Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

CARA MENCEGAH LIDAH AGAR TIDAK MENGGUNJING

Ketahuilah bahwa semua keburukan akhlak itu hanya dapat diobati dengan ilmu dan amal. Dan cara mengobati setiap penyakit adalah dengan cara memberantas penyebabnya. Oleh sebab itu hendaklah kamu mengamati dan memeriksa penyebab yang menimbulkan perbuatan menggunjing.

Tetapi yang dapat dilakukan untuk dapat mencegah lidah dari menggunjing ada dua cara, yaitu: Secara garis besar dan secara terperinci.

Adapun secara garis besar, hendaklah seseorang mengetahui dan yakin serta menyadari   bahwa   dengan   menggunjing   ia   akan   menghadapi   murka   Allah.

Sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa ayat Al Quran dan hadis Nabi saw., sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.

Hendaknya pula disadari bahwa pergunjingan dapat menghapus setiap kebaikan, kelak di hari Kiamat. Karena pergunjingan itu dapat memindahkan kebaikan orang yang menggunjing kepada orang yang dipergunjingkan, besok di hari Kiamat. Dipindahkannya amal kebaikan si penggunjing kepada yang digunjing adalah sebagai ganti runtuhnya harga diri orang yang digunjing. Jika si penggunjing tidak mempunyai kebaikan, maka kejelekan (dosa-dosa) yang digunjing akan dipindahkan orang yang dipergunjingkan.

Di samping itu, orang yang menggunjing, diserupakan dengan orang yang memakan bangkai saudaranya. Bahkan ia akan masuk neraka karena timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya. Beratnya timbangan keburukan itu, adakalanya karena dipenuhi oleh keburukan orang yang dipergunjingkan.

Runtuhnya kemuliaan si pengunjing karena berkurangnya pahala amal-amalnya setelah terjadi tuntut-menuntut, pertanyaan, dan pemeriksaan (hisab), yang membuatnya menjadi bangkrut.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:

“Tidaklah api itu lebih cepat dalam hal memakan kayu kering, daripada cepatnya

gunjingan memakan kebaikan-kebaikan seseorang.”

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata kepada Hasan Basri: “Aku mendengar bahwa kamu telah menggunjing  aku.” Maka  Hasan Basri menjawab: “Aku  tidak sampai hati kepadamu kalau aku meminta keputusan kepadamu tentang kebaikan- kebaikanku.”

Jika seseorang meyakini kebenaran hadis-hadis yang menerangkan tentang bahaya menggunjing, pasti ia tidak akan sampai melepaskan lidahnya untuk melakukannya. Karena takut terhadap bencana yang di. timbulkan dari perbuatan menggunjing.

Sebaliknya, akan lebih bermanfaat baginya jika ia mau mengoreksi diri. Lalu sibuk dengan aibnya sendiri.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya :

“Berbahagialah orang-orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri daripada sibuk dengan mengurusi aib-aib orang lain.” (HR. Al Bazzar).

Ketika seseorang mengetahui suatu aib seseorang, maka hendaklah ia merasa malu jika melupakan aibnya sendiri, kalau sampai mengurusi atau mencela aib orang lain. Sebaiknya ia menyadari akan ketidakberdayaan orang lain untuk membersihkan aib tersebut, seperti halnya ketidakberdayaan dirinya sendiri. Demikian ini jika aib itu berkaitan dengan perbuatan dan kemauannya. Jika aib itu berkaitan dengan penciptaan. Maka mencacinya berarti mencaci yang menciptakannya. Karena barangsiapa mencela suatu hasil karya, berarti ia mencela pembuatnya.

Seorang lelaki berkata kepada ahli hikmah: “Wahai orang yang buruk rupa.” Ahli hikmah menjawab: “Seandainya penciptaan wajahku diserahkan kepadaku, tentu aku akan membuatnya dalam bentuk yang sebagus-bagusnya”

Artinya:

“Barangsiapa bertakwa kepada Tuhannya, tentu lidahnya tumpul dan kemarahannya

akan sembuh,” (HR. Ad Dailami),

Nabi saw. bersabda: Artinya:

