Anas berkata bahwa Ali bin Thalhah mempunyai seorang anak laki. laki, namanya
Abu Umair. Rasulullah saw. pernah datang kepada mereka, seraya bersabda:
Artinya:
“Hai Abu Umair! Apa kabar nughair?”
Nughair adalah burung yang dibuat mainan oleh Abu Umair, Nughair ialah anak burung pipit.
Aisyah ra. berkata: “Aku pernah pergi bersama Rasulullah saw. pada perang Badar. Beliau bersabda: “Kemarilah, sehingga aku berlomba denganmu (dari cepat saling kejar mengejar).” Lalu aku ikatkan baju besiku pada perutku, kata Aisyah. Kemudian, kami membuat garis, lalu kami berdiri di atas garis itu. selanjutnya kami berlari saling dahulu mendahului. Beliau dapat mendahului aku, dan bersabda: “Ini tempat Dzil Majaz namanya.”
Demikian pula bahwa suatu hari Rasulullah saw. datang, sementara kami berada di Dzil Majaz, kata Aisyah. Aku waktu itu masih gadis kecil. Aku diutus oleh ayahku membawakan sesuatu. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Berikan itu kepadaku!” aku tidak mau memberikan padanya, aku terus berjalan. Dan Rasulullah saw. berjalan di belakangku, dengan gaya candanya yang tidak dapat mendahului aku.”
Aisyah ra. berkata: “Rasulullah saw. pernah berlomba saling dahulu mendahului dengan aku dan aku dapat mendahuluinya. Pada saat yang lain ketika aku membawa daging, beliau mendahului aku. Lalu beliau bersabda: “Yang ini dengan yang itu (satu, satu).”
Aisyah ra. juga berkata: “Suatu ketika aku Rasulullah saw. dan Saudah binti Zam’ ah. Lalu aku membuat jenis makanan harisah. Aku bawa makanan tersebut, seraya aku berkata kepada Saudah: Makanlah!” Saudah menjawab: “Aku tidak suka.” Aku katakan lagi: “Sungguh, ayo makanlah atau aku lumuri wajahmu dengan makanan ini.” Saudah menjawab: “Aku tidak akan mencicipinya.” Lalu aku ambil dengan tanganku sedikit dari makanan itu dari piring, lalu aku lumurkan di mukanya.
Sementara Rasulullah saw. duduk di antara aku dan dia. Lalu Rasulullah saw. merendahkan kedua lututnya, supaya Saudah mencegah aku. Namun Saudah juga ambil sedikit harisah dari piring itu dan menorchkan pada mukaku. Sehingga muka kami saling berlepotan dengan harizah. Melihat apa yang kami perbuat, Rasulullah saw. menjadi tertawa.”
Diriwayatkan, bahwa Adh Dhahak bin Sufyan Al Kalabi adalah scorang yang pendek dan buruk rupa. Ketika ia di bai’ah oleh Nabi saw. menjadi kepala dari kaumnya yang sudah memeluk agama Islam, lalu ia berkata: “Sesungguhnya padaku ada dua orang wanita yang lebih cantik dari Al Mumaira’ (panggilan Aisyah ra.) ini.”
Kasus ini terjadi sebelum turunnya ayat hijab. “Apakah aku pinangkan salah seorang dari keduanya untukmu, lalu kamu kawini dia?”, sahut Nabi. Aisyah duduk saja dengan tenang dan mendengarkannya, Lalu bertanya: “Adakah wanita itu yang lebih cantik ataukah kamu? Dengan nada canda -: Adh Dhahak menjawab: “Aku lebih bagus daripada dia.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw. tertawa. Karena laki-laki tersebut adalah orang yang pendek dan buruk rupanya.”
Diriwayatkan dari Al Oamah dari Abi Salamah, bahwa Nabi saw. mengeluarkan lidahnya dari mulutnya pada Hasan bin Ali ra. (cucu Nabi saw.), melihat lidah beliau itu sang cucu menjadi bergembira tertawa ria. Uyainah bin Badar Al Fazzari berkata kepada Nabi saw.: “Demi Allah, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah kawin, namun aku sama sekali tidak pernah memeluknya.” Lalu Nabi saw. bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak sayang, tentu ia tidak akan disayang.” (HR.
Muslim).
Kebanyakan canda semacam itu dilakuakan beliau bersama istri-istri beliau dan anak- anak. Dan yang demikian itu merupakan cara Nabi saw. untuk mengobati dan menghibur hati mereka yang lemah.
Pada suatu hari Nabi saw. bersabda kepada Shuhaib yang sedang sakit mata,
sementara ia memakan tamar (kurma): “Apakah kamu makan tamar, sedang engkau
sakit mata?” Shuhaib menjawab: “Aku Cuma akan memakan yang separuhnya lagi, Ya Rasulullah!” Mendengar jawaban Itu, Nabi saw. tersenyum.” Menurut riwayat lain: Beliau tersenyum, sehingga aku (Suhaib) melihat gigi gerahamnya.”
Diriwayatkan bahwa Khawwat bin Jubair Al Anshari duduk bersama wanita suku Bani Ka’ab di jalan Makkah. Melihat hal itu, Rasulullah saw. menegur: “Hai Aba Abdillah! Ada apa kamu bersama wanita? Khawwat (Aba Abdillah) lalu menjawab: “Mereka memintal tali untaku, yang suka lari.”
Khawwat berkata: “Lalu Rasulullah saw. terus pergi untuk keperluan. Tidak lama kemudian datang lagi dan bertanya: “Apakah unta yang suka lari itu, sudah tidak meninggalkanmu lagi?”
Khawwat berkata: “Mendapat pertanyaan itu, aku diam tak menjawah karena merasa malu. Sesudah itu, aku selalu menghindar dari Nabi saw, manakala melihatnya, lantaran malu kepada beliau. Sehingga aku sampai di Medinah. Sesudah sampai di Madinah aku bertemu lagi dengan beliau, Ketika itu aku sedang mengerjakan shalat di masjid. Melihat aku mengerjakan shalat di masjid, beliau malah duduk di dekatku. Padahal aku sebenarnya berusaha menghindar dari beliau, maka aku panjangkan shalatku. Tetapi justru beliau bersabda: “Jangan kamu panjang-panjangkan, aku menunggumu!”
Sesudah aku salam, beliau bersabda: “Hai Aba Abdillah! Apakah untamu sudah tidak lagi meninggalkan kamu setelah itu? Khawwat lebih ‘ lanjut menceritakan, mendapat pertanyaan beliau itu, aku diam, tidak menjawab karena merasa malu. Rasulullah pun bangun berdiri. Sesudah itu, aku berusaha menghindar dari beliau, sehingga pada suatu hari beliau mengikuti aku, ketika itu beliau mengendarai himar. Sambil duduk menyamping di atas himar, beliau bertanya lagi kepadaku: “Hai Aba Abdillah! Apakah unta yang suka lari itu, tidak meninggalkanmu lagi sesudah iti?” Aku menjawab: “Demi Tuhan yang mengutus engkau dengan benar! Unta itu tidak lari lagi semenjak aku memeluk agama
Islam.” Lalu Nabi saw. berdo’a untuknya:
Artinya:
“Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Ya Allah, berilah petunjuk Aba Abdillah!” Perawi berkara: Lalu Aba Abdillah menjadi seorang muslim yang baik dan mendapat petunjuk Allah.” (HR. Thabrani).
Nu’aiman Al Anshari adalah seorang laki-laki yang suka bergurau. Suatu ketika ia minum khamar di Madinah. Lalu dibawa menghadap kepada Nabi saw. Ia dipukul oleh Nabi saw. dengan sandalnya, dan beliau menyuruh para sahabat untuk memukulnya dengan sandal. Kemudian di antara para sahabat ada yang berkata kepada Nu’aiman “Kiranya engkau dikutuk oleh Allah.” Mendengar ucapan itu, Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu berbuat demikian, karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Pernah suatu ketika Nu’aiman datang ke Madinah dengan membeli buah tangan sebagai oleh-oleh buat Nabi saw. Ketika sampai di hadapan Nabi saw. ia berkata: “Ya Rasulullah, ini aku belikan oleh-oleh dan aku hadiahkan kepadamu.” Tiba-tiba, yang punya barang itu datang kepada Nu’aiman menagih harga barang itu. Maka Nu’aiman berkata kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulullah, berilah kepada orang itu harga barangnya!” Nabi saw. menjawab: “Bukankah kamu telah menghadiahkan barang itu kepada kami?” Nu’aiman menjawab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mempunyai uang untuk membayar harganya, tetapi aku ingin baginda merasakan makanan itu.” Mendengar jawaban itu Nabi saw. tertawa, dan menyuruh sahabatnya agar membayar harga barang tersebut.
Demikianlah, joke-joke yang diperbolehkan dan yang semisalnya, asalkan dilakukan jarang-jarang dan tidak terus menerus. Bila dilakukan terus menerus maka gurauan itu menjadi tercela, karena menyebabkan timbulnya tertawa ngakak yang bisa menyebabkan kematian hati.









One Comment