Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

Nabi saw. juga bersabda:

Artinya:

“Tiga golongan manusia, Allah Ta’ala tidak akan berkata-kata dengan mereka, tiada memandang kepada mereka dengan pandangan kasih sayang pada hari kiamat dan tidak pula Allah mensucikan mereka, dan bagi mereka siksaan yang pedih. Yaitu

orang tua yang berzina, raja yang berdusta dan orang miskin yang sombong.” (HR.

Muslim).

Abdullah bin Amr berkata. sesungguhnya Rasulullah saw. pernah datang ke rumah kami dan aku waktu itu masih kanak-kanak. Ketika aky pergi untuk bermain-main, ibuku  memangilku,  seraya  berkata:  “Hai  Abdullah:  Kemarilah, aku  akan  berikan padamu sesuatu!” Lalu Rasulullah saw. bertanya pada ibuku: “Apakah yang akan kamu berikan padanya?” Sang ibu men. jawab: ““Tamar (kurma).” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jika kamu tidak memenuhi apa yang kamu ucapkan (janjikan) pada anakmu itu, tentu kamu dicatat bagimu satu kedustaan.”

Nabi saw. bersabda:

Artinya:

“Sekiranya Allah menganugerahkan kepadaku nikmat sejumlah bilangan batu krikil ini, tentu aku bagi-bagikan di antara kamu. Kemudian, kamu tidak akan mendapatiku sebagai orang yang kikir yang berdusia dan yang penakut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi saw. bersabda, dan ketika itu sedang bersandar:

Artinya:

“Maukah kamu aku beritahukan kepadamu, tentang dosa yang terbesar?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu, menyekutukan Allah dan menduharkai ibu bapak.” Kemudian beliau duduk bersandar, seraya melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, dan berkata dusta.” (HR. Bukhari),

Ibnu Umar berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba Allah yang berbuat dusta dengan suatu kedustaan, maka malaikat menjauh daripadanya, sejauh perjalanan satu mil, karena busuknya bau kebohongan yang diucapkannya.” (HR. Tirmidzi).

Dari Anas ra., bahwa Nabi saw. bersabda: Artinya:

“Berilah aku jaminan dari dirimu, maka aku akan memberikan jaminan surga bagimu. Apabila kamu berkata, berkatalah yang benar, jika berjanji, tepatilahjanjimu, jika dipercaya, tunaikan kepercayaan itu: jagalah farjimu, tundukkan pandanganmu, dan peliharalah tanganmu.” (HR. Ahmad).

Nabi saw. juga bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu mempunyai celak, yang disendok dan yang dihirup. Adapun yang disendok adalah kedustaan, dan yang dihirup adalah amarah. Sedangkan celaknya adalah tidur.” (HR. Thabrani).

Umar ra. suatu hari berkhutbah, pernah suatu ketika Rasulullah saw. berdiri di tengah- tengah kami, seperti aku berdiri di tengah-tengah kalian ini, lalu beliau bersabda:

Artinya:

“Aku berpesan kepadamu, berbuat baiklah kepada para sahabatku, kemudian kepada para pengikut sahabatku (tabi’in), lalu para pengikut orang yang mengikuti sahabatku (tabi ‘it tabi’in). Selanjutnya kebohongan menyebar kemana-mana hingga seseorang begitu mudah bersumpah, padahal ia tidak diminta bersumpah, dan seseorang memberikan kesaksian, padahal ia tidak diminta kesaksiannya.” (HR. Tirmidzi),

Nabi saw. bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang berbicara mengenai hadis dariku, padahal ia tahu bahwa hadis itu dusta (palsu), maka dia termasuk satu di antara para pendusta.” (HR. Muslim).

Nabi saw. bersabda:

Artinya: : “Barangsiapa bersumpah di atas suatu sumpah untuk mengambil (mendapatkan) harta seorang muslim dengan cara keji (tidak benar), niscaya ia bertemu Allah, dalam keadaan sangat marah kepadanya.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari Nabi saw.: Sesunguhnya Nabi saw. menolak kesaksian seorang laki-laki dalam suatu kebohongan yang didustakan.” (HR. Ibnu Abid Dunya).

Aisyah ra. berkata: “Tiada ada suatu tabiat yang sangat berat atas para sahabat Rasulullah saw. selain daripada: berdusta. Dan Rasulullah saw. melihat salah seorang sahabatnya yang berdusta. Maka orang itu tiada hilang daripada Rasulullah saw. sebelum beliau tahu, bahwa sahabatnya itu telah bertobat kepada Allah Azza wa Jalla dari kedustaannya itu.”

Nabi Musa as. berdo’a dalam munajatnya: “Wahai Tuhan, siapakah di antara hamba- Mu yang paling baik amalnya dalam pandangan-Mu? Allah Ta’ala menjawab: “Yaitu, orang yang lidahnya tidak berdusta, hatinya tidak durhaka dan farjinya tidak berzina.”

Lukman berkata kepada anaknya: “Hai anakku! Takutlah berdusta! Karena dusta itu sesuatu yang menyenangkan orang yang melakukannya, seperti kesenangannya makan daging burung pipit. Amat sedikit yang tidak menyukainya. Namun orang lain justru membencinya:”

Rasulullah saw. memuji kejujuran, sebagaimana dalam sabda beliau:

Artinya: Empat perkara jika telah ada pada dirimu, maka apa yang terlepas darimu berkenaan dengan harta dunia, tidak akan membahayakanmu. Yaitu: jujur dalam bicara, memelihara amanat, budi pekerti yang baik dan menjaga dari makanan (yang haram atau yang subhat).” (HR. Al Hakim).

Suatu ketika Abu Bakar berkhutbah, setelah Rasulullah wafat. “Rasulullah saw. pernah berdiri di tengah-tengah kami sebagaimana aku sekarang ini, ada tahun pertama kerasulan, kemudian beliau saw. menangis sambil bersabda:

yang dapat dicapai dengan perkataan yang benar, maka haram mencapainya dengan cara berbohong. Tetapi jika maksud terpuji itu, tidak mungkin dapat dicapat kecuali dengan berdusta, maka  berdusta  dalam  hal  ini diperbolehkan  (mubah), asalkan tujuannya berkenaan dengan perkara mubah. Dan ber, bohong itu bisa menjadi wajib apabila bertujuan untuk melindungi ke, selamatan jiwa orang Islam, yang memang wajib dilindungi. Seandainya kamu berkata jujur, tetapi kejujuran itu justru menimbulkan pertumbuhan darah (pembunuhan) terhadap seorang muslim, maka berbohong menjadi sebuah kewajiban bagimu. Misalnya, ketika apa yang menjadi

tujuan dari sebuah peperangan tidak dapat tercapai secara sempurna, atau tujuan mendamaikan orang yang bertikai atau tujuan meluluhkan hati orang yang zalim itu tidak dapat tercapai jika berkata jujur apa adanya, maka dalam hal ini kamu boleh berdusta. Tetapi, tentu saja sebaiknya diusahakan sedapat mungkin menjaga diri dari kebohongan. Karena jika kamu membuka kesempatan hatimu untuk berbohong, dikhawatirkan akan menjadi terbiasa melakukannya, sekalipun tidak dalam keadaan terpaksa, Dalil yang menjadi dasar terhadap pengecualian ini (dusta yang diperbolehkan), di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan dari Ummi Kultsum. Ia berkata:

Artinya:

“Aku tidak mendengar Rasulullah saw. memperbolehkan bohong kecuali dalam tiga keadaan. Yaitu, berbohong dalam konteks sebagai Strategi berperang, seseorang yang berbohong dengan maksud untuk mendamaikan antara manusia, dan seseorang yang berbohong kepada istrinya atau istrinya berbohong kepada suaminya (untuk menjaga keharmonisan dan mempererat jalinan cintanya.” (HR. Muslim).

Khalid bin Syabih  pernah  ditanya: “Apakah  orang  yang  dusta  sekali  itu  disebut pendusta?” Ia menjawab. “Ya, benar.”

Malik bin Dinar berkata: “Aku pernah membaca sebagian dari isi kitab, aku menjumpai kalimat berikut: “Tidaklah seseorang yang berpidato melainkan pidatonya akan dicocokkan dengan amal perbuatannya, jika memang sesuai dengan perbuatannya, maka ia dibenarkan. Jika ia berbohong, maka kedua bibirnya akan digunting dengan gunting dari neraka. Setiap kali selesai digunting, kedua bibirnya kembali lagi seperti semula.

Malik bin Dinar juga berkata: “Benar dan bohong itu berkelahi dalam hati, hingga salah satu dari keduanya mengeluarkan (mengalahkan) yang lainnya.”

Umar bin Abdul Aziz ra. pernah berbicara dengan Walid bin Abdul Malik ra. tentang sesuatu. Lalu Walid bertanya: “Kamu pernah berdusta?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Demi Allah, aku tidak pernah berdusta sejak aku tahu bahwa dusta itu akan mempermalukan pelakunya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker