Balaghah

Terjemahan Kitab Balaghah Wadhihah

BAB IV : PENGARUH ILMU BAYAN DALAM MENYUSUN BEBERAPA MAKNA

Telah kita ketahui pada pelajaran-pelajaran terdahulu bahwa suatu makna dapat disampaikan dengan beberapa uslub dan cara yang berbeda-beda. Dan kadang-kadang makna itu tersusun dalam salah satu bentuk kalimat yang menarik, yakni tasybih, isti’aarah, majaz mursal, majaz agli, dan kinayah. Seorang penyair menyifati seseorang yang pemurah:

Para raja menginginkan kedudukan seperti Ja’far, padahal mereka:tidak melakukan apa yang ia lakukan. Ia tidak lebih kaya daripada mereka, tetapi kebaikannya lebih luas daripada mereka. Kalimat ini adalah kalimat yang sangat baligh (jelas, fasih, dan sesuai dengan situasi dan kondisi) dengan tanpa melalui tasybih ataupun majaz. Penyair, dalam kalimat ini, menyifati orang yang dipujinya dengan kemurahan, dan para raja menginginkan mendapat kedudukan yang sama dengannya, tetapi mereka tidak membeli pujian yang mereka inginkan itu dengan harta, sebagaimana yang telah dilakukannya, padahal ia tidak lebih kaya daripada mereka.

Penyair lain menyifati kemurahan seseorang dengan uslub yang lain:

Kemurahannya bagaikan laut yang memberi mutiara kepada orang yang dekat dan mengirimkan awan kepada orang yang jauh.

Dalam syair ini penyair menyerupakan orang yang dipijinya dengan laut, dan membawa khayalan kita untuk menyerupakan orang yang dipujinya itu kepada laut yang melemparkan mutiara kepada orang yang dekat dan mengirimkan awan (mendung) kepada orang yang jauh.

Atau dengan ungkapan yang lain:

Ia adalah laut dari segi mana pun Anda mendatanginya, kedalamannya adalah kebaikan, dan tepinya adalah kemurahan. Dalam syair ini penyair mendakwakan bahwa orang yang dipuji itu adalah laut itu sendiri dengan mengingkari penyerupaan.

Hal ini menunjukkan berlebih-lebihan dan pendakwaan keserupaan yang sempurna. Atau dengan ungkapan yang lain lagi:

Ia telah berderajat tinggi, maka harta benda tidak pernah menetap di tangannya. Bagaimana puncak gunung itu dapat menahan air bah? Dalam syair itu penyair menyuguhkan tasybih kepada kita dengan samar-samar agar ungkapannya mencapai derajat tertinggi dalam balaghah dan untuk menjadikan tasybih dhimni itu sebagai dalil bagi kita atas dakwaannya, sebab ia mendakwakan bahwa orang yang dipujinya itu karena derajatnya yang begitu tinggi, maka harta senantiasa lepas dari genggaman tangannya. Untuk itu ia menunjukkan suatu bukti, yakni bahwa walau bagaimanapun puncak gunung yang tinggi tidak dapat menahan air bah.

Atau dengan ungkapan yang lain lagi:

Sungai itu mengalir, sehingga aku mengkhayalkannya sebagai kenikmatan, kenikmatan darimu. Engkau menyirami tanpa kekikiran dan memberi tanpa perhitungan.

Dalam syair ini penyair memutarbalikkan tasybih sebagai upaya me, ningkatkan berlebih-lebihannya, dan untuk meningkatkan daya tarik uslub-uslub pengindahan kalimat. Ia menyerupakan air sungai dengan kenikmatan-kenikmatan dari orang yang dipujinya, sedangkan pada umumnya kenikmatan-kenikmatan itu diserupakan dengan air sungai. Atau dengan ungkapan lain lagi:

Seakan-akan ketika ia memberikan hartanya sambil tersenyum adalah awan mendung yang mencurahkan air hujan dan ia tampak cemerlang.

Dalam syair ini penyair menyajikan tasybih murakkab dan suatu gambaran menarik dalam menyerupakan keadaan orang yang dipujinya, yakni bahwa ia murah hati, dan senyum kebahagiaan yang merekahkan kedua bibirnya. Atau dengan ungkapan yang lain lagi:

Tangan Fatah murah hati, sedangkan hujan itu kikir, sebab tetesan hujan itu kadang-kadang memadat dan yang terkena olehnya menjadi hancur.

Dalam syair ini penyair menyerupakan kemurahan orang yang dipujinya dengan hujan. Ia beranggapan bahwa kemurahannya tidak akan terputus-putus manakala curahan hujan itu berhenti. Atau ungkapan yang lain lagi:

Aku telah berkata kepada mendung yang tebal dan senantiasa berkilat dan berhalilintar, “Jangan sekali-kali engkau berpaling kepada Ja’far untuk menyerupakan dengan keterbukaan tangannya, sebab kamu bukan tandingannya.”

Dalam syair ini penyair menyebutkan dengan jelas tanpa takut tentang keutamaan kemurahan temannya di atas kemurahan awan tebal. Akan tetapi, ia tidak merasa cukup dengan pernyataan demikian, melainkan ia melarang keras awan tebal menyerupakan diri dengan “tangan orang yang dipujinya itu” karena ia bukan bandingannya.

Atau dengan ungkapan lain lagi: –

Ia berjalan lurus di atas permadani, namun ia tidak tahu apakah ia berjalan ke laut ataukah ia naik menuju bulan.

Dalam syair ini penyair menyifati keadaan utusan Romawi ketika menghadap kepada Saifud-Daulah. Ia menyifati orang yang dipujinya (Saifud-Daulah) yang pemurah dengan menggunakan isti’aarah tashrihiyyah yang — sebagaimana kita ketahui — berfungsi sebagai penjelas yang berpura-pura lupa terhadap tasybih, padanya sangat dominan faktor berlebih-lebihan, dan pengaruhnya dalam jiwa sangat dalam.

Atau dengan ungkapan lain:

Aku menyeru kemurahannya, maka ia memenuhi seruanku. Dan kebaikannya mengajariku bagaimana aku mengangan-angannya.

Dalam syair ini penyair menyerupakan kemurahan dan kebaikan orang yang dipujinya dengan manusia, namun musyabbah bih-nya dibuang dan sebagai tandanya ialah sesuatu yang sesuai dengannya, Inilah salah satu jenis berlebih-lebihan yang membutuhkan isti’aarah dalam pengungkapannya.

Atau dengan ungkapan lain:

 Barang siapa menuju laut, maka ia tidak memerlukan air lagi.

Dalam pernyataan ini pembicara menyampaikan suatu ungkapan yang seakan-akan merupakan suatu peribahasa. Ia menggambarkan kepada kita bahwa orang yang menuju kepada orang yang dipuji pembicara itu tidak membutuhkan lagi orang yang derajatnya lebih rendah daripadanya, seperti orang yang menuju laut, tidak perlu membawa timba. Jadi, kalimat ini merupakan isti’aarah tamtsiliyyah yang sangat indah dan menarik, di samping mengandung bukti kebenaran dakwaan pembicara dan menegaskan keadaan yang didakwakan itu.

Atau dengan kata lain:

Engkau senantiasa menyertakan kepada orang yang kauberi kekuasaan dengan tangan di atas tangan, sehingga aku beranggapan bahwa kehidupanku adalah dari tangan-tanganmu.

Penyair berpindah dari tasybih dan isti’aarah kepada majaz mursal. Kata yad (tangan) maksudnya adalah kenikmatan, karena tangan itu saJah satu alat dan sebab kenikmatan.

Atau dengan ungkapan lain: .

Harimu mengembalikan hari-hariku kepada kecemerlangan, dan kemurahanmu membunuh kemiskinan dan kefakiranku.

Penyair menyandarkan kata kerja kepada hari dan kemurahan sebagai langkah membuat isti’aarah.

Atau dengan ungkapan lain:

Hujan yang lebat tidak pernah menyiraminya, dan ia tidak tinggal di daerah hujan. Akan tetapi, kemurahan berjalan kapan saja ia berjalan.

Dalam syair ini penyair membuat kinayah tentang penisbatan kemurahan kepada orang yang dimaksud dengan mendakwakan bahwa kemurahan itu selalu berjalan bersamanya karena ia menggantikan pernyataan bahwa orang yang dimaksud itu pemurah dengan ungkapan bahwa kemurahan berjalan bersamanya ke mana pun ia berjalan. Kinayah ini memiliki nilai balaghah dan pengaruh dalam jiwa serta memiliki gambaran makna yang indah, melebihi apa yang ditemukan oleh para pendengar dari jenis-jenis kalimat yang lain.

Dari contoh-contoh di atas dapatlah kita ketahui bahwa untuk menyifati seseorang dengan sifat kemurahan dapat digunakan empat belas macam uslub dengan keindahan dan ketajaman masing-masing. Kalau mau, kita masih dapat mendatangkan uslub-uslub lain untuk maksud yang sama karena para penyair dan pakar seni memiliki imajinasi dan kreasi yang tinggi terhadap uslub dan makna yang hampir-hampir tidak terbatas. Sebenarnya masih ada beberapa uslub yang bersesuaian dengan sifat-sifat lain, seperti keberanian, menentang, dan teguh hati. Akan tetapi, kami tidak ingin memperpanjang pembicaraan dan kami yakin bahwa bila kita membaca syair-syair Arab atau peninggalan-peninggalan sastra, maka akan kita jumpai sendiri hal ini dengan jelas, dan kita akan terbawa kepada anganangan yang jauh yang hanya dapat dicapai oleh akal manusia yang mampu menghayati balaghah dan kreatif dalam merangkai uslub.

Uslub-uslub yang berbeda untuk suatu makna yang sama inilah yang merupakan objek pembahasan Ilmu Bayan. Kami tidak yakin bila kemampuan menyusun uslub itu cukup dengan mengetahui IImu Bayan, karena imajinasi yang tinggi dalam membuat suatu ungkapan tidak cukup diraih dengan hanya mempelajari kaidah-kaidah balaghah, melainkan seseorang dapat menjadi penulis yang berbobot, atau penyair yang menawan, atau juru pidato yang memukau bila ia banyak membaca kitab-kitab sastra dan peninggalan-peninggalar Arab, dan bila ia rajin menjiwai dan memahami syair, Serta Tajin mempelajari tulisan-tulisan prosa yang bernilai seni. Dengan modaj inilah bakat seni seseorang dapat menjadi sempurna dan mengantar, kannya mampu menciptakan suatu karya seni yang indah dan bagus, Selain itu, suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan adalah bakat yang murni dan kepekaan bawaan. Kedua faktor ini sangat membantu dan mengangkat bakat tersebut.

Akan tetapi, selanjutnya kami tidak dapat memungkiri faedah Ilmu Bayan dan menyepelekan kaidah-kaidahnya, karena dengan ke. rincian macam-macam uslub itu Ilmu Bayan dapat berfungsi sebagai suatu neraca yang tepat untuk mengetahui macam-macamnya, seba. gai ilmu seni untuk meneliti setiap uslub dan sebagai alat penjelas rahasia balaghah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker