Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

25 Suluk Kaum Salaf

Diriwayatkan dari sejumlah kaum bijak bahwa al Muhasibi pernah menulis surat kepada seorang saudaranya:

Mengingat Akhirat

Semoga keselamatan terlimpah atasmu. Selanjutnya, ingatlah sesuatu yang engkau lengah darinya. Kepadanya engkau akan datang. Kepadanya engkau akan menjadi. Petiklah pelajaran seperti zikir orang yang bernalar. Ambillah sikap kehati-hatiannya, lalu celalah dirimu. Berlindunglah kepada Allah dari kematian hati yang tidak serius memperhatikan bimbingan dan petunjuk serta persiapan yang baik untuk hari yang dijanjikan.

Seandainya manusia berpikir dan mengetahui bahwa mereka tak akan mampu membalas Allah kecuali dengan sesuatu yang mengandung rida—entah mereka tahu

ataupun tidak—dan bahwa Allah menembus hati kecil mereka sehingga Dia mampu melihat sesuatu yang tidak Dia sukai di dalamnya dan menyesali apa yang berasal dari mereka, selama tak ada rida di dalamnya—baik mereka tahu maupun tidak. Jadi, barang siapa takut kepada Allah dengan kegaiban pasti akan berusaha sehingga apa yang tidak mereka ketahui menjadi mereka ketahui dan yang sudah mereka ketahui menjadi mereka amalkan, serta menyesali apa yang telah terjadi pada diri mereka.

Ketahuilah saudaraku, Allah telah menjadikan keselamatan manusia dengan rahmat-Nya dalam pengetahuan (makrifat), dalam keinginan (iradat), dalam meninggalkan apa yang terlarang, dalam mengerjakan apa yang diperintahkan, kemudian dalam mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan, pada masa lalu maupun pada masa sekarang, yang lahiriah maupun yang batiniah.

Mengenal Allah

Hal pertama yang diinginkan Allah dari manusia adalah mengenal-Nya dari berbagai aspek yang dengannya Allah mengenalkan diri kepada mereka. Sesungguhnya Allah telah mengenalkan diri kepada mereka melalui proses penciptaan makhluk, pengaturan- Nya terhadap makhluk, kemampuan-Nya untuk mencipta, jaminan-Nya untuk memberi rezeki kepada makhluk, kekuasaan-Nya mematikan makhluk, dan kekuasaan-Nya menghidupkan makhluk. Ingatlah bahwa Allah memiliki kekuatan mencipta dan kekuatan memerintah. Mahasuci Allah, sebaik-baik pencipta.

Mendamba Allah dengan Amal

Setelah mengenal, Allah ingin mereka agar mendambakan-Nya dengan setiap amal baik mereka agar mereka tidak melihat yang lain dan tidak meminta balasan kecuali dari-Nya. Seandainya ada sesuatu yang bisa terjadi sebelum makrifat (mengenal Allah), pastilah jradat ada sebelum makrifat. Seandainya ada sesuatu yang tidak membutuhkan makrifat, pastilah pula keinginan tidak membutuhkan makrifat.

Makrifat itu ada sebelum segala sesuatu ada karena ia pangkal segala sesuatu. Barulah kemudian ada iradat karena ia menjadi bagian dari makrifat, yaitu manifestasi penjauhan, manifestasi pelaksanaan, pengambilan dan penerimaan, serta cinta dan benci dalam seluruh perbuatan. Makrifatlah yang menjamin manfaat bagi orang-orang yang beramal.

Mensyukuri Nikmat

Rasa syukur itu sebanding dengan kadar makrifat sebab ia merupakan kunci nikmat sekaligus nikmat paling utama dan pertama, yaitu nikmat makrifat. Tak ada nikmat paling bernilai yang aku ketahui melebihi nikmat akal. Nikmat iradat adalah nikmat yang derajat syukurnya sangat tinggi.

Puncak segala nikmat adalah nikmat hikmah (kebijaksanaan). Kita memohon penutup kebajikan kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar mengenalkan seluruh nikmat- Nya dan membagi rasa syukur kepada kita. Sering kali manusia memperoleh kebajikan dan kedekatan dari Allah melalui makrifat dan iradat, sesuatu yang tak pernah didapatkan oleh orang yang banyak beramal.

Mengetahui Apa yang Dicintai dan Dibenci Allah

Tidak ada yang lebih utama bagi manusia setelah mengenal Allah dibanding mengetahui apa yang Dia benci, yaitu sesuatu yang dilarang-Nya dan didahului dengan ancaman, celaan, dan peringatan; kemudian mengetahui apa yang Dia cintai, yaitu sesuatu yang diperintahkan dan disukai-Nya. Amal utama untuk meraih rida Allah adalah meninggalkan apa yang Allah benci dan melakukan apa yang Allah sukai.

Renungkanlah saudaraku! Jika engkau berada di pagi hari, hendaknya jangan ada sesuatu yang lebih engkau pentingkan dibanding mematikan suatu yang diinginkan dirimu berupa hal-hal yang dibenci Allah. Sesungguhnya ia akan menghidupkan di tempatnya suatu perkara berupa hal-hal yang dicintai Allah. Setelah itu, cahaya di kalbumu melemah dan begitu pula pemahamanmu.

Ketahuilah saudaraku, dunia itu ada yang halal/ mubah, ada yang syubhat, dan ada pula yang haram. Jika hati manusia didominasi ikatan cinta kepada yang halal/mubah, tidak berarti kecenderungan terhadap yang syubhat dan makruh terputus dari dirinya.

Jika hati didominasi kecintaan kepada yang syubhat dan makruh, tidak berarti kecenderungan terhadap yang haram terputus dari dirinya. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa terjerumus dalam yang syubhat, hampir-hampir ia akan terjerumus dalam yang haram, ibarat penggembala yang menggembala piaraannya di sekitar tempat berbahaya yang hampir terjebak di dalamnya.”

Setiap orang yang hatinya dikuasai syubhat dan merasa tenang untuk mengambilnya, berarti ia telah terjebak kepada yang haram, karena syubhat lebih dekat kepada yang haram dibanding kepada yang halal.

Bagaimana manusia bertindak terhadap kebutuhan dan keinginannya?

Sesungguhnya aku tidak pernah melarangmu untuk bekerja dan memenuhi kebutuhanmu. Akan tetapi, aku mengingatkanmu untuk tidak mengambil sesuatu yang tidak engkau butuhkan. Aku melarangmu untuk cinta terhadap apa yang engkau butuhkan sehingga engkau mengambilnya dari yang mubah. Itu dibolehkan dan engkau sangat mengetahuinya., Hanya, nilainya kecil di hadapan Sang Pencipta yang berfirman kepada Nabi-Nya, “Katakanlah, kenikmatan dunia itu sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa’(QS. al-Nisa’: 76). Nabi saw. pun pernah bersabda, “Jikalau engkau padankan dunia di sisi Allah adalah laksana sayap nyamuk yang sanggup mengairi (ladang) petani.”

Ketahuilah, bila orang menaati cinta dunia sedangkan ia mengetahuinya, maka tak ada jaminan bahwa dunia tidak akan menguasai hatinya dan memilikinya sehingga ia mengambil yang syubhat setelah yang halal dan mengambil yang haram setelah yang syubhat.

Ketahuilah, orang yang tertaut dengan cinta dunia dan orang yang tidak tertaut dengannya sama-sama terpenuhi kebutuhannya. Keterikatan terhadap cinta dunia (meski berupa yang halal) adalah suatu kelemahan bagi hati kaum arif. Hal itu tidak menambah rezeki orang yang tertaut hatinya dan tidak pula mengurangi rezeki orang yang tidak tertaut dengan cinta dunia.

Ketahuilah, manusia hanya diperintahkan untuk sibuk berbuat menjauhi kebodohan dan bekerja secara ikhlas. Derajat ini tidak akan engkau peroleh sehingga engkau berada dalam suatu keadaan yang seandainya engkau mampu meninggalkan kebutuhanmu darinya niscaya engkau meninggalkannya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker