7 Keadilan dan Keutamaan
Jalan menuju akhirat itu satu, sedangkan manusia di dalamnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu penganut keadilan (ahl al-adl) dan penganut keutamaan (ahl al-fadhll).
Keadilan itu ada dua macam, yaitu keadilan lahiriah antara dirimu dan manusia, serta keadilan batiniah antara dirimu dan Allah.
Jalan keadilan adalah jalan istikamah, sedangkan jalan keutamaan adalah jalan meminta tambahan/ kelebihan.
Yang lazim dilakukan manusia adalah jalan istikamah dan tidak ada keharusan bagi mereka untuk konsisten terhadap jalan keutamaan.
Kesabaran dan sikap warak’ ada bersama keadilan. Keduanya adalah kewajiban. Sikap zuhud dan rida bersama keutamaan. Keduanya bukanlah kewajiban. Kejujuran itu bersama keadilan, sementara kebaikan bersama keutamaan.
Siapa lebih disibukkan oleh keadilan daripada oleh keutamaan, maka ia dimaafkan. Siapa lebih disibukkan oleh keutamaan daripada oleh keadilan, maka ia tertipu dan mengikuti hawa nafsunya. Manusia itu diharuskan mengenal keadilan dan tidak diharuskan mengenal keutamaan, kecuali sebagai kesukarelaan (tabarru’).
Demikianlah, setiap pekerjaan yang tidak wajib dikerjakan oleh manusia tidak wajib pula untuk mengetahuinya.
Sifat Kaum yang Adil
Seorang hamba tidak akan termasuk kaum adil kecuali dengan tiga kriteria, yaitu: ilmu—
sehingga ia mengetahui apa yang seharusnya untuk dirinya—, tindakan, dan kesabaran.
Kunci keadilan yang paling utama dan paling wajib bagi seorang hamba adalah mengetahui kekuatan nafsunya sehingga nafsunya tak akan memiliki kemampuan yang melebihi porsinya, dan kerahasiaan hamba itu serupa dengan keterang-terangannya.
Manusia yang paling teguh dan dekat dengan sikap seperti itu adalah yang selalu mengevaluasi dirinya pada setiap detak yang disenangi ataupun dibenci nafsunya. Ia merenungkan hal itu, bahwa seandainya orang-orang mengetahui keadaannya ini lalu ia merasa malu atau membenci keadaannya, maka ia perlu beralih dari keadaan tersebut kepada suatu keadaan di mana ia tidak dibuat malu. Sesungguhnya sesuatu yang tidak membuat malu bertolak belakang dengan yang membuat malu.
Jika ia telah beralih dan terus bertahan, ia lantas berpikir andai dirinya tertarik untuk diketahui banyak orang, maka ia perlu beralih dari keadaan itu kepada sesuatu yang tidak diinginkan nafsunya. Sesungguhnya yang digemari nafsunya bertolak belakang dengannya. Akibatnya, ia senantiasa berada pada situasi melawan apa yang digemari nafsunya. “
Siapa Paling Jauh dari Keadilan
Orang yang paling jauh dari keadilan adalah yang paling melalaikannya dan paling sedikit melakukan introspeksi diri. Orang yang paling jauh dari keadilan dan paling lama lengah darinya adalah orang yang paling meremehkannya.
Seandainya engkau menjadi sadar siapa yang mengawasi (dirimu) kemudian anggota tubuhmu terputus satu demi satu, hatimu terbelah, atau engkau menjerit di bumi, berarti engkau sungguh orang yang bodoh dengan hal itu.
Ketika engkau belum pernah menyadari, maka engkau tidak akan pernah mendapatkan sentuhan rasa malu dan takut terhadap pengawasan Allah, pengamatan-Nya atas hati kecilmu, pengetahuan-Nya tentang apa yang diambil indramu atas hatimu, dan kekuasaan-Nya yang meliputi dirimu. Kemudian engkau berpaling setelah itu—seperti orang yang meremehkannya—kepada pengawasan manusia yang tidak pernah mengetahui rahasiamu dan tidak pula tahu tentang sesuatu dalam hati kecilmu. Lalu engkau katakan, “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada _ dalam hatiku niscaya mereka akan mencela dan memarahiku,’ sehingga engkau dikuasai rasa malu dan takut
terhadap mereka—sebagai bentuk kehati-hatian atas kurang berharganya dirimu dan kejatuhan martabatmu di hadapan mereka. Oleh sebab itu, engkau menjadi mawas kepada mereka, menjadi orang yang takut terhadap mereka, dan menjadi khawatir dengan kemurkaan mereka. Padahal, engkau tidak pernah menemukan kemurkaan Allah kepadamu dan kejatuhan martabat dan harga dirimu di hadapan-Nya. Sungguh, kemurkaan Allah itu lebih besar.
Ketika engkau melakukan ketaatan-ketaatan yang dapat mengantarmu hingga dekat kepada Allah, lantas mereka mengetahuinya, engkau telah mengikrarkan cinta pujian atas hal itu dalam hatimu dan engkau ingin memperoleh kedudukan di sisi mereka. Walau ketaatan yang mendekatkan dirimu kepada Allah itu adalah ikrar hati ataupun kerja anggota tubuh, atau suatu yang rahasia sekalipun, engkau ingin mereka mengetahuinya agar mereka dapat memuji dan mengangkat kehormatanmu.
Dengan begitu, engkau belum dipuaskan dengan pengetahuan Allah dan tidak pula dengan balasan-Nya, entah dalam amal rahasia maupun yang terang-terangan, tetapi engkau puas dengan hal itu, menerima, lengah, dan bangga. Bagimu, itu adalah keadaanmu yang paling baik sekaligus urusanmu yang paling mantap.
Seandainya engkau membutuhkan Allah dan pengawasan-Nya atasmu, balasan-Nya yang besar, cinta-Nya, dukungan-Nya untuk kaum yang taat sedangkan engkau menyaksikannya, niscaya engkau tidak membutuhkan hal itu dari manusia-manusia yang tidak pernah dapat memberi bahaya dan manfaat, baik untukmu maupun untuk dirinya sendiri. Allah rela kepadamu dengan hal itu. Mudah-mudahan engkau menepatinya.“’
Kelebihan yang paling utama dan bermanfaat bagimu adalah jika dirimu, menurut pandanganmu, di bawah nilainya yang sesungguhnya; jika aspek batinmu lebih utama dibanding aspek lahiriah; jika engkau memberikan hak orang lain, tetapi engkau tidak mengambil hakmu dari mereka; jika engkau melampaui apa yang bersumber dari mereka; jika engkau bersikap adil terhadap mereka, tetapi engkau tidak meminta keadilan dari mereka.
Itulah penyucian diri, setelah itu baru perlu beramal. Bagi kami, penyucian diri lebih utama dari beramal.









One Comment