Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

BAHAYA 20: BANYAK BERTANYA TENTANG ZAT DAN SIFAT ALLAH

Bahaya lisan yang kedua puluh ialah banyaknya pertanyaan orang awam berkenaan Zat dan Sifat-sifat Allah, juga mengenai kalam Allah (Al Qur an), apakah ia kalam gadim atau kalam hadis? Karena hak orang awam adalah mengkonsentrasikan pada amal, mengamaikan apa yang terkandung dalam Al Quran.

Orang awam memang suka terlibat pembicaraan kosong dalam persoalan keilmuan. Karena syetan telah meracuninya, dengan bisikannya: “Kamu adalah ulama, orang yang mul:a, maka sudah seharusnya kamu juga membicarakannya. Sehingga ia pun membicarakan sesuatu dalam bidang ilmu, yang justru membuatnya kufur, sementara dia tidak menyadarinya.

Setiap dosa besar yang dilakukan oleh orang awam, lebih selamat baginya daripada berbicara tentang ilmu, terutama yang terkait dengan Zat dan Sifat-sifat Allah Ta’ala.

Sebenarnya keberadaan orang awam itu, seharusnya hanyalah menyibukkan diri dengan urusan ibadah dan percaya terhadap apa yang dikandung Al Qur an. Menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah, tanpa pembahasan. Pertanyaan mereka berkenaan dengan persoalan yang selain berhubungan dengan ibadah adalah sebuah sikap yang tidak baik (su-ul adab). Bahkan di antara mereka sampai ada yang berhak mendapatkan murkan Allah swt. karena pertanyaannya sampai pada tataran persoalan yang sangat berbahaya, yaitu kekufuran.

Setiap orang yang bertanya tentang rahasia suatu ilmu yang dalam, yang di luar jangkauan kapasitas pemahamannya, maka ia tercela, terlebih oleh orang awam.

Oleh sebab itu Rasulullah saw. bersabda:

Arrtinya:

“Tinggalkan (biarkan) apa yang aku tinggalkan (wariskan) kepadamu. Sesungguhnya

kebinasaan orang-orang sebelum kamu adalah karena kebanyakan pertanyaan dan

perselisihan mereka terhadap para nabi. Apa yang aku cegah padamu, maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah semampumu.” (HR. Ahmad).

Diriwayatkan dari Anas bahwa pernah suatu hari manusia banyak bertanya kepada

Rasulullah saw. hingga membuat beliau marah, lalu naik mimbar dan bersabda: Artinya:

“Mereka telah banyak bertanya kepadaku, janganlah kamu sekalian bertanya kepadaku tentang sesuatu, tentu aku akan memberitakan (menjawab)nya.” Seorang laki-laki berdiri, lalu bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah bapakku?” Beliau menjawab: “Bapakmu adalah Khudzafah.” Lalu dua orang pemuda bersaudara berdiri dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah bapak kami berdua?” Beliau menjawab: bapak kamu berdua adalah orang yang kamu berdua memanggilnya.” Selanjutnya, seorang laki-laki berdiri dan bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku nanti di surga ataukah di neraka?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi kamu di neraka.” Ketika orang-orang mengetahui bahwa Rasulullah saw. marah, mereka semua diam, menahan diri. Lalu Umar berdiri seraya berkata: “Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad saw. sebagai seorang Nabi.” Beliau lalu bersabda: “Duduklah, wahai Umar, semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.” (Muttafag alaih). Dalam hadis lain diterangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Arinya:

“Rasulullah saw. melarang giil gaal (bicara ngalor ngidul tak karuan): menyia-nyiakan

harta, dan banyak bertanya.” (Muttafag alih). Menurut riwayat Bukhari:

Artinya: “Hampir semua manusia pada bertanya, hingga mereka berkata, bahwa Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Apabila mereka bertanya begitu, maka jawablah: Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Kemudian, hendaklah seseorang dari kamu memercikkan ludah ke arah kiri tiga kali

dan hendaklah ia mohon perlindungan kepada Allah dari godan syetan yang terkutuk.”

(Muttafag alaih).

Artinya:

Sebagai penekanan agar tidak banyak bertanya, sebelum tiba saatnya yang tepat untuk bertanya, dapat pula disimak kisah antara Musa dan Khidhir, sebagaimana yang dikisahkan dalam ayat berikut:

Artinya: | “Sesungguhnya Allah membenci kamu terhadap tiga hal yaitu qiil qaal, . menyia-nyiakan harta: dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari).

Dan Nabi saw. bersabda:

Artinya: “Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu ‘ menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (OS. Al Kahfi: 70).

Maka ketika Musa bertanya tentang perahu (kapal), Khidhir tidak menyukai pertanyaan yang diajukan Musa, hingga Musa minta maaf. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

Artinya: “Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku ”. (OS. Al Kahfi: 73).

Ketika Musa tidak dapat menahan untuk tidak bertanya kepada Khidhir sampai yang ke tiga kalinya. Maka Khidhir secara tegas menyatakan perpisahannya dengan Musa. Firman Allah swt.:

Artinya: “Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” (OS. Al Kahfi:

78).

Pertanyaan-pertanyaan orang-orang awam mengenai hal-hal yang rumit, dalam dan samar,   dalam   persoalan   keagamaan   merupakan   bahaya   besar   dan   akan

menimbuikan terjadinya fitnah. Oleh sebab itu mereka harus menghindarinya. Misalnya, pertanyaan mengenai difinisi Al Qur an dan huruf-hurufnya, apakah kalam gadim atau kalam hadis, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan Zat Allah swt.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker