BAHAYA 16: ADU DOMBA
Allah Ta’ala berfirman: Artinya:
“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (OS. Al Oalam: 11).
Kemudian Allah berfirman: . Artinya:
“Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” (OS. Al Oalam: 13).
Abdullah bin Mubarak berpendapat bahwa lafal az zaniim dalam ayat tersebut ialah anak zina (waladuz zinaa), yang tidak dapat menyimpan pembicaraan. Ia mengambil petunjuk daripadanya bahwa setiap orang yang tidak dapat pembicaraan dan berjalan dengan mengadu domba, maka hal itu menunjukkan bahwa ia adalah anak zina.
Sebagai sebuah konklusi yang diambil dari firman Allah swt.:
Artinya: “Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” | (OS. Al
Oalam: 13).
Allah swt. juga berfirman: Artinya:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (OS. Al Humazah: 1), Dikatakan, bahwa lafal, humazah dimaksud ialah pengadu domba (an nammaam). Firman Allah swt.:
Artinya:
“Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.” (OS. Al Masad: 4).
Dikatakan bahwa hammaalatal hathab dimaksud dalam ayat tersebut ialah perempuan pengadu domba dan penyebar gosib. Dan firman Allah swt.
Artinya:
“..lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah.” (OS. At Tahrim: 10).
Dikatakan, bahwa istri Nabi Luth as. sebagai penyebar berita yang berkaitan dengan tamu Nabi Luth. Sedangkan istri Nabi Nuh as. penyebar berita bahwa Nabi Nuh gila. Nabi saw. bersabda:
Artinya: “Tidak akan masuk surga, pengadu domba.” (HR. Ath Tahbrani).
Dalam hadis yang lain:
Artinya: “Tidak akan masuk surga, orang yang tukang fimah (pengadu domba).”
Al qattaat bermakna an nammaam. Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Nabi saw. bersabda:
Artinya: “Maukah kamu, aku beritahukan kepadamu tentang orang yang paling buruk di antara kamu? Mereka menjawab: “Ya, tentu mau.” Beliau bersabda: “Orang-orang yang berjalan ke sana kemari dengan mengadu domba, orang-orang yang merusak jalinan cinta dan kasih sayang (antara sesama muslim): dan mereka yang mendurhakai (mencari-cari aib) orang-orang baik.” (HR. Ath Thabrani).
Abu Dzar Al Ghaffari ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa menyiarkan suatu perkataan (berita) orang muslim, untuk mempermalukannya dengan tidak sebenarnya, maka ia akan dipermalukan oleh Allah di dalam neraka, pada hari kiamat.” (HR. Ath Thabrani).
Abu Darda’ berkata, bahwa Nabi saw. bersabda: Artinya: “Siapapun orangnya yang menyebarkan aib seseorang dengan satu kata, yang sesungguhnya tidak benar ada pada orang itu. Namun dia melakukan hal itu untuk mempermalukannya di dunia, maka adalah. sungguh menjadi hak Allah untuk membinasakannya pada hari kiamat
. didalam neraka.” (HR. Ath Thabrani).
Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: .
Artinya: “Barangsiapa yang memberikan kesaksian atas seorang muslim dengan sebuah kesaksian (yang tidak benar), padahal ia bukan ahlinya, maka hendaklah ia menempati tempatnya di dalam neraka.” (HR. Ahmad). Dikatakan bahwa sepertiga dari siksa kubur itu disebabkan karena adu domba.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi saw., sesungguhnya ketika Allah menciptakan surga, Allah berfirman kepadanya (surga): “Berbicaralah, hai surga!” Maka surga berkata: “Berbahagialah orang yang memasuki aku.” Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, delapan golongan manusia tidak akan menempati kamu. Yaitu, peminum khamar, orang yang ceroboh dengan membiasakan berzina, pengadu domba, mucikari, laki-laki yang bertingkah seperti wanita (begitu juga sebaliknya): orang yang memutuskan hubungan silatur rahim, dan orang yang mengikat janji kepada Allah begini dan begini, lalu dia tidak menepatinya.”
Imam Ahmad juga meriwayatkan
Artinya:
“Rasulullah saw. bersabda: Tiga golongan manusia tidak akan masuk surga dan Allah tidak melihat mereka (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat, yaitu: Orang yang durhaka kepada kedua ibu bapaknya: wanita yang bergaya menyerupai laki-laki: orang yang tidak memiliki kekhawatiran (tidak cemburu) terhadap ahlinya (istri dan wanita yang menjadi tanggung jawabnya). Sedangkan tiga golongan yang tidak dilihat oleh Allah (tidak mendapatkan rahmat-Nya), pada hari kiamat, yaitu: Orang yang durhaka kepada ibu bapaknya: peminum khamar, dan orang yang menyebut-nyebut (undat-undat) pemberiannya.” (HR. Ahmad).
Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi saw. bersabda:
Artinya:
“Tidak akan masuk surga, orang yang mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Ka’ ab bin Akhbar, bahwa kaum Bani Israil pernah dilanda kemarau panjang, hingga terjadi krisis ekonomi, lalu Nabi Musa melakukan ritual (shalat istisga) untuk meminta hujan, namun sekalipun beliau telah memohon hujan berkali-kali, belum juga turun hujan. Hingga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa: “Aku tidak mengabulkan permintaanmu dan orang-orang yang bersamamu, karena di antara kalian masih ada orang yang suka mengadu domba.” Nabi Musa menjawab dalam munajatnya: “Wahai Tuhanku, siapakah dia? Tunjukkan kepadaku siapa orangnya, aku akan mengeluarkan dari kami.” Allah berfirman: “Wahai Musa, aku melarang kamu semua melakukan adu domba.” Ketika semuanya bertaubat, maka barulah Allah menurunkan hujan.
Dikisahkan, bahwa konon ada seorang lelaki, mengikuti orang ahli hikmah dalam sebuah perjalanan sejauh tujuh puluh farshah. Laki-laki itu melakukan hal tersebut karena terdorong untuk mendapatkan tujuh kalimat hikmah. Ketika sampai di hadapan ahli hikmah itu, ia berkata: “Aku datang dan menemui tuan, karena ilmu yang diberikan Allah kepada tuan. Beritahulah aku tentang langit dan yang lebih berat daripadanya, tentang bumi dan yang lebih luas daripdanya, tentang batu yang apa yang lebih keras daripadanya, tentang api dan yang lebih panas daripadanya, tentang zamharir dan yang lebih dingin daripadanya, tentang kekayaan laut dan yang lebih kaya daripadanya, dan tentang yatim dan yang lebih hina daripadanya.”
Lalu ahli hikmah itu menjawab: “Mempermainkan orang yang tidak bersalah dengan kebohongan itu lebih berat daripada langit, kebenaran itu lebih luas daripada bumi, hati yang gana’ah (neriman), lebih kaya daripada laut, rakus dan dengki, lebih panas (membakar) daripada api, hajat terhadap kerabat, jika tidak berhasil lebih dingin daripada zamharir, hati orang kafir, lebih keras daripada batu: dan pengadu domba ketika jelas perkaranya, lebih hina daripada yatim.









One Comment