BATAS-BATAS ADU DOMBA
Istilah namimah pada umumnya ditujukan pada orang yang menyampaikan (memindah) kata seseorang kepada orang lain yang menjadi mitra bicaranya. Seperti Anda berkata: “Si Fulan, membicarakan kamu begini dan begini.” Tetapi namimah tidak hanya terbatas secara khusus sebagaimana hal itu. Definisi namimah ialah membuka sesuatu yang dibenci bila dibuka, baik yang membenci atau yang tidak menyukai itu orang yang diambil berita daripadanya atau oleh orang yang disampaikan berita kepadanya. Baik pemberitaan itu melalui ucapan, tulisan, kode- kode, petunjuk. Dan yang diberitakan itu baik berkenaan dengan perbuatan atau perkataan orang yang diberitakan, mengenai cacat, kekurangan yang ada padanya ataupun yang tidak.
Bahkan pada hakekatnya namimah itu, ialah menyiarkan rahasia dan merobek tirai penutup sesuatu yang tidak disukai dalam menyingkapkannya. Bahkan segala apapun yang terkait dengan manusia yang dalam pandangan manusia tidak baik untuk diungkap, maka seharusnya didiamkan, tidak perlu diungkap. Kecuali bila diperlukan karena berguna bagi orang Islam, atau untuk menolak kemaksiatan. Seperti ketika seseorang melihat pencuri mengambil harta orang lain, maka hendaklah ia memberikan kesaksian untuk menjaga dan melindungi hak orang yang diberi kesaksian, yaitu orang yang hartanya dicuri. Tetapi apabila seseorang melihat orang menyembunyikan hartanya sendiri, maka membuka rahasia itu dan menyebarkannya kepada orang lain termasuk adu domba dan menyebarkan rahasia orang lain.
Adapun yang mendorong timbulnya adu domba itu, adakalanya dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan orang yang beritakan, atau untuk menunjukkan simpati pada orang yang diberi berita, kebiasaan omong kosong, bicara berlebih-lebihan dan kebatilan.
Setiap orang yang menerima berita atau diajak adu domba, maka hendaklah ia memperhatikan enam perkara berikut, yaitu:
Pertama: Tidak serta merta mempercayainya, karena adu domba (namimah) itu sebuah kefasikan dan orang semacam itu ditolak kesaksiannya.
Allah swt. berfirman:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (OS. Al Hujurat: 6).
Kedua: Hendaklah ia mencegah orang yang mengajak adu domba itu dengan menasehatinya, karena hal itu merupakan perbuatan yang tercela.
Firman Allah swt.:
Artinya:
“dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.” (OS. Lugman: 17).
Ketiga: Hendaklah ia membencinya karena Allah, sebab orang yang mengadu domba itu berarti ia membenci Allah, karena tidak mengindahkan apa yang dilarang-Nya. Membenci orang yang benci kepada Allah adalah wajib.
Keempat: Hendaklah ia tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang gaib
(yang dibicarakan atau yang diadu domba). Allah swt. berfirman:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa.” (OS. Al Hujurat: 12).
Kelima: Berita yang disampaikan kepada kamu tentang seseorang itu dengan mutivasi adu domba itu, jangan sampai membuat kamu justru mencari-cari kesalahan orang lain.
Keenam: Dengan berita yang kamu terima dari orang yang mengadu domba itu, jangan sampai membuat kamu juga menyebarkannya kepada orang lain dan mempergunjingkannya.
Firman Allah swt.:
Artinya:
“…dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan Janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (OS. Al Hujurat: 12).
Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, pernah suatu ketika seorang laki-laki datang menghadap kepadanya, seraya menyebut sesuatu yang berkenaan dengan seseorang di hadapannya. Lalu Umar berkata kepadanya: “Jika kamu menghendaki, akan kami pikirkan perkara kamu itu, jika perkara yang kamu ucapkan itu tidak benar, atau kamu dusta, maka kamu masuk dalam kategori ayat:
Artinya: | “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (OS. Al Hujurat: 6).
Jika apa yang kamu ucapkan itu benar, maka ayat berikut cocok denganmu:
Artinya: “Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (OS. Al
Oalam: 11).
Dan jika kamu mau, kami akan memberikan pengampunan kepadamu. Laki-laki itu, menjawab: “Pengampunan, wahai Amirul Mukminin, kami tidak akan mengulanginya lagi untuk selamanya.”
Pengadu domba, harus dibenci, tidak dipercaya dan tidak dibenarkan apa yang diucapkan dan berita yang disampaikan dengan maksud mengadu domba itu. Bagaimana tidak dibenci? Sementara dia tidak mau meninggalkan kedustaan, pergunjingan, pengkhianatan, penipuan, keculasan, kedengkian, kemunafikan dan selalu menebarkan kerusakan di tengahtengah kehidupan masyarakat. Dia adalah orang yang berusaha , memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disambung dan membuat kerusakan di muka bumi. Firman Allah swt.:
Artinya:
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (OS. Asy Syuraa: 42).
Nabi saw. bersabda:
Artinya:
“Sejahat-jahat manusia ialah orang yang ditakuti oleh orang lain karena
kejahatannya.” (Muttafag alaih). Pengadu domba, termasuk di dalamnya.
Nabi saw. juga bersabda: Artinya:
“Tidak akan masuk surga gaathi’ (pemutus). Ditanyakan: Siapakah qaathi’ itu? Beliau
menjawab: orang yang memutuskan hubungan
di antara manusia.” (Muttafag alaih).
Dialah pengadu domba. Namun dalam riwayat lain dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan pemutus tersebut ialah orang yang memutuskan hubungan silaturrahim.
Luqman Hakim berkata kepada anaknya, wahai anakku aku wasiatkan kepadamu, hendaklah kamu memperbaiki hubungan terhadap sesama manusia baik yang dekat maupun yang jauh (yang masih kerabat maupun yang bukan), tahanlah kebodohanmu dari orang yang mulia maupun orang yang tercela, jagalah persaudaraanmu,
sambunglah kerabatmu, selamatkan orang lain dari penebar berita pengadu domba yang juga akan menyeret kamu dalam kebinasaan.
|Sebagian ulama berkata, bahwa namimah (adu domba) itu dibangun qtas kedustaan, kedengkian, kemunafikan, semua itu merupakan dasar pagi kehinaan.
Jadi, secara garis besar bahaya adu domba itu sangat besar dan harus dihindari. Hammad bin Salim menceritakan, bahwa konon ada seorang laki-laki menjual budak. Kepada si pembeli, ia berkata: “Budak ini tidak mempunyai cacat kecuali adu domba.” Si pembeli bisa menerimanya (rela) dan membelinya. Selang beberapa hari budak itu berkata kepada istri tuannya: “Sesungguhnya tuanku (suami tuan putri), tidak mencintaimu, dia hendak menjadikan kamu tidak lebih dari seorang gundik. Oleh sebab itu, siapkan gunting dan ambillah beberapa rambut kepala belakang bagian bawah (rambut jitoknya) ketika ia sedang tidur.” Kemudian kepada suaminya ja berkata: “Istri tuan, menjadikan tuan tidak lebih dari seorang teman, sesungguhnya dia hendak membunuh tuan. Untuk mengetahui itu, hendaklah tuan berpura-pura tidur di hadapan istri tuan, maka tuan akan tahu rencana yang hendak diperbuat oleh istri tuan.” Ia pun lalu berpura-pura tidur. Melihat suaminya tidur, sang istri mengambil gunting yang telah dipersiapkan untuk menggunting rambutnya. Tetapi sang suami ketika mengetahui istrinya mendekatinya dengan membawa gunting, dia beranggapan bahwa ternyata memang benar dia hendak membunuhku, maka dia bangkit, meraih gunting yang dipegang sang istri lalu membunuhnya. Tidak lama kemudian datanglah keluarga istri yang telah dibunuh itu, untuk membalas pembunuhan atas wanita itu. Akhirnya perseteruan semakin meluas menjadi perseteruan antara dua kabilah, yaitu antara kabilah istri dan suami tersebut.
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita.









One Comment