Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

8. MENGEJEK DAN MENGHINA

Mengejek dan mengolok-olok dimaksudkan untuk menghina orang lain, baik di hadapannya atau ketika orang yang diperolok-olok itu tidak ada di hadapannya. Hal ini terjadi karena menyombongkan diri dan memandang remeh terhadap orang lain yang diolok-olok atau yang dipergunjingkan.

Sedangkan  tiga  faktor penyebab  yang  membangkitkan  pergunjingan  yang  biasa dilakukan oleh orang ahli agama atau orang-orang khusus merupakan perbuatan yang paling sulit dan nyaris tidak terasa. Karena tiga faktor itu merupakan kejahatan- kejahatan yang disembunyikan oleh setan di balik kebaikan-kebaikan secara rapi. Tiga faktor yang rmenyebabkan pergunjingan yang terjadi pada orang-orang khusus itu ialah:

1. Heran dan ingkar terhadap Kemungkaran dan Kesalahan dalam Urusan Agama Karena merasa heran dan ingkar terhadap kemungkaran dan kesalahan dalam urusan agama, lalu ia berkata: “Alangkah mengherankanku, apa yang kulihat pada si Fulan. Padahal kadang-kadang perkataannya benar.”

Ungkapan perasaan heran yang demikian itu termasuk perbuatan mungkar. Sebenarnya ia memang berhak untuk heran tanpa menyebut nama orang yang dimaksudkan. Tetapi syaitan mempengaruhinya untuk menyebut nama orang yang dimaksudkan, agar mudah dalam menjelaskan keheranannya itu kepada orang yang mendengarnya. Dengan begitu, maka tanpa terasa dan tanpa sadar ia telah menggunjing dan berdosa.

Demikian pula misalnya perkataan seseorang: “Aku heran terhadap si Fulan, bagaimana ia mencintai budak wanitanya. Padahal budak itu jelek. Dan bagaimana ia duduk di hadapan si Fulan, padahal ia orang yang bodoh.”

2. Kasih Sayang

Kasih sayang, dimaksud ialah misalnya bersedih karena sesuatu yang menimpa seseorang. Dengan berdalih ikut bersedih karena sesuatu yang menimpa seseorang, lalu ia berkata: “Kasihan si Fulan itu. kami bersedih hati atas keadaan dan cobaan yang menimpanya.” Kesedihan dan kasih sayang terhadap seseorang memang baik, begitu juga rasa heran  kepadanya. Namun dengan tanpa disadari syaitan telah membawanya menuju kepada keburukan. Karena berbelas kasih dan bersedih hati tetap tercapai tanpa harus menyebut nama orang yang bersangkutan. Karena dengan menyebut namanya, bisa jadi membuatnya meyasa malu dan terhina, maka pahala duka cita dan kasih sayangnya itu menjadi batal.

3. Marah Karena Allah

Marah karena Allah swt. memang sudah seharusnya, ketika melihat kemungkaran yang diperbuat oleh orang lain. Tetapi kemarahan itu bisa juga membuat suatu dosa jika seseorang tidak berhati-hati. Misalnya, kemarahan itu dengan menyebut-nyebut nama orang yang berbuat kemungkaran, apalagi bila disertai penghinaan terhadap seseorang dengan gayanya yang meledak-iedak.

Kemarahan dalam konteks amar ma’ruf nahi mungkar itu semestinya dilakukan secara langsung pada pelaku dengan melakukan teguran dan mengingatkannya secara arif dan bijaksana yang dapat menyentuh hatinya. Bukannya dengan jalan memberitahukan keburukan dan kejahatannya kepada orang lain dengan menyebut nama pelakunya. Inilah tiga faktor penyebab terjadinya pergunjingan yang sangat halus dan nyaris tidak disadari oleh ulama, lebih-lebih orang awam. Sesungguhnya

dugaan mereka, bahwa heran, kasih sayang dan marah itu diperbolehkan dengan menyebutkan namanya apabila karena Allah. Padahal sesungguhnya ini merupakan dugaan yang salah. Karena yang diperbolehkan dalam menggunjing adalah karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang memang tidak adajalan lain kecuali dengan menyebut namanya, sebagaimana yang akan diterangkan dalam pembahasan berikutnya.

Diriwayatkan dari Amir bin Wailah bahwa pada masa Rasulullah saw. masih hidup ada seseorang lewat di depan suatu kaum yang mengucapkan salam kepada mercka. Mereka menjawab salamnya. Setelah orang itu melewati mereka, tiba-tiba ada seseorang di antara mereka yang berkata: “Sesungguhnya aku membenci orang itu karena Allah Ta’ala.” Lalu orang yang berada di sampingnya berkata: “Sungguh buruk apa yang kamu katakan. Demi Allah aku akan melaporkan perkataanmu.” Kemudian mereka berkata kepada salah seorang dari kaum itu: “Wahai Fulan, berdirilah. Carilah orang yang baru saja melintas dan beritahu dia tentang sesuaty yang dikatakan orang ini.” Maka utusan mereka menjumpai orang itu dan memberitahukan kepadanya. Selanjutnya utusan itu datang kepada Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang dikatakan oleh temannya, la meminta agar beliau memanggil keduanya. Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bertanya kepadanya: “Apa benar kamu berkata begitu?” Jawab orang tersebut: “Benar, aku mengatakan demikian.” Rasulullah bertanya lagi: “Mengapa kamu membencinya.” Orang itu menjawab: “Aku adalah tetangganya dan aku mengetahui keadaannya. Demi Allah, aku tidak pernah melihat ia shalat sama sekali, kecuali shalat wajib.”

Orang yang dipergunjingkan tersebut berkata: “Wahai Rasul, tanyakanlah kepadanya: Apakah aku pernah mengakhirkan shalat dari waktunya atau tentang wudhu, ruku’ dan sujudku. Menurutnya, apakah yang kulakukan itu salah?” Lalu Rasulullah saw. menanyakannya. Dan orang itu menjawab: “Tidak”.

Orang itu berkata lagi: “Demi Allah, aku tidak pernah melihat dia bersedekah kepada orang yang meminta-minta dan orang miskin, sama sekali, dan aku tidak pernah melihatnya menginfakkan sedikitpun dari hartanya di jalan Allah, kecuali zakat yang dikeluarkan, baik oleh orang yang baik maupun orang zalim.”

Orang yang diumpat berkata: “Wahai Rasul, tanyakan kepadanya, apakah dia pernah melihat aku mengurangi sedikit saja dari zakat atau aku tawar menawar tentang zakat kepada yang berhak menerimanya?” Rasulullah pun menanyakan. Dan orang itu menjawab: “Tidak.”

Orang yang menggunjing tersebut berkata lagi: “Demi Allah aku tidak pernah melihat dia berpuasa pada suatu bulan, kecuali bulan Ramadhan.”

Orang yang digunjing tersebut berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, tanyakan kepadanya apakah ia pernah melihatku berbuka pada bulan Ramadhan atau aku mengurangi haknya?” Beliau menanyakan tentang hal itu kepada orang tersebut dan ia menjawab: “Tidak.”

Akhirnya Rasulullah saw. bersabda kepada orang yang menggunjing orang yang lewat tersebut: 2Akhirnya Rasulullah saw. bersabda kepada orang yang menggunjing orang yang lewat tersebut: 20 Moo PLT 0 MA 11) 2 Pe alala 2 Artinya: “Berdirilah, bisa jadi ia (orang yang kamu pergunjingkan itu) lebih baik daripada dirimu.” (HR. Ahmad).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker