BAHAYA 4: PERTENGKARAN DAN BERBANTAH-BANTAHAN
Bertengkar dan berbantahan (yang bertujuan untuk saling menjatuhkan dan mempermalukan), dilarang oleh agama. Nabi saw. bersabda:
Artinya:
“Jangan kamu berbantah-bantahan (untuk menjatuhkan dan mempermalukan) dengan saudaramu, jangan kamu bersendagurau dan jangan berjanji padanya dengan suatu janji, lalu kamu menyalahi Janji itu.” (HR. Tirmidzi)
Beliau juga bersabda:
Artinya:
“Tinggalkanlah berbantahan. Karena dengan berbantahan, tiada akan difahami hikmah dan tidak akan aman dari fitnah.” (HR. Tabrani)
Nabi saw. juga bersabda: “Barangsiapa meninggalkan perbantahan dan dia itu benar, maka baginya dibangunkan rumah dalam surga tertinggi. Dan barangsiapa meninggalkan perbantahan, sedangkan dia berada di pihak yang salah, maka ia dibangunkan rumah di tengah-tengah surga.”
Dari Ummi Salma ra. ia mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya sesuatu yang pertama-tama diberitahukan oleh Tuhan kepadaku dan dilarang aku daripadanya sesudah penyembahan berhala dan minum khamar, ialah mencaci orang.” (HR. Thabrani dan Baihagi)).
Nabi juga bersabda:
Artinya:
“Tidaklah suatu kaum akan tersesat setelah diberi petunjuk oleh Allah swL., kecuali mereka mendatangi perdebatan.” (HR. Tirmidzi).
Beliau juga bersabda:
Artinya:
“Seorang hamba tidak akan sempurna hakekat imannya, sehingga ia meninggalkan berbantah-bantahan sekalipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Ibnu Abid Dunya).
Nabi saw. juga bersabda:
Artinya: | “Barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat enam hal berikur, | berarti ia telah sampai pada hakekat keimanan, yaitu: Puasa di musim panas, memukul musuh- musuh Allah dengan pedang (jihad fii : sabilillah): menyegerakan shalat (di awal waktu) pada hari ketika hujan | turun terus-menerus, sabar dalam menghadapi musibah, menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai (sangat dingin) dan meninggalkan berbantah-bantahan, padahal ia berada di pihak yang benar.” (HR. Dailami).
Az Zubari berkata kepada puteranya: “Janganlah kamu bertengkar (melakukan perdebatan) dengan menggunakan Al Qur an, karena kamu tidak akan sanggup menghadapi mereka. Akan tetapi hendaklah kamu menggunakan Sunnah Nabi saw.”
Umar bin Abdul “Aziz ra. berkata: “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai alat untuk mengahadapi permusuhan, niscaya ia lebih banyak tergelincir.”
Muslim bin Yasar berkata: “Jauhilah perdebatan, karena perbantahan itu menunjukkan saat kebodohan orang berilmu. Dan pada saat itulah syaitan berusaha akan menggelincirkannya.”
Ada yang mengatakan, bahwa suatu kaum tiada akan sesat, ketika mereka sudah mendapat petunjuk Allah, kecuali disebabkan perdebatan.
Malik bin Anas ra. berkata: “Pertengkaran itu tidak ada urgensinya dalam pandangan agama.” Ia juga berkata: “Berbantahan itu menyebabkan | hati membatu dan menimbulkan kedengkian.” :
Lugman berkata kepada puteranya: “Janganlah kamu berbantah-bantahan dengan ulama, karen hal itu akan membuat mereka marah kepadamu.”
Bilal bin Sa’ ad berkata: “Apabila kamu mengetahui orang yang keras kepala, suka
berbantah, membangga-bangakan pendapatnya, maka : sempurnalah kerugiannya.”
Sufyan berkata: “Seandainya aku berbeda pendapat dengan temanku, mengenai buah delima. Dia berkata bahwa buah delima itu manis, sementara aku berkata, bahwa buah delima itu masam, tentu ia akan mengajak aku kepada sultan.”
Sufyan juga berkata: “Tuluskan persahabatan terhadap orang yang kamu sukai, lalu buatlah ia marah dengan perdebatan, tentu ia akan melemparkan kamu dengan kecerdikannya pada sebuah kondisi yang menyulitkan kamu.” Ibnu Abi Laila berkata: “Aku tidak akan berbantah dengan temanku. .
“Karena akibatnya, adakalanya aku akan mendustainya, dan adakalanya aku akan memarahinya.”









One Comment