- Latihan-Latihan
Contoh Soal:
- Al-Mutanabbi dalam memuji Kafur menyatakan:
Bila aku dapat meraih cintamu, maka harta tiada berharga, dan segala sesuatu yang di atas debu adalah debu.
- Seorang Arab Badui menyifati seseorang sebagai berikut:
Sungguh ia bagaikan siang hari yang cerah, dan bulan yang bercahaya tiada samar bagi setiap orang yang memandangnya.
- Kami menengok kebun, kebun itu sungguh indah dan agung bagaikan surga firdaus.
- Orang berilmu itu pelita bagi umatnya dalam memberi petunjuk dan menyirnakan kegelapan (kebodohan).
musang berguling). Termasuk pula ke dalam kategori ini ialah meng-idhafah kan musyabbah bih kepada musyabbah, sepert:
(si Pulan memakai pakaian kesehatan).
l Jelaskan macam tasybih dari tasybih-tasybih berikut!
- Al-Mutanabbi berkata:
Pedang itu sesungguhnya ialah yang berada di tangan orang-orang yang berhati membaja seperti pedang itu sendiri bila kedua belah pihak — bertemu di medan perang.
Dan engkau jumpai pedang tajam memutuskan seperti layaknya orang pengecut bila berada di tangan orang-orang pengecut.
- Al-Mutanabbi berkata tentang orang yang dipujanya:
Kebesaran amir (penguasa) itu menghiasi diriku sebagaimana langit menghiasi bumi, dan sanjunganku ini masih belum mengungkapkan semua kebaikannya.
- Ia berkata:
Tiada sepucuk surat pun kecuali dikawal oleh pedang, dan tiada utusan kecuali pasukan tempur yang banyak.
- Ta berkata:
Bila pemerintah cukup memanfaatkan seseorang dalam mengatasi suatu bencana, maka ia adalah pedang, telapak tangan, dan hati.
- Penyusun Kalilah wa dimnah menyatakan:
Seorang yang memiliki muru’ah (harga diri) itu dimuliakan meskipun tanpa harta, seperti singa, ditakuti meskipun ia diam dan menetap.
- Engkau memiliki perjalanan hidup seperti lembaran orang-orang baik, suci, dan bersih.
- Harta itu adalah pedang dalam kegunaan dan bahayanya.
- Allah Swt. berfirman:
Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan bagaikan gunung-gunung. (QS Ar-Rahman: 24)
- Allah Swt. berfirman:
… maka kamu lihat kaum (AXad) waktu itu mati bergelimpangan, seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang kosong (lapuk). (QS Al-Haaggah: 7)
- Al-Buhturi berkata tentang orang yang dipujanya:
Musim dingin yang mencekam telah berlalu, dan datanglah kepada kami musim yang serupa denganmu, yaitu musim semi yang baru. Dan hari raya telah dekat. Ia milik semua manusia hingga berlalu. Dan keberadaanmu merupakan ulangan hari raya.
- Allah Swt. berfirman:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit?
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tegak sedikit pun. (QS Ibrahim: 24—26)
- Allah Swt. berfirman:
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat—(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapislapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur: 35)
- Hati itu bagaikan burung dalam keramahannya ketika jinak.
- Seorang Arab Badui memuji seseorang:
Ia dapat bergoyang seperti goyangan pedang ketika bersukacita, dan ia — dapat garang segarang singa ketika marah.
- Seorang Arab Badui menyifati saudaranya seraya mengatakan:
Adalah saudaraku itu sebatang pohon yang tidak busuk buahnya dan laut yang tidak dikhawatirkan menjadi keruh.
- Al-Buhturi berkata:
Itu adalah gedung-gedung yang bercahaya, bagaikan bintang-bintang yang hampir-hampir menerangi bagi para pejalan kaki dalam kegelapan.
- Pendapat orang yang kokoh ilmunya lagi cermat, bagaikan neraca dalam ketelitiannya.
- Ibnut-Ta’awidzi berkata:
Bila petir menyambar, maka knukhayalkan sebagai singa jantan yang murka dan meraung-raung di mega.
- As-Siriyyur-Rafa mengatakan dalam menyifati lilin:
Ia kokoh dan mengingatkan kepada kita akan sosok tombak. Ia seakanakan umur pemuda, sedangkan apinya bagaikan ajal.
- Seorang Arab Badui berkata dalam mencela:
Menurutku si Pulan menjadi kecil oleh pandangannya yang mengagungkan dunia, seakan-akan seorang peminta-minta yang datang itu malaikat maut yang menemui.
- Seorang Arab Badui berkata kepada seorang penguasanya:
Jadikanlah aku sebagai salah satu tali pengekang yang Tuan gunakan untuk menggiring musuh.
- Seorang penyair berkata:
Banyak wajah yang seperti siang hari, menerangi jiwa-jiwa yang seperti malam hari. Jiwa-jiwa yang gelap
- Penyair lain berkata:
Engkau menyerupai musuh-musuhku, maka aku jadi mencintai Mereka karena posisiku terhadapmu adalah posisiku terhadap mereka.
- Al-Buhturi berkata tentang orang yang dipujinya:
la bagaikan pedang dalam ketegasannya, dan hujan dalam kemurahan. nya, dan singa dalam keberaniannya.
- Al-Mutanabbi berkata dalam menyifati syairnya:
Sesungguhnya syairku ini dalam dunia syair adalah malaikat yang berjalan. Jadi, ia adalah matahari, sedangkan dunia adalah tempat per. edarannya.