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, sementara ia mampu melampiaskannya, maka Allah swt. memanggilnya pada Hari Kiamat di hadapan para makhluk, hingga Allah menyuruhnya memilih bidadari mana yang dikehendakinya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam sebagian kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu disebutkan: “Wahai manusia, ingatlah kamu kepada-Ku ketika kamu sedang marah, tentu Aku akan ingat kepadamu ketika  Aku marah. Sehingga Aku tidak membinasakanmu bersama orang-orang yang Kubinasakan.” Sedangkan cara mengobati perbuatan menggunjing yang disebabkan oleh faktor solidaritas terhadap teman-teman, maka hendaklah kamu menyakini bahwa Allah akan marah kepadamu jika kamu mencari kemurkaan-Nya dalam keridhaan makhluk. Bagaimana mungkin kamu merelakan dirimu menghormati orang lain dengan cara menghina Tuhanmu. Kamu tinggalkan keridhaan Tuhanmu hanya untuk mendapatkan keridhaan teman-temanmu. Kecuali jika kamu marah karena Allah Ta’ala. Sekalipun demikian, tidak seyogyanya kamu menyebut orang yang membuat kamu marah karena Allah itu. Seharusnya kamu juga marah kepada teman-temanmu yang menyebut-nyebut keburukan orang lain, karena dengan menyebut keburukan orang lain itu, berarti mereka berbuat maksiat kepada Allah swt. dengan melakukan dosa yang sangat keji, yaitu menggunjing.

Adapun menggunjing karena dorongan untuk membersihkan dan membebaskan diri sendiri dengan cara menuduh orang berbuat khianat, padahal kamu tidak boleh menyebut nama orang yang dimaksud, maka cara mengobatinya adalah dengan mengetahui dan menyakini bahwa menghadapi kemurkahan Allah itu jauh lebih berat daripada kemurkaan manusia. Padahal dengan menggunjing, secara yakin kamu akan menghadapi murka Allah. Sementara kamu tidak mengetahui secara pasti apakah kamu bisa bebas dari murka manusia atau tidak.

Dengan demikian berarti kamu berusaha membebaskan dirimu di dunia berdasarkan dugaan. Tetapi pada hakekatnya kamu mencelakakan dirimu dan merugikan kebaikan-kebaikanmu di akhirat: mendapatkan hinaan Allah secara kontan, dan menunggu tertolaknya hinaan manusia yang belum pasti. Sungguh ini, merupakan puncak kebodohan dan kehinaan..

Seandainya kamu beralasan dengan perkataanmu: “Kalau aku makan barang haram, si Fulan itu, juga memakannya. Jika aku menerima harta dari penguasa, si Fulan itu juga menerimanya.”

Hal itu, merupakan suatu kebodohan. Sebab alasanmu hanya mengikuti orang yang tidak sepantasnya ditiru. Sesungguhnya orang yang menyalahi perintah Allah itu tidak boleh diikuti, bagaimana pun keadaannya. Seandainya orang lain masuk neraka, sedangkan kamu mempunyai kemampuan untuk tidak masuk neraka, maka janganlah kamu mengikutinya. Jika kamu menyusul mengikutinya, maka itu merupakan sebuah ketololan akal pikiranmu.

Ketika kamu menyebut-nyebut orang tertentu, berarti kamu telah menggunjing dia. Kemaksiatanmu semakin bertambah, dengan mengikuti orang yang sebenarnya tidak boleh diikuti. Dengan kebodohan dan kedunguanmnu itu, kamu telah mengumpulkan dua kemaksiatan. Sehingga dengan begitu, kamu tak ubahnya bagaikan kambing betina yang melihat kambing jantan akan menjatuhkan dirinya dari puncak gunung. Lalu kambing betina itu mengikutinya. Seandainya kambing betina itu mempunyai lidah untuk mengemukakan alasan, tentu ia akan menjelaskan alasannya dan berkata: “Kambing jantan itu lebih pandai dariku dan ia telah membiasakan dirinya. Maka aku harus berbuat seperti yang diperbuatnya.” Jikakamu mendengar alasan kambing betina itu, tentu kamu akan tertawa karena kebodohannya. Itulah sebuah gambaran tentang keadaan dirimu. Selanjutnya, janganlah kamu heran  dan  menertawakan dirimu sendiri.

Sedangkan mengenai pergunjingan yang terdorong tujuan untuk membanggakan diri dan memperlihatkan kelebihan dirinya disertai mencela orang lain, dapat diatasi dengan menasehati diri sendiri bahwa apa yang penyebutan aib orang lain dengan maksud menjelek-jelekkan orang lain itu justru membatalkan keutamaanmu, di sisi Allah. Hendaknya kamu juga menyadari bahwa pandanganmu terhadap keutamaan dirimu sendiri itu, dalam pandangan orang lain adalah sesuatu yang membahayakan dan membuat kepercayaan orang lain terhadap dirimu semakin menurun.

Dengan demikian, berarti kamu telah menjual apa yang ada di sisi Sang Pencipta secara yakin dengan apa yang ada dalam pandangan makhluk yang hanya berdasarkan dugaan semata. Seandainya kamu berhasil meyakinkan kepada orang lain akan kelebihanmu, sedikitpun mereka tidak berarti bagimu, selain daripada Allah swt.

Adapun pergunjingan yang terjadi sebab dengki, maka hendaklah kamu sadar bahwa apa yang kamu perbuat itu sama halnya dengan mengumpulkan dua siksa. Karena kedengkianmu berkenaan dengan kenikmatan dunia membuat hatimu tersiksa dan diakhirat pun kamu mendapatkan siksa. Dengan demikian, kamu rugi di dunia dan akhirat.

Ketika kamu bermaksud dengki kepada seseorang, maka kamu akan menderita sakit di jiwamu dan memberikan kebaikanmu kepadanya. Dengan begitu berarti kamu memusuhi dirimu sendiri dan menjadi teman baiknya. Karena gunjingan kamu kepadanya itu, sama sekali tidak membahayakannya, tetapi justru membahayakan dirimu sendiri, dan bermanfaat baginya. Karena kebaikan-kebaikanmu akan berpindah kepadanya atau keburukankeburukannya ditimpakan kepadamu. Maka kamu akan sengsara karenanya.

Kadang-kadang kedengkian dan gunjinganmu itu menjadi faktor penyebab tersebarnya keutamaan orang yang kamu benci dan kamu pergunjingkan itu. Seperti kata penyair:

Artinya :

“Apabila Allah bermaksud menyebarkan keutamaan yang tersembunyi maka Dia membuka kesempatan lisan pendengki untuk menggunjingnya Adapun untuk mengatasi pergunjingan yang terdorong oleh maksud untuk mengolok-olok seseorang di hadapan orang lain, maka hendaklah kamu menyadari bahwa apa yang kamu perbuat itu, pada hakekatnya adalah berarti menghinakan dirimu sendiri di sisi Allah, di hadapan para malaikat dan para nabi-Nya.

Seandainya kamu merenungkan tentang kerugian dan pelangaranmu, rasa malu dan kehinaanmu di Hari Kiamat, yaitu suatu hari dimana kamu memikul keburukan orang yang kamu olok-olok menuju neraka, tentu kamu akan enggan melakukan penghinaan atau mengolok-oiok temanmu. Kalau saja kamu mengerti tentang keadaanmu sendiri, maka kamu lebih berhak untuk mentertawakan dirimu sendiri. Karena kamu menganiaya di hadapan beberapa orang, sementara kamu mempertontonkan kehinaanmu di hadapan banyak orang di Hari Kiamat. Lalu orang yang kamu olok- olok   itu   merampas   kebaikanmu   dan   menumpakan   keburukan-keburukannya

kepadamu dan kamu pun menjadi digiring ke neraka. Hal itu persis seperti keledai yang digiring ke neraka sambil diejek dan diolok-olok, sementara orang yang kamu gunjing dan kamu olok-olok di dunia bersenang-senang atas kehinaanmu, gembira dengan anugerah kemenangan dari Allah, sedangkan kamu pada saat itu menjadi hina dan tersiksa.

Sementara mengenai faktor rasa kasihan yang membuat seseorang terseret dalam sebuah pergunjingan. Maka rasa kasihan terhadap orang yang sedang mendapat cobaan karena kemaksiatannya, pada dasarnya memang merupakan kebaikan. Namun janganlah kamu terlena, iblis dengki kepadamu, lalu menyesatkan dirimu dan mendorong  agar kamu  berbicara dengan  suatu  yang  dapat memindahkan  amal kebaikanmu kepada orang yang kamu kasihi. Maka kebaikanmu menjadi tambahan dosa orang yang kamu kasihi. Pahalamu batal dan amal kebaikanmu dikurangi oleh Allah.

Demikian pula faktor marah karena Aliah, seharusnya tidak disertai dengan menggunjing orang lain. Sesungguhnya syaitan membuatmu senang terhadap pergunjingan, agar pahala kemarahanmu batal dan kamu menghadapi murka Allah disebabkan perbuatan mengumpat.

Adapun rasa heran yang membuat kamu menggunjing, bisa dicegah dengan sikapmu bahwa seharusnya kamu heran terhadap dirimu sendiri. Mengapa kamu membinasakan diri dan agamamu dengan agama orang lain di dunia, padahal dengan rasa heran kepada orang lain dan menggunjingnya, membuat kamu tidak aman dari siksa dunia, yaitu Allah merobek yang menutupi aibmu, sebagaimana kamu merobek tutup aib saudaramu dengan keherananmu tersebut.

Dengan dernikian, maka jelaslah bahwa pergunjingan, apapun faktor penyebabnya dapat diatasi dan diobati dengan ilmu dan amal. Memper. dalam berbagai persoalan tersebut termasuk bab-bab iman. Barangsiapa yang imannya kuat dalam semua ini, tentu lidahnya akan terbebas dari perbuatan menggunjing.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker