap tasybih yang adat tasybih-nya disebutkan, dinamakan tasybih mursal. Dan bila kita perhatikan lagi pada keduanya, wajah syibeh-nya dijelaskan dan dirinci. Setiap tasybih yang demikian disebut tasybih mufashshal.
Pada contoh tasybih ketiga, Ibnur-Ruumi menggambarkan keindahan suara dan penampilan seorang penyanyi, seakan-akan keindahannya itu menyusup ke seluruh tubuh seperti menyusupnya rasa kantuk ke seluruh bagian tubuh. Akan tetapi, ia tidak menyebut wajah syibeh-nya dan hanya mengandalkan bahwa kita dapat menangkapnya sendiri, yakni memberi buaian dan hiburan sekaligus.
Ibnul Mu’taz menyerupakan matahari ketika terbit dengan dinar yang baru saja selesai dicetak. Ia tidak menyebutkan wajah syibeh-nya, yakni warna kekuning-kuningannya yang mengkilat. Kedua macam tasybih terakhir ini, yaitu yang tidak disebut wajah syibeh-nya, disebut sebagai tasybih mujmal.
Pada contoh kelima, kuda balap diserupakan dengan kilat yang menyambar dalam kecepatannya. Pada contoh yang keenam, seseorang yang dipuja diserupakan dengan bintang dalam hal tingginya kedudukan dan luasnya ketenaran. Dalam kedua contoh di atas tidak disebutkan adat tasybih-nya. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan anggapan bahwa pihak musyabbah adalah pihak musyabbah bih itu, sendiri. Tasybih seperti ini disebut sebagai tasybih mu’akkad.
Pada contoh ketujuh, Al-Mutanabbi bertanya kepada Orang yang dipujanya untuk mengungkapkan wibawanya. Ia menyatakan: Ke mana Tuan hendak menuju? Mengapa Tuan meninggalkan kami? Kamj tidak dapat hidup tanpa Tuan karena Tuan bagaikan mendung yang meng. hidupkan bumi yang mati, sedangkan kami bagaikan tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat hidup tanpa siraman hujan. Pada bait terakhir, Al-Muraggisy menyerupakan bau semerbaknya seseorang dengan minyak kesturi, menyerupakan wajah-wajah mere. ka dengan muka uang dinar, dan menyerupakan ruas ujung jari dengan pacar yang biasa dipakai untuk mewarnai kuku.
Bila kita perhatikan kedua contoh tasybih terakhir ini, maka keduanya termasuk jenis tasybih mu’akkad. Akan tetapi, dibuang adat tasybih dan wajah syibeh-nya. Hal ini disebabkan penyair bermaksud untuk berlebihan dalam menganggap bahwa musyabbah adalah musyabbah bih itu sendiri. Oleh karena itu, ia tidak mempergunakan adat tasybih yang memberi kesan bahwa musyabbah lebih lemah daripada musyabbah bih dalam wajah syibeh, di samping tidak menggunakan waJah syibeh yang memaksakan kesamaan kedua pihak dalam suatu sifat atau lebih dan tidak pada sifat yang lain. Tasybih seperti ini disebut sebagai tasybih baligh, yang merupakan salah satu sarana pengungkapan balaghah dan arena -»mpetisi yang leluasa bagi para pakar penyair dan penulis.
- Kaidah-Kaidah
(3) Tasybih mursal adalah tasybih yang disebut adat tasybih-nya.
(4) Tasybih mu’akkad adalah tasybih yang dibuang adat tasybih-nya.
(5) Tasybih mujmal adalah tasybih yang dibuang wajah syibeh-nya.
(6) Tasybih mufashshal adalah tasybih yang disebut wajah syibeh-nya.
(7) Tasybih baligh adalah tasbih yang dibuang adat tasybih-nya dan wajah syibeh-nya.


One Comment