- Ia berkata tentang orang yang dipujinya:
Maka seandainya manusia diciptakan untuk selama-lamanya, niscaya mereka adalah kegelapan, dan kamu adalah siang hari.
- Ia berkata untuk memuji Kafuur:
Senjata yang paling ampuh yang disandang seseorang untuk diri sendiri adalah meminta pertolongan kepada Abil-Miski yang mulia.
- Kelurusan lahiriah dan kebengkokan batiniah si Pulan ibarat menara azan.
- As-Sariyyur-Rafa’ berkata:
Kolam-kolam yang dihiasi oleh bayangan bintang-bintang hingga terbaliklah keadaannya, seakan-akan permukaan bumi menjadi langitnya.
- Al-Buhturi berkata:
Kamu tampil dengan keutamaan dan keluhuranmu, maka kamu menjadi langit dan manusia menjadi bumi.
- Ia berkata tentang sebuah taman:
Dan seandainya mendung tidak menampakkan diri dengan air hujannya, niscaya kamu menjadi mendungnya.
- Dunia itu bagaikan sabit, lurusnya berada pada kebengkokannya.
33, Menjauhkan diri dari manusia adalah seperti menjauhkan diri dari makanan.
- Al-Ma’arri berkata:
Maka seakan-akan aku tidak merasakan bahwa malam mulai menjelang, bak anak kecil (baru lahir) kegelapannya, bagaikan masa puber.
Malamku ini bagaikan pengantin baru dari Sudan yang berhiaskan kg. lung dengan bermata mutiara. Pada malam ini rasa kantuk berlari dari kelopak mataku, dan pada ma. lam ini rasa aman lenyap dari hati penakut.
- Ibnut-Ta’awidzi berkata:
Mereka menunggang kuda-kuda hitam dan lampu-lampunya bak bu. lan-bulan sabit, mereka adalah bulan-bulan purnama, dan ujung. ujung tombak mereka adalah bintang-bintangnya.
- Ibnu Waki’ berkata:
Sinar fajar muncul dari kegelapan malam, bagaikan pedang yang terhunus dari sarungnya, dan malam mulai lenyap kegelapannya, bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaiannya.
- Ubahlah setiap kalimat tasybih dari kedua tasybih berikut ini menjadi tasybih mufashshal, mu’akkad. dan baligh!
Dan seakan-akan kilauan pedang-pedang itu adalah kilat-kilat, dan debu kuda mereka adalah mega yang gelap.
III. Ubahlah setiap tasybih dari kedua tasybih berikut menjadi tasybih mursal mufashshal dan tasybih mursal mujmal
Aku adalah api dalam puncak pandangan orang yang dengki dan adalah air yang mengalir di tengah-tengah sahabat.
- Ubahlah tasybih berikut menjadi tasybih mu’akkad mufashshal dan tasybih baligh! Tasybih berikut adalah menyifati dua laki-laki yang sepakat untuk melontarkan fitnah kepada masyarakat:
Bagaikan dua mata gunting, kamu berdua bergabung, padahal hanya perpecahan belaka akhirnya.
- Buutlah tasybih mursal mujmal dengan lafaz-lafaz berikut ini sebagai musyabbah-nya!
Air: benteng-benteng: bunga-bunga: bulan sabit: mobil, orang mulia: petir, hujan.
- Buatlah tasybih mu’akkad dengan lafaz-lafaz berikut sebagai musyabbah bih-nya!
Angin lembut: air jernih, surga abadi, menara babil: mutiara: bunga yang segar, api yang menyala, bulan purnama yang berkilauan.
VII. Buatlah tasybih baligh dengan lafaz-lafaz berikut ini sebagai musyabbah—nya!
Lisan: harta: kemuliaan, anak-anak, tempat-tempat hiburan, hina: kedengkian, pengajaran.
VIII. Uraikan pernyataan Ibnut-Ta’awidzi tentang sifat semangka berikut ini dan jelaskan macam tasybihnua!
Manis ludahnya, halal darahnya menurut seluruh agama, separo darinya adalah bulan purnama, dan bila kau bagi-bagi akan menjadi bulan sabit.
- Bandingkanlah dua rangkaian syair Abdul-Fath KusyajinD dalam menggambarkan dua taman berikut ini, lalu jelaskan macam-macan tasybihnya!
Dan taman itu puas dengan siraman hujan, sebagaimana seorang teman puas terhadap temannya. Taman itu meminjamkan bau wangi melalui tiupan angin, seakan-akan kekayaannya terdiri atas minyak kesturi yang disuling. Seakan-akan gerimis yang mengguyurnya adalah sisa-sisa air mata di pipi orang yang dirindukan.
Hujan yang deras kepada kita menandakan datangnya kehidupan yang su bur dan ceria. Maka kami menampakkan tumbuh-tumbuhan yang hijau dan segar, dengan dihiasi warna bunga-bunga merah dan putih. Bunga ughuwan tampak seperti perak murni, dan bunga narjis yang menebarkan bau wangi penuh kesegaran bagaikan mata yang tertunduk sayu dihinggapi kantuk, kemudian tertutup rapat.
- Buatlah suatu kalimat yang mengandung dua tasybih mursal mujmal dan dua tasybih baligh menggambarkan hujan deras di malam hari! .


One Comment