Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Afatul Lisan Karya Imam Ghazali

DUSTA YANG DITOLERIR (DIPERBOLEHKAN)

Dilarangnya berdusta bukan karena kedustaan itu sendiri melainkan karena dusta itu membahayakan orang yang diajak berbicara. Setidaktidaknya kebohongan itu membuat orang yang diberi tahu tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, karena informasi yang disampaikan kepadanya sebuah kedustaan. Akibatnya berita yang diterima itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Tetapi berdusta, yang membuat orang yang didustai tidak mengetahui yang sebenarnya itu justru mengandung manfaat dan maslahat, maka kebohongan semacam ini diperbolehkan, bahkan bisa jadi sampai pada tingkat wajib.

Maimun bin Mahram berkata: “Pada suatu keadaan bohong itu lebih baik daripada berkata apa adanya (jujur). Bagaimana pendapatmu jika ada seseorang bermaksud membunuh orang lain, lalu bertanya kepadamu: “Tahukah kamu di mana si Fulan?” Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu lebih baik menjawab: “Aku tidak tahu.” Dalam  hal  ini,  kamu memang  berdusta,  tetapi  dusta  dalam  keadaan  seperti  ini diperbolehkan, atau bahkan diwajibkan (untuk melindungi keselamatan jiwa orang lain.”

Kami (Imam Ghazali) jelaskan bahwa perkataan adalah alat untuk menyampaikan pada apa yang menjadi tujuan. Setiap tujuan yang terpuji, yang dapat dicapai dengan perkataan yang benar, maka haram mencapainya dengan cara berbohong. Tetapi jika maksud terpuji itu, tidak mungkin  dapat dicapai kecuali dengan berdusta, maka berdusta dalam hal ini diperbolehkan (mubah), asalkan tujuannya berkenaan dengan perkara mubah. Dan berbohong itu bisa menjadi wajib apabila bertujuan untuk melindungi keselamatan jiwa orang Islam, yang memang wajib dilindungi. Seandainya kamu berkata jujur, tetapi kejujuran itu justru menimbulkan pertumbuhan darah (pembunuhan) terhadap seorang muslim, maka berbohong menjadi sebuah kewajiban bagimu. Misalnya, ketika apa yang menjadi tujuan dari sebuah peperangan tidak dapat tercapai secara sempurna, atau tujuan mendamaikan orang yang bertikai atau tujuan meluluhkan hati orang yang zalim itu tidak dapat tercapai jika berkata jujur apa adanya, maka dalam hal ini kamu boleh berdusta. Tetapi, tentu saja sebaiknya

diusahakan sedapat mungkin menjaga diri dari kebohongan. Karena jika kamu membuka kesempatan hatimu untuk berbohong, dikhawatirkan akan menjadi terbiasa melakukannya, sekalipun tidak dalam keadaan terpaksa, Dalil yang menjadi dasar terhadap pengecualian ini (dusta yang diperbolehkan), di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan dari Ummi Kultsum. Ia berkata:

Artinya:

“Aku tidak mendengar Rasulullah saw. memperbolehkan bohong kecuali dalam tiga keadaan. Yaitu, berbohong dalam konteks sebagai strategi berperang, seseorang yang berbohong dengan maksud untuk mendamaikan antara manusia, dan seseorang yang berbohong kepada istrinya atau istrinya berbohong kepada suaminya (untuk menjaga keharmonisan dan mempererat jalinan cintanya.” (HR. Muslim).

Umi Kultsum juga berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan dua orang yang bersengketa, lalu ia mengatakan yang baik atau menambahkan yang baik. (HR. Muslim).

Asma bin Yazid menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:

Setiap kebohongan yang dilakukan anak Adam itu dicatat (sebagai kebohongan ) kecuali seseorang yang berbohong di antara dua orang muslim (yang sengketa) dengan maksud untuk mendamaikan keduanya.” (HR. Ahmad dan At Turmdizi).

Abi Kahil berkata: “Pernah terjadi perselisihan di antara dua orang sahabat Nabi saw. sehingga menimbulkan baku hantam antara keduanya. Aku bertindak sebagai mediator untuk mendamaikan antara keduanya. Aku menemui salah seorang dari keduanya, dan berkata: “Sesungguhnya apa yang terjadi antara dirimu dengan dia. Padahal dia pernah menceritakan kebaikanmu, bahkan memujimu.’ Kemudian aku menjumpai seorang yang lainnya dan kukatakfm sebagaimana yang kuucapkan kepada lawannya. Sehingga antara keduanya terjadi perdamaian. Namun di sisi lain aku merasa tidak enak, karena aku telah merusak diriku sendiri dengan berkata dusta.

Oleh sebab itu, maka aku ceritakan kasus itu kepada Nabi saw.: “Wahai Rasul, aku telah membinasakan diriku — dengan berbohong — demi mendamaikan dan memperbaiki hubungan antara dua orang sahabat yang bertikai.” Lalu Rasulullah saw. berkomentar:

Artinya : “Wahai Abi Kahil, damaikanlah di antara manusia.” (HR. Ath Thabarani),

Yakni, sekalipun dengan berdusta.

Diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, bahwa seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku berbohong kepada istriku?” Rasulullah saw. menjawab: “Tidak ada kebaikan yang tersimpan dalam kebohongan.” Orang itu berkata lagi: “Aku kembali bertanya kepada Beliau, bahwa aku berbohong kepada istriku, demi keharmonisan dan memperdalam cinta kami. Lalu Rasulullah bersabda:

Artinya:

“Tidak ada dosa bagimu.” (HR. Ibnu Abdil Barr).

Diriwayatkan, bahwa pada masa Khalifah Umar ra. pernah terjadi kasus khuluk antara Ibnu Abi Udzarah Ad Duali dengan istri-istri yang telah dinikahinya. Berita tersebut menyebar hingga Khalifah Umar sendiri mendengar khabar yang tidak disukai ini. Ketika Ad Duali, mengetahui kasusnya diketahui oleh khalifah, dia mengajak Abdillah bin Argam ke rumahnya. Selanjutnya, di hadapan Abdillah, Ad Duali bertanya kepada istrinya: “Aku menyumpahmu dengan nama Allah, apakah kamu membenciku?” Istrinya menjawab: “Jangan menyumpahiku.” Ad Duali bertanya lagi: “Aku menyumpahmu dengan nama Allah!” Istrinya berkata: “Ya, aku membencimu.” Lalu Ibnu Abi Udzarah bertanya kepada Ibnu Abdillah: “Kamu sudah mendengar apa yang diucapkannya bukan?”

Selanjutnya, Ibnu Abi Udzarah dan Ibnu Abdillah datang menemui Khalifah Umar ra. karena sebelumnya  Khalifah  Umar mendengar  berita  yang  tidak menyenangkan berkenaan dengan kasus tersebut. Ibnu Abi Udzarah berkata kepada Khalifah Umar: “Wahai Khalifah, sesungguhnya engkau beranggapan bahwa diriku menganiaya istri-

istriku dan mengkhuluk mereka. Sekarang bertanyalah kepada Ibnu Abdillah bin Argam, karena ja mendengar sendiri kata-kata istriku.” Maka Khalifah Umar pun bertanya kepada Ibnu Abdillah bin Argam. Lalu Ibnu Abdillah bin Argam menjelaskannya, apa yang ia dengar langsung dari istri Ibnu Abi Udzarah.

Kemudian Khalifah Umar memanggil istri Ibnu Abi Udzarah. Umar bertanya: “Apakah kamu yang mengatakan kepada suamimu bahwa kamu membencinya?” Perempuan itu menjawab: “Sesungguhnya aku adalah orang yang bertaubat dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Suamiku menyumpahiku dengan menyebut nama Allah. Sedangkan aku takut berdosa jika aku berdusta. Maka aku jawab dengan jujur, bahwa aku memang membencinya?” Apakah dalam hal ini, aku boleh berdusta, wahai Amiril Mukminin?” Umar ra. menjawab: “Ya, kamu boleh berdusta kepadanya. Kalau seorang istri tidak menyukai suaminya, maka janganlah menceritakan yang demikian itu kepadanya. Sesungguhnya sedikit sekali rumah tangga yang dibangun atas dasar kecintaan, bahkan kebanyakan manusia bergaul atas dasar Islam dan untuk menjaga keturunan.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker