Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

BAHAYA 2: PERKATAAN YANG BERLEBIHAN

Ucapan yang berlebih-lebihan juga termasuk tercela. Karena hal ini berarti telah ambil bagian memasuki wilayah pada pembicaraan sesuatu yang tidak penting. Penambahan kata terhadap sesuatu yang dipandang penting hendaklah dilakukan seperlunya saja. Sesuatu yang penting, semestinya dikemukakan dengan kalimat yang singkat dan padat. Lalu diulangi lagi bila dianggap perlu. Sesuatu yang maksudnya sudah bisa ditangkap dengan satu kata, namun disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua, sudah termasuk berlebihan. Melebihkan kata dari yang diperlukan itu, termasuk tercela, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sekalipun hal itu tidak mengandung dosa dan tidak pula bahaya. Atha’ bin Abi Rabah berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu, tidak suka akan ucapan yang berlebih-lebihan. Perkataan selain Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah saw., atau amar ma’ruf dan nahi mungkar, bagi mereka adalah sebagai perkataan yang berlebihan. Berkatalah sesuai dengan keperluan kamu dalam hidup yang menjadi keniscayaan dan yang tidak bisa tidak saja. Karena di samping kanan dan kiri kau terdapat pencatat setiap perkataan dan amal perbuatan kamu.

Firman Allah SWT.:

Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya

malaikat pengawas yang selalu hadir.” (OS. Oaaf: 18).

Apakah seseorang di antara kamu tidak merasa malu ketika lembaranlembaran buku catatan itu dibeberkan, sementara isinya penuh dengan hal-hal yang tidak berarti, yang tidak berhubungan dengan urusan agama dan kemaslahatan hidupnya. Sebagian sahabat Nabi saw. ada yang berkata, bahwa ada seseorang yang berkata kepadaku, agar aku.merespons dan menjawabnya. Sekalipun aku sangat ingin menjawabnya, namun aku tidak menjawabnya karena takut jangan-jangan termasuk perkataan yang berlebihan.

Mathraf bin Abdullah berkata: “Hendaklah kebesaran Allah itu agung dalam hatimu!

Maka janganlah kamu menyebutkan-Nya, pada seumpama perkataan seseorang

terhadap anjing dan keledai: “Ya Allah, hinakanlah dia.” Dan kata-kata lain yang serupa dengan itu.”

Ketahuilah, bahwa ucapan yang berlebihan itu tidak terhitung banyaknya. Tetapi yang penting itu, teringkas dalam kitab Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Artinya:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma ‘ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (OS. An Nisa’: 114).

Nabi Muhammad saw. bersabda:

Artinya:

“Berbahagialah orang-orang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan kelebihan dari hartanya.” (HR. Baihagi). Perhatikanlah, bagaimana manusia memutar balikkan  keadaan, berkenaan  dengan  hadis tersebut.  Mereka menahan kelebihan harta dan melepas kelebihan lidah.

Dari Mathraf bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata, aku pernah datang pada Rasulullah saw., ketika itu beliau sedang berada di tengah keluarga Bani Amir. Mereka berkata: “Engkau bapak kami, engkau penghulu kami, engkau yang paling mulia, paling tinggi dan engkau…dan engkau…”

Mendengar perkataan mereka itu Rasulullah saw. lalu menjawab: “Katakan perkataanmu (seperlunya secara tepat), janganlah kamu diombang-ambingkan oleh syaitan.” (HR. Ibnu Abid Dunya).

Hadis ini menunjukkan bahwa lidah bila dilepaskan dengan banyak memuji, meskipun itu benar, maka dikhawatirkan akan diombang-ambingkan oleh syaitan, kepada kata- kata tambahan yang tidak diperlukan.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku peringatkan kamu akan kelebihan perkataanmu. Cukuplah bagi seseorang untuk berkata sesuai dengan yang diperlukan saja.”

Mujahid berkata: “Setiap perkataan itu, tentu akan dicatat, hingga seseorang yang diam lalu berkata kepada anaknya, akan aku belikan kamu begini dan begini. Namun akhirnya ia dicatat sebagai pembohong karena ucapannya itu tidak direalisasikan.

Hasan Bashri berkata: “Hai Anak Adam! Dibentangkan lembaran (buku cacatan amal) untukmu. Lalu ditugaskan dua orang malaikat yang mulia, yang akan menuliskan semua amal perbuatanmu pada lembaran itu. Berbuatlah apa yang kamu kehendaki, banyak atau sedikit (semuanya akan dicatat).”

Diriwayatkan bahwa pernah suatu ketika Nabi Sulaiman mengutus jin ifrit, lalu ia juga mengutus sekelompok utusan yang lain agar mengawasinya lalu melaporkan kepadanya. Kemudian mereka melaporkan kepada Nabi Sulaiman bahwa jin itu pergi ke pasar, ia mengangkat kepalanya memandang ke langit lalu memandang manusia, seraya menggelenggelengkan kepalanya. Ketika Nabi Sulaiman bertanya kepadanya mengenai hal tersebut, ia menjawab: “Aku heran betapa cepatnya, malaikat melakukan pencatatan setiap yang yang dikatakan dan diperbuat oleh manusia.

Ibrahim At Taimi berkata: “Ketika orang mukmin hendak berkata, tentu direnungkan terlebih dahulu, jika bermanfaat, jadilah ia berkata, jika tidak, maka ia tidak jadi berkata. Sedangkan orang yang durhaka, ia melepas lidahnya begitu saja, secara bebas.

Hasan Bashri berkata: “Barangsiapa yang banyak perkataannya, niscaya banyak bohongnya. Barangsiapa yang banyak hartanya, tentu banyak dosanya. Dan barangsiapa yang buruk akhlaknya, berarti ia Menyiksa dirinya.”

Amr bin Dinar berkata, bahwa pernah ada seseorang berkata panjang lebar di depan Nabi saw. lalu berliau bersabda: “Bukankah telah ada hijap bagi lidahmu?” Ia menjawab: “Kedua bibir dan gigiku.” Beliau menjawab. “Mengapa kamu tidak memfungsikannya, untuk mengendalikan pem. : bicaraanmu.”

Menurut riwayat yang lain, Nabi saw. melontarkan ucapan tersebut kepada seseorang yang banyak memuji beliau. Perkataan pujian itu ‘ begitu panjang dan berlebih- lebihan. Selanjutnya beliau saw. Bersabda, :

Artinya:

“Tidak diberikan kepada seseorang akan kejahatan dari kelebihan pada lidahnya.”

Umar bin Abdul Aziz ra. berkata: “Sesungguhnya aku menahan dari banyak berkata, karena takut ada rasa membanggakan diri, dengan perkaan itu.”

Sebagian hukama ada yang berkata: “Apabila seseorang berada dalam | suatu majlis. Lalu pembicaraannya menakjubkan, maka hendaklah ia diam. ‘ Dan bila ia diam, lalu merasa bangga dengan diamnya, maka hendaklah | ia bicara.”

Yazid bin Abi Habib berkata: “Di antara fitnah yang terjadi pada orang alim (ulama) ialah karena ia lebih suka bicara daripada mendengarkan. Sekiranya ia memandang cukup dengan,apa yang disampaikan, maka ketahuilah bahwa diam itu lebih selamat, karena dalam perkataan itu terjadi penghiasan kata-kata, kelebihan dan kekurangan.”

Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya yang paling patut dibersihan oleh seseorang adalah lidahnya.” Abu Darda’ pernah melihat seorang wanita yang memiliki kedudukan, lalu ia berkata: “Seandainya wanita itu bisu, tentu lebih baik baginya.” Sedangkan Ibrahim bin Adham berkata: “Manusia akan celaka disebabkan dua hal, yaitu: Kelebihan harta, dan kelebihan bicara.” Demikianlah, pembahasan tentang tercelanya kelebihan dan banyak bicara, sebab- sebab yang membangkitkannya. Sedangan cara mengatasinya sebagaimana yang telah disebutkan di dalam pasal 2, tentang membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Pen

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker