Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

Kemudian Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya kedua gadis itu berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah bagi mereka, namun berbuka dengan apa yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla atas keduanya. Karena salah seorang dari mereka duduk di samping yang lain, lalu memulai memakan daging manusia (menggunjing).” (HR. Ahmad). Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. pernah berkhutbah di hadapan para sahabat. Dalam khutbahnya itu, Rasulullah saw. menerangkan tetang besarnya bahaya riba. Beliau bersabda:

Artinya:

“Sesungguhnya satu dirham yang didapat seseorang dari hasil riba itu kesalahannya lebih besar di sisi Allah daripada tiga puluh enam kali perbuatan zina yang dilakukan oleh seseorang. Sedangkan sebesarbesar riba adalah menghancurkan harga diri orang Islam. (HR. Ibnu Abid Dunya).

Jabir bin Abdillah berkata, sesungguhnya aku pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di tengah-tengah perjalanan Rasulullah menghampiri dua makam yang penghuninya disiksa, Rasulullah saw. kemudian bersabda:

Artinya:

“Sesaongguhnya penghumi kedua makam ini disiksa. Keduanya tidak disiksa karena dosa-dosa besar. Melainkan seorang dari mereka disiksa karena menggunjing orang lain, sementara yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan sisa kencingnya.”

Kemudian, Rasulullah saw. meminta satu pelepah daun kurma yang tnasih segar dan membelahnya jadi dua. Lalu memerintahkan kepada Jabir agar menancapkannya pada masing-masing makam tersebut. Lalu beliau bersabda:

Artinya:

“Ingatlah, sesungguhnya siksa kedua orang itu akan diringankan selama kedua pelepah tersebut masih basah atau selama keduanya belum mengering.” (HR. Ibnu Abid Dunya).

Diriwayatkan pula bahwa, ketika Rasulullah saw. sedang melaksanakan hukum rajam karena berzina. Terdengar seseorang berbisik kepada temannya: “Orang itu mendapat hukuman, seperti anjing saja.” Rasulullah mendengar ucapan itu, maka beliau mengajak dua orang tersebut untuk melewati suatu bangkai. Lalu Rasulullah bersabda kepada keduanya: “Gigitlah bangkai ini!” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah kami harus menggigit bangkai?”

Rasulullah lalu bersabda:

Artinya:

“Apa yang kamu dapatkan (bau) dari saudaramu itu lebih busuk daripada bangkai ini.”

(HIR. Abu Dawud dan Nasai).

Adalah menjadi kebiasaan bagi para sahabat pada saat itu, jika mereka bertemu maka masing-masing menampakkan keakraban dan wajah ceria. Dan mereka tidak saling menggunjing, ketika saling pergi meninggalkan satu sama lain. Karena mereka yakin bahwa yang demikian itu merupakan perbuatan mulia. Scdangkan menggunjing adalah kebiasaan orang-orang munafik.

Abu Hurairah ra. berkata: “Barangsiapa yang memakan daging saudaranya di dunia,

maka Allah juga menghidangkan daging saudaranya itu di akhirat. Lalu dikatakan

pada orang itu: “Makanlah daging saudaramu yang telah mati ini, sebagaimana kamu memakannya di waktu masih hidup, maka orang ilupun memakannya dengan penuh keburukan dan kemuraman.”

Dikisahkan, bahwa tersebutlah dua orang laki-laki sedang dudukduduk di salah satu pintu masjid. Lalu ada seseorang Yarg menyerupai perempuan (waria). Orang itu berusaha menghilangkan kondisinya yang menyerupai wanita. Melihat itu, kedua orang yang sedang duduk tersebut berkata: “Sungguh masih tersisa kemiripan orang itu dengan wanita.” Selanjutnya, keduanya shalat berjamaah bersama para jama’ah lainnya. Sementara di dalam hatinya masih terkesan dengan apa yang baru saja dikatakan. Kemudian keduanya menemui Atha bin Rabbah dan menceritakannya. Atha’ menyuruhnya untuk mengulangi wudlu dan shalat serta menggadha puasanya jika keduanya sedang berpuasa.

Dari Mujahid, bahwa ia berkata berkenaan dengan firman Allah swt.:

Artinya :

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (OS. Al Humazah : 1).

Lafal al humazah ditafsirkan sebagai orang mencela kehormatan manusia. Sedangkan al lumazah berarti orang yang memakan daging manusia (penggunjing).

Oatadah berkata: “Diterangkan kepada kami, bahwa siksa kubur itu disebabkan tiga macam perkara, yaitu: Sepertiga dari mengumpat: sepertiga dari mengadu domba, dan yang sepertiga lagi dari siksa kencing yang tidak dibersihkan.”

Hasan Basri berkata: “Demi Allah, pengaruh menggunjing itu lebih cepat terhadap agama seorang mukmin, daripada pengaruh makanan bagi jasad.”

Sebagaimana Hukama ada yang berkata: “Kami bertemu orang-orang salaf, mereka tidak menganggap puasa dan shalat sebagai ibadah. Namun terhadap menahan diri dari melecehkan kehormatan manusia justru dianggap sebagai ibadah.”

Ibnu Abbas ra. berpesan: “Apabila kamu hendak menyebut keburukan temanmu, maka hendaklah terlebih dahulu kamu menyebut keburukanmu sendiri.”

Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya manusia itu dapat melihat kotoran yang berada di mata temannya, namun ia tidak mengetahui oatang kurma yang berada di depan matanya sendiri.”

Hasan Basari berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu tidak akan mencapai hakikat iman, hingga kamu tidak mencela aib manusia dengan aib yang ada pada dirimu, dan hingga kamu memperbaiki aib tersebut. Sampai menjadi baik dan lenyap dari dirimu. Jika kamu melakukan demikian, maka kesibukanmu menjadi terfokus pada dirimu sendiri. Manusia yang paling dicintai Allah adalah hamba yang melakukan demikian itu (yang mengoreksi aib dirinya sendiri lalu memperbaikinya).”

Malik bin Dinar ra. berkata, bahwa Nabi Isa as. bepergian bersama kaum Hawariyyun, di tengah perjalanan mereka menjumpai bangkai anjing.” Orang-orang Hawariyyun (sahabat Nabi Isa) bertanya: “Aduh, alangkah menyengatnya bau busuk bangkai anjing ini.” Nabi Isa as. menjawab: “Alangkah putih gigi gerahamnya.” Dengan perkataan itu, sekan-akan Nabi Isa memberi isyarat agar mereka tidak menggunjing makhluk Allah, kecuali dengan kata-kata yang baik.”

Ali bin Husain mendengar seseorang menggunjing orang lain. Ali lalu memperingatkannya: “Jauhilah perbuatan menggunjing, karena menggunjing itu, merupakan lauk pauk bagi anjing berkepala manusia.”

Umar ra. berkata: “Berzikirlah kepada Allah Ta’ala, karena zikir itu, Sungguh merupakan obat. Dan jauhilah menggunjing orang lain, karena menggunjing itu, sungguh merupakan penyakit.”

Kepada Allah kita mohon petunjuk dan hidayah-Nya, untuk menjalankan kebaktian kepada Allah swt.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker