PERIODE KE EMPAT PEMBINAAN HUKUM PADA MASA AWAL ABAD KEDUA SAMPAI PERTENGAHAN ABAD KE EMPAT HIJRIYAH
(Periode pembukuan As Sunnah, Fiqh, dan munculnya Imam-imam besar yang dikenal oleh Jumhur dengan tokoh-tokoh madz-hab).
GAMBARAN POLITIK
Pada permulaan periode ini sukseslah perkumpulan rahasia yang dibentuk untuk memindahkan kekhilafahan dari Bani Umayyah kepada keluarga Muhammad s.a.w. Akhirnya kekhilafahan itu beralih ke Bani Abbas bin Abdul Muththalib di mana yang menjadi khalifah (pertama) adalah Abu Abbas yang dijuluki As Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Orang-orang Abbasiyah ini sangat keras tindakannya terhadap Bani Umayyah dengan suatu kekerasan yang tidak pernah dilakukan oleh tokoh sejarah (pemegang kekuasaan yang menjadi obyek sejarah – pen). Mereka melakukan tindakan-tindakan keras dan liar yang tidak disenangi oleh hati para pendukung dan penolongnya dari bangsa Persia. Seorang laki-laki dari Bani Umayyah yang terbesar kemauannya berhasil memencilkan dirinya untuk memasuki negeri Andalusia. Di sana ia mendirikan kerajaan besar yang bebas dari Bani Abbasiyah. Itulah permulaan terbaginya daerah Islam. Perpindahan ke lain tempat ini tidak menyenangkan dalam pandangan keturunan paman mereka yakni keturunan Ali bin Abu Thalib yang berpendapat bahwa diri merekalah yang berhak dengan kekhilafahan dari pada keluarga lain yang manapun. Maka mereka menetapkan dalam hati untuk mengambiialih kekhilafahan atau mengeruhkan suasana bagi musuh-musuh mereka. Itulah pemberontakan pertama dari keluarga Ali (Alawiyyin). Kemudian oleh putera-putera Hasan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali, dan hampir saja ia dapat mencapai tujuannya seandainya tidak karena kekeliruan-kekeliruan dan buruknya benturan di Madinah atas dirinya dan saudaranya Ibrahim di antara Bashrah dan Kufah.
Kemudian terjadi pemberontakan lain di bawah pimpinan cucunya yaitu Musa Al—Hadi bin Muhammad Al Mahdi bin Abu Ja’far Al—-Manshur di daerah-daerah Mekah, namun ia terbunuh. Dan Idris bin Abdullah saudara Muhammad Nafsuz Zakiyyah melarikan diri dari peperangan. Ia pergi jauh ke barat dan di sana di kalangan bangsa Barbar ja mendirikan suatu khilafah Islamiyah yang merupakan negara kedua yang memutuskan diri dari khilafah Abbasiyah yaitu khilafah Idrisiyyah.
Demikian juga saudaranya Yahya bin Abdullah lari ke daerah utara di negeri Dailam dengan diikuti oleh orang banyak. Dalam mengalahkannya, Ar—Rasyid menggunakan tipu daya (tipu muslihat) dengan perantaraan Fadhal bin Yahya bin Khalid bin Barmak yang meminta kepada Yahya bin Abdullah untuk pulang dari perlindungannya dan kepadanya diberikan surat jaminan keamanan, namun Ar Rasyid tidak menepati janji yang telah diberikannya.
Ar—Rasyid berpendapat bahwa dirinya sangat membutuhkan kepada suatu pemerintahan yang kuat yang merupakan pelindung terhadap serangan orang yang ingin mengalahkan. Di sebelah barat ia membuat asas daulat Ghalibiah di Afrika. Kemudian Al-Ma’mun membuat asas pemerintahan Ath—Thahiriyah di Khurasan, dan pemerintahan Zaidiyah di Yaman. Seluruhnya itu untuk menggagalkan terhadap kesuksesan Syi’ah di berbagai daerah.
Adapun Syi’ah Imamiyah telah sepakat untuk mengangkat Ja’far bin Muhammad yang terkenal dengan Ash Shadik yaitu imam yang keenam dari imam-imam Syi’ah Gan ia mempunyai pengikut yang banyak hanya saja ia tidak menuntut khilafah untuk dirinya. Ketika ia meninggal, pengikutnya terbagi menjadi dua golongan yaitu :
- Segolongan mengangkat puteranya yang bernama Musa yang terkenal dengan Al Kazhim. Golongan ini terkenal dengan Musawiyah. Sesudah Musa mereka memberikan imamah kepada anak cucunya sampai dengan imam yang kedua belas. Imam yang kedua belas itu adalah Abul Qasim Muhammad Al ‘Askari bin Hasan Al ‘Askari bin Ali Al-Hadi bin Muhammad Al Jawad bin Ali Ridha bin Musa Al-Kazhim bin Ja’far Shadik bin Muhammad Bakir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib. Syi’ah imamiyah ini menduga bahwa setelah ayahnya wafat pada tahun 260 H. imam itu tidak muncul dan baru muncul lagi di akhir zaman dengan meratakan keadilan ke seluruh permukaan bumi sebagaimana merajalelanya kezaliman. Mereka menantinya sampai sekarang.
- Golongan kedua mengangkat Isma’il bin Ja’far Shadik dan golongan ini terkenal dengan Isma’iliyah. Mereka berusaha untuk memperoleh khilafah, sesuatu yang tidak dilakukan oleh golongan pertama. Mereka memulainya dengan ajakan rahasia dan membuat ajaranajaran yang menarik hati yang lari. Setelah sempurna apa yang mereka kehendaki maka muncullah imam mereka Ubaidillah Al—-Mahdi di negeri Afrika dan dialah tokoh daulat Fathimiyah. Ia memperoleh sukses besar dalam memerintah seluruh Maghribi. Ketika periode ini hampir berakhir muncullah suatu daulat yang kokoh sensi-sendinya dan kuat pengaruhnya di Kairo Mesir yaitu Al Ma’ziyah.
Daulat Abbasiyah itu berpijak atas dua fanatik yaitu fanatik Arab di kalangan orang-orang Arab yang memegang tampuk pemerintahan, dan fanatik Persia di kalangan para penganjur daulat Abbasiyah. Keadaan khalifah-khalifah dari keturunan Abbas apabila menjumpai sesuatu yang meragukan maka mereka minta tolong pada yang lain sehingga Al-Ma’mun yang terdidik Persi semata-mata dan selalu di tengah-tengah mereka minta bantuan kepada saudaranya Muhammad Al-Amin untuk menghapuskan fanatik Arab dan memberikan tulang punggung kerajaan kepada golongan lain. Ketika saudaranya Ishak Al-Mu’tashim memerintah ia memperbaharui dirinya dengan fanatik lain dari kerajaan Turki yang mengembangkan sayapnya. Demikian itulah takdir yang tidak dapat dielakkan bagi raja daulat Bani Abbasiyah. Mutawakkil Al Mu’tashim bermaksud untuk melepaskan diri dari mereka namun dihancurkan sebelum ia sempat menghancurkannya. Demikian itu dengan permufakatan bersama puteranya Al—Muntashir. Dengan demikian para khalifah itu benar-benar tunduk kepada Sulthan yang meletakkan cengkeramannya kepada Al-Mu’tashim, maka mereka mempunyai perkataan yang dilaksanakan oleh orang yang dekat dan jauh terhadap khilafah. Kelemahan itu mendorong kepada berdirinya beberapa pemerintahan di daerah timur seperti daulat Samaniyah di sebalik sungai dan daulat Shafariyah di Persi. Periode ini berakhir dengan berdirinya daulat Buwaihi yang mendirikan kerajaan untuk keluarganya, dan akhirnya mereka menguasai Baghdad itu sendiri sebagai ibu negeri khilafah Abbasiyah. Bani Abbasiyah hanya tinggal memiliki nama saja, dan yang memiliki kekuasaan yang dijalankan adalah Banu Buwaihi dari Dailam.
Inilah keadaan daulat yang memerintah sejak tahun 132 H. yang mewarisi secara besar-besaran dari Bani Umayyah,dan pada tahun 330 H. daulat itu tinggal nama belaka. Berpindahlah sulthan itu dari bangsa Arab ke bangsa-bangsa Jain yakni bangsa-bangsa Persi, Dailam, Turki dan Barbar. Sejak masa Al—Mu’tashim tidak ada seorangpun yang berbangsa Arab ikut dalam pasukan militer.









One Comment