Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

BAHAYA 9 : BERNYANYI DAN BERSYAIR

Bernyanyi ialah menyenandungkan lagu. Sementara bersyair ialah bermain kata-kata yang dirangkai indah, yaitu berpuisi.

Mengenai nyanyian telah aku (Imam Ghazali) jelaskan di dalam kitab tentang as-Sima’ (Mendengar), baik mengenai nyanyian yang diperbolehkan maupun yang dilarang. Karena itu saya tidak perlu menjelaskan ulang di sini.

Sedangkan syair adalah kata-kata yang tersusun dengan baik. Jika isinya kebaikan maka hal itu baik. Namun jika isinya mengandung keburukan, maka hal itu dianggap buruk dan tercela. Namun menekuni syair semata-mata keindahannya saja, maka hal itu dipandang tercela.

Rasulullah saw. bersabda: |

Artinya:

“Sesungguhnya penuhnya perut seseorang di antara kamu dengan nanah hingga membusuk,  itu  lebih baik  baginya  daripada  penuhnya  perut  dengan  syair.  (HR. Bukhari dan Muslim).

Diceritakan dari Masrug, bahwa ia pernah ditanya tentang satu bait syair (puisi), namun ia tidak menyukainya. Lalu ditanyakan, mengapa tidak menyukai syair. Masrug menjawab: “Karena aku tidak suka dalam catatan amalku kelak dijumpai terdapat syair tertulis di sana.” Sedangkan sebagian ulama ketika ditanya tentang syair, mereka menjawab: “Jadikanlah tempat syair ini untuk zikir, karena zikir kepada Allah, lebih baik daripada syair.”

Kesimpulannya adalah bahwa menyenandungkan syair dan menyusurtnya dengan indah itu tidaklah haram asalkan di dalamnya tidak mengandung kata-kata yang menimbulkan kesan tabu dan porno.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:

“Sesungguhnya sebagian syair itu ada yang mengandung hikmah.”

Bersyair kadang-kadang bertujuan untuk memuji, mencela, mensifati kecantikan wanita dan mungkin juga dimasuki kebohongan. Rasulullah saw. pernah menyuruh Hasan bin Tsabit Al Anshari untuk menyerang balik orang-orang kafir yang bersyair. Memperluas pujian dengan syair, meskipun dusta, tidak dapat dihubungkan dengan keharaman dusta.

Seperti perkataan penyair:

Artinya :

“Jika tak ada di tapak tangannya selain nyawanya, sesungguhnya ia bermurah hati menyerahkannya kepada yang memintanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah.”

Syair tersebut menggambarkan mengenai ketinggian akan kedermawanan. Jika penulis syair itu tidak dermawan, maka berarti ia bohong dalam mengemukakan kata- kata pujian. Jika ia memang dermawan, maka ia dianggap berlebih-lebihan dalam mengekspresikannya melalui puisi.

Maka tujuan mengekspresian puisi itu tidak dimaksudkan untuk diyakini.

Pernah disenandungkan bait-bait puisi di hadapan Rasulullah saw. yang Jika diteliti secara cermat, tentu banyak ditemukan ungkapan yang berlebihlebihan, tetapi Rasulullah saw. tidak melarangnya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw. pernah menambal sandalnya. Sementara itu Aisyah ra. duduk sambil memintal benang. Aisyah memandangi Rasulullah yang ketika itu dahinya berkeringat tampak bercahaya. Dengan tatapan yang penuh makna (tercengang). Rasulullah saw. sendiri memandang Aisyah seraya berkata: “Mengapa kamu tercengang memandangiku begitu, wahai Aisyah?” Aisyah menjawab: “Wahai Rasulullah, aku melihat dahimu

berkeringat dan keringatmu nampak bercahaya. Seandainya Abu Kabir Al Hudzail melihatmu, tentu dia mengerti bahwa engkaulah yang lebih berhak dengan syairnya.” Rasulullah saw bertanya: “Apa yang dikatakan oleh Abu Kabir Al Hudzali dalam syairnya?” Aisyah ra. menjawab: “Dia pernah menyenandungkan dua bait syair. sebagai berikut:

Artinya :

“Terbebas dari setiap sisa darah haid | dan kerusakan wanita yang menyusukan anak serta penyakit wanita yang hamil. Jika kamu melihat kepada garis-garis wajahnya kilauan cahaya menghiasinya”

Mendengar bait-bait syair itu, Rasulullah kemudian meletakkan sandal yang ada ditangannya. Ia beranjak dan mencium hidung Aisyah sambil bersabda:

Artinya:

“Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan kebajikan, wahai Aisyah, tidaklah kamu melihat kebahagiaan diriku sebagaimana kegembiraanku darimu. (HR. Al Baihagi).

Ketika Rasulullah selesai membagi harta rampasan Perang Hunain, beliau menyuruh untuk memberikan empat ekor unta kepada Abbas bin Mirdas. Tetapi Abbas menolak dengan cara bersyair, penghujung dari syair itu ialah:

Artinya :

“Tidaklah Badar dan Hubis , menipu daya Mirdas dalam perkumpulan. Tidaklah aku di bawah seseorang dari keduanya siapa yang engkau rendahkan hari ini, tentu ia tak terangkat.” Lalu Rasulullah bersabda: “Putuskanlah lidahnya dariku!” Kemudian, Abu Bakar membawanya pergi, hingga ia memilih seratus ekor unta, setelah jtu, ia kembali. Ja adalah termasuk manusia yang paling menerima (ridha). Rasulullah saw. kemudian bersabda padanya: “Apakah kamu hendak mengatakan syair kepadaku?” Abbas memohon maaf kepada beliau dan berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, sesungguhnya aku merasakan bahwa syair selalu menggigit lidahku, sebagaimana gigitan binatang, sehingga rasanya aku tidak menemukan cara untuk tidak mengekspresikannya melalui gubahan syair.”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah tersenyum dan bersabda: ,

Artinya: –

“Orang   Arab   itu   tidak   bisa   meninggalkan   syair,   hingga   unta   meninggalkan ringkihannya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker