Sejarah

Terjemah Kitab Tarikh Tasyri

IJTIHAD PADA PERIODE INI.

Untuk menulis tentang sesuatu pada periode ini tidak jelas karena angin ijtihad sudah teduh, dan pada periode ini tidak ada keistimewaan-keistimewaan yang mendiktekan pada penulis dan pembicara. Lapangan berpendapat telah meluas pada periode pertama dimana Allah mewahyukan syari’atNya dihati Rasullah s.a.w yaitu sesuatu yang diturunkan oleh Allah lalu beliau terangkan kepada manusia. Pada periode kedua dan ketiga para shahabat dan tabi’ in menerangkan jalan-jalan (methode-methode) istimbath dari Kitabullah, sunnah RasulNya dan ra’yu (pendapat) yang benar. Pada periode keempat, para imam-imam besar dan fuqaha-fuqaha yang cerdik berusaha keras lalu mereka memetik buahnya dan membukukan hukum-hukum syari at secara terperinci. Pada periode kelima mereka membuat urut-urutan, membersihkan, memilih dan mengunggulkan (mentarjih). Maka apakah yang akan dikemukakan oleh seorang pembicara tentang periode yang terakhir ini yang tidak mempunyai keistimewaan? Tetapi ketika kami melihat persambungan periode ini dengan kita serta kebutuhan kita antuk bangkit dan mengikuti orang-orang kita dahulu maka kami ingin menjelaskan cacat-cacat yang ada padanya karena manakala tampak cacat cacatnya maka memung kinkan bagi orang-orang yang mempunyai pikiran dan kemampuan untuk melakukan penyembuhannya.

Sebesar-besar keistimewaan periode ini adalah menetapnya ruh taklid semata-mata padajiwapara ulama, dan ha nya sedikit saja dari kalangan mereka yang sampai ke derajat ijtihad, Demikian itu pada separoh pertama dari periode ini yaitu dimasa Kairo menempati kedudukan Baghdad dan menjadi pusat kerajaan Islam dan khilafah Abbasiyah. Pada masa ini muncullah dari waktu ke waktu orang yang sampai ke tingkat ini (ijtihad #« pen). Namun mereka berhenti dengan membangsakan diri kepada para imam yang terkenal,

Adapun pada separoh yang kedua yaitu dari abad kesepuluh sampai sekarang keadaannya telah berganti dan tanda-tanda telah berobah dan diumumkan bahwasanya tidak boleh bagi seorang fakih untuk memilih dan mentarjih karena zamannya telah lalu serta terhalang antara orangorang dan kitab-kitab orang-orang yang terdahulu. Dan mereka mencukupkan diri pada kitab-kitab yang ada dihadapan mereka, dan kitab-kitab itulah yang akan kami terangkan kepada anda berikut ini:

Kita kembali kepada situasi Mesir sebelum kerajaannya jatuh dan .khilafah. pindah dari padanya. Kita jumpai nama-nama Al’Izz bin Abdus Salam, Ibnul Hajib, Ibnu Dagigil ‘Id, Ibnu Rif’ah, Ibnu Taimiyah, As Subki dan puteranya, Ibnul Qayyim, Al Bulgini, Al Asnawi, Kamal bin Hammam dan Jalalluddin As Sayuthi. Mereka itu orangorang pandai dari madzhab empat. Kemudian kita kembali menengok kepada .masa. sesudah itu maka kita tidak mendengar nama seorang alim atau fagih besar, atau pengarang yang baik namun kita jumpai suatu kaum yang tinggal menerima saja dalam fegih. Sedikit kita jumpai orang yang menyibukkan diri dengan madzhab lainnya. Apabila ia telah menyibukkan diri dalam madzhabnya maka ia mencukupkan pada kitab-kitab itu yang sangat banyak diikhtisarkan sehingga seolah-olah kitab-kitab itu dikarang bukan untuk difahami. Seolah-olah jatuhnya bidang politik adalah kemunduran ilmu lebih -lebih ilmu agama yang mundur sedemikian jauh. Ketika Mesir menuntut kembalinya kemuliaan maka terbentur beberapa penghalang yang akan kami kisahkan kepada anda yaitu:

  1. Terputusnya hubungan antara ulama-ulama negara-ne gara besar Islam.

Tidaklah sempurna bagi para fagih (fuqaha”) periode yang lampau julukan fagih dan tidak memperoleh penghormatan yang sempurna kecuali dengan bepergian dan menemui ulama negara-negara besar, disamping ulama senegerinya. Sedikit saja dari mereka yang dikenal cerdik dan mempunyai keistimewaan manakala ia tetap tinggal di negerinya (tidak pergi ke negara-negara lain – Pen). Lihatlah sejarah imam imam besar dan para muhadditsin, anda dapatkan mereka seluruhnya melawat ke ufuk-ufuk, satu negeri hampir tidak dapat mencukupi mereka sampai mereka pergi ke negara-negara lain untuk menerima hadits dan Fiqh. Dan Mekah mengumpulkan mereka pada musim (baji – pen) lalu masing-masingnya mengambil faedah kepada yang lain dalam bidang ilmu, hadits dan pikiran. Oleh karena itu sempurnalah perkenalan diantara para ulama pada masa itu. Inilah satu hal yang menambah pengetahuan mereka dan menguatkan jalinan kasih-sayang diantara mereka, dalam keadaan sulitnya perjalanan dan repotnya buku-buku.

Adapun dalam periode ini lebih-lebih pada bagian akhirnya, hubungan-hubungan antara ulama negaranegara besar telah terputus. Ulama Mesir hampir tidak mendengar nama orang alim India, dan yang ini (India 2 Pen) tidak mengenal ulama Maghrib dan demikianlah, kecuali kitab-kitab salah seorang dari mereka yang diambil, maka disana ia didengar dan barang kali kitabnya beredar. Diantara urusan yang sangat terlalu, anda dapatkan pada musim hajji sebagian ulama yang berbeda-beda negerinya dan salah seorang dari mereka tidak mementingkan untuk mengenal pada yang lain atau meriwayatkan sesuatu dari padanya. Kelemahan telah memasuki ilmu-ilmu Islam dalam bidang syara’ dan yang lain dari ilmu-ilmu orang-orang yang terdahulu yang penunjangnya adalah riwayat dan pertemuan. Tidaklah cukup untuk mengambil pengertian dari pendapat seorang alim dari kitabnya saja karena kitab itu bisu dan beku. Adapun pertemuan maka dapat mengasah dan meluaskan pikiran karena soal jawab dan percakapan yang diadakannya. Sekarang kita mengetahui gerakan ilmu sekitar sepuluh abad yang lalu, sesuatu yang tidak kita ketahui lebih dari itu, misalnya di India.

  1. Terputusnya hubungan antara kita dan kitab-kitab para imam.

Sesungguhnya kitab-kitab besar yang telah saya abadikan dari buah pena orang-orang yang terdahulu menjadi suatu peninggalan yang “seorangpun tidak memperhatikannya dan tidak mempelajarinya seperti pada zaman dahulu. Itulah kitab-kitab Muhammad bin Hasan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, Malik bin Anas dan imam-imam lain, kitab-kitab murid mereka bahkan kitab imam-imam dari periode ke lima. Kitabkitab itulah yang memberi makanan ruh, membangkitkan cita-cita dan menelorkan seorang fakih yang sempurna. Sedikit anda jumpai orang pandai yang sungguhsungguh mempelajari dan menela’ahnya bahkan kami dapati ulama-ulama besar tidak terdengar namanya. Apabila mereka membanggakan sebuah kitab dari padanya dihadapan anda maka sedikit sekali yang memperhatikan untuk membacanya, namun mereka mencukupkan pada kitab-kitab yang ditulis pada masa kemunduran: Dengan demikian terputuslah hubungan – antara kita dan kitab-kitab itu dari segi riwayat yang benar dan berfaedah, kecuali orang yang bangkit semangatnya lalu ia bersungguh-sungguh menela’ah kitab-kitab itu di perpustakaan umum atau khusus . Oleh karena itu apabila anda membandingkan antara kitab-kitab jitu dan kitab-kitab yang dipergunakan maka anda lihat perbedaan yang jauh baik dalam bagusnya tulisan, rangkaian gaya bahasa dan mudahnya difahami hanya saja kosongnya cita-cita dan lemahnya kemauan menempati kita dan hampir menghancurkan kita Syaikh Muhammad bin Mahmud bin Talamid At Tar, kizi Asy Syankithi bertanya kepadaku: “Dari siapa an. da meneima kebudayaan Arab?” Maka saya menjawab: ”Dari kitab wahai tuan”, Ia berkata: “Sesungguhnya kitab-kitab itu tidak baik untuk menjadi guru”. Maka saya katakan kepadanya: “Apakah yang dapat saya lakukan wahai tuan?”

Padahal hubungan antara kita dan orang-orang yang terdahulu telah terputus padahal tidak ada guru dan ti. dak ada saudara, dan ketika saya melihat tuan maka cukuplah bagiku”. Maka cerahlah wajah Syaikh terhadap jawabanku, dan ia berkata: ”Insya Allah, insya Allah”, Seandainya syaikh rahimahullah itu sedikit mengangan-angan maka alasan itu merupakan tipu daya bagi kami, karena masa kegelapan telah menghalangi antara kami dan ilmu orang-orang kami yang terdahulu, kecuali endapan yang tidak menyegarkan orang yang haus dan tidak dapat menyembuhkan penyakit. Maka alangkah butuh kita kepada cita-citayang membangkitkan buku-buku ini dari tidurnya, dan pandangan dihadapkan kepadanya (memusatkan perhatian – pen) sehingga meningkatlah derajat kita dalam ilmu-ilmu keislaman. Dikala itu memungkinkan bagi kami untuk mengatakan fuqaha di kalangan kita.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker