Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

BAHAYA 1: MEMBIACARAKAN HAL-HAI YANG TIDAK BERGUNA

Kiranya perlu Anda ketahui bahwa sikap yang paling baik bagi orang ialah menjauhkan diri dari mengumpat, adu domba, bohong, riya’, berbantah-bantahan yang hanya menimbulkan dendam, permusuhan dan bertengkar.

Sebaiknya Anda berbicara pada hal-hal yang mubah dan tidak mengandung bahaya. Itupun seperlunya saja. Jangan membicarakan sesuatu : yang tidak perlu dan tidak berguna. Karena hanya akan menyia-nyiakan waktu dan membuat kepenatan lidah. Alihkan peluang pembicaraan yang tidak perlu pada yang perlu, yang tidak penting pada yang penting dan baik.

Karena jika Anda mengalihkan peluang pembicaaran yang tidak perlu untuk dimanfaatkan berpikir, bisa jadi Allah membukakan rahmat-Nya ketika Anda sedang melakukan perenungan. Daripada membicarakan sesuatu yang tidak perlu, maka akan lebih baik kiranya bila dialihkan untuk tahlil, berzikir. Betapa banyak kalimat thayyibah, yang sesungguhnya ketika

kalimat itu diamalkan adalah berarti membangun istana di surga. Ketika peluang membangun istana di surga itu terbuka selebar-lebarnya, lalu tidak dimanfaatkan, tentu ini merupakan sebuah kerugian yang nyata. Ini sebuah ibarat bagi orang yang memiliki kesempatan untuk berzikir mengingat Allah, tetapi dia gunakan untuk membicarakan hal-hal mubah yang tidak ada gunanya. Sekalipun pada dasarnya hal itu tidak berdosa, tetapi sesungguhnya dia kehilangan kesempatan yang memberikan peluang keuntungkan yang besar seandainya digunakan untuk berzikir kepada Allah swt.

Diamnya orang mukmin, haruslah digunakan untuk berpikir dan melakukan perenungan, penglihatannya untuk mengambil ibrah (pelajaran) dan ucapannya adalah berupa zikir. Demikian menurut hadis Nabi saw. Bahkan, modal pokok seorang hamba Allah ialah waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Apabila seseorang menggunakan  kesempatan  dan  waktunya  untuk  yang  tidak  berguna,  dan  tidak

mendaya fungsikan untuk mengumpulkan pahala buat akhiratnya, maka sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan modalnya.

Karenanya Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:

“Di antara sebaik-baik Islam seseorang ialah kesediaannya untuk meninggalkan apa

yang tidak perlu.” (HR. Tirmidzi).

Bahkan tersebut dalam hadis yang lebih berat lagi yang diriwayatkan dari Anas, ia berkata:

Artinya:

“Seorang anak dari kami (golongan Anshor) telah mati syahid pada hari perang Uhud. Lalu kami dapatkan di atas perutnya batu yang ‘ terikat, lantaran lapar. Maka ibunya menyapu debu dari mukanya seraya berlata: “Selamat bagimu wahai anakku, di surga. ” Lalu Nabi saw. menjawab: “Dimana kamu tahu? Mungkin ia berkata yang tidak berguna dan mencegah dari apa yang tidak mendatangkan bahaya baginya.” (HR. Tirmidzi).

Disebutkan dalam hadis lain, bahwa Nabi saw. kehilangan Ka’ab, Lalu beliau tanyakan di mana Ka’ab sekarang. Mereka menjawab: “Ia sakit.” Lalu Nabi keluar berjalan, sehingga sampai pada  Ka’ ab. Sewaktu  Nabi sampai ke tempat Ka’ ab, beliau bersabda: “Gembiralah, hai Ka’ ab.” Ibunya berkata: “Selamat, bagimu surga, wahai Ka’ ab.” Lalu Nabi saw.

bertanya: “Siapakah wanita yang bersumpah atas nama Allah ini ? Ka’ab menjawab:

“Dia ibuku, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi menyahut “

Artinya:

“Apakah yang memberitahukan kepada engkau wahai Ibu Ka’ab? Mungkin Ka’ab berkata sesuatu yang tidak berguna atau mencegah mengatakan apa yang tidak diperlukan.” (HR. Ibnu Abiddunya)

Artinya, surga itu disediakan secara langsung untuk orang yang tidak terkena hisab. Sedangkan orang yang berkata, dalam hal yang tidak diperlukan, tentu ia dihisab, sekalipun perkataannya itu mengenai persoalan yang diperbolehkan (mubah). Maka dia tidak bisa secara langsung masuk surga. Adanya hisab (perhitungan amal) yang membuatnya kelelahan dan merasa tersiksa, sesungguhnya itu merupakan bentuk siksaan, sekalipun pada akhirnya ia lolos dan bisa masuk surga.

Dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang pertama kali masuk pintu ini adalah seorang laki-laki penduduk surga.” Kemudian ternyata yang memasuki pintu yang dimaksud oleh Rasulullah saw. itu adalah Abdullah bin Salam. Mengetahui akan hal itu, para sahabat Rasulullah saw. bergegas menemui Abdullah . bin Salam, dan menginformasikan kepadanya mengenai sabda beliau j tersebut. Selanjutnya mereka bertanya kepada Abdullah: “Beritahukan kepada kami, akan keistimewaan amal yang kamu harapkan, sehingga kamu mendapatkan  keistimewaan  sebagaimana  yang  diberitakan  Nabi saw.” Abdullah menjawab: “Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, namun sesuatu yang sangat aku tekankan dan harapkan kepada Allah ialah keselamatan dada (hati) dan meninggalkan apa yang tidak berarti bagiku.” (HR. Ibnu Abiddunya).

Mujahid berkata, aku mendengar Ibnu Abbas berkata: “Ada lima hal yang lebih aku sukai, melebihi dari kuda yang bagus (kendaraan mewah) yang di persiapkan untuk dikendarai, yaitu:

Pertama: Janganlah kamu berkata akan sesuatu yang tidak berarti bagimu. Karena hal itu merupakan bentuk pembicaraan yang berlebihlebihan dan menjadikan kamu tidak aman dari dosa. Dan Jangan pula kamu membicarakan akan sesuatu yang kamu anggap penting,  sebelum  kamu  mendapat tempat pas  untuk membicarakan  hal terscbut. Karena banyak orang yang berkata tentang sesuatu yang penting baginya, namun ja menyampaikannya dalam kondisi yang tidak tepat, sehingga ia mendapatkan kesulitan.

Kedua: Janganlah kamu bertengkar (bermusuhan) dengan orang yang lemah-lembut dan jangan pula terhadap orang yang bodoh. Karena orang yang lemah lembut itu,

akan marah kepadamu dalam hatinya, sementara orang yang bodoh akan menyakitimu dengan lidahnya.

Ketiga: Sebutlah saudara (temanmu), ketika ia jauh darimu dengan perkataan yang sekiranya ia suka kamu menyebutnya dengan perkataan itu. Dan maafkanlah dia mengenai sesuatu yang sekiranya kamu suka ja memberikan pengampunan kepadamu, sebagaimana (pengampunan) yang kamu berikan padanya itu.

Keempat: Bergaullah dengan temanmu dengan cara sebagaimana yang kamu sukai ia bergaul denganmu.

Kelima: Berbuatlah sebagaimana perbuatan seseorang yang tahu bahwa dengan perbuatan itu ia bakal dibalas dengan kebaikan, atau dengan perbuatan yang dilakukannya itu ia akan mendapatkan siksa.

Lukman Hakim pernah ditanya: “Apa yang membuat kamu memperoleh hikmah?” Lukman Hakim menjawab: “Aku tidak bertanya

. mengenai sesuatu yang sudah cukup memadai bagiku. Dan aku tidak memberatkan diriku akan sesuatu yang tidak berarti bagiku.”

Murig Al “Ajli berkata: “Semenjak dua puluh tahun yang lalu aku mencari sesuatu, tetapi aku tidak memperolehnya. Dan aku tidak meninggalkan dalam usaha mencarinya.” Lalu mereka bertanya: “Apakah sesuatu itu?” Murig menjawab. “Diam, dari membicarakan sesuatu yang tidak penting bagiku.”

Umar ra. berkata: “Janganlah kamu mendatangi sesuatu yang tidak penting bagimu! Asingkan dirimu dari musuhmu! Waspadalah untuk membicarakan sesuatu dengan temanmu, kecuali terhadap orang-orang yang terpercaya. Dan tiada orang yang terpercaya kecuali orang yang takut pada Allah Ta’ala. Janganlah kamu berteman dengan orang yang zalim, sehingga membuat kamu tahu akan kezaliman dan kedurhakaannya. Jangan kamu perlihatkan rahasiamu kepadanya. Dan musyawarahkan urusanmu dengan orang-orang yang takut akan Allah Ta’ala.”

Batas mengenai perkataan yang tidak berarti bagimu ialah suatu pembicaraan yang seandainya kamu diam dari perkataan itu, tiada berdosa, dan tidak pula mendatangkan kemadharatan terhadap keadaan dan harta. Misalnya, ketika kamu duduk bersama orang banyak, lalu kamu bercerita kepada mereka tentang perjalananmu dan apa yang kamu lihat dalam : perjalanan itu, mengenai gunung- gunung, sungai-sungai, peristiwa. ‘ peristiwa yang terjadi atas dirimu, juga mengenai makanan dan pakaian yang kamu pandang baik, dan apa yang kamu kagumi tentang para tokoh dari sebuh negara serta berbagai hal yang bergubungan dengan | mereka.

Hal-hal tersebut, seandainya kamu diam dan tidak menceritakannya, kamu tidak berdosa dan tidak pula membahayakan kamu. Apabila kamu berusaha sungguh- sungguh, sehingga kamu cerita apa adnya tidak menambah dan tidak pula mengurangi, tidak pula mencampuri cerita dengan sikap pembersihan diri dan merasa bangga dengan menyaksikan . hal-hal besar dan tidak pula mencaci seseorang dan mencela sesuatu ‘ yang dijadikan oleh Allah swt., maka meskipun demikian, sesungguhnya kamu adalah  menyia-nyiakan  waktu. Semoga  kamu  selamat dari bahaya yang telah kami sebutkan di atas.

Di antara bahaya-bahaya itu, ialah jika kamu bertanya kepada orang lain menegnai sesuatu yang tidak berguna bagimu. Maka dengan pertanyaan itu, berarti kamu telah menyia-nyiakan waktu. Dan kamu juga

telah membuat temanmu agar menjawab pertanyaan kamu, yang berarti kamu telah menyeret teman kamu untuk menyia-nyiakan waktu bersamamu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker